Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

April 14, 2011

Defensif

Pembicaraan kami akhirnya tak berujung kemanapun. Permintaannya untuk sebuah ciuman selamat malam tak kuberikan. Kami baru kenal beberapa hari, tentunya bagiku wajar jika aku menolak memberikannya ciuman selamat malam, meski hanya lewat telpon.

"Kenapa kamu harus defensif sih? Ayolah, longgarkan saja batas-batas itu, biarkan aku menyelami isi hatimu," katanya.

Aku diam sejenak. "Aku.. Aku tidak tahu," jawabku kemudian. "Aku hanya melakukan apa yang sekiranya perlu. Bagaimana aku bisa mengijinkanmu menyelami hatiku? Siapa kamu?"

"Kenapa kau begitu takut? Kau kan lelaki?"

"Apakah lelaki harus terus-terusan mengorbankan hati? Sejak kapan kami harus jadi sekumpulan masochist perasaan?"

"Karena lelakilah yang harus mengejar, lelakilah yang harus mendapatkan."

"Dan wanita harus dirumah, masak, macak, manak. Begitu?"

"Enak saja! Ini emansipasi! Wanita berhak jadi apa saja..."

"Termasuk berhak menindas lelaki, begitu?"

Dia diam. Akupun diam. Hanya rintik hujan diluar kamarku yang merayapi keheningan.

"Tak semua wanita itu buruk, Di.." katanya pelan.

"Dan tak semua lelaki itu sanggup memberikan semua yang wanita itu inginkan."

"Aku tahu. Namun sampai kapan kamu defensif terus?"

"Sampai aku sanggup menyembuhkan perasaanku."

"Lalu kenapa tak kau ijinkan orang lain masuk dan menyembuhkannya?"

"Atau malah membuat lukanya semakin besar."

"Maaf," katanya. "Aku lupa kalau kamu begitu perasa."

"Aku yang minta maaf," balasku. "Tak seharusnya kita bicara terlampau dalam seperti ini. Kita baru kenal, dan aku rasa diskusi seperti ini hanya akan membawa pertemanan kita ke arah yang tak baik."

"Aku tahu," jawabnya. "Maaf ya?"

Aku tersenyum. "Ah sudahlah. Let's talk about something else, shall we?"

"Tapi cobalah membuka hati itu. Who knows..".

Aku diam. "It's not easy, you know..".

"I know. Sorry."

"That's okay."

1 comment: