Pages

About The Blog

nothing special. just a compilation of my writing. feel free to read. stealing the work will not give you any lawsuit (up to now, but i'm working on it), but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

January 19, 2012

segini sajakah?

Kamar itu begitu berantakan. berbagai kardus kosong tergeletak di sebuah sudut, di sebelah meja berisi buku-buku yang ditumpuk seadanya. Marco duduk dilantai, di depan sebuah kardus berisi pakaian-pakaian. Dengan segulung perekat dan gunting di sebelahnya. Ia sibuk mengepak baju-bajunya tanpa menyadari sosok Diana yang sedari tadi duduk di kasur kamarnya sedang menatapnya dalam.

"Marco..?"

"Iya? Kenapa?" kata Marco tanpa ekspresi. Ia sibuk mengepak kardus dan menulisinya. Diana bangkit dari tempat tidur dan menghampiri sosok yang duduk di lantai itu, menempelkan pipinya di punggung Marco yang hangat.

"Aku bau keringat habis beres-beres kamar. Jangan dekat-dekat," kata Marco, masih dengan tanpa ekspresi.

Diana terdiam. Perlahan dia mundur, namun matanya masih terpaku pada punggung itu.

"Aku.. Aku minta maaf..".

Marco tak menjawab. Dia lalu berdiri sambil membawa kardus yang sudah terselotip rapi ke sebelah kasur, melewati sosok Diana tanpa sekalipun menatapnya. Diana hanya tertunduk diam.

"Aku gapapa kok. Kamu pulang aja gapapa," kata Marco tiba-tiba.

"Mark.. Kamu masih marah?"

Marco diam sejenak, lalu duduk di kasur dan menghela nafas. "Ya mau bagaimana lagi? Kalau dipaksapun kamunya ga mau kan?"

Diana kembali tertunduk. Rasa bersalah makin menyergapi hatinya, membuatnya semakin sesak. Sunyipun merambat pelan dalam kamar itu, membelenggu sepasang insan yang dulunya seirama dalam rasa.

"Aku tahu... Aku tahu aku yang salah...," kata Diana melarutkan sunyi. "Aku ga bisa jarak jauh Mark.. Kamu tahu kan alasannya? Aku ga mau hal itu terulang lagi...".

Marco tak bergeming.

"Aku.. Aku ga bisa.. Tapi aku sayang kamu.. Maaf..". Diana terisak perlahan. Kata-kata dari mulutnya tak hanya menyayat hati lelaki yang ia sayangi, tapi juga menikam dalam hatinya.

Marco berdiri lalu berlutut menghampiri sosok Diana. Ia mengusap kepala Diana dengan penuh sayang.

"Aku ikhlas kok," kata Marco. Diana mendongak menatap sosok itu dengan mata berkaca-kaca. Sosok itu, meski telah ia sakiti begitu dalam, membalas air matanya dengan senyuman manis yang tak berubah sejak awal mereka berjumpa.

***

Marco duduk sendiri di kamarnya yang perlahan kosong. Isinya telah berpindah ke dalam tumpukan kardus di sudut ruangan. Beberapa hari lagi kamarnya akan kosong. Seperti hatinya.

Dalam sunyi senja itu Marco hanya terdiam sembari melihat bingkai kecil berisi fotonya dan Diana di tangannya.

Dalam sunyi senja itu Marco hanya terdiam. Namun hatinya kembali menangis.


Aku ikhlas kok...

4 comments:

5ynd12om3 said...

saran:
Aku ikhlas kok.... sambi tersenyum menyeka air mata.

EPIC wes...

Adysaurus said...

emoh iku lak koen menye2.. laki bro! kudu tough! wkwkwkw

5ynd12om3 said...

oke. ganti.

Aku ikhlas kok.... sambi buka botol Heinneken..

Adysaurus said...

gobloook!!!! xD

Post a Comment

Private Tarot Consultation

Private Tarot Consultation
Don't hesitate to contact and reveal your future.

Popular Posts

 

Tweet-Tweet!

Nammo Buddhaya

Loading...

the world of Tarot

Loading...

sebaris rasa yang muncul tiba-tiba..

Berbahagialah..

Karena akupun akan ikut bahagia denganmu..

Meskipun dalam bahagiamu tak ada aku.

Janganlah takut..

Berbahagialah..

Karena bahagiamu adalah bahagiaku.

:)