Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

August 30, 2008

lebih bersyukur

sejak rabu malem aku dah sakit gara-gara kecapean..
karena berbagai hal yang belum sempat diselesein,
ya akhirnya maksain deh buat keluar-keluar..
akhirnya ya gini,
sakit deh..

you know what,
saat aku tidur di kamar sendirian,
aku inget sama berbagai momen2 bahagia bersama orang2 yang kusayangi..

waktu bikin adonan kue ma kakak dirumah dengan alat super prasejarah (alu batu),
waktu gendong ponakan yang makin hari maikn gedhe,
waktu ma mantanku,
waktu guyon ma temen-temen..

aku jadi berpikir..
aku dah sering banget ga mensyukuri segala keriangan dan keceriaan itu..
cuma mengeluh dan mengeluh..

kurang duit lah,
tidur ga enak lah,
pacar kurang cantik lah,
kondisi rumah amburadul lah,
makan ga oke lah..

coba liat sekarang..
jauh dari orang tua,
ga ada temen yang peduli,
ga punya pacar..

kalo dipikir-pikir,
hidupku itu sebenarnya dah bahagia banget lho..

aku harus bisa lebih mensyukuri apa yang kumiliki dan menjaganya...

selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya..
bagi2 pahalanya yah...
hehe

August 27, 2008

Seeing The Reality

Seeing The Reality
------------------

27 August 08

Siang itu aku duduk di halte angkot Poltek Negeri Surabaya, menunggu angkot yang akan mengantarku ke terminal untuk kembali ke Malang.

Panas terik..
Aku terus-menerus menyeka mukaku yang memerah karena panas sambil menunggu angkot.
Akhirnya angkot menuju ke Terminal Bratang tiba juga. Aku segera naik.

Angkot itu bergerak menembus hawa panas Surabaya. Mataku berkelana ke berbagai kompleks pertokoan dan lalu lintas Surabaya di siang hari. Sebuah hal biasa untuk ukuran kota metropolitan.

Tiba-tiba aku melihat sosok yang tak biasa siang itu.
Seorang laki-laki gembel dengan jalan pincang turun dengan sedikit terjatuh dari bis kota dengan gelas plastik yang nampaknya berisi recehan. Aku bertanya pada diriku, siapa laki-laki itu?

Angkot yang terus bergerak menguak satu lagi episode kehidupan kedalam penglihatanku. Terminal bratang yang telah dekat jadi terasa jauh karena macet yang berkepanjangan. Nissan Terrano, Hyundai Getz, Honda Jazz, Suzuki Karimun Estillo, semua berjajar menunggu lampu hijau di depan angkot yang kutumpangi. Begitu lampu hijau semua berhambur pergi.

Angkotku yang sudah masuk ke pintu terminal Bratang memberikanku kesempatan melihat seorang ibu makan nasi bungkus dengan lauk seadanya di bawah pohon kurus yang memayungi dari teriknya Surabaya. Di sebelahnya, ada balita perempuan cantik merengek minta disuapi. Sejurus kemudian sebuah Daihatsu Sirion biru lewat dan menyilaukanku dengan catnya yang memantulkan cahaya matahari.

Dari Terminal Bratang aku naik bis kota menuju Terminal Bungurasih. Di dalam bis yang penuh aku duduk di dekat jendela. Bis tua itu melaju perlahan. Sesosok laki-laki berdiri di tengah bis sambil mendendangkan lagu. Suaranya merdu, orangnya juga bertampang lumayan, hanya sedikit dekil kena panas matahari. Sejenak kemudian di sebelahku terdengar nada panggil telepon selular. Lagu yang menurut penilaianku sangat jauh kualitas suaranya dibanding dengan pengamen yang sedang berdiri mencari sesuap nasi di tengah bis kota. Namun tetap saja, kan yang nyanyi lagu itu artis.

Perjalananku terhenti sejenak karena lampu merah. Sembari menunggu aku menatap sekeliling. Seorang bapak-bapak renta menarik gerobak lusuh dengan topi capingnya dan kaus putih yang sudah kumal, begitu kontras dengan bangunan megah di seberangnya.

