Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

March 06, 2009

Another Love Scene

Another Love Scene

------------------------------------------------------

Siang itu tak seterik yang biasanya. Mendung memayungi mentari sedari pagi, menciptakan nuansa teduh dan tenang.

Sesosok gadis melangkah keluar dari gedung perkuliahan sembari membawa berkas-berkas dalam map. Dia lalu duduk di taman di seberang gedung, menanti seseorang di bawah rindangnya pohon.

Dalam penantiannya dia menikmati lembut angin yang membelai wajah dan rambut hitam panjangnya. Wajahnya nampak lega, seakan segala urusan yang membenaninya teratasi.

Sesaat kemudian sebuah mobil berhenti di depannya. Sesosok lelaki keluar dari mobil itu dengan senyum dan menghampirinya. Gadis itu membalas senyumnya.

"Lama ya? Sori.. Macet."
Gadis itu menggeleng pelan. "Gapapa. Aku juga lagi enak duduk di sini."

Lelaki itu duduk di sebelah gadis itu. "Stella," kata lelaki itu. "Gimana urusannya? Dah selese?"

Stella mengangguk. "Iya. Berkas-berkasnya udah kelar. Sekarang bukan hanya seorang Gunawan yang bergelar sarjana en bisa bekerja," canda Stella sambil memasang wajah mengejek pada Gunawan.

Gunawan tersenyum. "Kamu itu... Inget ga apa yang udah terjadi di tempat ini?"

Stella tersenyum. Dia mendongak menatap awan. "Ya iyalah. Ini tempat kita pertama ketemu waktu opspek. Di sini juga kamu nembak aku. Terus kita pernah nunggu ujan reda seharian di sini. Waktu itu kamu belum punya mobil dan baru lulus kaya aku sekarang...".

Gunawan menatap Stella seakan Stella adalah malaikat terindah yang hadir di sampingnya. "Banyak kenangan di tempat ini ya?"

Tanpa menatap Gunawan Stella menjawab, "Dan kenangan itu akan tetap abadi."

Hening sejenak.

Stella kemudian menarik nafas. "Bentar lagi kamu dipromosiin ke Singapur. Kita pisahan deh. Hehe, ga tau ya bisa ato ngga aku tanpa kamu... Aku udah terlalu lama tergantung ma kamu, sayang ma kamu. Tapi demi kemajuan kamu, demi masa depan kamu, aku pasti dukung ko..". Stella tersenyum.

"Maka biarlah kita tetap bersama selalu."

Stella menoleh. "Maksudnya..?" Seketika itu juga Stella terdiam.

"Will you marry me, Stella Maria Hasibuan?"

Stella terdiam. Dia menatap Gunawan, pria yang dulunya kakak seniornya, pria yang dulu mengutarakan perasaanya dengan menyanyikan lagu cinta untuknya, pria yang dulu ia temani mondar-mandir ke perusahaan-perusahaan untuk melamar kerja, pria yang dulu bersumpah akan selalu membahagiakannya. pria itu sekarang berlutut di sampingnya sambil memegang cincin perak di tangan kanannya. Stella langsung berdiri.

"Gun, serius..?!"

"With you, baby. I always am."

Stella mengulurkan tangan kanannya, membiarkan Gunawan menyematkan cincin itu di jari manis Stella. Dia lalu berdiri dan menunjukkan cincin pasangannya di jari manisnya, lalu tersenyum manis pada Stella.

Stella tersenyum sambil menahan haru. "I do, Gunawan Pradana Putra."

"Je suis amoreux le toi...", bisik Gunawan pelan sambil menatap Stella dengan tatapan penuh cinta.

Stella memeluk Gunawan erat.

"I love you too..."

Daun-daun perlahan berguguran menyambut keabadian cinta mereka.


END




by Romeo
-----------------------------------------------

Kapan ya gua bisa ngelamar soulmate gua dengan scene seindah ini...?
T-T
hahahaha
Tuhan....
Kirimin gua jodoooooooooooooooooooooooooooh...

No comments:

Post a Comment