Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

December 25, 2011

Kamu

Buat kamu yang pernah ada di relung hatiku,

Ingatkah kamu saat dulu saat kau mengeluh betapa aku tak ada waktu?
Saat itu kau sempat mencibir giatnya aku, sambil sesekali berharap ada sela dalam waktuku.
Perhatianku tak cukup buatmu mengerti keadaanku.
Mungkin memang salahku terlalu menikmati waktu tanpamu.
Pikiranku tak cuma ke kamu, tapi juga ke masa depanku.
Tapi semua tak harus jadi belenggu jika kau adalah masa depanku.
Bukankah idealnya memang begitu?

Namun kenyataannya jauh dari bayanganku.

Masih terasa sakit saat kau menduakan aku dengan sosok dia yang katamu lebih perhatian dariku.
Kenapa harus disaat itu, tanyaku?
Kenapa begitu cerdasnya kau ambil pilihan itu?
Kenapa harus saat aku mulai bisa meluangkan waktu untukmu?
Kenapa harus saat aku sedang sangat membutuhkanmu?

Lagi-lagi mungkin ini salahku.

Aku paham rasa takutmu karena kehilangan aku.
Jadi kau memilih mencari penggantiku, cadangan yang akan menangkap jatuhnya hatimu agar tak hancur di tanganku.

Dan akhirnya yang hancur malah hatiku.

Padahal tak mudah buatku untuk menyayangimu.
Kau tahu akupun akan kehilanganmu. Aku yang akan pergi, namun bukan cuma kamu yang akan merindu.
Kita sama-sama tahu itu.
Kita sempat sama-sama tahu.

Namun akhirnya semua harus berlalu.

Dan kini aku duduk termangu menyongsong akhir hari-hariku.
Mungkin terdengar egois bila aku ingin kamu sampai akhir menemaniku.
Karena aku akan pergi dan tak akan lagi disampingmu.
Namun nyatanya aku ingin begitu.
Paling tidak dulu, saat rasamu masih banyak buatku.

Semoga saat ini dia yang baru sanggup membahagiakanmu,
Semoga dia tak seperti aku yang akan meninggalkanmu.
Semoga dia selalu ada banyak waktu,
Semoga dia selalu mengerti kebutuhanmu.

Dan biarlah aku sedikit saja meratapimu.
Sebelum aku beranjak menemukan masa depanku,
Karena nyatanya masa depanku bukan kamu.


Tertanda,

Mantan kekasihmu.

December 23, 2011

Sahabat Selamanya

Bagus tergesa-gesa menyusuri lorong gereja berdinding pastel itu. dengan setelan hitam dan dandanan rapi ia berjalan cepat melintasi jendela-jendela besar gereja yang berderet, menampilkan pemandangan taman yang di luar.

Bagus lalu berhenti di depan sebuah pintu kayu besar. Dengan hati-hati dia mengetuk pintu itu.

"Put? Putri?"

"Masuk," jawab suara di dalam. Bagus perlahan membuka pintunya. Dilihatnya sosok perempuan berdiri membelakanginya, menatap jauh di jendela. Gaun pengantin putihnya terbias cahaya cerah matahari.

"Put? Kau kenapa?" kata Bagus sambil berjalan mendekati Putri. Putri menoleh. Sebingkai wajah cantik membalas tatapan khawatir Bagus. Putri melepas tiara yang tersemat di kepalanya, lalu duduk di kursi di dekat jendela. Ia hanya diam, namun wajahnya menyiratkan sejuta rasa takut.

Bagus berlutut di sebelahnya, menatap Putri dengan kuatir. "Kamu kenapa Put?"

Putri menghela nafas. Dia tersenyum dalam rasa gundahnya.

"Aku takut."

Bagus tersenyum. "Ah ayolah! Bukannya kamu yang semangat dari awal soal pernikahan ini? Kok sekarang malah takut?"

Putri diam sejenak. Dia ingat betapa semangatnya ia menarik tangan Bagus untuk menemaninya memilih bunga buat buketnya nanti, saat-saat dimana Bagus sampai tertidur menunggunya memilih gaun yang pas, ketika Bagus terpaksa ditilang polisi gara-gara Putri tiba-tiba menyuruhnya memutar di jalan satu arah karena mereka telat mengambil kue.. Semua memang ide Putri. Putri ingin mengatur sendiri semuanya dalam pernikahannya, paling tidak yang berhubungan dengan mempelai wanitanya. Dan di sana..

"Selalu ada kamu Gus.." bisiknya tiba-tiba.

"Apa Put?"

"Aku takut karena selalu ada kamu," bisik Putri. "Selama ini, sejak SD, kita selalu bersama. Meski SMP kita pisah, kita selalu jalan bareng berdua. SMApun kita ketemu lagi kan ya?"

Bagus tersenyum. "Iya lah. Terus kamu mau lanjut di Singapore, sedang aku stay di Jakarta. Pisah lagi lah kita."

"Tapi tiap malam minggu selalu skype-an..", balas Putri.

"Bahkan kita selalu ngenalin pacar kita masing-masing ya sejak SMA.."

"Sampai mantanku, si Aan brengsek itu hampir mukulin kamu gara-gara dia cemburu.."

"dan si Anya sampai hampir bunuh diri saking jelesnya.."

Bagus dan Putri saling menatap. Kedua mata mereka bertemu dalam detak yang menyatu. Detak yang seirama seperti yang biasa mereka rasa. Emosi, tawa, takut, sedih, luka, semuanya seakan membaur menjadi satu, berkilas-kilas dalam kenangan yang tanpa henti dimainkan dalam memori otak keduanya.

Putri tiba-tiba berdiri membelakangi Bagus yang terkejut. "aku takut kalau ternyata aku mendustai perasaanku, Gus..".

Bagus terdiam. Entah kenapa melihat Putri membuat dadanya terasa agak sesak.

"Aku takut.. Takut kalau suka kamu, Gus.." kata Putri tiba-tiba. Bagus terkejut.

"Hah?! Seriusan?"

Putri menghela nafas. "Maksudku, aku pikir aku mungkin.. suka sama kamu. Kita benar-benar cocok, Gus. sampai almarhum Papa sempat bilang kalau aku ga dapet calon suami sampai umur dua tujuh aku disuruh nikah sama kamu."

Mereka terdiam sejenak.

"Tapi sayangnya kamu ga secakep kakakmu."

Bagus dan Putri terkekeh. Bagus menghela nafas, mencoba menenangkan diri. "Ya.. Apa ya.. Bagikupun kamu sudah kaya saudara. Bahkan kamu sebentar lagi bakal jadi kakak perempuanku beneran kan? Mas Raja dah daridulu naksir kamu sejak SD, suka ngintipin kita main sambil ngelamun jorok!"

Mereka lalu tertawa. Putri tersenyum. "Aduh sumpah Gus.. Ga bisa bayangin aku.. Mungkin memang kamu saudara terbaik buat aku."

Bagus mendekati Putri, lalu memasangkan tiara di rambutnya. "Dan kamu, bakal jadi kakak ipar tercantik yang pernah ada."

Putri tersipu mendengar perkataan Bagus. sebulir air mata haru mengalir membasahi pipinya. seketika Putri tersadar.

"Aduh make-upnya bisa rusak ini! Bentar ya Gus, aku mau benerin make up dulu.. " kata Putri sembari berjalan melewati Bagus yang menatapnya. Putri lalu duduk di meja rias dan mencoba menutupi jejak air mata yang sempat mengotori make-upnya.

"Iya deh Put, aku juga mau keluar bentar. Udah ditunggu sama yang lain. Dandan yang cantik ya?"

Putri mengangkat jempolnya ke atas tanda setuju. Bagus tersenyum lalu berjalan pergi.

Begitu pintu tertutup, Putri menangis pelan.

Aku sayangnya sama kamu..

***

Pintu kayu besar itupun tertutup. Sosok Bagus berjalan lemah menyusuri koridor dengan jendela-jendela berderet yang membiaskan cahaya mentari.

Seandainya kamu tahu.. Aku juga sayang kamu.

December 11, 2011

Filosofi Sebatang Lilin

Dulu waktu SMP aku pernah menulis sebuah kalimat di kertas dalam bukuku. Kurang lebih kalimat itu bunyinya seperti ini:

"Jika kau ingin menjadi penerang seseorang dalam gelapnya malam hidupnya, Jangan jadi bintang yang hanya akan menerangi serupa titik-titik kerling di langit, tapi jadilah lilin yang selalu konsisten menerangi dengan cahaya yang cukup, meski pada akhirnya lilin itu harus habis. Meski akhirnya lilin itu terbakar cahaya yang ia berikan."

Walau terdengar SANGAT bodoh dan sia-sia, namun  tak kusangka, saat ini aku sedang menjalani filosofi itu: menjadi lilin untuk cahaya orang lain, dan perlahan meleleh karena pengabdianku.

Pffft!



December 06, 2011

Pengadilan Hati

Dan pengadilanpun dimulai.

Jaksa penuntut menatap dalam sosoknya yang terdiam di sudut kursi pesakitan. Ia tak lagi menyiapkan banyak tuntutan atau tuduhan, cuma tiga buah pertanyaan saja. Pertanyaan yang akan memastikan apakah terdakwa akan bebas, atau tetap dipenjara selamanya dalam sel rasa bersalah dan dendam.

"Pertanyaan pertama. Kamu sayang dia?" tanya Jaksa tenang. Dia hanya tertunduk diam.

"Aku ga mau jawab," katanya sembari tertunduk. Terdakwa menolak menjawab tuduhan pertama.

Sang Jaksa menghela nafas. "Oke.. Kamu masih sayang sama aku?"

Dia kembali terdiam. "Aku ga mau jawab."

Jaksapun geram. "Kok gitu? Jawab dong!" desak Jaksa.

"Aku ga mau jawab! Apa gunanya? Ini ga relevan!"

"Berguna atau tidak biar Yang Mulia yang memutuskan. Pertanyaan ini relevan dengan tuduhan yang sudah diberikan pada Anda sebagai terdakwa!"

"Iya oke! Iya! Kalo aku masih sayang sama kamu terus kenapa?? Kan udah ga ada artinya?!" ujarnya sedikit hilang kendali.

Jaksa tersenyum. Terdakwa mengakui tuduhan kedua yang diberikan padanya. Kini sudah saatnya pada pertanyaan penentuan.

"Jadi, kamu lebih sayang siapa, aku? Atau dia?"

Seketika itu juga ruang sidang senyap. Dalam penuh keraguan dia tenggelam dalam sunyi. Sang Jaksa menatapnya dalam, meminta jawaban. Meminta kejelasan.

"Please jangan tanya itu," pintanya.

Jaksa menatapnya dingin. Ini bukan hanya masalah kesanggupan atau tidak. Ini masalah hati.

"Jawab," tanya Sang Jaksa dingin.

Dia menghela nafas. "Dia."

Kami terdiam. Senyap. Sang Jaksa menghela nafas, memecah kesunyian. Akhirnya terdakwa mengakui hal terpenting dalam persidangan ini. Sang Jaksa menatap wajah Hakim. Sang Hakim tersenyum dan mengangguk.

Sang terdakwapun bebas. Dan Jaksa hanya bisa melihat sosoknya menjauh menembus malam. Dia bebas dari segala tuduhan. Dia kini bebas mencintai hati lain yang sudah mengisi relungnya, bebas dari tuduhan mendua, bebas dari tuduhan menyakiti perasaan orang lain.

Dia bebas.

Namun kini giliran hati Sang Jaksa yang divonis mati.

Segelas Jus Arbei

Siang itu sepulang kerja aku sempatkan mampir di kafe di pojok jalan itu. Kafe itu begitu terkenal dengan jus buah-buahannya.

***

"Hari ini kita kemana ya enaknya?" kataku sambil memacu motorku menembus hiruk pikuk keramaian kota bersamanya.
Dia dibelakangku, mendekapku mesra.
"Kemana ya yank? Eh, nyobain kafe itu yuk? Jusnya enak!"

***

Aku segera memarkir motorku, lalu melangkahkan kakiku ke dalam. Kenangan seakan terputar kembali bagai slide usang yang diputar di proyektor saat aku menatap sebuah sudut di ruangan kafe itu.

***

Kami duduk di pojok ruangan, didekat jendela besar yang menghadap jalan. Aku sedang sibuk memilih menu saat tiba-tiba dia menarik daftar menu itu dari tanganku.

"Jus Arbei aja! Rasanya enak lho," sarannya.
"Aku ga suka Arbei. Pasti mereka akan menambah banyak gula agar rasa asamnya hilang. Dan aku ga suka manis."
"Kalau begitu pesan jus Arbei yang ga pakai gula aja. Aku juga mau pesen yang sama, cuma manis."
Aku terdiam sejenak sambil berpikir.

***

"Pesan apa Mas?" tanya pelayan di sebelahku. Lamunanku buyar.
"Hmm... Jus Arbei ya Mbak. Gulanya sedikit aja."
"Oke Mas. Jus Arbei gulanya sedikit ya Mas? Silahkan ditunggu Mas."

