Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

June 30, 2010

Kenalan? Oh kenalan...

Saya dibilang sombong lagi hari ini.

Seseorang mengirim pesan singkat siang ini, ngajak kenalan.
Saya tanyain lah pertanyaan standar: ini siapa, tahu nomor ini dari mana?

Dia sebut nama, lalu bilang tahunya dari facebook.
-nomor saya hanya bisa dilihat friend, jadi asumsi 1: dia masuk friendlist-

Saya tanya, alamat fbmu mana?
dia lalu memberi alamat fb, namun tanya: kamu sapa, tinggal dimana?

Di sinilah saya sedikit kaget: Perasaan nama fb dan asalnya ada deh, bahkan non-friend aja bisa lihat.
-asumsi 2: dia ragu alamat dan nama saya palsu (maklum, namanya juga dunia maya. nama juga bisa 'maya' toh?)-

Lalu terbukalah alamat orang yang sms saya itu, dan ternyata kita TIDAK terhubung sebagai friend.
Aneh, karena nomor saya sudah saya setting agar tidak ada orang non-friend yang bisa sembarangan melihatnya. Dan saya sudah cross-check kok, settingnya tetap sama.

Wajar dong saya tanya: kok bisa tahu, kan bukan friend?
Eh dia ngotot tahu dari facebook.
-asumsi 1: GUGUR. asumsi 3: mungkin dia ikut lihat fb saya waktu temennya yang kebetulan temen saya OL-

saya tanya lagi dengan tegas, nomor saya dapat darimana? temanmu siapa?
Dia bilang dia ya tahu aja dari fb, tapi lupa sapa nama dan alamat saya.

Iseng-iseng saya cari di friendlist saya, dan rupa-rupanya ada seseorang yang wajahnya persis dengan profile picture si pengirim sms ini, kebetulan friend requestnya baru saya approve pagi ini. Nampaknya ada yang punya profil ganda. hmmmm...
-asumsi 2 GUGUR. Asumsi 3 GUGUR-

ya sudahlah, saya ngalah. saya sms nama dan alamat fb saya, sambil saya sindir : kalo kenalan jangan sampai lupa fb tempat dapat nomor hapenya ya. dalam hati saya berkata, hore dapat teman baru.

Tapi saya tetap pura-pura ga tahu aja dan melihat sejauh mana dia akan terus main-main. Eh dia telpon.
Di telpon saya tanya lagi siapa dia dan tahu darimana, dan dia masih tidak mau ngaku. Saya sok tanya apa dia kenal dengan orang ini atau ini atau ini, semacam ikut permainan dia. Dia bilang "iya kali," saat saya sebut nama profilnya yang lain.

dari sini mood saya untuk melayani permainan "kenalan" darinya perlahan hilang. Saya bilang saja saya ga minat kenalan dan pamit tidur karena masih mengerjakan skripsi.

Eh ijin saya dijawab dengan sebuah prnyataan menohok dari dia:

"kamu sombong ya? dah kebanyakan teman apa sampe sombong kaya gitu?"

Sombong?
Mungkin saya memang sombong.

Tapi ntah kenapa saya kok perlu ya selektif dengan siapa-siapa yang ingin jadi teman saya (saya pribadi akan melakukan hal yang sama jika memang saya sudah BERANI men-dial nomor yang tercantum di info mereka), apalagi dia bilang dia LUPA dengan alamat facebook saya, padahal dia dapat nomor itu dari facebook.

Di dunia maya, menjadi orang supel itu memang wajib. Saya akui itu. Berteman di dunia maya bisa terjadi tanpa sebab, tanpa akibat. Jadi besok temenan lusanya bisa ilang, cuma temen online saja, istilahnya demikian. Saya juga bisa seperti itu. Tapi jika seseorang sudah berani menghubungi nomor kontak orang lain, saya anggap orang itu sudah MELEWATI BATAS DUNIA MAYA DAN MULAI MASUK KE DUNIA NYATA, dan di dunia nyata, aturan untuk berteman itu lain lagi ceritanya.

