Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

April 18, 2011

Sebuah Nama Dalam Hujan di Hari Kasih Sayang

Ragaku terpuruk dalam kesendirian. ditangan kananku telepon selular yang kumatikan, aku tak mau ada dunia luar yang menggangguku. Di tangan kiriku kalung cincin yang biasa kukenakan dileherku. Badan yang masih dingin karena hujan dan cuaca sejuk sejak sore tadi membuatku mengantuk dan ingin larut dalam tidur.
Aku memutar tubuhku menyamping. Kutaruh kalung itu lurus dengan pandangan mataku. Kutatap bandul cincinnya yang keperakan dalam-dalam. Hujan yang riuh menjadi pengiring hatiku yang mengingatnya kembali. Hormon-hormon ini membuatku mengenangnya kembali. Kupejamkan mataku perlahan.

Ya, aku masih ingat pertemuan kami. Lima tahun yang lalu, tanggal 14 Februari, di hari yang biasa orang sebut sebagai Hari Kasih Sayang, kami bertemu dalam sebuah kompetisi; aku sebagai peserta dan dia sebagai anggota komite penyelenggaranya. Aku berpapasan dengannya didepan lobi. Dia menatapku sesaat,lalu kembali sibuk dengan kertas yang dia bawa. Aku? Aku menatapnya dalam, sangat dalam. Bahkan perlu tepukan dipunggung oleh temanku untuk menyadarkanku.

Setelah itu aku sering memperhatikannya selama even itu berlangsung, sampai pada akhirnya, di saat aku pergi meninggalkan tempat itu. Aku masih sempat melihatnya bercanda dengan teman-temannya.

Aku bahkan tak tahu namanya.

Lima tahun berlalu. Aku masih mengingatnya walau samar. Kadang sahabat atau orang lain mengalihkanku, namun dalam sendiri kadang masih ada rasa penasran tentang dia. Aku ingin bertemu dia, bertanya siapa namanya. Bertanya dimana dia tinggal. Bertanya dan bertanya. Bertanya kapan aku bisa bertemu dia lagi. Dan rindukupun terjawab dengan indah.

Setahun setelah hujan di Hari Kasih Sayang itu, aku mendaftar menjadi salah satu anggota event organizer yang sedang mengadakan acara dikotaku. Disaat aku sibuk dengan agenda acaraku yang padat, aku bertemu dia. Dia datang ke acara ini sebagai pesertanya.

Dan sejenak kemudian langit mulai mendung. Hujan mulai turun. Hujan di Hari Kasih Sayang.
Ya, nasib itu aneh, dan dia mempertemukan kami dengan cara yang aneh. Keanehan yang namun kusuka…
Kali ini aku tak sempat menatapnya. Aku terlalu sibuk dengan tugasku. Maka sejenak kulupakan dia. Sesuatu yang awalnya kusesali, karena setelah acara berakhir aku mencari dia, dan aku tak menemukannya.

Aku bahkan tak tahu namanya.

***

Sore itu diwarnai hujan. Aku menikmati hujan. Sejuk dan dingin. Namun aku jadi harus berbasah-basah dalam keterburu-buruanku. Aku berdiri di depan pintu halte busway, menunggu bis sembari merasakan rintik yang menabuh atap halte.

Bis itupun datang. Pintunya terbuka. Orang-orang segera masuk dan keluar. Dan aku melihatnya.
Detakku seakan berhenti, namun aku masih hidup. Begitu kosongnya pikiranku sampai tanpa sadar aku telah berjalan masuk kedalam bis dan duduk tepat didepannya. Bis mulai berjalan, dan aku mulai bisa bernafas kembali.

Aku hanya menatapnya. Hanya menatapnya. Aku tak berani menyapanya. Bahkan aku tak berani memikirkannya. Aku takut hujan diluar tak dapat menyamarkan suara hatiku yang ingin mengenalnya. Aku diam saja.

Bis berhenti dan dia bersiap keluar. Aku hanya bisa menatapnya. Dan mendadak dia menatapku, seakan mengenali wajahku. Lalu ia tersenyum. Anak yang duduk disebelahnya ikut tersenyum, senyum yang sama-sama hangatnya. Senyum yang lalu dilanjutkan dengan kata-kata Mama, ayo cepat pulang, aku kangen Papa sambil tangan mungilnya menggandeng.

Bis mulai bergerak kembali menembus hujan yang mendadak reda, meski mendungnya masih memayung. Setelah lima tahun akhirnya aku berjumpa lagi dengannya. Lagi-lagi rinduku terjawab. Namun kali ini jawabannya tak lagi indah.

Aku bahkan tak tahu namanya.

***

Aku terlentang. Kini mataku menatap langit-langit kamarku. Dalam hati aku mengumpati hujan, mengutuk dingin, menyesali cincin perak yang tak pernah berhasil kuberikan itu, dan akhirnya jadi menyalahkan nasib. Ya, nasib memang aneh.  Karena tepat lima tahun setelah pertemuan pertama kami, di Hari Kasih Sayang kala hujan itu, aku bertemu lagi dengannya. Dan kebetulan hari ini tanggal 14 Februari.

Aku bahkan tak tahu namanya.

No comments:

Post a Comment