Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

September 28, 2009

yakin sudah I love you?

seberapa sering anda bilang I love you?
sudah yakinkah anda bahwa kata yang anda ucapkan itu tepat?

lho, apa maksudnya?

nah, kita coba iseng-iseng membedah kata I love you secara linguistik...

I love you merupakan satuan kalimat sederhana yang memiliki Subyek, Predikat, dan obyek. semuanya tersusun rapi dan memberikan makna semantik yang berarti subyek (I) memiliki perasaan suka, ingin memiliki, and whatsoever (red. Love) terhadap obyek(O).

hanya itukah?

bagaimana kalau kita lihat dari segi makna interpersonal (pragmatics)?

I love you?
apa itu?
saya cinta kamu?
cinta itu maknanya apa?

bisa suka, bisa ingin memiliki, bisa saja penasaran, bisa saja nafsu...
banyak hal bisa menyaru dalam kata cinta meski makna kamusnya tidak demikian...

nadanya juga berpengaruh: diucapkan dengan lembut, intimidatif, tinggi, rendah, malas, bersemangat...semua menyimpan makna sendiri.

lingkungan sosial dan budaya juga dapat mempengaruhi apakah cinta dapat disebut cinta,
atau sekedar makna2 lain yang menyaru didalamnya...

jadi meski dalam syntax dan semantics maknanya jelas,
dalam pragmatics, sociolinguistics, dan etholinguistics semua bisa berbeda.

dari sini bisa kita simpulkan secara tentatif dan sederhana bahwa I love you dapat digolongkan jadi dua tipe:
-sentence
-utterances

sentence atau kalimat (yang masuk dalam ranah syntax dalam micro linguistics)adalah satuan struktur kata yang memiliki makna (simply meaningful), sedangkan utterances atau pernyataan (yang masuk dalam ranah pragmatics dalam macro linguistics) adalah satuan struktur kata yang tak hanya memiliki makna, namun juga berkaitan dengan keadaan dan perasaan yang sebenarnya (meaningful and relates to the actual situation).

So,
apakah I love you yang ada ucapkan hanyalah sebuah sentence (kalimat),
ataukah sebuah utterances (pernyataan)?

September 07, 2009

Pemikiran Simpel Yang Lahir Pagi Ini - Diposting Malamnya

Hm, rasanya isu klaim-mengklaim ini memang sudah terjadi sekian lama antara kita dan mereka. Mulai dari klaim lahan (Kalimantan Utara pada era Soekarno yang lalu mereka dapatkan, klaim pulau-pulau terluar kita yang aku males nyari namanya) sampai ke klaim produk budaya kita (batik, reog ponorogo, en tari pendet yang baru-baru ini ada) membuatku berpikir (dan telat banget kali ya? wkwkwkwkwk): Apa ini sepenuhnya salah mereka?

Aku (dan aku yakin banyak juga yang lainnya) tidak begitu tahu tentang tari-tarian atau kesenian tradisional, tapi keidaktahuan ini adalah bukti nyata kalo sebagai pemilik sah budaya tersebut kita ternyata TIDAK peduli dengannya (atau kurang, atau peduli tapi tidak tahu caranya.. Haha, ngeles aja ini ceritanya). Karena keacuhan kita ini, budaya kita jadi tak terawat. Lagu-lagu daerah sudah jarang dinyanyikan, alat musik tradisional hanya segelintir orang yang tahu cara memakainya (btw aku ga tau gimana cara main angklung... ;P), baju daerah hanya jadi simbol, obyek wisata tidak terurus (kecuali BALI! kita kesampingkan Bali dulu dari topik ini. Malaysia will be extremely out of this world if they actually have the guts to claim Bali. Wkwkwkwkwkwkwk), tari-tarian jarang dipertontonkan (atau dipertontonkan untuk segi komersil, nilai-nilai budaya kalah oleh uang. Ironisnya...). Sebagai seseorang yang lahir dalam keluarga jawa yang kental, dididik untuk menyukai hal-hal berbau tradisional, serta sampai sekarang masih suka lihat wayang (dan bangga mengakuinya. HA-HA-HA!), cukup sedih juga sudah ga bisa lihat wayang di satu stasiun TV tiap subuh dihari minggu seperti biasa (hayo, ada yang ingat stasiun mana?)

Dari situ, jika aku ambil sudut pandang sebagai seseorang yang peduli akan budaya tanpa melihat siapa pemilik sahnya, kelangsungan budaya itu jadi lebih penting ketimbang mengurus budaya apa yang miliknya siapa. GWK (Garuda Wisnu Kencana) sempat mau dibeli investor Malaysia tapi ga jadi. Tahu alasannya? Aku yakin investor itu 'gatel' ngeliat kita lelet banget karena proyeknya ga jalan-jalan atau jalannya sangat lambat! Jujur secara pribadi, aku tidak akan sepenuhnya menyalahkan saudara serumpun kita yang tergoda mengambil harta kita. Toh kita saja tidak bisa merawatnya, tidak bisa menjaga. Malaysia sampai berani pasang iklan budaya mereka di stasiun-stasiun TV terkenal di dunia. Kita? Situsnya aja habis bermilyar-milyar tapi menurutku standar saja. Mereka TIDAK tanggung-tanggung men! Mereka total mengurus apa yang mereka punya! Bahkan sampai ngurusin apa yang bukan ounya mereka! Istilahnya seperti 2 bersaudara, yang satu (baca: kita) punya mainan yang banyak dan bagus-bagus tapi ga bisa ngerawat, sedang yang lain (baca: Malaysia) ga punya sebanyak yang sodaranya punya tapi mampu merawat mainannya semua. Kalau jadi ibu dari dua saudara ini, kira-kira kecewa ga sih kalau tahu salah satu ga bisa merawat pemberian dari orang tua?

Alasan finansialkah? Oh c'mon... Kita ini tidak miskin! Tahu sendirilah rancangan anggaran kita sangat besar (bahkan untuk hal-hal kecil dan nampak konyol. Ga pernah diajarin hidup hemat kali yak?), cuman yang kita ga tidak tahu itu kemana larinya anggaran itu (how ironic eh? jadi miskin karena diri kita sendiri). Harta fisik kita banyak, tapi dijual mentah, terus dibeli lagi produk jadinya (bodoh ga sih?); orang kaya dinegara kita banyak (begitu juga orang miskinnya... T-T); kekayaan intelektual kita melimpah (tapi kita kurang intelek buat merawatnya)! Masa buat devisa kita terus-terusan mengandalkan BALI?! Mana perusahaan rokok dah pada dijual keluar negeri pula! NAH LO...

Kita ini terlalu lama berada di comfort zone, terlalu terlena dengan pujian-pujian kuno tentang negara kita. Saatnya kita sadar kalau pujian itu cuma akan jadi arsip lama berdebu di perpustakaan lokal kalau kita tidak segera bangkit. Kita bolehlah marah barang kita diaku-akuin (meski kita sendiri ga bisa ngerawatnya...), mencaci saudara jauh kita dengan celaan-celaan (dan mereka akan mencaci balik, dan kita akan membalas, dan akan jadi seperti itu terus tanpa solusi), atau malah balas mengklaim produk budaya mereka (Siti Nurhalisa?! Helloooooooo? GET REAL PEOPLE! Ngapain kita klaim istrinya orang?! Wong dia juga udah ga nyanyi...). Tapi alangkah lebih baiknya kita urus harta kita, kita inventaris, kita rawat satu-satu. terus kita populerkan, sehingga dunia tahu dan tanpa kita repot-repot teriak-teriak "Buat yang suka ngaku-ngakuin barang-barang gueh! Ini punya gueh! bukan punya loh! okeh?! MAKAN NEH!" (tapi ga pake maki-maki temen SD kaya di youtube yaaaah... XD). Dan toh pada akhirnya dunialah yang akan menertawakan klaim-klaim itu.

Kita ga usah teriak-teriak, tapi kita buktikan kalo kita mampu.

(BTW salut buat BCL yang bisa ngalahin Siti Nurhalisa dalam anugrah musik antara singapore, malaysia, en indonesia (aku lupa apa nama acaranya. Love you pull Bunga!). Gitu lho caranya nunjukin kita keren! Masih ada yang mau klaim jeng Siti?)






dari:
Romeo yang sebenernya dari awal mau nyeletuk soal ini tapi takut digebukin massa. Kalo banyak yang tersinggung maaf ya... XD