Bukannya pemilih, namun dalam dunia pertemanan dunia maya, wajah, suara, gestur tubuh, semua yang bisa menunjukkan baik tidaknya itikad orang kan tidak terlihat, dan satu-satunya cara membaca maksud seseorang ya cuma lewat tulisan. Dan jujur, dari kacamata saya (saya orang jawa, dibesarkan dengan sopan santun dan unggah ungguh ala jawa), saya ngerasa itu tidak sopan (ntah mmang itu apa adanya dia atau cuma dibuat-buat). Dan saya tidak mau terlanjur terlibat pertautan teman dengan seseorang di dunia nyata yang saya sendiri ragu apakah pertautan itu bisa dilihat nyata atau tidaknya.

saya balas smsnya:

:)
makasih dah dibilang sombong.
saya tahu kamu punya profil ganda. Sayang aja kenapa ga jujur dari awal.

dan profilnya saya hapus dari friendlist saya

*yang pasti nasibnya beruntung karena saya tidak sampai hati mengucapkan kalimat2 sarkastik yang pastinya akan membuat jabatan sombong saya bisa naik tingkat jadi judes*

dia sms lagi, saya malas melihatnya.



kalo menurut kalian, sombongkah saya?



-yang pasti ide mencantumkan nomor kontak agar teman-teman facebook bisa dengan gampang kenalan dengan saya itu mungkin kurang baik. kayanya dihapus aja deh daripada tambah kaco-

June 25, 2010

Hidup: sebuah perjalanan menuju liang lahat (Life: A Journey to the Grave).

Hidup: sebuah perjalanan menuju liang lahat (Life: A Journey to the Grave).

Manusia pasti mati. Itu adalah satu fakta murni yang berlaku dalam dunia tempat kita tinggal ini. Bahkan tak cuma manusia, hewan, tumbuhan, mereka juga akan menemui sebuah akhir yang disebut mati. Setelah itu, semuanya masih misteri. Agama-agama mengajarkan akan kehidupan setelah kematian, ada pula yang mengajarkan siklus kehidupan berikutnya yang biasa dikenal dalam istilah reinkarnasi. Namun apapun itu, semuanya setuju bahwa kematian selalu jadi ujung sebuah perjalanan tiap makhluk bernyawa yang kita namai dengan istilah kehidupan.

Dan dengan sadar penuh kalau kita akan mati nantinya, jika seandainya suatu ketika seseorang memberikanmu kabar kalau hidupmu akan berakhir tak lama lagi dan tak ada cara lain untuk menghindarinya, kenapa selalu akan ada rasa bahwa waktu yang kalian miliki di dunia ini begitu kurang? Kenapa jadi merasa kurang? Bukankah memang hidup itu untuk mati? Kenapa tidak langsung mati saja? sebenarnya apa guna hidup itu sebenarnya?

Agama menjawab pertanyaan itu dengan menyebutkan bahwa kehidupan yang kita rasakan adalah semacam media pengumpulan pahala untuk hidup kekal nanti; para atheist menyatakan hidup ini ya hidup - kita ada karena kebetulan, dan kebetulan juga kita bisa mati. Lalu apa cuma seperti itu? Setelah kita mati, selesai? Atau setelah kita dimasukkan ke neraka dan surga, selesai? Begitu saja? Entah kenapa aku merasakan kalau eksistensi kita sebenarnya lebih dari sekedar menjadi calon penghuni neraka atau surga, lebih dari sekedar hamba Tuhan yang di dunia ini menambang pahala, dan bahkan lebih dari sekedar kebetulan kosmik hasil dari keteraturan tak berujung di jagat raya ini. Aku merasa, kita sebagai manusia punya misi lebih daripada itu. Jika memang suatu saat nanti seseorang mengabarkanmu tentang tengat waktumu yang makin dekat, mungkin kalian akan tersadar maksud sebenarnya dari jangka waktu yang didapat di dunia. Perjalanan yang disebut kehidupan ini ternyata memiliki makna yang begitu sederhana: pengalaman.

