Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

January 04, 2011

Untitled - Aku.

Untitled - Aku.

Perpisahan itu melukai kita semua. Dan kadang kita lebih memilih terluka dalam harap.




Aku.

Aku meletakkan handphoneku diatas meja disebelah kepalaku yang menatapnya hampa. getaran tanda pesan masuk membangunkan lagi jiwa yang melapuk. membangunkan, tapi tetap mati.

20 pesan masuk

Aku tertegun sekaligus kosong. 20, jumlah yang cukup banyak buatku dalam kurun waktu sehari.
tanganku meraih handphone perak itu dan membuka kumpulan pesannya.

Dana. Anggi. Dana. Dian. Sinta. Fandy. Boy. Dian. Dian. Anton. Burhan. Pak Sandy. Mama. Dana. Velisa. Boy. Dika. Desti. Mika. Anggi.

Semua temanku. Orang yang pernah kutemui. Atau rekan kerja.

tapi tak ada dia. tak ada..

***

Setahun yang lalu. Aku terpuruk. Cintaku menikahi rekan kerjanya. Dia meninggalkanku. Aku seakan anak panah yang dilesatkan dengan benci tanpa arah, tanpa sasaran. Aku melesat, jiwaku melesak, hatiku melebur.

Aku patah hati. Dan dia muncul.

Sepasang insan yang terluka bertemu dalam suasana duka mengiringi matinya cinta. Kami bertatap, berbicara, berbagi, saling menghibur. Tak lupa bertukar nomor. Kami bertukar cerita, bertukar duka, bertukar suka. Dia ceritakan kisahnya, aku ceritakan kisahku. Kami saat cocok.
Esoknya dia tak membalas pesanku. Handphonenya tak aktif. Entah kenapa aku panik. Aku takut ada apa-apa, aku takut dia kenapa-kenapa.
Namun dia membalas kemudian. Dan aku sangat bahagia.

"Kamu ko care sih sama aku?" tanyanya dengan nada ragu. Kutangkap sedikit harap disitu.
"Kan kita teman," jawabku polos. Teman? Bahkan nurani meludahi wajahku saat kukatakan itu. BOHONG , teriaknya. Kau sudah jatuh dalam asmaranya.
Aku tidak bohong, nurani. Aku tidak jatuh cinta.

Aku cuma suka.

YA, aku suka dia. Sebuah pembelaan yang tepat. Bukan rasa cinta karena akan kurang ajar kelihatannya jika seorang seperti aku mudah jatuh cinta lagi, namun aku juga merasa ada yang beda dengannya. Sejak itu aku selalu mengulang kata-kata suka tiap kudengar suaranya lewat handphone.

Aku suka kesederhanaannya. Aku suka suaranya. Aku suka bahasa tubuhnya. Aku suka saat dia siaran. Aku suka saat dia iseng menelponku waktu dia kuliah.

Suka. Suka. Suka. Lama-lama kata itu jadi tak cukup mengukur perasaanku padanya. Dan nampaknya dia merasakan yang sama. Namun ada masalah.

Dia sudah punya pacar lagi. Tapi dia bilang dia cinta padaku.
Aku kecewa. Selama ini aku tak ubahnya pelacur yang mengemis hatinya. Tapi dia bilang cinta padaku.

Beberapa hari kemudian aku menelponnya. Menanyakan kabar, sudah makan atau belum, rencana hari itu, semua basa-basi sebelum aku menceritakan yang sebenarnya.

putuskan pacarmu.

"Hah? apa?"
"Aku ga bisa yank. Aku ga bisa seperti ini. Aku pengen milikin kamu seutuhnya."
"Tapi aku ga bisa mutusin dia begitu aja yank..".
"aku ga mau diduain beibh..".
Dia diam.
"I love you beibh."

"I love you too."

Keraguan telah kutanamkan. Pilihan telah kusodorkan. Hidup atau mati. Aku atau dia. Dapat aku kau bahagia, dapat dia.. Ya ga tau ya..? Sebuah taruhan besar. Aku siap kalah. Mumpung si suka belum jadi cinta.

Dan aku menang! Dia bilang dia sudah memutuskannya. "Aku milikmu seutuhnya beibh."

"Makasih beibh..".

Aku memeluknya. Memeluk hadiah utamaku. Memeluk cintaku. Ya, aku telah menamainya Cintaku. Sukanya sudah pergi, cintaku telah kembali.

Aku menang.

Kami menjalani hubungan ini. Dia memujaku, aku mencintainya. Kami merajut angan indah bersama. Menikah, beli rumah di Bali, memiliki anak (dan telah belajar membuatnya) angan-angan masa muda yang memabukkan. Jangan salahkan kami. Aku baru dua puluh dan dia sembilan belas. Dan kami sedang jatuh cinta.

