Dan pengadilanpun dimulai.
Jaksa penuntut menatap dalam sosoknya yang terdiam di sudut kursi pesakitan. Ia tak lagi menyiapkan banyak tuntutan atau tuduhan, cuma tiga buah pertanyaan saja. Pertanyaan yang akan memastikan apakah terdakwa akan bebas, atau tetap dipenjara selamanya dalam sel rasa bersalah dan dendam.
"Pertanyaan pertama. Kamu sayang dia?" tanya Jaksa tenang. Dia hanya tertunduk diam.
"Aku ga mau jawab," katanya sembari tertunduk. Terdakwa menolak menjawab tuduhan pertama.
Sang Jaksa menghela nafas. "Oke.. Kamu masih sayang sama aku?"
Dia kembali terdiam. "Aku ga mau jawab."
Jaksapun geram. "Kok gitu? Jawab dong!" desak Jaksa.
"Aku ga mau jawab! Apa gunanya? Ini ga relevan!"
"Berguna atau tidak biar Yang Mulia yang memutuskan. Pertanyaan ini relevan dengan tuduhan yang sudah diberikan pada Anda sebagai terdakwa!"
"Iya oke! Iya! Kalo aku masih sayang sama kamu terus kenapa?? Kan udah ga ada artinya?!" ujarnya sedikit hilang kendali.
Jaksa tersenyum. Terdakwa mengakui tuduhan kedua yang diberikan padanya. Kini sudah saatnya pada pertanyaan penentuan.
"Jadi, kamu lebih sayang siapa, aku? Atau dia?"
Seketika itu juga ruang sidang senyap. Dalam penuh keraguan dia tenggelam dalam sunyi. Sang Jaksa menatapnya dalam, meminta jawaban. Meminta kejelasan.
"Please jangan tanya itu," pintanya.
Jaksa menatapnya dingin. Ini bukan hanya masalah kesanggupan atau tidak. Ini masalah hati.
"Jawab," tanya Sang Jaksa dingin.
Dia menghela nafas. "Dia."
Kami terdiam. Senyap. Sang Jaksa menghela nafas, memecah kesunyian. Akhirnya terdakwa mengakui hal terpenting dalam persidangan ini. Sang Jaksa menatap wajah Hakim. Sang Hakim tersenyum dan mengangguk.
Sang terdakwapun bebas. Dan Jaksa hanya bisa melihat sosoknya menjauh menembus malam. Dia bebas dari segala tuduhan. Dia kini bebas mencintai hati lain yang sudah mengisi relungnya, bebas dari tuduhan mendua, bebas dari tuduhan menyakiti perasaan orang lain.
Dia bebas.
Namun kini giliran hati Sang Jaksa yang divonis mati.
About The Blog
nothing special. just a compilation of my writing. feel free to read. stealing the work will not give you any lawsuit (up to now, but i'm working on it), but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]
December 06, 2011
Pengadilan Hati
Posted by
Adysaurus
at
Tuesday, December 06, 2011
Email This
BlogThis!
Share to Twitter
Share to Facebook
| Reactions: |
Popular Posts
-
"Just My Imagination" There was a game we used to play We would hit the town on Friday night And stay in bed until Sunday We used to b...
-
Entah mengapa aku tak berdaya Waktu kau bisikkan, "jangan aku kau tinggalkan" Tak tahu dimana ada getar terasa Waktu kau katakan "Ku but...
-
"Hey, Soul Sister" - TRAIN Heeey hee-e-eeey hee-e-eeey Your lipstick stains on the front lobe of my left side brains I knew I wouldn't ...
-
When you walk away You don't hear me say "please.. Oh baby, don't go!" Simple and clean is the way that you're making me feel tonight, I...
-
Tahu ga Yank, kalo Bulan itu butuh Matahari? Ga tahu Yank. Emang kenapa kok bulan butuh matahari? Karena.. Surya membuka matanya dan men...
-
Going back to the corner where I first saw you Gonna camp in my sleeping bag, I'm not gonna move.. Got some words on cardboard, got your p...
-
"Masalahnya aku ga bisa! Tahu sendiri aku bakal pindah tahun depan, gimana mau menjalin hubungan coba?! Aku cuma pengen bahagia, bahagia yan...
-
Audy - Satu Jam Saja Jangan berakhir aku tak ingin berakhir Satu jam saja kuingin diam berdua Mengenang yang pernah ada Jangan berakh...
-
Pernahkah kau memesan sebuah kudapan manis yang nampak cantik di buku menu namun kau tak bisa menghabiskannya? Kudapan itu begitu cantik, ra...
-
Dan pengadilanpun dimulai. Jaksa penuntut menatap dalam sosoknya yang terdiam di sudut kursi pesakitan. Ia tak lagi menyiapkan banyak tunt...



4 comments:
>.<
-_-" ini siapa ya?
yg ngrasa jadi terdakwa.......>.<
halah kan sudah bebas.. :)
Post a Comment