Pengalaman selama kita hidup, itulah yang kita cari. Langit yang begitu biru, rumput yang begitu hijau, laut yang begitu teduh, semua itu adalah hal-hal yang kita nikmati dalam perjalanan ini. Pertemuan dengan sesama makhluk yang tak kekal lainnya, bertukar mimpi, bertukar asa, bertukar ambisi yang harus dipenuhi sebelum tenggat mereka masing-masing habis, lalu menyisakan kenangan dalam tiap individu yang nantinya akan dibawa sampai kubur nanti. Dari hal luar biasa seperti ilmu yang diciptakan manusia, jutaan hal baru yang masih perlu diamati dan dinikmati, bintang-bintang yang masih perlu diselidiki, atau malah hal sederhana seperti duduk didepan rumahmu meresapi ketenangan sembari melihat kupu-kupu berterbangan, semua itu adalah hal yang kita dapat selama perjalan kita sampai nanti. Dan kitalah yang akan menentukan seperti apa hidup ini kita pakai nanti - untuk segala hal indah atau sebaliknya. Di sinilah mungkin agama memperlakukan sistem dosa dan pahala agar manusia dijauhkan dari tindak tanduk tercela lewat larangan dan imbalan dosa serta didekatkan dengan keharmonisan hidup yang diberi imbalan pahala.

Mungkin karena inilah orang takut mati - mereka yang percaya Tuhan takut mati karena merasa belum cukup menabung pahala; mereka yang tak percaya takut karena merasa belum menikmati hidup yang sebenarnya. Semua sebenarnya berlandaskan satu teori yang sama: Kita takut karena kita merasa kita belum cukup merasakan dunia ini seperti apa, kita merasa punya tanggung jawab dan hak untuk berada di dunia ini, untuk menikmati sekaligus mengelolanya, atau malah merusak dan menjarahnya. Apapun itu, kita takut karena kita merasa belum cukup menikmati hidup, untuk mengejar dan menggapai yang kita mau. Hidup jadi nampak seperti sebuah perjalanan yang jauh dan berliku diatas sebuah mobil dengan pemandangan indah yang selalu kita catat dalam buku pengalaman hidup kita, dan ketika kita sudah mau sampai, kita akan merengek bagai anak SD yang ngin jalan-jalan lagi karena masih ingin menikmati pemandangan itu.

Namun apapun itu, dengan pengaruh agama atau tidak, perjalanan ini memang harusnya dibuat indah dan penuh tawa. Sedekat apapun tenggat waktu hidup kita, seharusnya semakin kita bisa buat perjalanan ini menyenangkan dan memberi makna hidup kita dengan keindahan, keharmonisan, dan kebaikan. Hidup cuma sekali, kata pepatah, maka isilah hidup ini dengan sebaik-baiknya. Coz Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.


Dan aku janji, sisa hidupku akan kubuat indah. :)




adysaurus: another immortal human that views life in his small-framed mind.

June 23, 2010

Saya Akan Menyusul

Kemaren baca status seorang teman.
Kami berdua seakan sudah janji untuk bisa berkunjung ke kota dan negara favorit kami - Paris, Prancis
.

Kemaren di status dia bilang dia akan berangkat bulan Agustus.
DAMN!

wait for me there buddy,
I'll be there too!

:]

June 22, 2010

bait insomnia

Malam.
Diam.
Hampa.
Ingat.
Kamu.
Ragu.
Sedih.
Bimbang.
Sakit.
Tangis.
Kamu.
Tangis.
Kamu.
Tangis.
Masa lalu.
Kamu.
Ingat.
Kita.
Sakit.
Tangis.
Kamu.
Tangis.
Diam.
Capek.
Tidur.
Resah.
Kamu.
Bangun.
Duduk.
Diam.
Rindu.
Kamu.
Sedih.
Sakit.
Tangis.
Kamu.
Tangis.
Diam.
Lelah.
Tidur.
Benar-benar tidur.
Mimpi.
Kamu.
Kangen.
Kamu. 
Kamu.

Kamu. 


Kamu. 

