Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

August 23, 2010

Sahabat dan Sendiri

sahabat? sahabat itu apa? rasanya seperti apa? kenapa semua orang menginginkannya? aku tak pernah benar-benar paham maknanya.

aku tak pernah paham makna sebenarnya dari sahabat. selama ini aku tidak benar-benar punya teman. Sejak kecil kegemaranku berbeda dengan yang lainnya. hasilnya aku terkucilkan. yang lelaki mengolok-olokku, yang perempuan menjauhiku. aku dihina cengeng, aku dijauhi, tak ada yang mau bermain bersama. di rumahpun tak tersisa rasa cinta, hanya keluhan, bentakan, omelan, dan ketidak nyamanan. semua membebani, dan membentuk aku yang sekarang ini. dan sejak saat itu kata SAHABAT selalu bersanding dekat dengan kata SENDIRI

maka dimulailah permainanku dengan imajinasi kecilku. dengan imajinasi batang bambu itu jadi pedang. dengan imajinasi pepohonan itu jadi musuh. dengan imajinasi aku berlari menebas mereka, membantai musuh-musuhku, dan makna sahabat mulai hilang maknanya dalam hidupku. dan dengan imajinasi masa kecil itu aku kadang memanjat pohon, lari dari hinaan dan cacian mereka, masuk ke dunia khayal tanpa derita. aku tak lagi butuh sahabat, karena aku bisa hidup tanpa mereka. dan kata Sendiri jadi terasa tak menakutkan lagi

lalu saat sekolah menengah kata itu kembali bermakna. aku bertemu seorang teman, teman satu kelas. kami berhobi sama, bersifat sama, dan bernasib sama. dalam keterkucilan itu kami berteman, dan saat itu aku merasakan makna sahabat. dalam terik siang pulang sekolah dia mendengar, aku juga mendengar. dalam baju putih biru dia bercerita, aku bercerita. dan kami selalu bersama.

namun aku dan dia beranjak dewasa. kedekatan kami merenggang perlahan saja. dia kini tumbuh jadi wanita bersahaja, dan aku jadi lelaki dewasa. kami kadang bercerita, meski tak lagi selugas biasanya. ada tembok tak terlihat - tembok moral yang terbangun saat kami mulai mengenal makna eksistensi pria dan wanita. makna sahabat yang sempat terpisah dari sendiri itu mendadak kembali.

dan mulailah hidupku sendiri lagi dalam seragam abu-abu. semuanya menuntut prestasi, semua mengharap nilai tinggi. tak sempat lagi terpikir tentang sahabat, karena aku sudah bingung dengan nasibku sendiri. namun isolasi itu masih ada, pemilihan teman itu masih terasa. dan aku selalu disaring keluar, meski kini dengan senyum palsu dan wajah berpura-pura.

kupilih kembali ke dunia lamaku, dunia imajinasiku. dunia yang sempat kukunci tiga tahun lalu. aku mulai menulis, berkarya, menciptakan dunia dimana alurnya ditanganku, dan semua orang akan kujamin bahagia. tak ada yang akan bernasib sepertiku, duduk dipojok kelas, menghibur diri dalam angan bahwa kelas itu menyayangiku. namun aku hanya pengisi absen nomor satu.

mungkin karena itu tak lagi berat untuk meninggalkan kotaku, karena tak ad ayang benar-benar menahanku. kota lahirku tak ubahnya seperti kota-kota lain yang kulintasi dalam perjalananku, dengan kenangan yang hanya sedikit terasa. dan pindahlah aku empat tahun lamanya, belajar ditempat baru, bertualang dalam imajinasi nyata terliarku.

di dunia baru ini tak ada yang mengikatku, semuanya kucoba, semuanya kurasa. dosa, pahala, semua bercampur dalam realita. dan banyak yang menyukaiku di dunia baru ini. mereka melihatku dengan cara berbeda, mereka suka, bahkan banyak yang bilang cinta. ya, kata yang seumur hidup aku tak pernah bermimpi mendengarnya. dan jadilah cinta itu larutan lain dalam realitaku yang menggila. aku bahagia. paling tidak menurutku, aku bahagia.

dan aku mulai belajar arti sahabat. dan mulailah aku mencari mereka yang bisa menjadi sahabatku. banyak sebenarnya yang ada didekatku. mereka berkeluh kesah padaku, mereka meminta nasehatku, mereka membutuhkanku, mereka mengajakku jalan-jalan, mereka minta kutemani, mereka berusaha membantuku, mereka menyumbangkan saran mereka padaku. aku belajar untuk memahami, karena kudengar sahabat itu harus saling memahami.

perlahan aku jadi terbiasa diam dalam pemahamanku. tak ubahnya aku menjadi peneliti yang melihat tingkah tiap manusia dengan masalah mereka, mendengar tiap kalimat keluhan mereka yang berat dalam menjalani hidup mereka, membaca tiap cerita mereka kala mereka gundah dengan segalanya. di situ aku mulai belajar bersikap bijaksana, di situ pola-pola masalah manusia jadi mudah kupahami, mudah kupecahkan. dan semakin banyak yang menyayangiku karena kata mereka aku pengertian. banyak yang nyaman bercerita denganku karena aku tahu cara memperlakukan mereka seperti yang mereka mau. aku jadi punya banyak teman.

namun dalam tiap keluhan itu, dalam tiap solusi itu, dalam tiap kalimat menghibur itu, pertanyaan itu muncul: apakah ini makna sahabat? apakah rasa senang melihat nasehatku berguna untuk mereka ini rasa sahabat yang dulu kucari? apa bedanya dengan konsultasi berbayar biasa? kenapa kata SAHABAT itu masih bersanding  dekat dengan kata SENDIRI? kenapa aku masih merasa seperti ini? kenapa duduk diatas motor sendirian masih lebih nikmat daripada berkumpul dengan mereka-mereka yang dengan bangga telah kupanggil teman? kenapa tak ada yang bisa mengerti, seperti sahabatku dulu? empat tahun ini mendekati akhir, dan mungkin aku akan pergi lagi, namun tanya itu masih belum ada jawabnya. pertanyaan-pertanyaan itu, kapan akan terjawab?

dan apakah mempertanyakan semua ini membuatku jadi sahabat yang tidak baik?

No comments:

Post a Comment