Kamar itu begitu berantakan. berbagai kardus kosong tergeletak di sebuah sudut, di sebelah meja berisi buku-buku yang ditumpuk seadanya. Marco duduk dilantai, di depan sebuah kardus berisi pakaian-pakaian. Dengan segulung perekat dan gunting di sebelahnya. Ia sibuk mengepak baju-bajunya tanpa menyadari sosok Diana yang sedari tadi duduk di kasur kamarnya sedang menatapnya dalam.
"Marco..?"
"Iya? Kenapa?" kata Marco tanpa ekspresi. Ia sibuk mengepak kardus dan menulisinya. Diana bangkit dari tempat tidur dan menghampiri sosok yang duduk di lantai itu, menempelkan pipinya di punggung Marco yang hangat.
"Aku bau keringat habis beres-beres kamar. Jangan dekat-dekat," kata Marco, masih dengan tanpa ekspresi.
Diana terdiam. Perlahan dia mundur, namun matanya masih terpaku pada punggung itu.
"Aku.. Aku minta maaf..".
Marco tak menjawab. Dia lalu berdiri sambil membawa kardus yang sudah terselotip rapi ke sebelah kasur, melewati sosok Diana tanpa sekalipun menatapnya. Diana hanya tertunduk diam.
"Aku gapapa kok. Kamu pulang aja gapapa," kata Marco tiba-tiba.
"Mark.. Kamu masih marah?"
Marco diam sejenak, lalu duduk di kasur dan menghela nafas. "Ya mau bagaimana lagi? Kalau dipaksapun kamunya ga mau kan?"
Diana kembali tertunduk. Rasa bersalah makin menyergapi hatinya, membuatnya semakin sesak. Sunyipun merambat pelan dalam kamar itu, membelenggu sepasang insan yang dulunya seirama dalam rasa.
"Aku tahu... Aku tahu aku yang salah...," kata Diana melarutkan sunyi. "Aku ga bisa jarak jauh Mark.. Kamu tahu kan alasannya? Aku ga mau hal itu terulang lagi...".
Marco tak bergeming.
"Aku.. Aku ga bisa.. Tapi aku sayang kamu.. Maaf..". Diana terisak perlahan. Kata-kata dari mulutnya tak hanya menyayat hati lelaki yang ia sayangi, tapi juga menikam dalam hatinya.
Marco berdiri lalu berlutut menghampiri sosok Diana. Ia mengusap kepala Diana dengan penuh sayang.
"Aku ikhlas kok," kata Marco. Diana mendongak menatap sosok itu dengan mata berkaca-kaca. Sosok itu, meski telah ia sakiti begitu dalam, membalas air matanya dengan senyuman manis yang tak berubah sejak awal mereka berjumpa.
***
Marco duduk sendiri di kamarnya yang perlahan kosong. Isinya telah berpindah ke dalam tumpukan kardus di sudut ruangan. Beberapa hari lagi kamarnya akan kosong. Seperti hatinya.
Dalam sunyi senja itu Marco hanya terdiam sembari melihat bingkai kecil berisi fotonya dan Diana di tangannya.
Dalam sunyi senja itu Marco hanya terdiam. Namun hatinya kembali menangis.
Aku ikhlas kok...
About The Blog
nothing special. just a compilation of my writing. feel free to read. stealing the work will not give you any lawsuit (up to now, but i'm working on it), but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]
January 19, 2012
segini sajakah?
Posted by
Adysaurus
at
Thursday, January 19, 2012
Email This
BlogThis!
Share to Twitter
Share to Facebook
| Reactions: |
Labels:
short stories
Popular Posts
-
"Just My Imagination" There was a game we used to play We would hit the town on Friday night And stay in bed until Sunday We used to b...
-
Entah mengapa aku tak berdaya Waktu kau bisikkan, "jangan aku kau tinggalkan" Tak tahu dimana ada getar terasa Waktu kau katakan "Ku but...
-
"Hey, Soul Sister" - TRAIN Heeey hee-e-eeey hee-e-eeey Your lipstick stains on the front lobe of my left side brains I knew I wouldn't ...
-
When you walk away You don't hear me say "please.. Oh baby, don't go!" Simple and clean is the way that you're making me feel tonight, I...
-
Tahu ga Yank, kalo Bulan itu butuh Matahari? Ga tahu Yank. Emang kenapa kok bulan butuh matahari? Karena.. Surya membuka matanya dan men...
-
Going back to the corner where I first saw you Gonna camp in my sleeping bag, I'm not gonna move.. Got some words on cardboard, got your p...
-
"Masalahnya aku ga bisa! Tahu sendiri aku bakal pindah tahun depan, gimana mau menjalin hubungan coba?! Aku cuma pengen bahagia, bahagia yan...
-
Audy - Satu Jam Saja Jangan berakhir aku tak ingin berakhir Satu jam saja kuingin diam berdua Mengenang yang pernah ada Jangan berakh...
-
Pernahkah kau memesan sebuah kudapan manis yang nampak cantik di buku menu namun kau tak bisa menghabiskannya? Kudapan itu begitu cantik, ra...
-
Dan pengadilanpun dimulai. Jaksa penuntut menatap dalam sosoknya yang terdiam di sudut kursi pesakitan. Ia tak lagi menyiapkan banyak tunt...



4 comments:
saran:
Aku ikhlas kok.... sambi tersenyum menyeka air mata.
EPIC wes...
emoh iku lak koen menye2.. laki bro! kudu tough! wkwkwkw
oke. ganti.
Aku ikhlas kok.... sambi buka botol Heinneken..
gobloook!!!! xD
Post a Comment