***

"Pinjam spidolmu dong?"
"Buat apa?" tanyaku sembari meraih tasku dan mencari spidol papan di dalamnya.
"Buat gambar-gambar," katanya sambil meraih spidol dari tanganku. Kemudian dia mulai mencorat-coret sebuah sudut kusen jendela yang memang diperuntukkan untuk coretan-coretan pengunjung.

***

Aku menatap coretan di pojok ruangan itu. Dua buah miniatur wajah. Wajahku dan dia. Dan tanggal saat gambar itu dibuat.
"Silahkan Mas, jusnya Arbei gulanya sedikit," kata pelayan yang mengantarkan pesananku.
"Makasih Mbak," kataku sambil tersenyum.

***

"Ugh, asem!" katanya setelah mencicipi jusku. Aku tertawa.
"Tau sendiri aku ga doyan manis. Masih nekat mau minta."
Dia tersenyum sambil menikmati jus Arbei miliknya yang manis. "Enakan ini, manis."
"Mana? Sini coba?" kataku sambil menarik gelas jus itu dan menyeruput sedikit isinya. Segera rasa eneg menyergap tenggorokanku. "Puih! Ini jus apa air gula?!"
Giliran dia yang tertawa.

***

"Semuanya enam ribu Mas," kata kasir. Aku mengeluarkan beberapa lembar ribuan dan menyerahkannya. "Uangnya pas ya Mas.. Terima kasih Mas..".
aku tersenyum dan mengangguk, lalu melangkah pergi.

Di tempat parkir aku mengenakan jaket dan helmku, lalu menuntun sepedaku keluar. Seketika itu juga aku melihat dia. Dari balik jendela besar tempat kita dulu duduk, aku melihat dia yang dulu mendekapku erat duduk di sana dengan pacar barunya, tersenyum sambil menikmati segelas jus Arbei di meja tempatku tadi menikmati jus Arbei asamku. Dia tanpa sadar menatapku. Kami terdiam sejenak, sampai aku menutup kaca helmku dan pergi.

Entah mengapa, namun hatiku jadi terasa sangat asam seperti rasa jus Arbei tadi di mulutku.

December 04, 2011

Bahagiamu (Bukan) Bahagiaku

Suasana resepsi dan musik terdengar samar dari dalam rumah. Aku dan dia berdiri berhadapan, berpayung malam dan bintang. Dia tak berani menunjukkan wajahnya. Dia tertunduk.

"Maafkan aku.. Maafkan aku..", katanya sambil terisak. Aku diam. Senyum tipis terlukis pelan di wajahku sembari tanganku mengusap pundaknya.

"Gak apa-apa kok, aku bahagia asal kamu bahagia," kataku tenang. Dia menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca. Lalu dia memelukku erat.

"Sumpah kamu adalah orang terbaik yang pernah kutemui... Kamu... Aku... Aku sayang kamu...", katanya sembari menahan air mata. Aku mengusap rambutnya sembari membalas dengan dekapan hangat.

"Hei-hei.. Jangan nangis dong.. Nanti mukamu jadi berantakan..", kataku sembari melepas dekapannya. Aku menatap wajahnya yang sendu, merapikan sedikit rambutnya, lalu menyeka titik air kecil yang menghias sudut matanya. Mata yang dulu membuatku terpana. Tatapan sendu yang mengikat hatiku dalam pandangan pertama.

"Ga boleh gitu ah.. Hari ini hari bahagiamu. Sudah ada dia yang menyayangi kamu. Sayangmu bukan lagi buat aku, tapi buat dia."

Dia mengangguk pelan. "Iya.. Aku janji aku akan buat dia bahagia. Demi pengorbanan kamu.. Aku.. Aku janji!" katanya sambil menggenggam tanganku erat.

Waktu perlahan melambat. Sunyi menyergapi jiwa kami secepat dingin malam yang merayapi raga kami yang rapuh. Dia masih menggenggam tanganku erat. Cincin yang melingkar di jemarinya terasa hangat dalam genggamanku.

"Kamu.. ikhlas kan?" katanya tiba-tiba.

Aku tersenyum sembari mengangguk. "Demi masa depan kamu, aku rela kok. Tapi janji, ga boleh cengeng. Tanggung jawabmu sekarang lebih besar. Kamu bukan lagi anak kecil. Ga boleh manja lagi."

Dia menghela nafas. Terlihat betul air mata itu ingin keluar, namun sekuat tenaga ia menahannya. Ia mencoba tersenyum kembali.

Tiba-tiba terdengar suara memanggil kami. Seorang gadis cantik dengan gaun indah berwarna hitam keemasan berdiri di depan pintu geser besar dari kaca.

"Sayang? Ayo foto bareng Papa sama Mama!"

Kami menoleh. Dengan segera Raka melepas tangannya lalu mengusap matanya. "Iya sayang, sebentar.. Masih ngobrol sama Mas Juna", katanya. Aku mengangguk dan tersenyum sambil menatap gadis itu. Gadis itu membalasnya, lalu kembali masuk ke dalam.

Aku lalu menoleh menatap Raka yang merapikan jas hitam pekat dengan hiasan keemasan yang serupa dengan motif keemasan pada gaun gadis yang memanggilnya. "Tuh, istri kamu manggil," godaku. Dia tertawa.

"Ah apaan sih?! Kamu juga tuh Mas, bentar lagi pasti Mas Juna dicari mbak Dina, secara dia kan posesif abis!" balasnya sambil memukul dadaku.

"Halah, dia lagi sibuk di kamar mandi, benerin make-up!" Kami lalu tertawa lepas. Dan semua perlahan sunyi. Mata kami saling menatap penuh arti. Tanpa sadar tangan kami kembali saling menggenggam.

Raka tersenyum kembali. Kali ini lebih lepas. Dia melepaskan tanganku, lalu membungkuk sedikit tanda berpamitan. Dan diapun berlalu.

Aku lalu duduk di kursi di taman itu, meresapi malam yang semakin pekat.

Tanpa sadar air mataku mengalir.

What Life Is Suppose To be?

It just occurred to me today, during my teaching session when i gazed at the cloudy sky and felt cool breeze of wind..

Time flies so fast.

I remembered the first time I was young, innocent and optimistic..
And times when I started my days in dating people, realizing that love could have deeper meaning than just words..
And times when I was still studying, waiting for the rain while sitting on a concrete bench beside the building..
And at my old boarding rooms, meeting new friends, learning to live together with strangers..
The first time I visited malls and went out to places here..
The times when I sat alone in a campus garden under a tree..

Can't believe it's been years..

And the strange thing is.. I recall that I was always alone at those times. Not physically, but emotionally. I always lost in own thoughts and imagination, withdrewing myself emotionally from everyone. Just sit on a quiet spot and observing, or pretending I was part of the conversation though the fact was I was not. All this years. I thought moving away, loosen up my worldly attachments, focusing in one goal at the time, all those would change things. I did change somehow, but not the "loneliness" part. In the end, I will always sit alone, observing people come and go through the streets of my life, sometimes crying over one or two of them, and then moving on.

Is life suppose to be that way? watching time flies by, and without realizing, we are already in some random points in our journey of life, questioning about what we had done before, recalling good memories and regretting the bad ones.. All alone? And no matter how high you put your purpose in life, in the end when it was achieved you will stop and wonder: "what will I do next?"

Is that what life suppose to be? Or it is not suppose to be that way? Then what is it then?

Please tell me.


November 22, 2011

Di Ujung Jalan

Tak banyak yang bisa kutulis saat ini..
Terlalu banyak hal yang harus diselesaikan bulan ini dan bulan berikutnya..

Maaf ya kalau bulan ini isinya lagu-lagu saja,
Saya janji nanti Desember isinya bakal kembali penuh cerita galau dan menye-menye seperti biasa. :D

November 13, 2011

Aku Tak Lagi Seperti Dulu

Aku mungkin bukanlah sosok remaja delapan belas tahun yang pernah kau kencani dulu.

Pemikiranku tak lagi lugu,
wajahku mungkin tak lagi selucu dulu.
Pipiku sudah ditumbuhi bulu-bulu tipis, begitu pula daguku.

Tubuhku tambah besar, aku kini sering olahraga.
Aku tak lagi bisa santai di siang hari sepulang kuliah. Dari pagi sampai malam aku harus bekerja.
Baju-baju warna-warni, aksesorisku.. semua sudah berganti dengan setelan kemeja.

Aku memang bukanlah sosok remaja delapan belas tahun yang pernah kau kencani dulu.
Aku bukan lagi anak kecil. Semua tak lagi sama. Tak seperti dulu

Jadi sadarilah itu.

October 20, 2011

Surat tentang CINTA

Sayangku,


Aku ingin menuliskan sebuah kata..
Sebuah kata yang bisa menjelaskan perasaanku,
Sebuah kata yang tak biasa,
Yang sungguh mampu membahasakan rasaku..


Melebihi indahnya makna Rindu..
Melebihi dalamnya makna Sayang..
Melebihi kekalnya makna Cinta..


Aku tak akan segan menuliskannya setiap jemariku bergerak..
Aku tak akan sungkan menyebutnya setiap batinku teringat..


Karena rasa itulah yang sedang kurasakan kepadaMu.




Dari pemujaMu.

October 16, 2011

Terbangun

Minggu ini tak seperti biasanya memang. Pekerjaanku tuntas lebih cepat, dan kebetulan aku memutuskan untuk tidak beribadah hari ini. Aku pulang lebih cepat dan tidur. Tidur cukup lama melewati siang yang terik dalam pelukan kasur dan bantal di sudut kamarku.

Dan kala aku terbangun, aku mendapati hal yang aneh. Kamarku sangat sunyi. Warna kuning dan kebiruan mengisi sudut kamar, membuat kamarku seakan berada dalam ruang dan waktu yang lain.

Batas realita dan mimpi seakan berdistorsi. Aku melihat cahaya mentari menembus kaca jendela kecil diatas kepalaku dan membiaskan sinarnya pada gorden biru laut di seberangku, memberikan efek biru-kuning pada nuansa kamarku yang standar putih. Aku menatap biasan-biasan cahaya itu. Lalu mataku bergerak ke barang-barang di meja di bawahnya, lalu ke samping, ke tumpukan sepatu, lalu ke lemariku, ke tembok.. semua terjadi dalam keheningan tak biasa.

"Dimana aku?" celetukku tiba-tiba. Aku segera terduduk dan kembali menatap sekitar. Oh ya, aku di kamarku. Tunggu! Kenapa aku di kamarku siang-siang? Bukannya aku harusnya ngegym? Atau bekerja? Dan tiba-tiba akupun sadar kalau hari ini memang lebih singkat dari biasanya. Aku menghela nafas dan bersandar ke tembok sembari kembali menjelajah tiap sudut kamar dengan tatapan sayu.

Perlahan teringat kembali saat-saat dulu, kejadian seminggu lalu di kamar ini saat kawanku datang dan numpang nonton film sampai malam, lalu bulan lalu saat aku sakit dan tidur di kamar, atau tahun lalu, dua tahun lalu saat aku belum pindah ke kamar ini... Mendadak pikiranku melayang ke saat-saat aku masih ada di rumah kontrakan dulu, teringat jendela besar dan gorden biru tuanya, lalu ke kamar kosku yang dulu, dengan langit-langit yang sangat tinggi namun panas, dan kemudian rumah orang tuaku.

Dan tiba-tiba muncul sebuah tanya. "apa yang akan terjadi pada kamar ini minggu depan? Dan minggu depannya lagi? Dan buln depannya lagi? Apa yang terjadi sepuluh tahun lagi? Akankah tetap sama seperti ini? Atau...".

Aku menghela nafas, mencoba mengatur distorsi dan perlahan membiarkan gelombang realita mencekoki hati yang dipenuhi memori seiring dengan bias mentari yang mulai redup karena mendung dan suara orag-orang yang mulai membising kembali.

"Ah sudahlah. Mungkin karena aku tak biasa tidur siang," kataku menghibur diri.

October 08, 2011

Baik Baik Saja

Suara alarm memekik membangunkanku. Aku terbangun dan menyandarkan punggungku ke dinding, mencoba fokus, mencoba mengingat kembali, mencoba membedakan antara nyata dan mimpi. Bahkan suara berita di televisi yang lupa kumatikan tak sanggup menyadarkanku. Aku lalu mematikan televisi itu dan berjalan menuju kamar mandi.

Aku menyalakan shower begitu kencang. Kubiarkan air dingin mengguyur semua yang tak nyata, mengalirkan mimpi-mimpi menipu dan terbuang jauh dalam gorong-gorong realita. Begitu selesai aku meraihkan tanganku di tempat handuk. Kosong.

Aku harap kamu masih ada di sini.

***

Sinar matahari merayapi tubuh kami yang saling berdekapan. Pagi telah menandai awal dari sebuah akhir.

Tubuhmu perlahan melepaskan diri dari dekapanku, berjalan gontai menuju kamar mandi. Terdengar suara air bergemericik yang makin menyadarkanku. Ini bukan mimpi. Aku menyandarkan diri pada dinding, menatap langit kebiruan yang cerah. Aku menghela nafas.

Sesaat kemudian kau muncul lagi dengan tubuh basah terbalur handuk. aku tersenyum dan menghampirimu, memelukmu dari belakang, menciumi bau shampoo dirambutmu. Kau tersenyum  dan menyuruhku mandi. Aku mengecup tengkukmu sebelum melangkah menuju kamar mandi.

Di bawah guyuran shower pikiranku berkelana. Ketakutan dan kesedihan perlahan merayap mengaliri hati yang masih segar karena cinta. Begitu selesai aku melihat handuk terlipat rapi yang kau siapkan di meja.

Aku takut kehilangan kamu. 

***

Aku merapikan pakaianku di depan cermin: kemeja hitam dengan dasi abu-abu dan celana hitam. Aku mencoba tenang, karena hari ini aku akan bertemu denganmu. Aku menghela nafas panjang. setitik air mata muncul. Aku tak bisa lagi menyembunyikannya.

Aku kangen kamu.

***

Kau masih sempat merapikan kerah bajuku meski kau tahu kau hampir terlambat. Kau tersenyum menatapku, lalu mencium pipiku.

Aku bakal kangen banget sama kamu.


***

Di mobil tak ada suara, hanya mataku yang fokus menatap jalan. Aku diam. Membisu.

Semua tak akan baik-baik saja tanpamu.

***


Di mobil kau tetap diam sambil menatap jalanan dari jendela. Sesekali aku menatapmu sambil menyetir. Mulutku ingin mengatakan sesuatu, namun hati ini membuat kalimatnya luruh dalam ragu.

Tanpa sadar kau menatapku. Kau tersenyum, lalu tanganmu kau letakkan diatas tanganku. Mata indahmu menembus dalam ke dalam hati, seakan menyiram lagi rasa yang sudah hampir kering karena ragu.

Semua akan baik-baik saja kok.

***

Aku memarkir mobilku dan berjalan keluar dengan seikat bunga di tangan kiriku. Aku berjalan dan berjalan, melewati banyak pepohonan. Aku lalu melihat kerumunan orang di satu sudut. Aku mendatangi kerumunan itu. Dan aku bertemu denganmu. Akhirnya. Aku bertemu denganmu

Ya, aku percaya kata-katamu. Semua akan baik-baik saja. Bahkan ketika kaki dan tanganku ingin berontak dan mendekap sosokmu yang berlalu menuju pesawat itu setelah kita saling bercumbu, bahkan ketika perasaanku berkata kita tidak akan bertemu lagi... Aku masih percaya, semua akan baik-baik saja.



Dan di sinilah aku, berdiri menangisi pusaramu.

***

"... Pesawat penumpang tersebut jatuh setelah mengudara selama beberapa jam. Dilaporkan tidak ada korban selamat dari kecelakaan naas tersebut. Polisi masih melakukan investigasi lebih lanjut terhadap kecelakaan tersebut...".

October 06, 2011

Kopi Susu

Aku duduk termangu di depan segelas susu panas di atas mejaku. Hujan rintik di luar masih setia menemani kesendirian dan pikiranku yang bertualang. Sesekali aku menyeruput susu panas itu, membiarkan hangatnya mengalir mengusir dingin di tubuhku. Tapi yang kedinginan di sini bukan cuma tubuh dalam baluran saju hangat warna putih gading ini. Hatiku juga dingin. Hatiku butuh kejujuran.

Kau masih setia duduk didepanku, dengan kacamata bingkai hitam yang menghiasi wajah serius namun manismu yang sedang membaca tumpukan kertas diatas meja di depanmu. Kemeja biru gelap yang kau pakai masih nampak rapi meskipun sekarang sudah jam pulang kerja. Dasi hitam yang tadinya kau pakai di lehermu kini kau taruh ke dalam tasmu, meski lidahnya masih terlihat sedikit dari luar.

"Jadi...", ujarku membuka pembicaraan. Kau menatapku. Ah, mata itu. Mata polos namun tajam yang berhasil menembus pertahanan hatiku.

"Jadi kapan kamu balik ke Jakarta?"

Kau berdeham lalu meraih kopi susu di sebelahmu, meminumnya sedikit, lalu menaruhnya lagi. Lalu kau menatapku. "Mungkin lusa. Secepatnya lah. Semua sudah beres di sini. Aku harus segera mengurus kontrak baru secepatnya. Tahun ini kebanjiran order," katamu sambil tersenyum.

Aku ikut tersenyum menatap kegembiraan yang tersirat disitu. Aku kembali meminum susu panasku, lalu menatapmu lagi. "Kapan mau balik ke sini lagi?"

Wajahmu menyiratkan kekagetan sesaat, namun dengan lihai kau tutupi semua itu dengan senyummu yang menggoda. "Makanya doain biar dapat orderan lagi di sini."

Kau dan aku terdiam, saling menatap. Bahasa tanpa kata saling bertukar dengan perantara bola mata. Namun segera aku mengakhirinya dengan helaan nafas panjang. Susu panas itu kembali menjadi caraku mengalihkan semua kegusaranku. Kaupun nampaknya mulai terbiasa mengalihkan perhatianmu pada segelas kopi susu itu sebelum akhirnya kembali mengecek laporan-laporan di depanmu.

"Kamu tahu sendiri kan posisiku?" katamu tiba-tiba sambil terus menatap laporan-laporan itu. "Aku sudah bilang kalau aku tak bisa memberimu lebih dari ini."

"Aku tahu," jawabku sambil menatap hujan yang perlahan reda. "Di Jakarta kamu juga punya keluarga.. Tapi...".

"Begitu hujan reda kita balik ya? Aku belum packing," selamu. Kau nampak gusar tiap kali aku membahas keluargamu. Istrimu. Anakmu. Kau bergumam sendiri tentang tanda tangan dan klien setelahnya. Aku cuma diam. Sesekali kusibakkan rambutku ke belakang.

Hujan makin menipis. Tabuhannya mulai mereda, lalu berhenti. "Nah! Sudah selesai!" katamu sambil menghela nafas. "Laporan sudah dicek, sekarang kita pulang yuk! Dah ga sabar pengen meluk kamu." Kau lalu menyeruput kopi susu itu, mencoba menghabiskannya.

Aku menarik nafas panjang. "Aku hamil mas."

Kau tersedak dan terbatuk-batuk.

September 23, 2011

Namaku Abu, Siapa Namamu?

Aku menatap sosok itu berdiri membelakangiku menatap arakan awan di tepi padang nan luas. Tubuh tegapnya kira-kira setinggi aku, dengan baju dan rambut abu-abu.

Aku menatap sekeliling. Hanya aku dan dia yang berdiri di padang luas itu. Aku secara naluri menghampirinya.

"Kamu siapa?" tanyaku pada punggung itu. Ia tak menoleh, hanya menggerakkan bahunya pelan.

"Aku? Namaku Abu. Selamat datang Saudaraku, di alam Abu-abu!"

Aku sedikit terkejut dengan suaranya. sekilas mirip suaraku. "A.. Abu-abu?"

"Kenapa kau terkejut?" selanya tiba-tiba. "Apa karena kau tak pernah melihat warna abu-abu? Kamu suka warna abu-abu kan?"

Aku diam sejenak "Aku.. Aku tidak begitu suka abu-abu. Warna nanggung."

Aku bisa mendengar gelak tawanya. Tanpa menoleh ia menghela nafas panjang.

"Warna abu-abu adalah satu-satunya warna yang ada di dunia ini," katanya.

"Maksudmu? Apa kamu tidak lihat padang rumput di sekitar kita ini? Semuanya hijau, segar, langit berwarna biru, bunga-bunga di samping kakimu itu.. mereka berwarna merah!"

"Abu-abu itu warna yang unik, Saudaraku. Dia ada di mana-mana, tersamarkan dengan warna yang lain. Dialah komponen dasar dunia ini. Lihatlah sekelilingmu, Saudaraku. Mereka mungkin terlihat hijau segar, bunga-bunga itu mungkin terlihat merah dan cantik, langit itu mungkin terlihat biru indah.. Namun sebenarnya mereka abu-abu, Saudaraku!"

Dalam tanda tanyaku dia melanjutkan ceramah anehnya.

"Tak semua yang putih itu suci, tak semua yang hitam itu kelam. Ada area abu-abu di sekitar kita, area abu-abu tak terdefinisi yang biasanya terlewatkan oleh mereka-mereka yang terlalu sering dicekoki oleh spektrum hedonisme dunia, mereka-mereka yang terlatih untuk berpikir lewat kepala orang lain, bukan dengan kepala mereka sendiri."

"Tapi abu-abu itu warna penuh ragu! dia tidak hitam, tidak putih! Tak ada ketegasan di situ, tak ada keberanian di situ. Abu-abu itu warna aman karena dia bisa memutih atau menghitam."

Dia tertawa lagi. Kali ini tawanya begitu keras sampai dia harus membungkuk menahannya meledak. Aku merasa harga diriku terlecehkan, namun rasa ingin tahuku semakin besar.

"Karena tak ada yang benar-benar putih, atau hitam, Saudaraku," lanjutnya. "Semuanya itu Abu-abu. Kenapa ada pencuri? Mereka butuh uang. Untuk hidup. bertahan hidup itu putih. Mencuri itu hitam. Putih dan hitam? Abu-abu. Seorang wanita membunuh lelaki yang ingin memperkosanya. Membunuh itu hitam, bertahan itu putih. Hitam dan putih? Abu-abu juga Saudaraku! Tak ada malaikat di dunia ini, tak ada yang putih. Iblis juga tak ada di sini, tak ada yang hitam. Yang ada hanya kita, Saudaraku... Ciptaan Tuhan yang abu-abu."

"Tapi jika semuanya abu-abu, bagaimana kita bisa menentukan salah atau benar?! Bagaimana kita bisa tahu mana yang kelam dan mana yang suci?" tantangku. Aku geram mendengarnya menyerang semua fondasi pola pikirku, namun aku juga takut akan kebenaran yang tersembunyi di situ.

"Karena Benar atau Salah itu ada dalam kepalamu, Saudaraku. Kepala Kita!" katanya sambil menunjuk pelipis kirinya. "Mana kau tahu mana yang benar mana yang salah? Siapa kau sampai berhak menentukan mana yang benar dan mana yang salah? begitu pula warna, Saudaraku. Terlalu benyak warna kau lihat sampai kau lupa kalau pada dasarnya mereka abu-abu."

Aku meggelengkan kepala dalam kebingungan. "Aku tidak paham maksudmu. Bagaimana bisa rumput hijau ini kau bilang a...".

Kata-kataku terputus saat aku melihat sekelilingku. semua yang tadinya hijau, merah, biru, perlahan meluluh, memudar... Dan berubah. Semuanya berubah menjadi abu-abu.

"Hey! Apa yang ter...".

Kata-kataku kembali tercekat dalam tenggorokanku. Lelaki itu kini berada di hadapanku. Rambutnya abu-abu gelap, matanya abu-abu. Tangan kanannya menggenggam bola bersayap dan berukir mirip matahari berwarna putih, serta bola sabit serupa bulan berwarna hitam pekat. Wajahnya... Dia adalah aku!

"Kaupun juga abu-abu, Saudaraku," katanya sambil tersenyum.

Aku sontak terbangun dari tidurku. Dengan nafas ngos-ngosan dan keringat bercucur deras aku menatap sekeliling. Semua masih penuh warna. Tiba-tiba aku sadar. Selimutku warnanya abu-abu.

-------------------------------------

Thanks for Ash for inspiring me. Ash = abu. Grey = abu-abu. :p

September 19, 2011

Catatan Korban Pengeboman

Aku terbangun dengan pusing yang teramat sangat. Aku menatap sekitarku: asap, dan teriakan-teriakan yang bercampur dengan bunyi gemeretak api yang membakar kayu. aku mencoba berdiri dengan kakiku sembari mencoba melihat dengan seksama.

aku melihat beberapa orang berteriak minta tolong, beberapa mobil pemadam kebakaran dengan sirinenya yang meraung keras hadir kemudian. Petugas pemadam kebakaran mulai turun dan menyiram api yang muncul dari beberapa sudut. aku menatap sampingku dan melihat sebuah bangkai mobil terbakar hebat dengan reruntuhan bagian depan lobi hotel serta asap hitam dan bau anyir. Aku lalu melihat lampu sirine sebuah ambulans yang datang dari kejauhan. Tiba-tiba kepalaku mendadak pusing. Kilasan-kilasan kejadian mendadak berkelebat di dalam pikiranku.

Waktu itu siang hari, aku ke sini setelah mampir ke toko perhiasan. aku begitu deg-degan.. aku melihat sosok itu, dengan tas ransel hitam besar. Ia menatapku dengan mata yang menyiratkan ketakutan.. dan aku baru sadar kalau...

