Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

March 05, 2011

semua sama saja

Sore itu hujan. Aku dan kawanku duduk berdua di sebuah restoran cepat saji di lantai tiga sebuah gedung pusat perbelanjaan di pusat kota. Setelah memesan makanan dan bersenda gurau, temanku mulai sibuk dengan komputernya sementara aku menyibukkan diri dengan memandang jalanan di dekat gedung dari jendela.

Berbagai macam kendaraan berlalu lalang di hari sabtu itu. beberapa motor nampak memotong jalan, beberapa mobil nampak tidak sabaran. Sebuah tabrakan hampir terjadi antara sebuah motor yang dikendarai oleh gadis berhelm putih dan dua orang pria tak berhelm dengan motor hitam mereka. lalu sebuah ambulans lewat, begitu cepat melintas dan hilang dalam keramaian. Lalu tatapanku tertuju pada seorang lelaki berjaket jins biru pucat yang menumpang mobil pick up berwarna putih. Dia melompat turun, kemudian duduk di tepi jalan untuk sesaat, kemudian sebuah mobil pick up lain berhenti saat lampu lalu lintas berubah merah. Dia melompat ke belakang mobil pick up berwarna hitam itu, lalu perlahan pergi bersama mobil itu, entah kemana.

Sore berganti malam. mobil-mobil dan motor-motor itu semakin ramai meskipun hujan perlahan turun dan semakin deras. Mungkin karena malam ini malam minggu, banyak orang bertekad menembus hujan demi kesenangan tiap minggu yang mereka nanti selama lima hari sebelumnya.

Dalam hati aku berpikir, inikah manusia? Dari lantai tiga gedung pusat perbelanjaan ini, semua nampak sama: mamalia bipedal yang beraktivitas dari pagi sampai malam; Makhluk cerdas yang mendesain berbagai alat-alat pemuas kebutuhannya dan menjadi superior di planet tempat mereka tinggal; makhluk yang butuh makan, tidur, sex, hiburan.

Dari atas, kita tak ada bedanya. Namun anehnya hal-hal yang serupa itu mendadak menjadi begitu berbeda saat manusia-manusia tersebut berhenti sejenak, lalu bertanya pada sesama manusia yang sedang memakai jalan tersebut.

Agamamu apa?
Kamu lahir dimana?
Kamu ras apa?

Lucu. Perbedaan-perbedaan itu bisa membuat kita yang nampak begitu sama dari lantai tiga gedung perbelanjaan menjadi sangat berbeda. Menjadi sangat mengganggu. Menjadi sangat perlu untuk disamakan. Agar damai. agar tentram. Agar tak ada pertikaian. Pertikaian untuk menghindari pertikaian. Lucu.

Aku teringat dengan cerita temanku yang terlahir dalam keluarga yang berbeda agama, yang hidupnya sempat kacau gara-gara perbedaan pandang dalam menafsirkan Tuhan yang menciptakan dunia. Akupun teringat keluargaku yang diwarnai dengan tiga jenis agama, dan betapa awalnya semua begitu kacau dan tidak menyenangkan saat ketiga ideologi itu bertemu. Atau saat aku menjalin cinta dengan seorang malaikat bersuku tiong hoa dan semuanya menjadi tidak seindah bayangan kami saat suku menjadi halangan.

Dari lantai tiga gedung pusat perbelanjaan ini manusia semuanya sama. Mamalia bipedal yang berjalan, beraktivitas, makan, kawin, buang hajat, tidur, dan butuh hiburan. Namun perbedaan-perbedaan bisa membuat semua yang sama itu menjadi beda. dan perbedaan itu jadi perlu dibasmi.

Dari lantai tiga gedung pusat perbelanjaan ini manusia nampak sama bagiku, apalagi bagi Tuhan dari surga sana.

1 comment: