Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

November 20, 2010

Malam ini malam Minggu

Malam ini malam Minggu.

Aku duduk didepan kafe sejam lebih awal. Entah kenapa aku sangat bersemangat hari ini. Aku menantinya malam ini.

Siapa dia? Dia adalah seseorang yang kudambakan selama ini. Malaikat yang kutunggu. Orang yang kunanti. Aku mengenalnya dari sebuah situs perjodohan sejak tujuh bulan terakhir. Awalnya dia mengirimkan pesan padaku, kira-kira pukul delapan malam tujuh bulan yang lalu. Dia bilang aku cute. Aku tersipu, meski tentu saja aku harus menjaga harga diriku. Dan kubilang dia manis. Dan disitulah perbincangan manis kami dimulai.

Sejak itu kami saling sapa lewat pesan, saling tanya dan saling mengenal. Namanya Raja. Umurnya lebih tua beberapa tahun dariku, dan dia sangat dewasa, namun masih tetap mengasyikkan dan penuh canda. Pesan-pesannya sangat sopan dan selalu diiringi pujian-pujian manis, atau malah saran-saran yang sangat logis dan dewasa. Kami saling bertukar foto. Kadang disela waktu kerjaku aku sengaja online dan mengabarinya. Dan dia selalu membalas.

Seminggu setelah itu dia menanyakan nomor telponku. Meski ragu, ntah kenapa aku rela memberikan nomorku padanya. Dan malam itu suaranya yang seksi menyambutku.

"Halo?"

"Iya?"

"Apa betul saya sedang menghubungi nomor gadis tercantik se Indonesia?"

Aku tertawa. "Salah sambung Mas. Ini nomor gadis terjelek se Indonesia."

"Oh, gapapa deh. Yang penting hatinya baik bagai Putri Raja."

Dan kami berduapun tertawa. Kami berbincang begitu lama, membicarakan banyak hal. Aku makin mengenalnya. Aku makin merasa dekat dengannya. Aku jadi suka padanya. Dan katanya dia juga suka denganku. Dan beberapa bulan setelah telpon pertamanya kami resmi pacaran.

Memang terdengar konyol pastinya, namun aku emmang telah mengikat cinta dengan seseorang yang tak pernah kutemui. Namun aku tak peduli. Aku cinta dia. Dan dia cinta aku.

Berbulan-bulan telah berlalu, dan kami masih bersama. Kami bahkan sudah merencanakan tentang hal-hal seperti pertunangan dan keinginannya untuk bertemu orang tuaku di desa. Dia adalan pria yang sempurna.

Dan telpon malam kemarin yang masih kuingat betul tiap nada dan intonasinya makin membuatku cinta padanya

"Sayang?"

"Iya sayang? Ada apa?"

"Aku ada kejutan buat kamu sayang."

Aku tersenyum simpul. "Kejutan apa Rajaku?"

"Aku sudah ada dikotamu Putriku. Malam mingguan yuk yank?"

Bagai anak kecil yang dibelikan mainan aku menjadi girang, Iya. Iya. Iya! Tentu saja iya! segera aku mempersiapkan diri, memberitahunya tempat yang cocok, dan segera sibuk memilih pakaian yang cocok. Aku bagai seorang mempelai yang akan segera menjemput cintaku, menikah, allu hidup bahagia selama. Aku sangat mencintainya.


Dan disinilah aku, duduk menunggu. Senja tadi telah digantikan malam. Dia belum datang. Nomornya tak aktif. Aku resah. Mimpi indahku perlahan musnah. Dan keresahan itu berubah jadi ketakutan. Bagaimana kalau seandainya aku ditipu? Bagaimana kalau seandainya dia berdusta? Apakah tujuh bulan ini hanya untuk sesuatu yang percuma? Bagaimana kalau...

Dan ketakutan itu segera berubah bagai benci bercampur sakit. Rasanya bagai dikhianati. Rasanya bagai dipermainkan. Rasanya bagai kalah dalam sebuah taruhan dimana jiwa ragamu telah jadi jaminannya.

Dan tepat pukul sepuluh malam aku memutuskan berjalan meninggalkan tempat yang seharusnya jadi tempat kami berjumpa sambil membawa hatiku yang berserakan.

Berhari-hari aku menangis. Aku didustai. Aku ditipu. Aku dibodohi. Aku membencinya. Aku emmutuskan mengganti nomorku, menutup akun di situs pencarian jodoh itu, menghapus semua fotonya, melupakan dia. Ya, Raja telah mati dihatiku.

Seminggu setelah itu aku memutuskan mengaktifkan lagi nomor lamaku, lalu tiba-tiba nomor itu muncul di telponku. Nomornya. Aku sengaja mendiamkan nomor itu beberapa saat, samapai akhirnya di deringnya yang kelima aku terpaksa mengangkatnya.

"Ngapain kamu hubungin aku lagi? Ga puas kamu nyakitin aku?!"

Dan sebuah suara membalasku. Namun bukan suara seksinya. Ini suara lain.

"Maaf, apakah ini Putri?"

Emosiku melarut begitu cepat. segera kujawab pertanyaan itu. "Iya. Ini siapa? Bukan Raja kan?"

"Maaf, saya temannya Raja. Nama saya Andika. Anda benar Putri, pacarnya Raja?"

Nama itu. Nama yang kubenci.

"Bukan. Kami sudah putus."

"Hah? Iya? Aduh.. Raja ga pernah ngomong kalo dia udah putus. Umm.. Mbak, saya cuma mau ngasi tahu aja Mbak. Soal Raja."

"Ada apa sama dia?" tanyaku datar. Nama itu tak ubahnya bangkai dengan bau busuk. Sampah yang seharusnya dibuang pada tempatnya.

"Saya sudah coba telpon mbak beberapa hari tapi nomor Mbak ga aktif. Saya dapat amanat dari Raja Mbak..."

"Amanat apa? Kenapa dia ga berani ngomong sendiri? Laki ga sih dia?" tanyaku. Aku mulai hilang kesabaran.

"Maaf Mbak. Raja seminggu yang lalu meninggal karena kecelakaan."

Dan di detik itu mendadak waktu seakan berhenti.

"Maaf Mbak... Waktu Raja masih sadar dia suruh saya kabari Mbak sambil ngasih handphonenya ke saya. Tapi... Handphone pecah dan kartunya juga rusak, makanya saya ga bisa langsung kontak Mbak. Akhirnya saya dapat nomornya dari buku agendanya, tapi nomor mbak ga aktif, jadi... Mbak? Mbak? Halo? Mbak?!"

***

Malam ini malam Minggu. Akhirnya aku bertemu dengan Rajaku, kekasihku. Aku menangisi nisannya.

9 comments: