Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

July 11, 2010

Blank

Hari ini Minggu. Aku terbangun agak telat.

Dengan lemah aku menatap langit-langit kamarku, melihat ruas-ruas segi empat yang membingkai tiap bilah-bilahnya, dan bintang-bintang fosfor yang tertempel disitu peninggalan pemilik lama kamar ini.

Cukup lama aku menatap kosong, sampai dadaku perlahan menyesak. Bukan, ini bukan asma. Ini sebuah gejala aneh yang sering kualami dulu. Sesak ini perlahan berubah jadi kehampaan. Ya, hampa.

I feel like I don't belong here, like I was suppose to be somewhere else, in another universe, but I ended up here. I feel like my reality is a dream, and my dream is the reality.

Boneka hadiah pemberian sahabatku kuangkat keatas, kutatap dalam-dalam, kurasakan tekstur dan wajahnya. Begitu nyata, namun begitu semu.

Aku duduk bersandar dengan menaruh boneka itu dipangkuanku. Mataku menatap sayu ke sekeliling. Kamarku yang berantakan, baju-baju yang tergantung, helm, tasku, buku-buku, dan draft skripsiku tergeletak acak dikamar. Mataku bilang semuanya nyata, tapi hatiku meragukannya.

Aku memejamkan mata, mencoba mengingat kenangan yang ada di kamar ini, di dunia ini, mencoba mencari-carinya dalam tumpukan memori, mencoba menyatakan kalau kenangan itu adalah bukti. Bukti kalau semua ini realita, dan aku hidup dalam realita itu.

Ya, aku bisa mengingat dengan jelas, namun gundah dan sesak ini...

Pertama kalinya dalam hidupku, aku takut kalau semua ini hanya mimpi.

Aku berdiri, membuka pintu kamarku, membiarkan mentari menyambutku dan menyilaukan mataku. Lalu aku duduk di beranda depan kamar beberapa jam. Diam.

Otakku bilang ini nyata, hatiku bilang ini mimpi. Dan akhirnya aku membungkam hatiku lagi.

2 comments:

  1. been there too... Tapi gak tau apa kasusya juga sama.

    Tapi menurut pengalaman pribadi, aku selalu memilih tempat yang lebih nyaman untukku hidup. Entah itu pada realita ataupun mimpi. Disaat salah satunya dapat membuatku nyaman, aku akan memilih untuk hidup dan menikmati hidupku di tempat itu, realita ataupun mimpi. Terkadang aku lari dari realita menuju mimpi. Karena realita membuatku tidak nyaman. Namun terkadang, aku juga kembali pada realita, dan meninggalkan sejenak mimpiku. Karena aku sadar, aku tidak bisa selamanya berada dalam mimpi. Tidak ada kekekalan dalam keduanya. Aku hanya percaya, kita tidak bisa hidup hanya dengan salah satunya.
    Apa yang kita percayai, adalah apa yang membuat kita nyaman dan itulah yang membuat kita hidup.

    Disaat dirimu takut jika realita yang kamu alami hanyalah mimpi, itu tandanya dirimu mulai mencintai realita yang terjadi dan takut kehilangan hal itu. Takut bahwa itu semua hanya perasaan semu yang tidak pernah terjadi. Takut bahwa itu semua hanya mimpi.

    Kamu mulai mencintai kehidupanmu di realita ini. Welcome home to reality ^^

    ReplyDelete
  2. hm...
    it doesnt actuallt go tha way...
    but point taken lah.
    :)

    ReplyDelete