Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

June 09, 2010

Kau, Aku, Dia, Jarak, dan Rasa.

angan melambung saat kahitna - Mantan Terindah dan Engga Ngerti mengalun.

Kau, Aku, Dia, Jarak, dan Rasa.

"Mau apalagi kamu?" katanya sambil menatapku yang kuyup terkena hujan. Aku diam. Dengan berat dia melangkah masuk, lalu keluar membawa handuk kering. Dia memberikannya padaku, lalu melangkah masuk.

Diambang pintu dia menatapku. "Mau masuk ga?"

Aku menggeleng. "Aku minta maaf."

Wajahnya sekilas terkejut, namun dia kembali tersenyum. "Buat apa lagi?"

Aku diam. Aku cuma bisa diam. dia memberiku senyum, lalu menarikku kedalam. Dia lalu berjalan menuju dapur. Aku lalu mengacak2 rambutku dengan handuk kering itu sambil terdiam. Dia lalu muncul membawa teh hangat, lalu duduk disebelahku mengusap rambutku yang basah.

"Aku tahu kamu suka hujan, tapi kamu juga bisa sakit karena hujan," katanya lembut. Aku tertegun.

"Itu tehnya diminum."

Kata-katanya mengejutkanku. Aku mengangguk, tapi hanya dapat menunduk. Nuansa pastel ruang tamu dengan perabotan simpel itu seakan ikut melarutkanku dalam hangatnya. Larut tanpa kata.

"Aku sudah tunangan lho," katanya tiba-tiba. Aku menoleh melihatnya. Wajah itu, wajah yang dua tahun lalu pernah menyayangiku, wajah sendu namun hangat yang pernah jadi nomor satu bagiku. Wajah yang pernah menderita karenaku.

Aku tahu, aku tahu. Karena itu aku disini. Tapi kata-kata itu hanya merintih dihatiku.

"Aku mau pindah," kataku tiba-tiba.
"Oh ya? Masa mau pindah lagi?" katanya sambil mengambil handukku dan menaruhnya di keranjang cucian diseberang ruangan didekat pintu coklat. "Kemana?"

"Ba-bali...".
"Wah, bagus dong? Bentar lagi kerja kan? Punya rumah sendiri, punya penghasilan sendiri," ujarnya dari balik dapur. "Padahal baru setahun di Jakarta. Tapi kalo kamu pasti ga betah ya sama macet. Ahahahahaha..."

"Ada kerjaan yang janjiin. Lagian... Aku mau.. lanjutin ke Paris. Belajar Art."

"Wow, keren! ngeraih impian kamu ya? waaah... Bagus-bagus."

"Aku mau pamitan."

Waktu seketika itu berhenti. Bethara Kala seakan menelan masa bulat-bulat, lalu memuntahkannya kembali saat sosok itu muncul dengan wajahnya yang biasa ia tunjukkan saat aku membuatnya sedih. Namun kali ini giliran anak panah Sang Rama yang seakan menembus jantungku seiring dengan tatapan matanya.

"Kenapa pamit ke aku?"

Aku menunduk. "Aku gak tahu. Aku gak ngerti."

Ia lalu memegang bahuku, seakan mengisyaratkanku berdiri. dan aku berdiri, meski dengan wajah memaling.

Dia memegang wajahku, lalu membelai pipiku perlahan.

Dia memelukku. Erat sekali. Erat sekali.

"Ati-ati," bisiknya pelan.

Aku membalas dekap hangat itu. Lalu aku melepasnya. Aku mengangguk berpamitan tanpa kata. Namun saat tubuh basah ini melangkah, tangannya menggapai lenganku.

"Are you running away?"

Aku menoleh ke arahnya.

"I was running to you." Aku melepas genggamannya perlahan, lalu mencium tangannya. "But I know, you deserve a better life."

Dia diam. bahkan saat pintu itu tertutup, saat ragaku melangkah gontai menapaki genangan air bekas hujan yang sudah mereda.

6 comments:

  1. kisah cinta tak sampai yang lain, huh? analogi tentang tokoh klasiknya kurang banyak jadi dua analogi itu kayak gak masuk dalam cerita :p just another smartass opinion pal

    ReplyDelete
  2. kisah cinta tak sampai yang lain, huh? analogi tentang tokoh klasiknya kurang banyak jadi dua analogi itu kayak gak masuk dalam cerita :p just another smartass opinion pal

    ReplyDelete
  3. kisah cinta tak sampai yang lain, huh? analogi tentang tokoh klasiknya kurang banyak jadi dua analogi itu kayak gak masuk dalam cerita :p just another smartass opinion pal

    ReplyDelete
  4. (adysaurus@yahoo.com - saya malas login)

    kalo kebanyakan jadinya tema wayang banget.
    eksperimen saja sih,
    tapi bagus kok.
    masalahnya rama tu pacarnya sinta, bukan santo.

    ReplyDelete
  5. wah,,,
    aku ngebacanya sambil berimaginasi loh...
    hehhehheehehe

    tp, aku ngebayanginya
    orangnya???? (gender) hmp???
    -_-"

    ReplyDelete