Segera aku tersadar lalu berbalik ke tempat aku bangun tadi. Begitu sampai di situ aku tertegun melihat genangan darah, dan dua sosok diantara debu dan asap. Sosok perempuan menangisi tubuh seorang lelaki yang terbujur kaku.

Itu.. Tubuhku.

Kilasan-kilasan itu kembali muncul di kepalaku diiringi raungan sirine yang terdengar bagai jeritan sakit dalam baur aroma darah dan asap.

Hari itu Minggu. Aku berencana melamar dia di hotel tempat pertama kami bertemu waktu diklat pegawai baru beberapa tahun yang lalu itu. aku sudah menyiapkan cincin cantik yang akan kuberikan padanya. saat kami berjalan memasuki lobi, aku melihat sosok mencurigakan dengan tas ransel hitam besar. Ia menatapku dengan mata yang menyiratkan ketakutan. Aku dan dia sudah duduk di ruang makan saat aku melihat lagi sosok itu lewat. Entah kenapa perasaanku tidak enak. aku memutuskan mengikuti sosok itu.. Dan saat pria itu berdiri di ujung lobi, cukup jauh dariku, dia menatapku lagi dengan senyum. Lalu...


"Ledakan," bisikku pelan. Pria itu meledakkan dirinya sendiri. Aku menatap tubuhku yang penuh darah, dan dia yang menangisiku. Kilau sincin yang harusnya kuberikan padanya tertangkap mataku tergeletak tergenang darah di dekat tanganku.

HAtiku seakan hancur di situ. semua rencanaku dengan dia hancur. Aku begitu ingin menyentuh pipinya yang berurai air mata, mendekap tubuhnya yang dibasahi darahku saat aku merasakan seseorang di belakangku. Aku menoleh. Sosok berjubah hitam berdiri begitu megah di belakangku. Wajahnya tertutup tudung hitam gelap.

"Tinggal kamu," katanya dengan nada tegas, namun begitu tenang. Dia lalu berjalan pergi. Bagai terhipnotis aku berjalan pelan mengikuti sosok berjubah hitam di depanku melewati puing-puing. Ingin aku menoleh dan menatapnya untuk terakhir kalinya, namun semua sudah terlambat.

Sosok itu berhenti lalu membentangkan sayap hitamnya yang begitu lebar dari jubahnya. Bulu-bulu hitam pekat bertaburan. Dia lalu mengulurkan tangan halusnya dari balik jubah hitam itu, mengajakku mendekat.

"Ayo, kau sudah ditungguNya."

Aku meraih tangannya.

Masih sempat terlihat tangisnya di mataku saat malaikat maut membawaku pergi.

September 14, 2011

Secangkir Kopi di sela Gerimis Bulan September

Di sudut kafe ini aku menerawang jauh, menatap gerimis yang setia mendendangkan melodi kesendirian. Asap dan aroma kopi susu yang kupesan semerbak menjelajah.

Gerimis selalu menjadi pengingatku padamu. Seperti kopi susu di tengah kesibukanku kau datang dan memberikan suntikan kaffein yang membuatku bersemangat. Seperti jam weker alami yang terus berbunyi, mencoba membangunkan kenangan lama yang tertidur pulas. Kadang weker itu gagal, dan si kenangan akhirnya lelap. Namun seringnya tabuhan nada-nada alam itu berhasil membangunkannya, membuatnya kesal dengan kenyataan kalau saat ini semua tak seperti sedia kala, seperti saat aku terbangun empat jam lebih telat dari jam masuk kantor, tepat saat si Bos inspeksi.

Ah, gerimis.. Betapa setia kau membangunkan kenangan itu. Bahkan secangkir kopi susu yang membuatku mulai ngantuk di depanku ini tak bisa membuat kenangan itu ikut tidur dalam domain gelap di hati.

Aku mengalihkan pandanganku pada segelas kopi susu yang tinggal setengah. Bayanganku sedikit terpantul di genangan coklat tuanya. Bayangan yang kesepian. Bayangan yang memantulkan kesedihan dan duka. Bayanganku.

Aku lalu menarik nafas panjang sambil berdendang beberapa lagu yang akan kunyanyikan di acara nanti, sesekali sambil melirik gerimis. Tanpa sadar aku menyanyikan lagu-lagu cinta dan pernikahan itu untuk pernikahan kita, UNTUK KITA.

Ah indahnya. Pasti pesta itu akan benar-benar meriah, aku yang bernyanyi dan kau tersipu dalam baluran gaun cantikmu, menatapku dalam cinta, dalam ikatan selamanya...

Aku menghela nafas sembari menatap gerimis yang perlahan memudar mengiringi pudarnya anganku akan lagu-lagu cinta kita. Aku berdiri sambil meminum setengah gelas kopi susu yang tersisa, menelan pula bayangan duka yang terpantul di dalamnya. Aku merapikan dasi dan jasku, tersenyum manis, lalu berjalan santai menghadiri acara pesta pernikahanmu.

Yah, paling tidak aku masih bisa menyanyikan lagu cinta itu UNTUKMU.

September 13, 2011

Memaafkan Dia, Dan Dirimu Sendiri

"Masalahnya aku ga bisa! Tahu sendiri aku bakal pindah tahun depan, gimana mau menjalin hubungan coba?! Aku cuma pengen bahagia, bahagia yang benar-benar bahagia! Ga cuma hubungan singkat yang hanya akan menambah daftar sakit dan mantan!"

Hening lalu menyergapi kami. Aku duduk diam dalam kegalauan yang menjadi, kawanku dengan tenang menikmati segelas tehnya. Ia lalu fokus melihat kartu-kartu di depannya.

Pertemuanku dengan sosok itu menghancurkan semua benteng berbahan dasar logika dan pikiran yang kubangun. Sosok yang awalnya hanya menjadi "obat mata" di kala kejenuhan hiruk pikuk konsultasi tarot komunitasku yang mendadak mengalir sedikit lebih jauh, dan membawa sepucuk harap akan cinta. Ya, Cinta. The most common lies ever.

Temanku melanjutkan bacaannya. "Memang benar, sepertinya kamu sudah tidak tertarik pada hubungan cinta untuk saat ini...".

Hatiku mengamininya. Aku memang tidak tertarik dengan hubungan yang mengikatku di sini. Aku akan pergi, pergi jauh sekali, dan aku tidak mau ada yang sakit melihatku pergi.

"Tapi alasannya bukan karena kamu akan pergi, tapi karena kamu takut terluka lagi."

Aku diam. sejuta tanya semburat keluar. Benarkah aku takut sakit? Sakit apa? Karena mantan kekasihku yang memutuskanku dengan alasan konyol itu, setelah setahun dua hari bersama?

 "Mungkin..", kataku tiba-tiba. "Mungkin kamu benar. Aku takut. Aku takut rasa sakit itu kembali. Layaknya komputer, dia yang dulu benar-benar meluluh lantakkan semua programku, menghancurkannya sampai ke dasar. Aku yang kini masih mencoba menginstall ulang beberapa program itu, namun..".

"Namun kamu sengaja memasang anti virus berlapis agar kejadian itu tidak terjadi lagi?"

Diamku mengiyakan kata-katanya.

"Namun sampai kapan kamu menekannya? Sudah sembilan bulan kamu sendiri, dan semua anak komunitas tahu kalau kamu itu bukan tipe yang tidak bisa hidup tanpa cinta dari pasangan. Dan selama kamu berpikir kalau apa yang akan kamu bangun itu akan hancur seperti dulu, kamu tidak akan pernah membangunnya. Kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu cari, yaitu kebahagiaan."

"Lalu apa yang harus aku lakukan? aku benar-benar ga tau. Aku bingung.. Terlalu banyak hal yang harus aku selesaikan, terlalu banyak hal yang harus kupikir..".

"Ambil satu kartu lagi."

Aku mengambil selembar kartu, lalu membukanya. Ace of Cups - Gambar sebuah piala cantik dengan lima pancuran air mengalir ke bawah telaga yang indah. Seekor burung dara membawa roti komuni di atas cangkir itu. Kartu itu bermaknakan cinta, awal sesuatu yang baru yang berhubungan dengan doamin rasa, area yang sudah aku bentengi sedemikian rupa ini.

"Kamu harus belajar mencintai yang sudah terjadi. Percayalah bahwa kamu berhak bahagia. Maafkan dia yang dulu menyakitimu, dan maafkanlah dirimu sendiri juga karena telah gagal untuk kesekian kalinya."

Aku terdiam. Ya, mungkin aku salah. Aku selalu beranggapan bahwa cinta sejati adalah cinta yang memberi tanpa batas, tak mengharap kembalian, benar-benar memberi dengan tulus, bahkan bisa berbahagia meskipun dia yang kita cintai bisa bahagia tanpa kehadiran kita. Dan aku.. saat aku merasa aku gagal menjalankan konsep cinta sejati itu, aku mulai menghukum diriku sendiri dengan tidak mengijinkanku mencintai orang lain. Aku merasa aku tak layak, aku merasa aku tak pantas untuk merasakan cinta selama cintaku masih belum bisa memberi dengan mutlak.

Aku menarik nafas panjang. Aku merasakan rasa berat, sakit, luka, bayangan dia yang dulu, bayangan dia yang sekarang... semuanya mengalir keluar diiringi hembusan nafasku.

"Makasih ya," kataku dengan senyum lega pada temanku.

"Sama-sama. Aku juga makasih lho ya kamu sering bantu aku pake kartu juga."

Kami tersenyum, lalu kembali bercanda seakan semuanya tak pernah terjadi.

September 04, 2011

Sajak Tepi Samudera

Di tepi samudera ini aku berdiri,
Menatap larutan kenangan bercampur getir
Membelai pelan jiwa yang berkawan sendiri..

Aku menatap jauh, melihat garis-garis kenangan yang dulu,
Membingkai ujung laut, memaknai angin semilir..
Luka, tawa, semua tercampur dalam langit kelabu..

Mungkin semua berat buatku,
Membiarkan masa lalu memudar dalam luka yang berdesir,
Menahan perihnya dalam sendu..

Namun ketika tiba saatnya,
Mungkin semua akan baik-baik saja,
Mungkin kita bisa kembali tertawa,
Mungkin luka hati ini tak lagi akan terasa..

Atau mungkin kau akan tetap berlalu..
Mungkin laut tak akan bisa menghapuskan jejakmu..
Mungkin kita akan tetap mengutuk nasib yang tak pernah setuju,
Mungkin kita akan tetap berharap suatu saat akan satu..

Atau mungkin kita akan saling lupa, sibuk dengan dunia kita..
Kau dengan duniamu, Aku dengan kenanganku..
Berdua, seperti tak pernah terjadi sebelumnya..
Pelan-pelan meluruh dalam waktu..

Di tepi samudera angan ini, aku berdiri
Menatap lautan kenangan dalam sendiri..
Tiba-tiba tetes-tetes hujan membasahi..

Hatiku menangis.

September 02, 2011

sedang (tidak) butuh cinta

Pernahkah kau memesan sebuah kudapan manis yang nampak cantik di buku menu namun kau tak bisa menghabiskannya? Kudapan itu begitu cantik, rasanya begitu nikmat, namun entah kenapa lidahmu merasa beberapa suap sudah cukup. Kau lalu meninggalkan sisa kudapan cantik itu di atas piring dalam kondisi berantakan, menunggu isinya dibuang ke tempat sampah. Mungkin seperti inilah aku saat ini dalam menyikapi cinta: sebuah kudapan manis menggoda yang tak akan mungkin bisa kuhabiskan.

Aku benci mengakui kalau saat ini aku benar-benar butuh cinta. Bagiku orang yang dimabuk cinta sampai rela melakukan segalanya itu bodoh; mereka lupa kalau dahaga mereka bisa dipuaskan dengan hal lain, tak perlu melulu cinta. Tapi aku salah. Cinta itu punya rasa berbeda. Es teh manis itu beda rasanya dengan es teh tawar. Beda juga rasanya dengan teh manis hangat. Dan dahaga minuman dingin tak bisa dipuaskan dengan minuman panas.

Namun lagi-lagi aku sadar: cinta itu tak ubahnya sebuah kudapan cantik. Begitu indah dengan warna-warni dan topping yang sangat artistik. Sesuap saja bikin melayang ke langit. Namun beberapa suap berikutnya terasa sama.. Dan akhirnya jadi eneg. Dan akhirnya kudapan itu tidak habis.

Sudah dua puluh tujuh piring kudapan yang tak habis kumakan. Semuanya hadir dengan warna-warni dan bentuk yang berbeda. Merekapun menawarkan rasa-rasa berbeda, meski intinya sama: manis-manis eneg. Dan rasa eneg itulah yang membuatku menyerah menghabiskannya. Rasa eneg itu jugalah yang membuatku takut untuk menikmati sepiring kudapan manis lainnya.

