Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

September 19, 2011

Catatan Korban Pengeboman

Aku terbangun dengan pusing yang teramat sangat. Aku menatap sekitarku: asap, dan teriakan-teriakan yang bercampur dengan bunyi gemeretak api yang membakar kayu. aku mencoba berdiri dengan kakiku sembari mencoba melihat dengan seksama.

aku melihat beberapa orang berteriak minta tolong, beberapa mobil pemadam kebakaran dengan sirinenya yang meraung keras hadir kemudian. Petugas pemadam kebakaran mulai turun dan menyiram api yang muncul dari beberapa sudut. aku menatap sampingku dan melihat sebuah bangkai mobil terbakar hebat dengan reruntuhan bagian depan lobi hotel serta asap hitam dan bau anyir. Aku lalu melihat lampu sirine sebuah ambulans yang datang dari kejauhan. Tiba-tiba kepalaku mendadak pusing. Kilasan-kilasan kejadian mendadak berkelebat di dalam pikiranku.

Waktu itu siang hari, aku ke sini setelah mampir ke toko perhiasan. aku begitu deg-degan.. aku melihat sosok itu, dengan tas ransel hitam besar. Ia menatapku dengan mata yang menyiratkan ketakutan.. dan aku baru sadar kalau...

Segera aku tersadar lalu berbalik ke tempat aku bangun tadi. Begitu sampai di situ aku tertegun melihat genangan darah, dan dua sosok diantara debu dan asap. Sosok perempuan menangisi tubuh seorang lelaki yang terbujur kaku.

Itu.. Tubuhku.

Kilasan-kilasan itu kembali muncul di kepalaku diiringi raungan sirine yang terdengar bagai jeritan sakit dalam baur aroma darah dan asap.

Hari itu Minggu. Aku berencana melamar dia di hotel tempat pertama kami bertemu waktu diklat pegawai baru beberapa tahun yang lalu itu. aku sudah menyiapkan cincin cantik yang akan kuberikan padanya. saat kami berjalan memasuki lobi, aku melihat sosok mencurigakan dengan tas ransel hitam besar. Ia menatapku dengan mata yang menyiratkan ketakutan. Aku dan dia sudah duduk di ruang makan saat aku melihat lagi sosok itu lewat. Entah kenapa perasaanku tidak enak. aku memutuskan mengikuti sosok itu.. Dan saat pria itu berdiri di ujung lobi, cukup jauh dariku, dia menatapku lagi dengan senyum. Lalu...


"Ledakan," bisikku pelan. Pria itu meledakkan dirinya sendiri. Aku menatap tubuhku yang penuh darah, dan dia yang menangisiku. Kilau sincin yang harusnya kuberikan padanya tertangkap mataku tergeletak tergenang darah di dekat tanganku.

HAtiku seakan hancur di situ. semua rencanaku dengan dia hancur. Aku begitu ingin menyentuh pipinya yang berurai air mata, mendekap tubuhnya yang dibasahi darahku saat aku merasakan seseorang di belakangku. Aku menoleh. Sosok berjubah hitam berdiri begitu megah di belakangku. Wajahnya tertutup tudung hitam gelap.

"Tinggal kamu," katanya dengan nada tegas, namun begitu tenang. Dia lalu berjalan pergi. Bagai terhipnotis aku berjalan pelan mengikuti sosok berjubah hitam di depanku melewati puing-puing. Ingin aku menoleh dan menatapnya untuk terakhir kalinya, namun semua sudah terlambat.

Sosok itu berhenti lalu membentangkan sayap hitamnya yang begitu lebar dari jubahnya. Bulu-bulu hitam pekat bertaburan. Dia lalu mengulurkan tangan halusnya dari balik jubah hitam itu, mengajakku mendekat.

"Ayo, kau sudah ditungguNya."

Aku meraih tangannya.

Masih sempat terlihat tangisnya di mataku saat malaikat maut membawaku pergi.

2 comments:

  1. Prabu: ahahahaha... dan kagetnya kemaren ada pengeboman ya, cuma di gereja? :( untung semuanya selamat.. :) *kecuali yang ngebom -_-" *

    ReplyDelete