Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

June 25, 2010

Hidup: sebuah perjalanan menuju liang lahat (Life: A Journey to the Grave).

Hidup: sebuah perjalanan menuju liang lahat (Life: A Journey to the Grave).

Manusia pasti mati. Itu adalah satu fakta murni yang berlaku dalam dunia tempat kita tinggal ini. Bahkan tak cuma manusia, hewan, tumbuhan, mereka juga akan menemui sebuah akhir yang disebut mati. Setelah itu, semuanya masih misteri. Agama-agama mengajarkan akan kehidupan setelah kematian, ada pula yang mengajarkan siklus kehidupan berikutnya yang biasa dikenal dalam istilah reinkarnasi. Namun apapun itu, semuanya setuju bahwa kematian selalu jadi ujung sebuah perjalanan tiap makhluk bernyawa yang kita namai dengan istilah kehidupan.

Dan dengan sadar penuh kalau kita akan mati nantinya, jika seandainya suatu ketika seseorang memberikanmu kabar kalau hidupmu akan berakhir tak lama lagi dan tak ada cara lain untuk menghindarinya, kenapa selalu akan ada rasa bahwa waktu yang kalian miliki di dunia ini begitu kurang? Kenapa jadi merasa kurang? Bukankah memang hidup itu untuk mati? Kenapa tidak langsung mati saja? sebenarnya apa guna hidup itu sebenarnya?

Agama menjawab pertanyaan itu dengan menyebutkan bahwa kehidupan yang kita rasakan adalah semacam media pengumpulan pahala untuk hidup kekal nanti; para atheist menyatakan hidup ini ya hidup - kita ada karena kebetulan, dan kebetulan juga kita bisa mati. Lalu apa cuma seperti itu? Setelah kita mati, selesai? Atau setelah kita dimasukkan ke neraka dan surga, selesai? Begitu saja? Entah kenapa aku merasakan kalau eksistensi kita sebenarnya lebih dari sekedar menjadi calon penghuni neraka atau surga, lebih dari sekedar hamba Tuhan yang di dunia ini menambang pahala, dan bahkan lebih dari sekedar kebetulan kosmik hasil dari keteraturan tak berujung di jagat raya ini. Aku merasa, kita sebagai manusia punya misi lebih daripada itu. Jika memang suatu saat nanti seseorang mengabarkanmu tentang tengat waktumu yang makin dekat, mungkin kalian akan tersadar maksud sebenarnya dari jangka waktu yang didapat di dunia. Perjalanan yang disebut kehidupan ini ternyata memiliki makna yang begitu sederhana: pengalaman.

Pengalaman selama kita hidup, itulah yang kita cari. Langit yang begitu biru, rumput yang begitu hijau, laut yang begitu teduh, semua itu adalah hal-hal yang kita nikmati dalam perjalanan ini. Pertemuan dengan sesama makhluk yang tak kekal lainnya, bertukar mimpi, bertukar asa, bertukar ambisi yang harus dipenuhi sebelum tenggat mereka masing-masing habis, lalu menyisakan kenangan dalam tiap individu yang nantinya akan dibawa sampai kubur nanti. Dari hal luar biasa seperti ilmu yang diciptakan manusia, jutaan hal baru yang masih perlu diamati dan dinikmati, bintang-bintang yang masih perlu diselidiki, atau malah hal sederhana seperti duduk didepan rumahmu meresapi ketenangan sembari melihat kupu-kupu berterbangan, semua itu adalah hal yang kita dapat selama perjalan kita sampai nanti. Dan kitalah yang akan menentukan seperti apa hidup ini kita pakai nanti - untuk segala hal indah atau sebaliknya. Di sinilah mungkin agama memperlakukan sistem dosa dan pahala agar manusia dijauhkan dari tindak tanduk tercela lewat larangan dan imbalan dosa serta didekatkan dengan keharmonisan hidup yang diberi imbalan pahala.

Mungkin karena inilah orang takut mati - mereka yang percaya Tuhan takut mati karena merasa belum cukup menabung pahala; mereka yang tak percaya takut karena merasa belum menikmati hidup yang sebenarnya. Semua sebenarnya berlandaskan satu teori yang sama: Kita takut karena kita merasa kita belum cukup merasakan dunia ini seperti apa, kita merasa punya tanggung jawab dan hak untuk berada di dunia ini, untuk menikmati sekaligus mengelolanya, atau malah merusak dan menjarahnya. Apapun itu, kita takut karena kita merasa belum cukup menikmati hidup, untuk mengejar dan menggapai yang kita mau. Hidup jadi nampak seperti sebuah perjalanan yang jauh dan berliku diatas sebuah mobil dengan pemandangan indah yang selalu kita catat dalam buku pengalaman hidup kita, dan ketika kita sudah mau sampai, kita akan merengek bagai anak SD yang ngin jalan-jalan lagi karena masih ingin menikmati pemandangan itu.

Namun apapun itu, dengan pengaruh agama atau tidak, perjalanan ini memang harusnya dibuat indah dan penuh tawa. Sedekat apapun tenggat waktu hidup kita, seharusnya semakin kita bisa buat perjalanan ini menyenangkan dan memberi makna hidup kita dengan keindahan, keharmonisan, dan kebaikan. Hidup cuma sekali, kata pepatah, maka isilah hidup ini dengan sebaik-baiknya. Coz Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.


Dan aku janji, sisa hidupku akan kubuat indah. :)




adysaurus: another immortal human that views life in his small-framed mind.

1 comment:

  1. give your nickname and available contact (a.k.a facebook account) so we can contact you. :) Or at least nickname.

    ReplyDelete