Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

October 23, 2008

a perfect day

a perfect day

Hari ini aku duduk sendiri di taman kampus, menatap gedung perkuliahan di seberang jalan di depanku. Sinar mentari pagi dengan lembut membelai tangan dan wajahku. Beberapa helai daun kecoklatan gugur menjatuhi buku yang kutaruh di sebelahku. Kampus masih sepi, tak ada siapapun.

Pukul tujuh dia pasti akan muncul, pikirku.

Dan dia muncul! Sosok yang kutunggu sejak pukul enam pagi, sosok yang membuatku betah duduk sendiri di taman pagi-pagi... Gadis itu... Gadis itu!

Yah, dialah gadis yang selama ini menawan hatiku. Rambutnya yang sebahu diikatnya ke belakang, menunjukkan wajah cantiknya yang sempurna. Gadis manis murah senyum yang selalu memberikan senyum menawan... Gadis dari jurusan menejemen satu angkatan denganku...Jadwal kuliahku tak sama dengan gadis itu, sayangnya. Aku masuk pukul sepuluh tiap senin-rabu-jumat, dan dia pukul tujuh tiap senin-selasa-kamis, tapi demi gadis itu aku rela berangkat pagi hanya untuk melihatnya datang ke kampus dan pulang telat hanya untuk melihatnya berjalan meninggalkan kelas.

Namanya? Aku tak tahu. Aku tak berani bertanya. Aku hanya berani melihatnya dari jauh. Mungkin namanya Putri, mungkin juga Sisil... Atau Bela? Aaaaaargh! Aku bingung... Idiot banget sih, masa sudah tiga bulan masih belum tahu namanya?! Ah, entahlah. Namanya tidak penting. Aku menikmati anugerah Tuhan itu tdak lewat namanya, tapi lewat senyumnya, keindahannya, keramahannya, semuanya. Mungkin ini yang namanya cinta...

Pukul sembilan tiga puluh. AKu bergegas kembali ke gedung kuliahku di jurusan bahasa Indonesia. Rasa kagumku pada gadis itu membawa efek positif juga, rupanya. Sejak aku melihatnya dan memutuskan untuk hanya melihatnya dari jauh, aku tak lagi telat kuliah (yaeyalah, kuliah mulai jam sepuluh aku datang jam tujuh!) Tugas-tugas puisi dan karangan suruhan dosenpun menghasilkan nilai yang baik. Mungkin dia memang anugerah bagiku...

Pukul dua tiga puluh tiga. Begitu kelas usai aku segera berlari menuju ke taman itu dan duduk seperti biasanya, menunggu pukul empat lewat dan melihat dia pulang. Entah kenapa hatiku berdebar-debar.

Pukul tiga.
Aku merenungi semua tingkahku selama tiga bulan ini. Apa aku akan begini terus, memuja dia dari jauh tanpa bahkan tahu siapa namanya?!

Pukul tiga tiga puluh
Tapi aku tak ada keberanian!!! Siapa aku bisa berkenalan dengannya?! Aku bukan anak ekonomi yang kaya, aku cuma calon sastrawan miskin yang hanya bisa menulis, bukan menghasilkan uang...

Pukul empat
Tuhan.. seandainya Kau memberikan kesempatan... Semoga aku bisa berkenalan dengannya... aku tidak minta banyak Tuhan, hanya kesempatan untuk mendengarnya mengucapkan namanya dengan senyuman... Oh, hariku pasti sempurna...

Pukul empat lebih tiga puluh
Mana dia...? Apa dia baik-baik saja? Jangan-jangan dia sakit. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya. Jantungku berdetak kencang membayangkan berbagai kemungkinan terburuk yang bisa terjadi padanya. AKu segera berdiri meninggalkan tasku di taman dan bergegas mencarinya. Entah apa yang ada di otakku, tapi aku terus berkelilig di dalam gedung itu, mencari gadis berambut sebahu yang selalu mewarnai hariku.

Aku tak menemukannya.

Pukul lima sore.
Aku melangkah lemah. Tubuh dan jiwaku lelah mencarinya. Bodohnya aku, kenal saja tidak. Bagaimana bisa aku menemukannya? Tiba-tiba aku teringat. TASKU! Dompet dan handphoneku ada di sana!

AKu segera berlari kembali ke taman, dan yang kutakutkan terjadi. Tasku telah hilang. Cukup sudah kesialanku hari ini.

Aku berjalan lemah meratapi nasib saat sebuah suara memanggilku.

"Mas-mas!"

Aku menoleh, dan aku mematung. Gadis itu, pujaanku, berjalan mendekatiku sambil membawa tasku!

"Mas, ini tasnya mas kan?"

Aku mematung sejenak.

"Mas?"

Aku tersadar. "Oh, i-iya... kok kamu tahu?"

Dia tersenyum. Ya Tuhan, dia begitu cantik...

"Tadi waktu saya dari kantin saya lihat mas lari ninggalin tasnya mas dari taman ke gedung itu. Waktu saya nunggu teman saya, saya lihat tasnya ngga diambil-ambil. Ya sudah, daripada hilang mending saya serahkan satpam. Eh, ngga tahunya baru mau ke pos satpam masnya sudah nongol. Ini Mas."

Aku menerima tasku dengan gemetar.

"Mas sering duduk di taman sini ya?"

"Kok-kok tahu...?"

Dia tersenyum. "Ya iyalah mas.. Tiap hari saya lewat sini... Oh ya kenalkan, Saya Ratna...".

Aku menjabat tangannya. "Galih."

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
'cinta itu tak terduga, cinta itu apa adanya, cinta itu penuh kejutan' - ady romeo

No comments:

Post a Comment