Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

November 11, 2010

Ijinkan Hujan sekali Saja

Damian duduk tertunduk diatas tempat tidur putih menghadap jendela. Dia diam. Hatinya ragu. Di belakangnya sebuah koper hitam setengah terbuka tergeletak. Beberapa helai baju masih berserakan di tempat tidur.

"Ian?" Damian menoleh. Sesosok gadis berdiri di ambang pintu. Dia tak membalas tatapan Damian. Wajahnya menunduk. Damian menghela nafas dan mengangkat tubuhnya. Diraihnya baju-baju itu dan dimasukkannya ke koper. Gadis itu sesekali melihat Damian, namun dia memilih diam.

"Sha," panggil Damian. Gadis itu mengangkat kepalanya pelan.

"Iya?" jawab Shasha.

"Maafin aku."

Shasha diam. "It's okay," kata Shasha sembari tersenyum. "Kita bukan malaikat. Kita cuma manusia yang terbuat dari tanah. Kotor, berlumur dosa, banyak celah."

Damian meletakkan koper yang sudah dia angkat ke lantai, lalu menghampiri Shasha. "Maafin aku," bisiknya lagi.

Shasha tersenyum, namun ada tangis yang mengiringi senyumnya. "It's.. okay."

Mendadak Damian memeluk Shasha erat.

Pelukan yang biasanya penuh cinta itu kini maknanya berbeda. Peluk kangen itu jadi peluk perpisahan. Pelukan terakhir. Pelukan yang akan terkenang selamanya.

Dan didalam mobil itu Damian menangis. Tangannya gemetar memgang setir mobil. dia menangis.


Ijinkan hujan malam ini saja, agar aku dapat menari menyamar tangis dalam tiap tetesnya, agar terlarut dahagaku akan bahagia, agar semua masalah ini bisa terlupa.


Sejenak saja, Tuhan, sejenak saja...
Karena lelaki saru menitikkan air mata, dan hujan dapat menyembunyikannya.


Sejenak saja, Tuhan, sejenak saja...
Karena lelaki saru menitikkan air mata, dan tangis ini tak bisa ditahan adanya.

No comments:

Post a Comment