Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

July 26, 2010

Munajat Skripsi

Munajat Skripsi

Malam ini revisi lagi,
Tak ada yang disetujui...
Seperti malam malam
Yang sudah sudah..

Laptop ini tak pernah mati..
Kalo ngedrop, yah di-charge lagi...
Seperti Skripsi ini...
Tak selesai-selesaaaai...

Tuhan ijinkanlah Aku
Biar cepat lulus skripsiiiiii...
jangan lama revisinyaaaa...
Cepat lulusnyaaaa...


Mata ini semakin sayu
mana uang ngeprintnya abis...
Mendadak lampu mati,
Jadinya mampus...

Tuhan ijinkanlah Aku
Biar cepat lulus skripsiiiiii...
jangan lama revisinyaaaa...
Cepat lulusnyaaaa...


Akhirnya tlah disetujui,
Sekarang tinggal ke penguji...
Semoga gak salah lagi,
Sidang gak dimaki...

Tuhan Kirimkanlah Aku
Penguji yang baik hatiiii...
Yang menyukai skripsiku...
Dan memberi A...


Tuhan Kirimkanlah Aku
Penguji yang baik hatiiii...
Yang menyukai skripsiku...
Dan memberi A...

---------------------------------------------------------

pernahkah anda merasakan tiap getirnya?
T-T

(yang sudah lulus temennya didoakan cepet nyusul, yang udah sidang doakan juga yang belum sidang, yang belum sidang doakan yang masih revisi, yang mau revisi doain yang belum bikin judulnya, yang belum bikin judulnya... ah mbuh le niat po ra kowe?)

http://www.youtube.com/watch?v=ln-KOWgrGiI

July 25, 2010

4 tahun

4 tahun. Banyak yang telah terjadi. Sosok pemuda kecil belasan tahun dari kampung ini, dengan bekal kepolosan dan ilmu yang menurutnya cukup untuk menaklukkan dunia, dengan semangat tanpa menyerah untuk membahagiakan semua orang disekitarnya, dengan semua itu dia mencoba mencari makna. Makna yang dikaruniakan orang tuanya dalam namanya, makna yang diberikan Tuhan dalam hidupnya.

4 tahun. Pemuda belasan tahun itu telah belajar banyak. Dia belajar untuk lebih dewasa, lebih memahami kebaradaan orang lain selain dia, belajar untuk mempertahankan dirinya, belajar mengatasi luka yang diterimanya dari dunia, serta belajar mengobati luka yang lain saat mereka membutuhkannya.

4 tahun. Pemuda itu sudah berkalang noda. Bercak-noda-legam-parut-luka. Semua adalah bukti dia mulai bisa bertahan dalam dunia. Semua adalah makna yang mengukir dalam dirinya. Makna bahwa perjuangannya masih panjang, masih ada yang bisa dilakukannya.

4 tahun. Harapan yang hilang dan muncul kembali. Berbagai rintang yang sudah teratasi. Manusia-manusia yang datang dan pergi. Dan datang lagi. Atau tak pernah kembali. Semua mengajarinya untuk mandiri, berdiri sendiri, meski masih tertatih.

4 tahun. Pemuda itu mendewasa. Umurnya sudah dua dua. Kata mama sudah saatnya mencari calon buatnya. Pemuda itu tersenyum saja. Masih panjang yang dicarinya. Harta, kerja, surga, semua belum pasti diraihnya. Nanti saja, kata dia.

4 tahun. Mungkin kacamata minus ini yang merubah cara pandangnya. Mungkin dunia yang terus berubah yang ikut mengispirasinya. Atau mungkin karena dia sudah mulai memahami maknanya. Mungkin... Mungkin karena dia sudah dua dua.

4 tahun. Dan dia mencoba tidak cengeng seperti dulu, saat kawannya mencecar tangisnya, saat dia hanya duduk dipojok melihat mereka bermain tanpanya, dan tumbuh dewasa dengan terbiasa disana, di sudut tempat favoritnya.