Dan kini, aku berada di sekitar orang-orang yang sedang menikmati kudapan mereka. Ada yang menikmatinya dengan lahap, ada yang pelan-pelan, ada yang baru terpesona melihat kudapannya hadir di depan mereka, ada yang tidak begitu melihat bentuk namun lebih menikmati rasa, ada yang ketika merasakannya ia akan terus mengingat tiap rasa manis legitnya... Melihat mereka membuatku gelisah. Dan perutku jadi lapar. Lapar Cinta.

Tapi haruskah aku membuka buku menu dan memesan sesuatu yang aku yakin tak akan bisa kuhabiskan? Ataukah aku cukup duduk diam sambil mencoba mengerjakan yang lain?

Atau mungkin aku harus pergi saja dari kafe ini biar aku tidak merasa lapar melihat mereka.

July 27, 2011

5 tahun.

Hmmm...

tak ada apapun yang ingin kutulis soal ulang tahun tahun ini sebenarnya.

cuma harapan semoga semuanya seperti yang aku harapkan. amin.

HBD to me.. :) *telat tujuh hari*

(Tidak) Pernah Berjodoh

"Halo?"

Itulah kata pertama yang kudengar setelah nada tunggu mengisi gendang telingaku selama beberapa saat. Suara yang kurindukan.

"Halo? Kamu dimana? Kok bising?"

"Oh... Aku lagi ada acara dikantor. Kenapa emangnya?"

"Gapapa. Kamu.. Jadi pindah?"

Suasana hening sejenak. suara-suara agak berisik yang menghiasi dari balik sana, mengisi kekosongan ruang kantorku yang sepi bersama dengan keheninganku menanti jawabannya.

"Iya, aku jadi pindah. Kan aku dah bilang?"

"Oh iya.. Terus kamu dah dapat kerjaan di sana? Dah ada tempat nginep? Beneran gapapa?"

"Udah kok. Aku tinggal kerja aja. tempat nginep sementara numpang temen. semuanya sudah diatur kok."

Entah kenapa beban berat yang sepertinya mencekikku sedari pagi perlahan melarut bersama dengan hembusan AC ruang kerjaku.

"Aku sekarang mau kerja demi keluargaku. aku dah ga kaya dulu kok. Tenang aja."

Aku tersenyum. Syukurlah, pikirku.

"Hati-hati di sana ya? Jangan bandel.."

"Iya.. Tenang aja. Aku ga akan nakal. Makasih ya...".

Kami terdiam kembali. Kata-kata seakan sudah habis. Tak ada lagi tersisa untuk dirangkai. Sampai akhirnya..

"Eh, tutup mata dong?" kataku tiba-tiba.

"Haha? kenapa?"

"Tutup aja...".

Dia diam sejenak. "Udah. Terus?"

"Bayangin aku meluk kamu disana," kataku tiba-tiba.

"Ahahaha... Jadi ingat jaman dulu.. Saling membayangkan, saling berkhayal bersama kita ya?"

"Ahahaha... Iya nih. Ga fair ah, kamu dah kesana duluan. Jadinya aku yang utang janji."

"Iya.. pokonya kalo sempet main-main ya ketempatku.." ujarnya diselingi tawanya yang khas.

"Eh, aku mau beres-beres dulu nih, udah mau kelar lemburku," ujarku mencoba mengakhiri pembicaraan.

"Oke-oke.. semangat ya kerjanya. sampai ketemu di Bali."

Aku terdiam. Entah kenapa aku mendadak kehilangan akal. Semua belenggu kepantasan mendadak terurai, menyisakan hasrat lama seseorang yang dulu pernah mencinta.

"Err... by the way... aku mau ngomong..".

"Iya? kenapa?"

"Aku masih sayang kamu."

"Hah? Apa?"

Klik.

Aku menyandarkan diriku dikursi di ruang kerjaku, menerawang layar komputer yang kebiru-biruan, membiaskan cahaya sendu mengisi ruanganku. Telpon selularku kucampakkan di sofa beserta semua ketidakpantasan yang tadi pernah terjadi. Logikaku kembali berkuasa.

Lucu.. Dulu saat kita bersama, akulah yang membuang dia, dan aku menyesalinya. Kini saat dia sudah di sana, aku memilih tak menyentuhnya lagi. Logika meludahi angan-angan semuku, mencibir mimpi-mimpi indah itu, menamparku kembali ke realita dimana kami tak seharusnya satu.

Dan lagi-lagi aku harus membiarkan dia lepas dari hidupku.

June 29, 2011

multi-tasking is so not me

mulai dari proyek kumpulan cerpen,
kumpulan puisi,
lalu dokumen2 yang harus dilengkapi,
tak lupa pula proyek naskah film indie...
belum gajian pulaaa @.@

haduh-haduh-duh...
sepertinya harus berhenti fooling around.
semoga saya bisa... :)

maaf ya buat para pembaca yang menunggu tulisan saya...
Juli tengahan mungkin udah kelar. @.@

wish me luck!!! :D

June 25, 2011

Tentang Mantan: Melepas Yang Tak Terlepas

Malam ini anganku melambung jauh dari teras lantai dua kafe tempatku dan kawan-kawanku bercengkrama. Lalu lintas kendaraan seakan tak sanggup menarik kembali imajinasiku tentangnya, tentang dia yang dulu pernah mengisi relung di sana.

Aku tersenyum sendiri saat mengingat kegilaannya, bagaimana dia begitu menyayangiku dulu, betapa kami seakan bisa menggapai kebahagiaan sempurna berdua, betapa semuanya indah sampai realita menyapa. Yah, realita yang membuatku harus meninggalkannya. Dan keputusanku malah merusak hidupnya.

Ah, sudahlah! Itu kisah lama, tiga tahun lalu tepatnya. Tapi.. Kenapa mendadak aku kepikiran dia akhir-akhir ini? Aku sering menghubungi dia tiap aku ada waktu luang di sela kesibukanku bekerja, meski tidak pernah sekalipun ia angkat telpon itu. Entahlah.

"Mungkin karena aku merasa aku masih bertanggung jawab padanya," kataku. "Aku merasa aku masih harus membantu dia, masih harus memperbaiki apa yang sudah ia alami, aku masih merasa dia tanggung jawabku. Aku merasa.. gagal mengajari dia."

"Tapi kamu masih suka sama dia?" tanya temanku.

"Entahlah. Sepertinya tidak. tidak ada keinginan untuk kembali menjalin hal itu, tidak ada keinginan untuk memiliki dia lagi seperti dulu. Tapi...".

Temanku tersenyum, lalu dia menunjukkan sebuah kartu. Selembar teratai diatas air jernih, dan tetesan air yang jatuh serta menyatu dalam keindahan air itu. Kartu tarot yang ia gunakan untuk membantuku menemukan jawaban.

Letting Go, begitu tulisan kartu itu.

"Kamu ga bisa ngapa-ngapain. Cobalah melepas dia. Dia sudah bukan tanggung jawabmu."

Aku menggenggam kartu itu, menarik nafas panjang, lalu menatapnya. Kilasan memori tentang kami begitu cepat bermunculan, lalu perlahan memudar seiring dengan air yang menetes, lalu membaur dengan jernih sejuknya kolam tempat teratai itu tumbuh.

Dia sudah bukan tanggung jawabku. Sebagaimanapun bingungnya aku, dia sudah bukan tanggung jawabku. Dia sudah dengan hidupnya, dan aku dengan hidupku. Dan kami berdua nyaman dengan kehidupan kami itu, yang dipisahkan oleh sungai waktu. Memang kadang aku masih menoleh ke arahnya, memanggil-manggilnya, kadang kuatir dia tersandung, kadang takut dia memilih orang yang tidak tepat... Namun dia bukan lagi tanggung jawabku.

Aku tersenyum. "Makasih ya," kataku pada temanku. Beberapa saat aku mencoba melupakan rasa itu dan kembali bercanda dengan kawan-kawanku, namun masih ada yang mengganjal. Akhirnya aku mengemasi kartu-kartu dan alas tarotku lalu berpamitan.

Di balkon kamar aku diam sejenak, menatap bintang yang mungkin sedang ia tatap juga malam ini.

"Bubu...".

Aku menarik nafas, memilih satu bintang yang menurutku paling indah, lalu menghembuskan nafasku pelan.

"Maafkan aku sudah gagal ngajarin kamu jadi orang baik. Maafkan aku sudah gagal menjaga hati kamu tiga tahun yang lalu. Namun aku tak pernah berhenti berdoa buat kamu, agar kamu jadi sosok yang baik dan bisa bahagia dengan kehidupan dan hubunganmu saat ini. Semoga kamu bahagia dan jadi orang yang lebih baik."

Akhirnya, aku bisa juga melepas kamu.

*ditulis dengan mendengar Bondan feat Fade to Black - Not With Me*

June 06, 2011

beberapa kata setelah lama tak bersuara

jika memang cinta yang JUJUR dan SELAMANYA itu bukan mukjizat yang layak kunikmati,
biarlah saja aku SENDIRI daripada berdusta dengan hati.

jika memang lidahku harus mati rasa akan nada yang JUJUR adanya,
biarlah ia membisu saja daripada mengucap syair tanpa makna.

jika memang jemari ini tak bisa menggenggam nyatanya RASA,
biar saja ia kosong, sendiri sambil berkawan dengan udara.

Karena cinta ini masalah hati, cinta ini masalah jati diri.
Bukan cuma alat untuk bersembunyi dari rajaman masyarakat akan opini.

*back to working on my novel*

April 25, 2011

Cakrawala

I might not update my blog for some times, sedang nulis novel lagi. wkwkwkwk...

kalo dah jadi ntar saya kasih tahu, without any trouble... maybe.. around 4 months from now i guess. :) if you want the soft copy i'll consider if it was even possible. :p

It is in Bahasa Indonesia though, but i'll try to create the translation as well

clue: judul sementara Cakrawala.

April 18, 2011

Sebuah Nama Dalam Hujan di Hari Kasih Sayang

Ragaku terpuruk dalam kesendirian. ditangan kananku telepon selular yang kumatikan, aku tak mau ada dunia luar yang menggangguku. Di tangan kiriku kalung cincin yang biasa kukenakan dileherku. Badan yang masih dingin karena hujan dan cuaca sejuk sejak sore tadi membuatku mengantuk dan ingin larut dalam tidur.
Aku memutar tubuhku menyamping. Kutaruh kalung itu lurus dengan pandangan mataku. Kutatap bandul cincinnya yang keperakan dalam-dalam. Hujan yang riuh menjadi pengiring hatiku yang mengingatnya kembali. Hormon-hormon ini membuatku mengenangnya kembali. Kupejamkan mataku perlahan.

Ya, aku masih ingat pertemuan kami. Lima tahun yang lalu, tanggal 14 Februari, di hari yang biasa orang sebut sebagai Hari Kasih Sayang, kami bertemu dalam sebuah kompetisi; aku sebagai peserta dan dia sebagai anggota komite penyelenggaranya. Aku berpapasan dengannya didepan lobi. Dia menatapku sesaat,lalu kembali sibuk dengan kertas yang dia bawa. Aku? Aku menatapnya dalam, sangat dalam. Bahkan perlu tepukan dipunggung oleh temanku untuk menyadarkanku.

Setelah itu aku sering memperhatikannya selama even itu berlangsung, sampai pada akhirnya, di saat aku pergi meninggalkan tempat itu. Aku masih sempat melihatnya bercanda dengan teman-temannya.

Aku bahkan tak tahu namanya.

Lima tahun berlalu. Aku masih mengingatnya walau samar. Kadang sahabat atau orang lain mengalihkanku, namun dalam sendiri kadang masih ada rasa penasran tentang dia. Aku ingin bertemu dia, bertanya siapa namanya. Bertanya dimana dia tinggal. Bertanya dan bertanya. Bertanya kapan aku bisa bertemu dia lagi. Dan rindukupun terjawab dengan indah.

Setahun setelah hujan di Hari Kasih Sayang itu, aku mendaftar menjadi salah satu anggota event organizer yang sedang mengadakan acara dikotaku. Disaat aku sibuk dengan agenda acaraku yang padat, aku bertemu dia. Dia datang ke acara ini sebagai pesertanya.

Dan sejenak kemudian langit mulai mendung. Hujan mulai turun. Hujan di Hari Kasih Sayang.
Ya, nasib itu aneh, dan dia mempertemukan kami dengan cara yang aneh. Keanehan yang namun kusuka…
Kali ini aku tak sempat menatapnya. Aku terlalu sibuk dengan tugasku. Maka sejenak kulupakan dia. Sesuatu yang awalnya kusesali, karena setelah acara berakhir aku mencari dia, dan aku tak menemukannya.

Aku bahkan tak tahu namanya.

***

Sore itu diwarnai hujan. Aku menikmati hujan. Sejuk dan dingin. Namun aku jadi harus berbasah-basah dalam keterburu-buruanku. Aku berdiri di depan pintu halte busway, menunggu bis sembari merasakan rintik yang menabuh atap halte.