June 20, 2010

Mati Rasa

Mati Rasa - Adysaurus, November 09 (baru post sekarang)

Sejak enam bulan lalu aku mengenal cintanya,
Sejak bulan lalu kami mengakhirinya..
Aku tak lagi tertarik akan cinta..
Apa aku mati rasa?

Sejak itu banyak yang menyukaiku,
banyak yang menawarkan hatinya untukku..
aku hanya tertegun dungu.
Sudahkah kumati rasa?

Bukan, bukan penggantinya yang kucari!
Tak ada yang bisa menggantinya karena tak ada yang sama..
Namun entah kenapa aku tak percaya lagi..
mungkin aku mati rasa.

Aku berusaha mencintai lagi,
menyayang lagi sepenuh hati,
namun aku tak bisa lagi..
Kayaknya memang sudah mati rasa.

Aku tak mau lagi menjejak rasa,
aku takut jatuh cinta..
aku takut untuk mengulang semua,
karena aku mati rasa.

Aku tak mengerti karena semua tak lagi sama..
aku tak paham karena semua berbeda.
inikah aku yang mendewasa,
atau aku sudah mati rasa?

Haruskah aku bahagia,
ataukah aku menyesalinya?
karena aku tak lagi bisa mencinta..
karena aku..

mati rasa.

June 15, 2010

aku-sayang-kamu.

pernah aku diam mendengar ceritamu,
tanpa sadar senyum terlukis di bibirku.
aku bayangkan kamu bercerita didepanku
dengan wajahmu yang lucu dan manisnya senyummu.

aku sayang kamu.

pernah suatu ketika aku mau merayumu,
mendadak aku terdiam bisu.
aku sadar rayuanku bukan yang tepat untukmu,
karena aku tahu rasaku ini lebih dan lebih dari rayuku.

aku sayang kamu.

pernah mata nakalku tergoda selain kamu.
mencoba manja dan berpesona ke selain kamu.
namun aku selalu ingat kamu.
tak ada yang begitu bisa mencintaiku sepertimu.

aku sayang kamu.

pernah aku nikmati sendiriku,
berjalan sendiri bercengkrama dengan waktu.
aku selalu melihat ke sebelahku,
selalu terasa ada kamu disitu.

aku sayang kamu.

rasa ini sederhana saja,
tak ada tipu tak ada dusta
aku sayang kamu,
itu yang kurasa. :)

June 11, 2010

This Is IT!

Okay,
I am currently experiencing the moment when I literary lose my willing to do my thesis. At all.
I dunno, it's just like... gone.

Aaaaand out of the blue,
my lecturer sent me this simple text message:

meet me Monday at 8. I need to consult the head of department at 9 so be quick. Bring the whole 4 chapters with you. Good Luck.

And I was like, WHAT?!

I was... shock. Okay, so i need to collect my thesis Monday at 8. Nice. And I have to pay for this semester's course, and A-ha! Don't forget to revise my title on the same day Dino, and I will need to change some part of it. All in Monday.

I was smiling, really. But actually you can hear my self-consciousness screamed OH CRAP OH CRAP OH CRAP OH CRAP~

Well,
What am I suppose to do!!!
I lose the will to do any of the thing related to my thesis,
I haven't paid for my tuition fee,
I haven't prepared the argumentation for changing my title,
And that text came to my cell and suddenly ruin my peaceful Friday!!!

Ngaaaaaargh!!!!

Anyways, that aside, I remembered these days last year, when I dated with one of my ex. I remembered my ex experienced the same way yet somehow managed to do that. Well I helped in finding the books and stuff (yet i was dumped. Because I forgot to text when I was going out with my friend. Very ungrateful. Hate u, Ex, if you read this. Hate you. :P), and giving a push in doing the thesis. Awwww...
Okay stop daydreaming! Back on course. Entering reality, Houston!

Soooo... Need to text my friend, and gotta finish it by Saturday night so on Sunday my friend can do peer-editing. Sheesh.

