Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

January 04, 2011

Untitled - Randu

Untitled

Perpisahan itu melukai kita semua. Dan luka itu akan tetap selalu ada sehebat apapun kau menyembunyikannya dalam tawa.



Randu

Siang itu handphone Randu berdering lagi. Getarnya merambat pelan menggerayangi meja kerja dan kepala Randu yang tersandar lemah disitu. Sudah lima kali getar itu terasa, dan lima kali pula getar itu menghilang tak terjawab.

Randu terbangun. Matanya sembab. Dengan kekuatan yang tersisa ia meraih handphone itu, melihat dari layar kecil terangnya. Sebuah nama tertulis disitu. Nama yang sekejap membuat dia menangis lagi. Handphone itu dibantingnya keras dipojok kamar.

"Kamu bohongin aku..." racaunya dengan suara parau sambil melangkah gontai dari kursi.

Tubuhnya yang sempoyongan berjalan perlahan ke ruang tamu yang gelap. Kemeja putih garis-garisnya kusut. Kakinya melangkah lemah menapaki lantai yang terbias mentari yang menyusup dari celah-celah tirai coklat yang masih tertutup. Tangannya menyenggol jatuh semua foto-foto dan vas bunga yang ada di meja ruang tamu. Sesaat tubuhnya limbung, namun Randu segera menumpukan tangannya di sofa coklat ruang tamu itu.

Dengan bertumpu pada sofa itu Randu meraih selembar amplop diatas meja telpon disebelah sofa. Sebuah undangan berwarna putih gading dengan bau khas. Danang dan Alisa... 31 Desember... , begitu tulisan emas yang terpampang didepan undangan itu terbaca. Randu meremas undangan itu dan melemparnya kesudut ruangan. Lalu berteriak pilu dan menangis.

"Kamu bilang cinta kita abadi..." racau Randu lagi. "Kamu bilang kita bisa bersatu.. Aku... Aku sudah mempertaruhkan semuanya.. Aku putusin Sheila.. Aku pilih kamu... Aku berikan semuanya buat ka-mu..".

Randu mencoba berjalan, namun ia terjatuh. Kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang. Semuanya seakan menabuh kepalanya. Bunyi gedoran pintu bercampur mengilukan telinganya saat dia berusaha berdiri lagi, melangkah lemah menuju pintu depan.

Seketika itu juga pintu depan didobrak. Sesosok lelaki dengan setelan jas rapi segera masuk dan menangkap tubuh Randu yang roboh.

"Randu! Randu!!" teriak Danang. Ia memeluk Randu yang pucat dan lemah. "Kamu ngapain Raan..?! Kenapa sampai kaya gini...?!"

Mata Randu yang sayu menatap wajah Danang. Perlahan Randu mencoba menyentuh wajah Danang dengan pergelangan tangannya yang berlumuran darah. "Kamu... Kembali...".

"Maafin aku...," isak Danang. "Aku dah bikin kamu kaya gini...". Darah telah menodai setelan jas mempelai pria itu.

Randu tersenyum. "Jangan tinggalin aku Dan..".

Danang menggeleng. Airmatanya mengalir deras. "Ngga Ran. Ngga... Aku ga akan ninggalin kamu Ran.... Ran? Ran?! RAN!!"

Randu tak menjawab. Wajah pucatnya membisu.

***

Suasana malam di perumahan itu berubah mencekam saat sirene ambulans yang membawa jenazah Randu bergaung menembus malam. Para tetangga bermunculan ingin tahu dari rumah-rumah mereka.

Dengan tatapan sayu Danang duduk tertunduk didepan rumah Randu. Kemejanya berlumuran darah. bulir airmata masih mengalir pelan dari pipinya.

Dari jauh, Alisa yang baru saja turun dari taxi menatap suaminya. Ia khawatir karena begitu resepsi selesai Danang mendadak pamit pergi. Ia yakin suaminya akan kesini, ke rumah ini. Dan Alisa benar.

dengan ragu Alisa menghampiri Danang dan berdiri didepannya. Danang mendongak menatap istrinya, lalu memeluknya erat dan menangis.

Dengan alasan yang berbeda, di dalam hatinya Alisapun ikut menangis.

No comments:

Post a Comment