Bis itupun datang. Pintunya terbuka. Orang-orang segera masuk dan keluar. Dan aku melihatnya.
Detakku seakan berhenti, namun aku masih hidup. Begitu kosongnya pikiranku sampai tanpa sadar aku telah berjalan masuk kedalam bis dan duduk tepat didepannya. Bis mulai berjalan, dan aku mulai bisa bernafas kembali.

Aku hanya menatapnya. Hanya menatapnya. Aku tak berani menyapanya. Bahkan aku tak berani memikirkannya. Aku takut hujan diluar tak dapat menyamarkan suara hatiku yang ingin mengenalnya. Aku diam saja.

Bis berhenti dan dia bersiap keluar. Aku hanya bisa menatapnya. Dan mendadak dia menatapku, seakan mengenali wajahku. Lalu ia tersenyum. Anak yang duduk disebelahnya ikut tersenyum, senyum yang sama-sama hangatnya. Senyum yang lalu dilanjutkan dengan kata-kata Mama, ayo cepat pulang, aku kangen Papa sambil tangan mungilnya menggandeng.

Bis mulai bergerak kembali menembus hujan yang mendadak reda, meski mendungnya masih memayung. Setelah lima tahun akhirnya aku berjumpa lagi dengannya. Lagi-lagi rinduku terjawab. Namun kali ini jawabannya tak lagi indah.

Aku bahkan tak tahu namanya.

***

Aku terlentang. Kini mataku menatap langit-langit kamarku. Dalam hati aku mengumpati hujan, mengutuk dingin, menyesali cincin perak yang tak pernah berhasil kuberikan itu, dan akhirnya jadi menyalahkan nasib. Ya, nasib memang aneh.  Karena tepat lima tahun setelah pertemuan pertama kami, di Hari Kasih Sayang kala hujan itu, aku bertemu lagi dengannya. Dan kebetulan hari ini tanggal 14 Februari.

Aku bahkan tak tahu namanya.

April 16, 2011

Untitled - Surya dan Chandra

Tahu ga Yank, kalo Bulan itu butuh Matahari?
Ga tahu Yank. Emang kenapa kok bulan butuh matahari?
Karena..

Surya membuka matanya dan mendapati dirinya berada di sebuah padang rumput yang begitu luas. Ia menatap sekeliling. Tak ada apapun, hanya hamparan rumput hijau yang teramat luas yang dipayungi awan putih dalam lautan langit biru.

Dimana aku?

Tiba-tiba sesuatu mengejutkannya. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul sebuah pintu kayu besar didepan Surya. Ia menatap pintu itu. Tak ada bangunan dibelakangnya. Tak ada tembok. Hanya pintu kayu besar berdiri ditengah padang rumput.

Dalam kebingungan perlahan dia menyentuh gagang pintu itu. Pintu itu terbuka perlahan, namun bukan padang rumput yang terlihat didalamnya. Surya melihat sebuah ruangan besar yang diterangi cahaya dari mozaik-mozaik yang menghias dinding disekitarnya. Surya sedang berada di gereja.

Deretan kursi kayu berpelitur mengkilat itu berjajar rapi. Diantara dua deretan kursi panjang itu membentang karpet merah tua yang menjembatani pintu kayu besar tempatnya tadi berdiri ke arah altar kayu dengan warna pelitur mengkilat yang sama.

Ada sesosok orang yang duduk di dekat altar, di deretan kursi paling depan itu. Sesosok lelaki berjas hitam.

Rasa takut dan bimbang reda sejenak melihat sosok itu. Surya berjalan menyusuri karpet merah menghampiri sosok lelaki itu, berharap bisa mendapatkan jawaban atas segala hal aneh yang barusan ia lihat, atau paling tidak bertanya dimana ia berada sekarang. Namun isak tangis lelaki itu menghentikan langkah Surya. Ia terpaku tepat di belakang lelaki itu.

"Kenapa kamu harus pergi seperti ini..", isaknya. Surya seperti mengenal suara itu. Dengan ragu ia melangkah menghampiri sosok itu. Ia hampir menyentuh pundaknya saat lelaki itu kembali terisak.

"Maafkan aku Surya.. Maafkan aku...".

Surya tertegun. Surya? Itu kan.. Aku?

Jantung Surya berdegup kencang saat tubuhnya sejenak hilang keseimbangan. Tiba-tiba berjuta gambar dalam otaknya muncul dan berkelebat bagai kilasan-kilasan film. Surya segera berpegangan pada pegangan kursi disampingnya saat semua kilasan-kilasan itu seakan mengguyur masuk kedalam otaknya.

Hai, aku Chandra. Kamu Surya kan? Maaf ya tadi macet.


Aku sayang kamu Ya.. Will you be my boyfriend?


Beibh.. Aku.. Aku harus ngomong sesuatu..


Maafin aku Beibh.. Aku.. Aku ga bisa gini terus.. Mama pengen aku cepet nikah dan..


SURYA! Beibh, dengerin aku sayang.. plis.. BEIBH!

Dan sebuah decitan keras diriingi suara tabrakan keras menghamburkan imajinasi Surya seketika. Ia ingat segalanya.

"Saat itu.. Saat itu aku mencoba meraih telepon.. Telepon selulerku," katanya terbata-bata. "Aku-aku mencoba mematikannya agar kau tak bisa meng-hubungiku. Dan tiba-tiba.. ada cahaya.. cahaya lampu terang sekali... Sebuah truk... Menghantam mobilku."

Surya terduduk di karpet merah gelap itu. "Aku... mati," bisiknya pelan. Ia menatap ke arah altar di depannya. Sebuah meja seukuran peti mati telah kosong. Mendadak sebuah peti mati hitam muncul diatas meja itu. Orang-orang perlahan bermunculan dalam posisi duduk ataupun berdiri. Mereka semua memakai baju hitam. semuanya terlihat sedih. Suryapun tersadar.

"Ini.. pemakamanku," katanya sambil tersenyum hambar. Surya mencoba berdiri kembali meski lututnya masih terasa lemah. Gereja itu kembali kosong dan hanya menyisakan sosok Chandra yang terisak sendiri.

Ia menghampiri Chandra dan duduk disebelahnya. "Maafin aku, Surya.. Maaf..." ratapnya sambil tertunduk. Surya menatap Chandra dalam. setangkai bunga lely ada dalam genggaman Chandra. Bunga kesukaan Surya.

"Aku sayang kamu Surya.. Sumpah aku cuma sayang kamu.. Kenapa kamu ga mau dengerin aku... Kenapa kamu harus pergi.. Kenapa Surya..".

Aku juga sayang kamu..

Surya perlahan memeluk Chandra dari samping tanpa kata. Mereka berbagi diam dan kesedihan di dalam gereja itu sampai tubuh Surya perlahan lenyap seiring dengan mentari yang mulai tenggelam.

***

Sore itu gereja begitu sepi. bayang-bayang mozaik membias mewarnai karpet merah tua dan deretan kursi coklat yang tertata rapi.

Di dekat altar Surya dan Chandra baru saja menyelesaikan doa mereka. Chandra menatap Surya yang masih memejamkan matanya.

"Tahu ga artinya Chandra?"

Surya membuka matanya. "Hmm... Bulan?"

Chandra tersenyum. "Kalau Surya?"

Surya mendengus sambil tersenyum. "Matahari. Kenapa sih?"

"Tahu ga Yank, kalo Bulan itu butuh Matahari?"

Surya menatap heran kekasihnya. "Ga tahu Yank. Emang kenapa kok bulan butuh matahari?"

Chandra tersenyum lalu menggenggam tangan Surya. "Karena bulan tak bisa bersinar tanpa matahari. Karena bulan akan selalu butuh matahari. Karena Chandra butuh Surya."

Surya tersenyum.

Dan seminggu setelah itu, Surya meninggal karena kecelakaan di tikungan di dekat gereja itu.

 ..

April 14, 2011

Defensif

Pembicaraan kami akhirnya tak berujung kemanapun. Permintaannya untuk sebuah ciuman selamat malam tak kuberikan. Kami baru kenal beberapa hari, tentunya bagiku wajar jika aku menolak memberikannya ciuman selamat malam, meski hanya lewat telpon.

"Kenapa kamu harus defensif sih? Ayolah, longgarkan saja batas-batas itu, biarkan aku menyelami isi hatimu," katanya.

Aku diam sejenak. "Aku.. Aku tidak tahu," jawabku kemudian. "Aku hanya melakukan apa yang sekiranya perlu. Bagaimana aku bisa mengijinkanmu menyelami hatiku? Siapa kamu?"

"Kenapa kau begitu takut? Kau kan lelaki?"

"Apakah lelaki harus terus-terusan mengorbankan hati? Sejak kapan kami harus jadi sekumpulan masochist perasaan?"

"Karena lelakilah yang harus mengejar, lelakilah yang harus mendapatkan."

"Dan wanita harus dirumah, masak, macak, manak. Begitu?"

"Enak saja! Ini emansipasi! Wanita berhak jadi apa saja..."

"Termasuk berhak menindas lelaki, begitu?"

Dia diam. Akupun diam. Hanya rintik hujan diluar kamarku yang merayapi keheningan.

"Tak semua wanita itu buruk, Di.." katanya pelan.

"Dan tak semua lelaki itu sanggup memberikan semua yang wanita itu inginkan."

"Aku tahu. Namun sampai kapan kamu defensif terus?"

"Sampai aku sanggup menyembuhkan perasaanku."

"Lalu kenapa tak kau ijinkan orang lain masuk dan menyembuhkannya?"

"Atau malah membuat lukanya semakin besar."

"Maaf," katanya. "Aku lupa kalau kamu begitu perasa."

"Aku yang minta maaf," balasku. "Tak seharusnya kita bicara terlampau dalam seperti ini. Kita baru kenal, dan aku rasa diskusi seperti ini hanya akan membawa pertemanan kita ke arah yang tak baik."

"Aku tahu," jawabnya. "Maaf ya?"

Aku tersenyum. "Ah sudahlah. Let's talk about something else, shall we?"

"Tapi cobalah membuka hati itu. Who knows..".

Aku diam. "It's not easy, you know..".

"I know. Sorry."

"That's okay."

Bulan Hujan dan Bintang Jatuh

Saat aku membeku dalam dekap sang bulan malam,
Akankah kau datang, berkunjung barang sejenak saja?
Akankah kau meminjamkan selimutmu yang kelam,
Dan mendendangkan lagu yang membuatku kembali terlena?

Akankah rintik hujan itu akan ikut bernyanyi bersama suaramu,
Menghibur hatiku yang telah terikat di beranda mimpi,
Tertambat erat dalam batas anganku?
Akankah hariku akan terus seindah ini?

Dan lihatlah, gemintang berkelip manja,
menyindir kesendirianku dalam fana, membayangkanmu..
Sudikah kau permalukan mereka yang tertawa?
Dengan kehadiranmu..?

Aku telah ada di tepi bintang jatuh, menantimu.
Maka lekaslah datang, Sayangku..
Karena sepertinya bulanpun mulai letih menggantikan tempatmu.

April 11, 2011

Two Years Before April 13, 2011

Two Years Before 12 April 2011

You used to be so upset when I took my bike alone without my brother's help. I've grown up, I said. And you understood. But I could se that u were worried.

And you always made me and bro and all of the family got panicky! You used to be so pushy about your own health, traveling so far just for earning more money though we would forbade you. You were so picky about food too.

Do you remember the times when you got so angry about me playing with your favorite chickens? You loved chickens so much you made a your own chicken farm on backyard and Mum was always upset about how smelly that animal was. Though it was not there anymore, we still keep chickens. I dunno, maybe 'coz it can somehow make us feel that you are still here.
And I dunno, I think I inherit your hobby. I like chickens too, and cats, and dogs. Like you. :)

And did you remember the last time we talk? It was at the hospital. We talked about things and you said you would come to my graduation day. That was so sweet, Dad... Though you couldn't make it, but it was sweet.

I used to hate you. You never there, you never really support me when i'm down, you often forgot in what grade I was. You made Mum cried. You come and gone, and I never had a chance to tell you that I missed you, that I wanted you to stay longer.

It's been two years, and still couldn't achieve my dreams yet. I feel.. bad. I'm sorry. I wish you were here to hear me complaining about stuffs, and then you would be wise and said that everything has it own time, like what you always said, and I'll get pissed off like always. LOL

I miss you, Dad.. I never had the chance to tell that.. I miss you.


