Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

April 16, 2011

Untitled - Surya dan Chandra

Tahu ga Yank, kalo Bulan itu butuh Matahari?
Ga tahu Yank. Emang kenapa kok bulan butuh matahari?
Karena..

Surya membuka matanya dan mendapati dirinya berada di sebuah padang rumput yang begitu luas. Ia menatap sekeliling. Tak ada apapun, hanya hamparan rumput hijau yang teramat luas yang dipayungi awan putih dalam lautan langit biru.

Dimana aku?

Tiba-tiba sesuatu mengejutkannya. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul sebuah pintu kayu besar didepan Surya. Ia menatap pintu itu. Tak ada bangunan dibelakangnya. Tak ada tembok. Hanya pintu kayu besar berdiri ditengah padang rumput.

Dalam kebingungan perlahan dia menyentuh gagang pintu itu. Pintu itu terbuka perlahan, namun bukan padang rumput yang terlihat didalamnya. Surya melihat sebuah ruangan besar yang diterangi cahaya dari mozaik-mozaik yang menghias dinding disekitarnya. Surya sedang berada di gereja.

Deretan kursi kayu berpelitur mengkilat itu berjajar rapi. Diantara dua deretan kursi panjang itu membentang karpet merah tua yang menjembatani pintu kayu besar tempatnya tadi berdiri ke arah altar kayu dengan warna pelitur mengkilat yang sama.

Ada sesosok orang yang duduk di dekat altar, di deretan kursi paling depan itu. Sesosok lelaki berjas hitam.

Rasa takut dan bimbang reda sejenak melihat sosok itu. Surya berjalan menyusuri karpet merah menghampiri sosok lelaki itu, berharap bisa mendapatkan jawaban atas segala hal aneh yang barusan ia lihat, atau paling tidak bertanya dimana ia berada sekarang. Namun isak tangis lelaki itu menghentikan langkah Surya. Ia terpaku tepat di belakang lelaki itu.

"Kenapa kamu harus pergi seperti ini..", isaknya. Surya seperti mengenal suara itu. Dengan ragu ia melangkah menghampiri sosok itu. Ia hampir menyentuh pundaknya saat lelaki itu kembali terisak.

"Maafkan aku Surya.. Maafkan aku...".

Surya tertegun. Surya? Itu kan.. Aku?

Jantung Surya berdegup kencang saat tubuhnya sejenak hilang keseimbangan. Tiba-tiba berjuta gambar dalam otaknya muncul dan berkelebat bagai kilasan-kilasan film. Surya segera berpegangan pada pegangan kursi disampingnya saat semua kilasan-kilasan itu seakan mengguyur masuk kedalam otaknya.

Hai, aku Chandra. Kamu Surya kan? Maaf ya tadi macet.


Aku sayang kamu Ya.. Will you be my boyfriend?


Beibh.. Aku.. Aku harus ngomong sesuatu..


Maafin aku Beibh.. Aku.. Aku ga bisa gini terus.. Mama pengen aku cepet nikah dan..


SURYA! Beibh, dengerin aku sayang.. plis.. BEIBH!

Dan sebuah decitan keras diriingi suara tabrakan keras menghamburkan imajinasi Surya seketika. Ia ingat segalanya.

"Saat itu.. Saat itu aku mencoba meraih telepon.. Telepon selulerku," katanya terbata-bata. "Aku-aku mencoba mematikannya agar kau tak bisa meng-hubungiku. Dan tiba-tiba.. ada cahaya.. cahaya lampu terang sekali... Sebuah truk... Menghantam mobilku."

Surya terduduk di karpet merah gelap itu. "Aku... mati," bisiknya pelan. Ia menatap ke arah altar di depannya. Sebuah meja seukuran peti mati telah kosong. Mendadak sebuah peti mati hitam muncul diatas meja itu. Orang-orang perlahan bermunculan dalam posisi duduk ataupun berdiri. Mereka semua memakai baju hitam. semuanya terlihat sedih. Suryapun tersadar.

"Ini.. pemakamanku," katanya sambil tersenyum hambar. Surya mencoba berdiri kembali meski lututnya masih terasa lemah. Gereja itu kembali kosong dan hanya menyisakan sosok Chandra yang terisak sendiri.

Ia menghampiri Chandra dan duduk disebelahnya. "Maafin aku, Surya.. Maaf..." ratapnya sambil tertunduk. Surya menatap Chandra dalam. setangkai bunga lely ada dalam genggaman Chandra. Bunga kesukaan Surya.

"Aku sayang kamu Surya.. Sumpah aku cuma sayang kamu.. Kenapa kamu ga mau dengerin aku... Kenapa kamu harus pergi.. Kenapa Surya..".

Aku juga sayang kamu..

Surya perlahan memeluk Chandra dari samping tanpa kata. Mereka berbagi diam dan kesedihan di dalam gereja itu sampai tubuh Surya perlahan lenyap seiring dengan mentari yang mulai tenggelam.

***

Sore itu gereja begitu sepi. bayang-bayang mozaik membias mewarnai karpet merah tua dan deretan kursi coklat yang tertata rapi.

Di dekat altar Surya dan Chandra baru saja menyelesaikan doa mereka. Chandra menatap Surya yang masih memejamkan matanya.

"Tahu ga artinya Chandra?"

Surya membuka matanya. "Hmm... Bulan?"

Chandra tersenyum. "Kalau Surya?"

Surya mendengus sambil tersenyum. "Matahari. Kenapa sih?"

"Tahu ga Yank, kalo Bulan itu butuh Matahari?"

Surya menatap heran kekasihnya. "Ga tahu Yank. Emang kenapa kok bulan butuh matahari?"

Chandra tersenyum lalu menggenggam tangan Surya. "Karena bulan tak bisa bersinar tanpa matahari. Karena bulan akan selalu butuh matahari. Karena Chandra butuh Surya."

Surya tersenyum.

Dan seminggu setelah itu, Surya meninggal karena kecelakaan di tikungan di dekat gereja itu.

 ..

7 comments:

  1. sedih banget ..... jadi ikutan galau nie,..

    ReplyDelete
  2. ow.. sorry to make u sad. :( thanks so much for reading anyway! :D

    ReplyDelete
  3. justru makin ditunggu nie ,..cerita2 yang kayak gini lagi he he he

    ReplyDelete
  4. ahahahaha... iya sabar ya.. :)

    ReplyDelete
  5. me too, i want another stories..
    as black_cloud said..
    haha..

    ReplyDelete
  6. lol ok ok... been very busy lately.
    i'll give another story later ok? :D

    ReplyDelete