Begitu tiba di terminal bungurasih aku berjalan menuju ke ruang tunggu penumpang. Aku melewati seorang ibu-ibu dengan kebaya lusuh menjajakan stroberi pada seorang wanita berdandan menor yang kemudian naik taksi khusus menuju bandara juanda.

Di ruang tunggu aku melihat seorang anak kecil digandeng ibunya membuang sesuatu dalam tong sampah. sejenak kemudian saat aku kembali menatap tong sampah itu, aku melihat dua bocah yang sedang mengais tong sampah itu. Kupikir mereka menjatuhkan sesuatu. Ternyata mereka mengambil sebuah bungkusan berisi roti bekas gigitan anak tadi yang lalu mereka perebutkan untuk dimakan.

Setelah bis patas tujuan malang yang kunaiki perlahan bergerak memutar, kulihat Cito, City of Tomorrow berdiri megah dengan lambang UPH dan sosok pesawat terbang di langitnya. Begitu aku mengarahkan mataku sedikit ke bawah, di sebuah lahan kosong di bawah jembatan tol seorang kuli duduk dalam panas sambil mengipasi diri dengan topi capingnya.

Dari jendela bis patas antar kota Malang-Surabaya akhirnya aku sadar akan sesuatu yang selalu mengganjal sejak kedatanganku ke Surabaya:

Semua kejadian ini, semua pemandangan ini..
SALAH SIAPA?
Segala ketimpangan yang tertangkap mata ini salah siapa?

Kenapa setelah Indonesia merdeka 63 tahun,
Setelah 10 tahun 3 bulan reformasi berjalan,
Setelah berbagai perubahan yang dijanjikan untuk mensejahterakan rakyat,

Kenapa masih ada ibu-ibu makan sebungkus nasi di trotoar terminal dengan anaknya yang menangis?

Bukankah yang ada di sekelilingku ini rakyat?
Lalu mana segala janji perubahan atas nama rakyat itu?
Kenapa tidak tampak adanya perubahan?
Kenapa masih ada lelaki pincang yang duduk di pinggir jalan meminta recehan?

Dalam hati aku berpikir..
Sudah dua puluh tahun aku hidup di dunia ini..
Gelar mahasiswa sudah tersemat di dada,
Mahasiswa yang disebut-sebut sebagai agen perubahan,
Mahasiswa yang idealis dan sanggup menumbangkan sebuah era pemerintahan,
Mahasiswa yang berjuang atas nama rakyat..
Tapi tidak sedikitpun aku bisa merubah keadaan..
..
..
Aku sangat malu..

August 04, 2008

Sepeda O'on

huft...

sejak februari, varioku ngeluarin suara aneh tiap mau dipake. kayak suara daun pintu kalo kurang oli gitu...nyiiiit-nyiiiiit...

akhirnya kuputusin servis bulan mei dengan keluhan: -sepedanya bunyi-bunyi kalo distarter...

kata mas montirnya mungkin kampas remnya. akhirnya dibetulin dah. tpi waktu dinyalain bunyi lagi...

'oh, ne kampas rem belakang mas...', kata montir itu lagi. dibetulin lagi dah. tapi waktu dinyalain bunyi lagi.

'hmmm...kayaknya olinya mungkin mas...'. dibetulin dah tu oli. dan amsih bunyi lagi...

setelah diobrak-abrik, montir hondanya bingung. dah diperiksa kemana-mana tapi ga ada hasil. tiap satu bagian dicek n dipasang lagi, waktu dinyalain pasti bunyi lagi...

akhirnya setelah enam jam bongkar-pasang sepedaku, montirnya nyerah. dia suruh aku ke dealer pusat yang letaknya agak jauh...

karena dasarnya males, ya ga usah...

setelah berbulan-bulan berlalu dengan suara decit mengganggu itu, tepat tanggal satu waktu aku ngelap motor en manasin motornya (dengan suara decit itu tentunya) aku iseng-iseng cari penyebabnya.

dan ternyata sodara-sodara!!!

decit itu asalnya dari baut penyambung headlamp yang kurang kenceng!

astaga....