Okay! This is IT!!!!


and umm people,
when u read this...
can you..wish me luck?
please...?
i was kinda down and..
well i hope you can somehow mentally push me or something.
well anyway,
thanks. :)

June 09, 2010

Kau, Aku, Dia, Jarak, dan Rasa.

angan melambung saat kahitna - Mantan Terindah dan Engga Ngerti mengalun.

Kau, Aku, Dia, Jarak, dan Rasa.

"Mau apalagi kamu?" katanya sambil menatapku yang kuyup terkena hujan. Aku diam. Dengan berat dia melangkah masuk, lalu keluar membawa handuk kering. Dia memberikannya padaku, lalu melangkah masuk.

Diambang pintu dia menatapku. "Mau masuk ga?"

Aku menggeleng. "Aku minta maaf."

Wajahnya sekilas terkejut, namun dia kembali tersenyum. "Buat apa lagi?"

Aku diam. Aku cuma bisa diam. dia memberiku senyum, lalu menarikku kedalam. Dia lalu berjalan menuju dapur. Aku lalu mengacak2 rambutku dengan handuk kering itu sambil terdiam. Dia lalu muncul membawa teh hangat, lalu duduk disebelahku mengusap rambutku yang basah.

"Aku tahu kamu suka hujan, tapi kamu juga bisa sakit karena hujan," katanya lembut. Aku tertegun.

"Itu tehnya diminum."

Kata-katanya mengejutkanku. Aku mengangguk, tapi hanya dapat menunduk. Nuansa pastel ruang tamu dengan perabotan simpel itu seakan ikut melarutkanku dalam hangatnya. Larut tanpa kata.

"Aku sudah tunangan lho," katanya tiba-tiba. Aku menoleh melihatnya. Wajah itu, wajah yang dua tahun lalu pernah menyayangiku, wajah sendu namun hangat yang pernah jadi nomor satu bagiku. Wajah yang pernah menderita karenaku.

Aku tahu, aku tahu. Karena itu aku disini. Tapi kata-kata itu hanya merintih dihatiku.

"Aku mau pindah," kataku tiba-tiba.
"Oh ya? Masa mau pindah lagi?" katanya sambil mengambil handukku dan menaruhnya di keranjang cucian diseberang ruangan didekat pintu coklat. "Kemana?"

"Ba-bali...".
"Wah, bagus dong? Bentar lagi kerja kan? Punya rumah sendiri, punya penghasilan sendiri," ujarnya dari balik dapur. "Padahal baru setahun di Jakarta. Tapi kalo kamu pasti ga betah ya sama macet. Ahahahahaha..."

"Ada kerjaan yang janjiin. Lagian... Aku mau.. lanjutin ke Paris. Belajar Art."

"Wow, keren! ngeraih impian kamu ya? waaah... Bagus-bagus."

"Aku mau pamitan."

Waktu seketika itu berhenti. Bethara Kala seakan menelan masa bulat-bulat, lalu memuntahkannya kembali saat sosok itu muncul dengan wajahnya yang biasa ia tunjukkan saat aku membuatnya sedih. Namun kali ini giliran anak panah Sang Rama yang seakan menembus jantungku seiring dengan tatapan matanya.

"Kenapa pamit ke aku?"

Aku menunduk. "Aku gak tahu. Aku gak ngerti."

Ia lalu memegang bahuku, seakan mengisyaratkanku berdiri. dan aku berdiri, meski dengan wajah memaling.

Dia memegang wajahku, lalu membelai pipiku perlahan.

Dia memelukku. Erat sekali. Erat sekali.

"Ati-ati," bisiknya pelan.

Aku membalas dekap hangat itu. Lalu aku melepasnya. Aku mengangguk berpamitan tanpa kata. Namun saat tubuh basah ini melangkah, tangannya menggapai lenganku.

"Are you running away?"

Aku menoleh ke arahnya.

"I was running to you." Aku melepas genggamannya perlahan, lalu mencium tangannya. "But I know, you deserve a better life."

Dia diam. bahkan saat pintu itu tertutup, saat ragaku melangkah gontai menapaki genangan air bekas hujan yang sudah mereda.