Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

January 04, 2011

Untitled - Bisma

Perpisahan itu melukai kita semua. Namun kadang kala perpisahan sebesar apapun tak akan mampu benar-benar memisahkan. Hanya menghalangi, namun tetap tak akan terpisahkan.



Bisma

Di bangku kayu berwarna putih itu Bisma duduk. Matanya yang teduh mengawasi sosok gadis didepannya, gadis cantik yang  sudah memiliki hatinya, gadis cantik yang menorehkan senyum tipis di wajah Bisma. Dialah Sinta.

Bisma berdiri dan menghampiri Sinta yang sedang berdiri di taman. Ingin rasanya ia mendekap erat tubuh gadis pujaannya.

Namun belum sempat dia berhasil memeluk pujaannya, Sinta mendadak menangis. Ia menutup wajahnya sambil menangis tersedu-sedu.

Bisma menyentuh bahu Sinta, mencoba menenangkannya.

Maafkan aku.. Aku sudah buat kamu nangis lagi..

Seakan tak peduli, Sinta memilih masuk kembali ke dalam rumah tanpa memperdulikan Bisma.

Bisma terdiam. Ia lalu menunduk.

Maafkan aku.. 


***

Sinta duduk sambil menikmati angin sore yang membelai tubuhnya. Di pangkuannya ada sebingkai foto. Sebuah foto pernikahan. Ada sesosok pria dan wanita bergandengan tangan.

Foto pernikahannya dan Bisma.

Angin sore membuai Sinta lembut. Matanya perlahan terpejam, larut dalam kantuk.

Perlahan sepasang tangan memeluk Sinta yang tengah lelap dari belakang. Tangan kirinya menyentuh jemari Sinta, mempertemukan sepasang cincin serupa yang dulu pernah mengikat mereka.

"Maafkan aku Sinta.. Aku.. Aku harus pergi," bisik Bisma pelan. "Aku sayang kamu."

Sinta sekejap terbangun dari lelapnya. Ia segera berdiri dan menoleh ke belakangnya. Tak ada siapapun, hanya pintu geser dari kaca menuju halaman yang terbuka di situ. Segera Sinta bergegas keluar.

Suara itu...

Tak ada siapapun. Hanya halaman rumput kosong dan langit yang makin merah. Suara itu.. Suara yang sangat ia rindukan. Suara yang kembali membongkar semua yang telah dikubur dalam.

Sinta mendekap foto itu erat di dadanya sembari pandangannya tertuju ke awan kelabu yang berarak pelan. Air matanya mengalir pelan.

"Bisma...".

No comments:

Post a Comment