Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

March 18, 2011

Menggantung dalam mimpi

"Aku sayang kamu."

Aku menyesal telah mengatakan kata itu. Kata yang seharusnya kutelan bersama semua impianku, kutelan dan kucerna dalam larutan asam logika dan hilang menjadi nutrisi penguat hati. Kata yang seharusnya kubiarkan tercekat dalam tenggorokanku. Kata yang akhirnya merusak semuanya.

Dan dia diam menatapku yang lepas kendali barusan. Sikapnya yang tadi begitu perhatian akan perubahan sikapku kini berubah. Dia hanya diam.

Dia tiba-tiba tersenyum. "Terima Kasih..".

Aku tertegun. Terima kasih? Sejenak kucoba mengingat kata kunci yang kuucapkan itu. Aku sayang kamu. Memang tak bersifat pertanyaan atau meminta jawaban, namun entah kenapa ada yang janggal dengan jawaban itu. Terima kasih?

"Aku ga bisa dengan kondisiku saat ini," katanya. "Aku ga bisa jawab sekarang..".

"Aku ga butuh jawaban," kataku berlogika. "Aku bilang aku sayang kamu, dan itu sudah cukup. Asal kamu tahu, itu sudah cukup."

Kami diam. Dia dengan pikirannya, aku dengan umpatan ke diriku sendiri. Kenapa dari sekian juta kata yang kuketahui, kalimat itu yang keluar? Sebuah pernyataan putus asa dari seseorang yang tahu dia akan kalah dimedan perang ini.

"Kamu.. yakin?" tanyanya. "Aku takut kamu sakit..".

"Aku ga akan sakit karena aku gak berharap apapun," bantahku. "Asal kamu sudah tahu perasaanku, aku sudah senang." Sebuah kebohongan besar.

"Oh... yauda. Makasih ya." Dia memelukku. Aku mematung. Pelukan ini maksudnya apa? Aku bahkan tak berani memikirkan kemungkinan-kemungkinannya.

"Makasih buat?" tanyaku tiba-tiba. Dia melepas peluknya seraya tersenyum.

 "Makasih buat ngertiin aku. Aku masih belum yakin. Banyak hal yang perlu kita ketahui dari masing-masing kan?"

Rasanya tubuhku larut sekejap menjadi air saat aku berkata," gapapa kok, aku ngerti."

"Besok ada acara? Jalan yuk sama aku?"

Aku mengangguk lemah. "Ayo. Mau kemana?"

Dan lagi-lagi aku harus membungkam semuanya. Membiarkan semuanya menggantung hampa dalam langit-langit mimpi, menggantung dan menggantung, sampai tali harapan itu putus dan menghujamkan semuanya ke tanah realita.

Sudah bisa terbayang hatiku berserakan nantinya.

No comments:

Post a Comment