Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

May 30, 2010

Cinta dalam Buah-buahan

Cinta dalam Buah-Buahan

Ga semua cinta tu kaya stroberi.
Ada yang kaya jeruk,
Ada yang kaya kelapa,
Ada yang kaya durian,
Ada yang kaya biji coklat..

Ada yang bisa langsung digigit,
Ada yang harus dikupas,
Ada yang dikupasnya susah,
Ada yang nampak sulit didapat tapi dalamnya begitu nikmat,
Ada juga yang ga bisa dimakan langsung, harus diolah dulu biar nikmat..

memang ga menutup kemungkinan,
terlanjur dikupas isinya busuk,
terlanjur capek rasanya ga manis.
terlanjur dimasak malah ga jadi.

tapi ya begitulah Cinta..

pinter2nya kita memilih buahnya,
pinter2nya kita memasaknya saja.

kalo mau instan,ya buah kaleng saja.
tapi udah gak segar, banyak bahan kimianya.
:P

-May 2010. adysaurus-

May 27, 2010

sowry

due to my self-declared deadline for my thesis,
i will not post stuffs in this blog for awhile.

I've been doing the whole research and just need to revised here and there,
so it'll be over soon.

wish me luck on my thesis yaw,
i really need it. :|

a sneak peek of my thesis:
"Phonetics Analysis of  Al-Bhed Language in Role-Playing Game Final Fantasy X"

May 25, 2010

Kesempatan yang (tak) sia-sia

detak menggeliat tak terkendali saat Adrian Martadinata - Ajari Aku membahana
(lagu yang saya cantumkan adalah lagu yang didengar berulang2 saat menulis posting ini. Isi lagu ga selalu berhubungan dengan isi cerita)


Kesempatan Yang (Tak) Sia-sia

"Jadi Mas bakal biarin dia begitu saja?! Mas ikhlas?!"

Andhi hanya diam. Dengan gemas Dina menggenggam bahu Andhi erat.

"Dina... Dina rela Mas ngejar Kathy. Dina rela... Demi bahagianya Mas, Dina ikhlas..."

Mata Dina menatap tajam Andhi. Matanya cantik dan teduh, namun menyiratkan kesedihan tak terucap. Andhi menggenggam tangannya.

"Selama ini Mas terlalu baik. Mas bahagiain Bapak, Romo, Ibu, Dina... Mas selalu bikin semuanya bahagia. Asal semua bahagia, Mas bakal bahagia. Tapi...".

Suara Dina mendadak parau. "Mas ga pernah mikir kalau kadang kebahagiaan Mas Andhi itu lebih penting, Mas? Mas per-nah mikir kalo mungkin Kathy bahagia kalo Mas yang ada disebelahnya, bukan Ko Kim?"

Dina terisak didepan Andhi. "Dina sayang Mas. Tapi Dina bukan jodoh Mas. Jodoh Mas itu mbak Kathy. Kejar dia Mas."

"Din...", kata Andhi pelan. Dia lalu memeluk Dina erat. "Mas sayang ma Dina. Sumpah Mas sayang. Dari kecil, lalu perjodohan dari Romo sama Ibu... Tapi, maaf... Mas cinta Kathy."

Tubuh Dina bergetar. Dia membalas pelukan Andhi. "Susulen mbak Dina saiki, Mas.. Selak budhal," bisiknya.

Andhi mengangguk. Segera dia ambil jaket dan berlari.

Dina menatap sosok lelaki itu sembari berharap kebahagiaan pria yang dia sayangi itu akan tiba, seperti apa yang Dina bayangkan seandainya Andhi bersamanya. Dia tersenyum. Sakit, namun tetap dapat mengutas senyum lemah mengiring cintanya pergi.

***

Dibandara Andhi berlari tergesa-gesa. Dia mencari dan mencari pesawat tujuan Kanada. Dengan kalut dia mencari, bertanya, dan terus mencari. tapi dia tak menemukan apa-apa.

Sore telah menjelang. Andhi duduk didepan bandara. Lusuh, capek, dan berantakan. Orang yang telah dia sayang pergi. semuanya seakan berakhir. Berakhir.

