Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

May 07, 2010

arti dan makna

ini bukan masalah dia.

ini bukan masalah cinta.

ini masalah lain. Ini masalahku. Masalahku yang lama tak kunjung ketemu penyelesaiannya.

***

Malang, May 6th 2010.

badanku agak panas senja itu, tapi entah kenapa aku memutuskan untuk sedikit berdandan dan pergi dengan motorku.

Tujuannya? Entahlah. Aku tak tahu.

Diatas motorku aku berkeliling kota. Aku melihat hiruk pikuknya, macetnya, ramainya, semuanya. Aku beberapa kali mengitari lapangan alun-alun, lalu air mancur simbol kota Malang, melewati balai kota, lalu menyelusup dalam jalan sempit Kota Lama. Lalu aku berhenti sejenak di sebuah mall dan berjalan memasuki bioskopnya, menonton sebuah film yang menurutku menarik saat itu, tak lupa membeli minuman, lalu duduk dikursinya. Sendirian.

Film telah usai dan aku melangkah pergi dari bioskop, lalu dengan motorku kami beranjak pergi berkeliling lagi, terbimbing lamunan menuju ke Jalan Ijen. Disitu motor kupelankan, disitu lampu-lampu kotanya kunikmati hingga ke ujung lampu lalu lintas yang telah merah.

Lampu itu seakan mengejek keraguanku saat aku melihat jalan yang telah bersilang didepanku. Kekiri pulang, ke kanan bertualang. Aku diam.

Saat lampu hijau mulai mengisyaratkanku untuk mengambil keputusan, aku membiarkan perasaanku menghanyutkan roda motorku. Aku ke kanan. Aku kabur. Aku memilih hidup di jalan sedikit lebih lama.

Arus anganku di kota ini perlahan membuatku menepi. Aku duduk ditepi jembatan Soekarno-Hatta. Pukul 1 pagi. Aku diam dan menatap lampu-lampu jembatan. Mobil-mobil lalu lalang, meski sudah sangat lengang. Diatas motorku aku duduk dalam diam. Sendirian.

Apakah sebenarnya arti hidupku ini?
Kenapa aku merasa ada yang hilang?
Cintakah? Uangkah?
Bukan. Bukan itu. Bukan itu yang hilang.
Kenapa semuanya begitu berat padahal terasa mudah?
Dan kenapa semua begitu rumit padahal terlihat sederhana?

Kenapa? 

Kenapa? 

Aku ingin memiliki makna, aku ingin memiliki arti.. 

Aku mendengar bunyi motor mendekat. Aku menoleh. Seorang lelaki datang dengan motornya. Dia menaruh motor itu dekat denganku, kemudian dia mulai mengambil kameranya dan mulai memotret jembatan itu dari berbagai sudut. Dia nampak seperti seorang fotografer profesional, namun entahlah. Aku tidak begitu paham.

Lelaki itu lalu duduk diatas motornya sambil menyulut rokok. Dengan sopannya dia menawariku sebatang. Aku menggeleng. Kami kembali diam. Aku dengan lampu-lampu itu, dia dengan kameranya.

Lelaki itu lalu melompat dari motornya dan memanggilku. "Mas?"

Aku menoleh.

"Saya boleh ya ambil fotonya mas? Buat portofolio tugas saya."

Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Silahkan mas. hehehe..".

Dia lalu segera mengambil posisinya sembari mengatakan aku tak perlu terlalu tegang, cukup bertingkah seperti apa yang tadi kulakukan. Dan aku mulai mendengar bunyi kameranya yang menangkap bayanganku dalam helai foto yang akan dia masukkan dalam portonya.

Sejenak kemudian dia menghampiriku dan berterima kasih. Aku membalasnya dengan anggukan dan senyuman pelan.

"Saya sedang dapat tugas bikin foto bertema solidity - kesendirian. Tapi fotonya harus natural dan ga dibuat-buat. Untung saya ketemu mas," ujarnya sambil mulai menyalakan rokoknya lagi. Aku terdiam.

Dia lalu pamit pergi sambil kembali mengucapkan rasa terima kasihnya. Dalam sosoknya yang menjauh aku terdiam. Dia baru saja berterima kasih padaku. Untuk apa?

Tanyaku masih belum terjawab, namun lelaki yang aku bahkan tak tahu siapa dirinya itu telah berlalu. Dia telah melanjutkan hidupnya, mungkin akan segera memasukkan gambar-gambarnya ke dalam komputer dan segera memperbaiki, lalu mencetak dan segera mengumpulkan hasil cetakannya ke dosennya. Mungkin dia akan dapat A, mungkin dia akan senang, lalu dengan mood yang bagus dia akan menjalani hari-harinya dengan lebih bermakna. Atau mungkin juga sebaliknya. Namun apapun itu, kuyakin hidupnya memiliki makna. memiliki arti.

Lalu,
Bagaimana denganku ini?
Apakah aku juga memliki makna, memiliki arti?
Apakah ada maksud dibalik keberadaanku, ataukah hanya kebetulan kosmis dalam rangkaian kejadian dalam untaian kronologi waktu dan ruang dalam semesta ini?

Angin malam menemaniku sampai langit berubah kemerahan. Sudah mulai pagi.

Aku dan motorku kembali ke peraduanku, membiarkan semuanya larut. Larut dan berharap akan sirna, minimal bersenyawa dengan partikel waktu sehingga aku tak lagi merasakannya.

Dan aku mengaku, lagi-lagi aku lari.

4 comments:

  1. yg hilang dari dirimu, mungkin adalah dirimu sendiri, ketika kamu kehilangan makna sesungguhnya kehadiranmu, bagi orang-orang sekitarmu, atau bahkan bagi dirimu sendiri.

    ada yang mengatakan itulah proses pencarian jati diri.

    hanya saja, seringnya orang-orang terlalu terpaku, dan kembali lagi dan lagi-lagi kembali ke step yang sama. bukan terpuruk. hanya mengulang lagi, dan lagi-lagi mengulang.

    kamu beruntung, kamu memiliki ruang, dan waktu, untuk membuatmu berpikir dan meresapi kembali setiap kejadian yang berlaku untukmu.
    ada yang tidak punya. aku tidak punya. (fey)

    ReplyDelete
  2. sepi dan sendiri
    mungkin kamu butuh seseorang
    seorang sahabat
    seorang kekasih
    seseorang untuk bicara
    seseorang untuk berbagi
    seseorang yang duduk di boncengan motormu
    (",)

    ReplyDelete
  3. ini anonymous yang terakhir ini siapa ya?
    -_-

    pake nama ya gan biar gampang..

    ReplyDelete