Simple Plan - Perfect

Hey Dad look at me
Think back and talk to me
Did I grow up according
To plan?
Do you think I’m wasting
My time doing things I
Wanna do?
But it hurts when you
Disapprove all along

And now I try hard to make it
I just want to make you proud
I’m never gonna be good
Enough for you
I can’t pretend that
I’m alright
And you can’t change me

‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be Perfect
Now it’s just too late
And we can’t go back
I’m sorry
I can’t be Perfect

I try not to think
About the pain I feel inside
Did you know you used to be
My hero?
All the days
You spent with me
Now seem so far away
And it feels like you don’t
Care anymore

And now I try hard to make it
I just want to make you proud
I’m never gonna be good
Enough for you
I can’t stand another fight
And nothing’ alright

‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be Perfect
Now it’s just too late
And we can’t go back
I’m sorry
I can’t be Perfect

Nothing’s gonna change
The things that you said
Nothing’s gonna make this
Right again
Please don’t turn your back
I can’t believe it’s hard
Just to talk to you
But you don’t understand

‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be Perfect
Now it’s just too late
And we can’t go back
I’m sorry
I can’t be Perfect

‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be Perfect
Now it’s just too late
And we can’t go back
I’m sorry
I can’t be Perfect

April 03, 2011

Untitled Prayer

Ya Tuhanku yang Maha Tahu,
Sesungguhnya hatiku telah sering terluka karena anugerahMu yang bernama cinta,
Sesungguhnya aku hanya manusia yang mengharapkan hidupku diwarnai oleh cinta kasih sesamaku,
Dan agar aku bisa saling mengasihi, memberi, dan menyayangi seperti yang Kau harapkan adanya.

Maka bila suatu saat nanti Kau mengijinkanku untuk mencintai salah satu mahluk ciptaanMu lagi, Tuhanku,
Jadikanlah makhluk itu seindah-indahnya dan sebaik-baiknya makhluk yang Kau ciptakan untuk menjadi pendampingku,
Bukakanlah hatiku agar dapat tulus menyayangi, memberi, dan menjaganya selalu,
Lancarkanlah jalan kami agar cinta kami bukan menjadi dosa di mataMu.

Ijinkanlah aku untuk tulus menyayangi dia,
Dan buatlah agar kasih sayangku bukan menjadi hal yang percuma.
Dan restuilah perasaan kami dalam jalan yang sebenar-benarnya,
Dan jadikanlah hati kami kekal dan tak tergantikan oleh ciptaanMu yang lainnya.

Karena hanya Engkaulah Tuhanku, yang Maha Memberi dan Maha Mengabulkan.

Amin.

...

April 02, 2011

#kepadaA (puisi hasil RT-RTan)

   Sudahkah kau baca pesan yang kutitipkan pada dedaun di dekat jendelamu?

   Pesan sederhana yang dibawakan pipit-pipit kecil yang selalu hinggap disitu, bernyanyi membangunkan pagimu. Bacalah pesan itu sebelum embun membasahkannya lalu pesanku tak dapat terbaca. Lalu balaslah, cepatlah balas pesan itu. Karena aku.. Aku telah menunggu begitu lama.

   Tahukah kau jika menunggu balasmu teramat menjemukan? Hingga aku harus membunuh waktu terlebih dahulu.

   Namun waktu itu selalu menghantuiku, mengingatkanku pada batas-batas kita, garis yang memisahkan aku dan kamu. Batas yang pada akhirnya memberi jarak pandang mata kita. Lantas rindu kian meraja. 

   Karena itu lekaslah balas pesanku. pesan sederhana yang kutitipkan dalam dedaunan didekat jendelamu. 



terima kasih kepada Nova Ridha Aini yang mengijinkan saya menginfiltrasi kegalauannya dalam hashtag #kepadaA 

Adi Wicaksono - adyromeo.blogspot.com - http://twitter.com/#!/Adysaurus
Nova Ridha Aini - http://superdhruva.wordpress.com - http://twitter.com/#!/superdruva
 
... 

March 24, 2011

Am I.. Alone?

siang itu hujan tanpa ampun menyiram gerahnya kota. Tetes demi tetes mengalir membentuk urat-urat air di jendela sebelah tempatku duduk dan menunggu hujan itu reda, sembari bercengkrama secara virtual dengan beberapa kawan. Tiba-tiba dia muncul, sosok baru yang sebelumnya bilang kalau dia menikmati isi blogku, meski menurutnya cerita cerita di blogku terlalu pendek alurnya.

Aku mulai ngobrol dengannya, berkenalan, bercanda, berbagi beberapa cerita. Dan lalu aku bertanya, " jadi menurut kamu gimana tulisan-tulisanku?"

"Bagus. pendek-pendek sih, belum2 udah climax dan anti climax. tapi ketahuan kok kamunya romantis tapi selalu merasa sendiri."

aku diam sejenak. "sendiri?" balasku.

"Iya, sendiri. kamu punya eksterior yang keras, tapi interior yang hangat tapi rapuh. Tulisan-tulisanmu banyak yang bikin aku sedih bacanya. benar-benar terasa sendiri dan sepi. tapi bagus karena kamu dah bikin pembaca ngerasa gitu."

Aku kembali diam. Lalu aku membahas topik lain dengannya. Namun... tanpa sengaja hatiku bertanya..

Apa benar demikian? Sebegitu terlihat sendiriankah aku?

***

Malam semakin memekat. awan menggantung mesra memeluk bintang-bintang dari dinginnya hawa setelah hujan. Aku duduk di beranda depan kamarku, meresapi dinginnya malam saat pikiran itu kembali terlintas.

"Kamu itu romantis, tapi selalu merasa sendiri."

Iyakah? Aku sendirian ya, ejekku dalam hati. Sebegitu menyedihkankah aku dimata orang-orang, sampai orang yang tak kukenalpun bisa berkata demikian? Sebegitu terlihat kesepiankah aku sampai kesepian itu ikut merambat meresap dalam tulisan-tulisanku?

Entahlah. Aku tak pernah benar-benar merasa sendirian, karena aku sudah terlatih untuk sendiri. Bagiku teman bisa jadi calon-calon musuh, friends can be enemies waiting to happen. Bagiku percaya sepenuhnya pada orang asing berarti siap untuk kecewa dan disakiti. Temanpun bisa jadi hanya sekumpulan manusia yang merasa mengerti tentangmu dan mulai memaksakan apa yang mereka pikir baik untukmu, semacam versi lain dari orang tua. teman juga yang membuatmu harus terikat dengan berbagai aturan moral seperti harus memusuhi musuh mereka, harus berkumpul setiap saat setiap waktu, harus berhobi sama, harus berpaham sama, harus sama, sama dan sama. Dan sayangnya aku beda. Pengalaman mengajariku banyak sekali contoh tentang hal itu, entah yang terjadi padaku, atau pada orang-orang disekitarku. Tapi aku sempat terkejut jika orang berkata aku terlihat sendirian.

Tapi ironisnya, disinilah aku, duduk sendiri menatap langit yang bahkan tidak memiliki apapun untuk ditatap. Mungkin kawan baruku itu benar, aku terlihat sangat menyedihkan.

Ah entahlah. Yang kutahu adalah aku hanya sedang menjadi diriku sendiri, bukan lelaki penggemar hingar bingar dan hura-hura, bukan manusia yang berpikir santai dan bisa menjalani hidup dengan tanpa beban, bukan manusia yang bisa menjalani semuanya seperti apa yang didepan mata. aku seorang lelaki penuh pemikiran, terlalu banyak mikir malah. Dan aku sangat menikmati kesendirian, karena tak ada yang akan datang dan menikammu dari belakang. :)

March 18, 2011

Menggantung dalam mimpi

"Aku sayang kamu."

Aku menyesal telah mengatakan kata itu. Kata yang seharusnya kutelan bersama semua impianku, kutelan dan kucerna dalam larutan asam logika dan hilang menjadi nutrisi penguat hati. Kata yang seharusnya kubiarkan tercekat dalam tenggorokanku. Kata yang akhirnya merusak semuanya.

Dan dia diam menatapku yang lepas kendali barusan. Sikapnya yang tadi begitu perhatian akan perubahan sikapku kini berubah. Dia hanya diam.

Dia tiba-tiba tersenyum. "Terima Kasih..".

Aku tertegun. Terima kasih? Sejenak kucoba mengingat kata kunci yang kuucapkan itu. Aku sayang kamu. Memang tak bersifat pertanyaan atau meminta jawaban, namun entah kenapa ada yang janggal dengan jawaban itu. Terima kasih?

"Aku ga bisa dengan kondisiku saat ini," katanya. "Aku ga bisa jawab sekarang..".

"Aku ga butuh jawaban," kataku berlogika. "Aku bilang aku sayang kamu, dan itu sudah cukup. Asal kamu tahu, itu sudah cukup."

Kami diam. Dia dengan pikirannya, aku dengan umpatan ke diriku sendiri. Kenapa dari sekian juta kata yang kuketahui, kalimat itu yang keluar? Sebuah pernyataan putus asa dari seseorang yang tahu dia akan kalah dimedan perang ini.

"Kamu.. yakin?" tanyanya. "Aku takut kamu sakit..".

"Aku ga akan sakit karena aku gak berharap apapun," bantahku. "Asal kamu sudah tahu perasaanku, aku sudah senang." Sebuah kebohongan besar.

"Oh... yauda. Makasih ya." Dia memelukku. Aku mematung. Pelukan ini maksudnya apa? Aku bahkan tak berani memikirkan kemungkinan-kemungkinannya.

"Makasih buat?" tanyaku tiba-tiba. Dia melepas peluknya seraya tersenyum.

 "Makasih buat ngertiin aku. Aku masih belum yakin. Banyak hal yang perlu kita ketahui dari masing-masing kan?"

Rasanya tubuhku larut sekejap menjadi air saat aku berkata," gapapa kok, aku ngerti."

"Besok ada acara? Jalan yuk sama aku?"

Aku mengangguk lemah. "Ayo. Mau kemana?"

Dan lagi-lagi aku harus membungkam semuanya. Membiarkan semuanya menggantung hampa dalam langit-langit mimpi, menggantung dan menggantung, sampai tali harapan itu putus dan menghujamkan semuanya ke tanah realita.

Sudah bisa terbayang hatiku berserakan nantinya.

Padi - Semua Tak Sama

Dalam benakku lama tertanam
sejuta bayangan dirimu
Redup terasa cahaya hati
Mengingat apa yang telah kau berikan

Waktu berjalan lambat mengiring
dalam titian takdir hidupku
Cukup sudah aku tertahan
dalam persimpangan masa silamku

Coba tuk melawan getir yang terus kukecap
Meresap ke dalam relung sukmaku
Coba tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu
Mengalir mengisi laju darahku

Semua tak sama .. tak pernah sama
Apa yang kusentuh apa yang kukecup
Sehangat pelukmu .. selembut belaimu
Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu

Apalah arti hidupku ini memapahku dalam ketiadaan
Segalanya luruh lemah tak bertumpu
Hanya bersandar pada dirimu
Ku tak bisa, sungguh tak bisa
mengganti dirimu dengan dirinya

Semua tak sama .. tak pernah sama
Apa yang kusentuh apa yang kukecup
Sehangat pelukmu .. selembut belaimu
Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu

Semua tak sama .. tak pernah sama
Apa yang kusentuh apa yang kukecup
Sehangat pelukmu .. selembut belaimu
Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu

Sampai kapan kau terus bertahan
Sampai kapan kau tetap tenggelam
Sampai kapan kau mesti terlepas
Buka mata dan hatimu relakan semua

(my days with you will always be one of my beautiful days.. but now it's time for us in our own separate ways. thank you for those nice days, those sweet calls, those puppy eyes, those gorgeous smile.. thank you.)

March 07, 2011

Belajar

Hidup itu belajar.

Belajar berjalan, lalu berlari..
Belajar tertawa, lalu menangis..
Belajar mendengar, lalu mendengarkan..
Belajar melihat, lalu memperhatikan..

Belajar menerima, lalu mencoba memberi.
Belajar bersama, namun tak boleh lupa sendiri.
Belajar tentang cinta, lalu memahami sakit hati.
Belajar menjaga, namun melatih untuk melepasnya lagi.

Aku belajar dari kamu, dia, mereka..
Aku belajar dari yang dulu disebut "kita".
Belajar dan terus belajar,
Karena manusia akan selalu belajar..

Hidup itu belajar,
Karena manusia harus terus belajar.
Karena manusia tak akan bisa berhenti..

Hidup itu belajar,
Dan aku sedang belajar melanjutkan hidup.

March 05, 2011

semua sama saja

Sore itu hujan. Aku dan kawanku duduk berdua di sebuah restoran cepat saji di lantai tiga sebuah gedung pusat perbelanjaan di pusat kota. Setelah memesan makanan dan bersenda gurau, temanku mulai sibuk dengan komputernya sementara aku menyibukkan diri dengan memandang jalanan di dekat gedung dari jendela.