4 tahun. Selama itu dia sudah mencari makna. Dan dia kini tahu, makna apa yang terukit dalam jiwanya.

4 tahun. Pemuda itu aku.

July 20, 2010

dua dua

sudah merupakan kebiasaan untuk mendaftar sepuluh hal terakhir dan sepuluh hal pertama yang kulakukan di pergantian hari tiap tanggal ini. :)
inilah dia:

yang terakhir di 21: 

1. makanan terakhir - oreo stroberi
2. minuman terakhir - air putih galon
3. game terakhir yang dimainkan - FF XII
4. orang terakhir yang kusapa - Temen kos yang namanya Rendy.
5. orang terakhir yang nelpon - Anshar (kecepetan satu jam)
6. foto terakhir yang dilihat - Kangin
7. lagu terakhir yang didengar - ke$ha - Tik Tok
8. sms terakhir yang dibaca - dari Linda
9. sms terakhir dibalas - dari kak iyad
10.terakhir yang dipikirkan - skripsi

yang pertama di 22:

1. makanan pertama - sup krim KFC
2. minuman pertama - jus jeruk
3. game pertama yang dimainkan - (kayanya) FF XII lagi
4. orang pertama yang kusapa - koko-koko yang beli di KFC
5. orang pertama yang nelpon - Anshar lagi.
6. foto pertama yang dilihat - fotonya si Tyo.
7. lagu pertama yang didengar - Selamat ulang tahun di KFC 
8. sms pertama yang dibaca - dari Anto.
9. sms pertama yang dibalas - dari kak Iyad
10. hal pertama yang dipikirkan - (masih) skripsi


pembaruan resolusi:
target saat ini:
1. skripsi+sidang+revisi selesai!
2. belajar renang
3. cari kerja


SEMANGAT!

July 11, 2010

Blank

Hari ini Minggu. Aku terbangun agak telat.

Dengan lemah aku menatap langit-langit kamarku, melihat ruas-ruas segi empat yang membingkai tiap bilah-bilahnya, dan bintang-bintang fosfor yang tertempel disitu peninggalan pemilik lama kamar ini.

Cukup lama aku menatap kosong, sampai dadaku perlahan menyesak. Bukan, ini bukan asma. Ini sebuah gejala aneh yang sering kualami dulu. Sesak ini perlahan berubah jadi kehampaan. Ya, hampa.

I feel like I don't belong here, like I was suppose to be somewhere else, in another universe, but I ended up here. I feel like my reality is a dream, and my dream is the reality.

Boneka hadiah pemberian sahabatku kuangkat keatas, kutatap dalam-dalam, kurasakan tekstur dan wajahnya. Begitu nyata, namun begitu semu.

Aku duduk bersandar dengan menaruh boneka itu dipangkuanku. Mataku menatap sayu ke sekeliling. Kamarku yang berantakan, baju-baju yang tergantung, helm, tasku, buku-buku, dan draft skripsiku tergeletak acak dikamar. Mataku bilang semuanya nyata, tapi hatiku meragukannya.

Aku memejamkan mata, mencoba mengingat kenangan yang ada di kamar ini, di dunia ini, mencoba mencari-carinya dalam tumpukan memori, mencoba menyatakan kalau kenangan itu adalah bukti. Bukti kalau semua ini realita, dan aku hidup dalam realita itu.

Ya, aku bisa mengingat dengan jelas, namun gundah dan sesak ini...

Pertama kalinya dalam hidupku, aku takut kalau semua ini hanya mimpi.

Aku berdiri, membuka pintu kamarku, membiarkan mentari menyambutku dan menyilaukan mataku. Lalu aku duduk di beranda depan kamar beberapa jam. Diam.

Otakku bilang ini nyata, hatiku bilang ini mimpi. Dan akhirnya aku membungkam hatiku lagi.