Telepon selulernya berdering memecah hening. sebuah pesan singkat dari... Kathy?!

Nyet, ngpain lu du2k dsitu? Tlat klo lu mo nganter kpgian gw.

Andhi mengangkat kepalanya yang tertunduk. Disana, diseberang jalan, tepat didepan pintu masuk bandara, sosok manis berambut panjang berdiri dengan pakaian terusan berwarna krem nan hangat.

Kathy tersenyum sambil langkahnya menghampiri Andhi. dengan gontai andhi melangkah ke arah Kathy sambil mengetik pesan singkat.

Nyat-nyet-nyat-nyet! Ko g brangkat k Kanada? Ktany mo nkah dsana sama koko2 yg namany Kim ntu?

Kathy membaca pesan singkat itu, lalu membalasnya.

Sentimen amat ma Kim. Wkwkwkwk. Gw syg Indonesia :P. N gw g mo nnggalin ssuatu yg gw syg.

Andhi membalas.

Indonesia aja? :(

Kathy tersenyum, lalu mengetik sebuah pesan. Namun pesan itu tidak dia kirimkan. Dia menunjukkan layar telepon selulernya didepan Andhi yang ada didepannya.


G. Kamu juga. Aku g mo ninggalin km.

Andhi tersenyum, mengetik pesan, lalu menunjukkan layar teleponnya ke Kathy.

Wo ai ni. Bnr g nih? :P

"Salah, bego." kata Kathy sambil tersenyum. "Tapi Aku tresno marang sliramu." Logat jawanya berantakan.

Andhi tertawa. "Dasar sok Jawa."

"Dasar sok Cina," ejek Kathy.

Mereka saling pandang, lalu larut dalam bahagia senja itu, dengan mentari jingga yang melarut dalam langit, hangat bagai rasa yang mereka rasa.




Hanya engkau yang bisa,
hanya Engkau yang tahu,
Hanya engkau yang mengerti..
semua inginku

-adrian martadinata- 



-END- 

May 23, 2010

lampu-lampu langit senja

saat batin larut dalam buaian Monita - Sebatas Mimpi...

 Lampu-Lampu Langit Senja

Ingatkah saat bintang menari diatas kita?
saat itu kau begitu manja, dan aku begitu bahagia..

Ingatkah saat langit menyelimut kita berdua?
Saat itu pelukmu hangat, dan aku tak kenal sengsara.

Waktu merapuhkan kita, kita tak lagi bersama.
Dan kini aku masih disana.

Di sana, diatas tarian bintang dan pelukan langit senja,
aku menanti saat berjumpa.

Namun aku ragu,
apakah saat kita sudah jumpa,
Kau masih akan mengingat semuanya.


-adysaurus, Mei 2010-

May 07, 2010

arti dan makna

ini bukan masalah dia.

ini bukan masalah cinta.

ini masalah lain. Ini masalahku. Masalahku yang lama tak kunjung ketemu penyelesaiannya.

***

Malang, May 6th 2010.

badanku agak panas senja itu, tapi entah kenapa aku memutuskan untuk sedikit berdandan dan pergi dengan motorku.

Tujuannya? Entahlah. Aku tak tahu.

Diatas motorku aku berkeliling kota. Aku melihat hiruk pikuknya, macetnya, ramainya, semuanya. Aku beberapa kali mengitari lapangan alun-alun, lalu air mancur simbol kota Malang, melewati balai kota, lalu menyelusup dalam jalan sempit Kota Lama. Lalu aku berhenti sejenak di sebuah mall dan berjalan memasuki bioskopnya, menonton sebuah film yang menurutku menarik saat itu, tak lupa membeli minuman, lalu duduk dikursinya. Sendirian.

Film telah usai dan aku melangkah pergi dari bioskop, lalu dengan motorku kami beranjak pergi berkeliling lagi, terbimbing lamunan menuju ke Jalan Ijen. Disitu motor kupelankan, disitu lampu-lampu kotanya kunikmati hingga ke ujung lampu lalu lintas yang telah merah.