Berbagai macam kendaraan berlalu lalang di hari sabtu itu. beberapa motor nampak memotong jalan, beberapa mobil nampak tidak sabaran. Sebuah tabrakan hampir terjadi antara sebuah motor yang dikendarai oleh gadis berhelm putih dan dua orang pria tak berhelm dengan motor hitam mereka. lalu sebuah ambulans lewat, begitu cepat melintas dan hilang dalam keramaian. Lalu tatapanku tertuju pada seorang lelaki berjaket jins biru pucat yang menumpang mobil pick up berwarna putih. Dia melompat turun, kemudian duduk di tepi jalan untuk sesaat, kemudian sebuah mobil pick up lain berhenti saat lampu lalu lintas berubah merah. Dia melompat ke belakang mobil pick up berwarna hitam itu, lalu perlahan pergi bersama mobil itu, entah kemana.

Sore berganti malam. mobil-mobil dan motor-motor itu semakin ramai meskipun hujan perlahan turun dan semakin deras. Mungkin karena malam ini malam minggu, banyak orang bertekad menembus hujan demi kesenangan tiap minggu yang mereka nanti selama lima hari sebelumnya.

Dalam hati aku berpikir, inikah manusia? Dari lantai tiga gedung pusat perbelanjaan ini, semua nampak sama: mamalia bipedal yang beraktivitas dari pagi sampai malam; Makhluk cerdas yang mendesain berbagai alat-alat pemuas kebutuhannya dan menjadi superior di planet tempat mereka tinggal; makhluk yang butuh makan, tidur, sex, hiburan.

Dari atas, kita tak ada bedanya. Namun anehnya hal-hal yang serupa itu mendadak menjadi begitu berbeda saat manusia-manusia tersebut berhenti sejenak, lalu bertanya pada sesama manusia yang sedang memakai jalan tersebut.

Agamamu apa?
Kamu lahir dimana?
Kamu ras apa?

Lucu. Perbedaan-perbedaan itu bisa membuat kita yang nampak begitu sama dari lantai tiga gedung perbelanjaan menjadi sangat berbeda. Menjadi sangat mengganggu. Menjadi sangat perlu untuk disamakan. Agar damai. agar tentram. Agar tak ada pertikaian. Pertikaian untuk menghindari pertikaian. Lucu.

Aku teringat dengan cerita temanku yang terlahir dalam keluarga yang berbeda agama, yang hidupnya sempat kacau gara-gara perbedaan pandang dalam menafsirkan Tuhan yang menciptakan dunia. Akupun teringat keluargaku yang diwarnai dengan tiga jenis agama, dan betapa awalnya semua begitu kacau dan tidak menyenangkan saat ketiga ideologi itu bertemu. Atau saat aku menjalin cinta dengan seorang malaikat bersuku tiong hoa dan semuanya menjadi tidak seindah bayangan kami saat suku menjadi halangan.

Dari lantai tiga gedung pusat perbelanjaan ini manusia semuanya sama. Mamalia bipedal yang berjalan, beraktivitas, makan, kawin, buang hajat, tidur, dan butuh hiburan. Namun perbedaan-perbedaan bisa membuat semua yang sama itu menjadi beda. dan perbedaan itu jadi perlu dibasmi.

Dari lantai tiga gedung pusat perbelanjaan ini manusia nampak sama bagiku, apalagi bagi Tuhan dari surga sana.

February 26, 2011

Gadis Bergaun Satin Merah

"Adrian, sudah kamu telpon butiknya?"
"Yan, jangan lupa floristnya dikontak ya?"
"Ntar koko jadi ngundang temen-temen kuliah kan?"
"Mantep lu Yan, bisa dapetin Debby yang paling seksi itu!"

Adrian diam saat berbagai suara itu hilir mudik dalam kepalanya. Tubuhnya berdiri meresap dinginnya dini hari yang sepi. Lampu-lampu kota masih terlihat mengerlip cantik dari kejauhan.

"Aku sayang Kamu, Adrian."

Sekejap suara manja itu muncul, seakan menghantam kepala Adrian begitu kerasnya sampai dia jatuh bersimpuh.

"Hentikan! HENTIKAAAAN!!!" teriaknya. Kepalanya ia pegangi erat-erat. Sakit itu datang begitu cepat, lalu sekejap menghilang. Adrian kembali berdiri.

"Cynthia..", ucap Adrian perlahan dari bibirnya yang pucat. Adrian berjalan pelan.

Tiba-tiba ia melihat sosok wanita bergaun satin merah didepannya.

"Cynthia...?"

Wanita itu tersenyum manis, lalu merentangkan tangannya. Gaun satin itu melambai anggun bagai sayap malaikat.

Adrian perlahan mempercepat langkah lemasnya untuk memeluk gadis bergaun satin merah itu. "Cynthia...".

Ia berhasil mendekapnya.

Adrian melayang.

Ia bagai di surga.

***

"Sesosok pria ditemukan tewas di depan sebuah gedung perkantoran. Lelaki berusia sekitar 27 tahunan tersebut diduga bunuh diri dengan cara melompat dari atap gedung. Dari identitas yang ditemukan di baju korban, lelaki tersebut diketahui berinisial A.D. Kini polisi sedang mengusut lebih jauh tentang aksi bunuh diri ini dengan menghubungi keluarga korban sekaligus menanyai saksi-saksi yang..".

Cynthia terdiam menatap berita televisi didepannya. Ia lalu meraih remote control dan mematikan televisi itu.

"Kurang tiga lagi.." bisiknya sambil berjalan menuju sebuah pintu dalam sudut gelap ruangan. Gaun merah satin yang ia pakai melambai perlahan.

Di dalam ruangan itu, Cynthia menyalakan lampu, lalu memutar piringan hitam didekatnya. Lampu kuning redup itu menerangi dinding ruangan yang dipasangi berbagai kliping berita bunuh diri dengan berbagai modus dari berbagai masa. 2010. 1997. 1976. 1953.

Semua korbannya laki-laki.

Cynthia lalu menaruh foto Adrian di meja kecil penuh lilin, di sebelah foto-foto puluhan lelaki lain dengan bingkai yang sama. Ia lalu meraih sebuah foto potret seorang laki-laki berpakaian resmi dan wanita bergaun satin merah berwarna hitam putih ditengah meja. Wajah wanita itu beserta gaunnya begitu mirip dengan Cynthia.

"Kurang tiga lagi, dan kamu akan hidup lagi sayang..." bisiknya sambil mendekap foto usang itu. Di sebelah meja kecil itu, sebuah peti mati berhias bunga, lilin, dan bergambar berbagai simbol aneh berwarna merah darah terbujur diam.

Hebatnya Dirimu

betapa hebatnya dirimu,
sampai tiap lagu cinta yang kudengar jadi kehilangan makna.
betapa hebatnya dirimu,
sampai gerimis tak lagi terdengar merdu ditelinga.

betapa hebatnya dirimu,
sampai aku merasa ada yang hilang dari hidupku.
betapa hebatnya dirimu,
sampai hatiku hancur seiring kepergianmu.

betapa hebatnya kehadiranmu dalam hidupku,
betapa besarnya tiap makna yang terukir seiring waktu,
betapa kuatnya benang-benang kenangan menjerat hati,
betapa dahsyatnya bayanganmu yang masih kuratapi.

betapa hebatnya kamu, betapa hebatnya..
membuat yang berarti jadi tak bermakna.

atau mungkin aku yang terlalu bodoh,
sampai bisa takluk dalam kehebatanmu.

January 30, 2011

It's too late for that

Dan disitulah dia berdiri, didepanku.
Nafasnya terengah, tatapnya sayu.
Dia mantanku.

Dia mendekat perlahan.
Kini dia didepanku.
I miss you..

It's too late for that, pikirku.

Dia minta maaf, aku hanya membisu.
Dia memegang pundakku, lalu menatapku.
Mata itu, mata sayu yang dulu pujaanku.

It's too late for that, batinku.

Kamu mau kan, kembali denganku?
Aku hanya tersenyum sambil lalu.
Kusingkirkan tangan yang pernah menghangatkanku.

It's too late for that, bisikku.

Dimana kamu saat aku butuh kamu?
Kemana kamu saat jiwaku mencarimu?
Dan kini kamu disini, meminta semua seperti dulu?

It's too late for that, kataku.

Dia diam. Matanya sendu. Ada air mata disitu.
Simpan air mata itu, karena aku tak butuh tangisanmu.
Simpan saja tiap tetesnya, karena aku tak lagi akan terharu.

It's too late for that, tegasku.

Hatiku hancur ditanganmu, jadi jangan menangisi kebodohanmu.
Anganku binasa dipelukanmu, jadi jangan meratapi ketololanmu.
Mimpiku musnah lewat kata-kata itu, jadi jangan tarik kembali ucapanmu.

It's too late for that, teriakku.

Aku memalingkan tubuhku darinya, melangkah menjauh.
Kudengar ratapan sedihnya, aku tak mau tahu.
Silahkan nikmati sengsaramu tanpa aku, silahkan telan semua itu.

It's too late for that, ucapku.

January 29, 2011

Mimpi

Mimpi

Manusia memiliki mimpi. Ada yang mengejar dan mewujudkannya. Ada yang mundur dan membuangnya. Dan ada pula yang diam, dan menyimpannya sepanjang hidupnya.. - (Alya, Cinta Pertama, 2006)

Mimpi. sebuah hal yang setiap manusia pasti pernah, sedang, atau akan memilikinya. Mimpi disini bukan sekedar penghias lelap saja, namun sebuah angan, sebuah cita-cita, sebuah harapan. Mimpi itu bisa jadi sebuah tujuan hidup, bisa juga menjadi gurauan sambil minum kopi. .

Umurku dua puluh dua tahun. Aku baru lulus kuliah. Sekarang aku sedang mencari pekerjaan tetap sambil tetap mengerjakan beberapa hal sampingan. Aku tak muluk-muluk dalam bekerja, asal gajinya pas, dan aku paham apa yang kukerjakan. Bagiku bertahan hidup itu prioritas, apalagi aku bukan orang kaya. Aku cuma ingin hidup mapan, punya rumah sendiri, pekerjaan tetap, lalu seorang pendamping hidup.

Sebuah mimpi generik, tentu saja. Semua rang menginginkannya. Namun, kadang aku berpikir. Apa yang sebenarnya kudambakan? Apa yang sebenarnya kuinginkan?

Dulu waktu aku masih SD, aku punya sebuah Atlas, kumpulan peta negara-negara di dunia untuk pelajaran IPSku. Aku sayang sekali dengan Atlas itu, selain karena mahal, gambarnya bagus-bagus. Dan buku itu selalu kubawa, kapanpun aku sekolah, entah ada pelajaran IPS atau tidak. Aku bangga memiliki buku itu, seakan dunia ada di genggamanku.

Dari atlas itu aku tahu benua Amerika, aku tahu Samudra Pasifik, aku tahu Jepang, aku aku tahu Eropa, aku tahu seluruh penjuru dunia. Dari Atlas itu kampung kecil yang membatasi fisikku seakan tak lagi berarti. Dari Atlas itu aku tahu banyak hal. Dan disitu aku menuliskan mimpi-mimpiku.

Dua belas tahun berlalu. Aku menemukan buku itu dalam lemari di kamarku, bercampur dengan seragam sekolah dan berbagai barang masa kecilku. Aku iseng membukanya. Banyak sekali coretan-coretan, gambar-gambar. Masa kecilku seakan terurai kembali menjadi kilasan-kilasan nyata.

Dan aku sempat terkejut saat halaman demi halaman itu kubuka. Peta Amerika Serikatku penuh coretan. Jepang juga. Eropapun sama. Di beberapa kota ada tanda lingkaran dan garis yang menghubungkan dengan keterangan di sudut bawah gambar:

New York - Patung Liberty
Tokyo - Tokyo Tower
Paris - Eiffel
Mekkah - Kabbah
Kanada - Niagara
Inggris - Stonehenge
RRC - Tembok Cina
...

Dan tiba-tiba aku teringat masa-masa itu: Suatu ketika, entah hari apa dan jam berapa, aku yangs edang duduk di bangku paling belakang kelasku pernah bermimpi ingin keliling dunia. Guru IPSku bilang di luar sana banyak sekali benda-benda bersejarah yang patut dikunjungi, dan satu demi satu tempat itu aku lingkari di Atlasku. Saat aku melihat film-filmpun tak lupa aku menandainya. Hal itu terus terjadi sampai aku SMA, saat kenyataan dan keuangan mulai membuatku putus asa. Dan mimpi itu ikut terbawa di Atlas yang akhirnya tak kupakai lagi karena keterangan didalamnya sudah kedaluarsa.

Ya, ternyata selain keinginan untuk mapan itu, dulu.. dulu sekali, waktu aku masih tak tahu apa-apa, waktu dunia masih begitu indah dan sempurna, aku pernah memiliki mimpi... mimpi untuk menjejakkan kakiku ke setiap tempat di dunia ini, lalu menulisnya, lalu pamer ke teman-temanku yang suka mengejekku dan sombong karena kekayaan mereka.

Tanganku gemetar. Perasaan saat membayangkan mimpi itu seperti kembali. Mataku berkaca-kaca.

......................................................................

Apa kalian pernah punya mimpi?

Lalu...

Apa kalian semua sudah berhasil menggapainya?