Namun semua berubah perlahan. Sifatnya mulai menggangguku. Dia sangat posesif dan pengatur. Dia tak suka aku pergi lama-lama. Dia tak suka aku kumpul dengan teman-temanku yang membuatnya cemburu. Dia tak suka aku bicara dengan mantan-mantanku. Dia tak suka. Dia tak suka. Dia tak suka.

Lama-lama aku jadi tak suka.

Dan cinta kami hangus pada puncaknya. Aku yang membakarnya. Aku tak bisa dikekang seperti ini. Aku ingin bebas, aku masih dua puluh, dia sembilan belas. masa depan yang kami angankan tak bisa digapai dengan mudah.
Dia hancur.Semuanya runtuh digenggamanku. Hatinya, cintanya, angannya. Aku telah menghancurkannya.

"Tapi aku sayang kamu beibh..", rengeknya dalam tangis.
"Tapi ga bisa.. Aku ga bisa kaya gini terus..".
"Please.. I love you..".
"I'm sorry."

Aku meninggalkannya. Namun entah kenapa aku masih merindukannya.

Bulan-bulan berlalu. Kami masih sering kirim pesan. Tanpa tatap muka. Aku selalu menolaknya.
"Aku tak ingin kamu sakit lagi..", jawabku. Nuraniku meludahi lagi, namun aku tak mengelak.
Aku merasa bersalah.

Empat bulan kemudian dia bilang dia sudah memiliki yang lain. Aku turut lega mendengarnya. Namun dia masih mencintaiku.

"Kamulah satu-satunya dihatiku."

Kadang aku takut pada karma. Balasan setimpal yang akan kudapat ketika aku menyakitinya.

***

Aku masih menatap layar handphoneku. Tubuh lemahku dan jiwa rapuhku masih tergeletak diatas kasur. Aku harap handphone itu bergetar dan memunculkan namanya, namun saat itu tak kunjung tiba.

Sejak dia pacaran lagi dia tak pernah mengirim pesan. Kudengar dari teman-temannya kalau dia bahagia. Syukurlah.
Tapi aku cemburu. Entah kenapa.

Aku bertemu lagi dengannya setelah hampir setahun kita berpisah. Dia telah berubah. Dia tak lagi posesif, tak lagi kekanak-kanakan. Dan dia memberikanku hadiah kecil di ulang tahunku. Hadiah kecil dengan bau parfumnya yang masih kusimpan, kadang kubuka dan kurasakan harumnya saat aku rindu.

Karma itu ada.

Aku telah jatuh cinta lagi padanya. Namun dia sudah punya pacar, dan kali ini aku tak bisa meragukan hatinya. Aku adalah luka lama, pacarnya adalah antibiotik untuk menyembuhkannya dari aku. Aku tak lagi seperti dulu yang bangga akan kemampuanku merebutnya. Aku kini bukan siapa-siapa baginya.

Karma itu ada.

Suatu ketika dia mengirimiku pesan. Dia butuh bantuanku. Dia sedang bertengkar dengan pacarnya dan dia butuh teman curhat. Dengan senang hati kuterima tawarannya. Dia cerita dan cerita, seperti dulu. Suara semangatnya, tuturnya, semua masih seperti saat kita jumpa dulu. Namun kali ini dia cerita tentang dia dan dia. Bukan dia dan aku. Bukan aku.

Karma itu ada.

Aku benar-benar jatuh cinta, namun aku tak bisa mengatakannya. Aku takut karma. Aku takut dia akan mencampakkanku. Aku takut apa yang kugoreskan padanya akan menggoresku balik.

Tiba-tiba handphoneku bergetar. Aku membukanya. Detakku seakan berhenti.

dari dia!

Bagai anak kecil yang riang mendapat kado ulang tahun aku duduk dan membaca pesannya.

Namun secepat rasa itu muncul riang itu cepat pula sirna saat aku membaca isi pesannya.

Makasih ya atas saranmu kemaren. Aku jadi bisa lebih menghargai dia. Kemaren kita dah baikan ko. Saranmu manjur ya! hehehe

Aku meletakkan handphone disebelahku, merebahkan diri dan mencoba larut bersama waktu. Aku telah membantunya, namun aku telah membunuh diriku sendiri. Karma itu ada. Aku sedang mengalaminya.

Kata orang jodoh itu ada, katamu dulu kaulah jodohku. Kataku kini, Aku tidak yakin kita bisa berjodoh lagi..

No comments:

Post a Comment