Lampu itu seakan mengejek keraguanku saat aku melihat jalan yang telah bersilang didepanku. Kekiri pulang, ke kanan bertualang. Aku diam.

Saat lampu hijau mulai mengisyaratkanku untuk mengambil keputusan, aku membiarkan perasaanku menghanyutkan roda motorku. Aku ke kanan. Aku kabur. Aku memilih hidup di jalan sedikit lebih lama.

Arus anganku di kota ini perlahan membuatku menepi. Aku duduk ditepi jembatan Soekarno-Hatta. Pukul 1 pagi. Aku diam dan menatap lampu-lampu jembatan. Mobil-mobil lalu lalang, meski sudah sangat lengang. Diatas motorku aku duduk dalam diam. Sendirian.

Apakah sebenarnya arti hidupku ini?
Kenapa aku merasa ada yang hilang?
Cintakah? Uangkah?
Bukan. Bukan itu. Bukan itu yang hilang.
Kenapa semuanya begitu berat padahal terasa mudah?
Dan kenapa semua begitu rumit padahal terlihat sederhana?

Kenapa? 

Kenapa? 

Aku ingin memiliki makna, aku ingin memiliki arti.. 

Aku mendengar bunyi motor mendekat. Aku menoleh. Seorang lelaki datang dengan motornya. Dia menaruh motor itu dekat denganku, kemudian dia mulai mengambil kameranya dan mulai memotret jembatan itu dari berbagai sudut. Dia nampak seperti seorang fotografer profesional, namun entahlah. Aku tidak begitu paham.

Lelaki itu lalu duduk diatas motornya sambil menyulut rokok. Dengan sopannya dia menawariku sebatang. Aku menggeleng. Kami kembali diam. Aku dengan lampu-lampu itu, dia dengan kameranya.

Lelaki itu lalu melompat dari motornya dan memanggilku. "Mas?"

Aku menoleh.

"Saya boleh ya ambil fotonya mas? Buat portofolio tugas saya."

Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Silahkan mas. hehehe..".

Dia lalu segera mengambil posisinya sembari mengatakan aku tak perlu terlalu tegang, cukup bertingkah seperti apa yang tadi kulakukan. Dan aku mulai mendengar bunyi kameranya yang menangkap bayanganku dalam helai foto yang akan dia masukkan dalam portonya.

Sejenak kemudian dia menghampiriku dan berterima kasih. Aku membalasnya dengan anggukan dan senyuman pelan.

"Saya sedang dapat tugas bikin foto bertema solidity - kesendirian. Tapi fotonya harus natural dan ga dibuat-buat. Untung saya ketemu mas," ujarnya sambil mulai menyalakan rokoknya lagi. Aku terdiam.

Dia lalu pamit pergi sambil kembali mengucapkan rasa terima kasihnya. Dalam sosoknya yang menjauh aku terdiam. Dia baru saja berterima kasih padaku. Untuk apa?

Tanyaku masih belum terjawab, namun lelaki yang aku bahkan tak tahu siapa dirinya itu telah berlalu. Dia telah melanjutkan hidupnya, mungkin akan segera memasukkan gambar-gambarnya ke dalam komputer dan segera memperbaiki, lalu mencetak dan segera mengumpulkan hasil cetakannya ke dosennya. Mungkin dia akan dapat A, mungkin dia akan senang, lalu dengan mood yang bagus dia akan menjalani hari-harinya dengan lebih bermakna. Atau mungkin juga sebaliknya. Namun apapun itu, kuyakin hidupnya memiliki makna. memiliki arti.

Lalu,
Bagaimana denganku ini?
Apakah aku juga memliki makna, memiliki arti?
Apakah ada maksud dibalik keberadaanku, ataukah hanya kebetulan kosmis dalam rangkaian kejadian dalam untaian kronologi waktu dan ruang dalam semesta ini?

Angin malam menemaniku sampai langit berubah kemerahan. Sudah mulai pagi.

Aku dan motorku kembali ke peraduanku, membiarkan semuanya larut. Larut dan berharap akan sirna, minimal bersenyawa dengan partikel waktu sehingga aku tak lagi merasakannya.

Dan aku mengaku, lagi-lagi aku lari.