Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

September 14, 2011

Secangkir Kopi di sela Gerimis Bulan September

Di sudut kafe ini aku menerawang jauh, menatap gerimis yang setia mendendangkan melodi kesendirian. Asap dan aroma kopi susu yang kupesan semerbak menjelajah.

Gerimis selalu menjadi pengingatku padamu. Seperti kopi susu di tengah kesibukanku kau datang dan memberikan suntikan kaffein yang membuatku bersemangat. Seperti jam weker alami yang terus berbunyi, mencoba membangunkan kenangan lama yang tertidur pulas. Kadang weker itu gagal, dan si kenangan akhirnya lelap. Namun seringnya tabuhan nada-nada alam itu berhasil membangunkannya, membuatnya kesal dengan kenyataan kalau saat ini semua tak seperti sedia kala, seperti saat aku terbangun empat jam lebih telat dari jam masuk kantor, tepat saat si Bos inspeksi.

Ah, gerimis.. Betapa setia kau membangunkan kenangan itu. Bahkan secangkir kopi susu yang membuatku mulai ngantuk di depanku ini tak bisa membuat kenangan itu ikut tidur dalam domain gelap di hati.

Aku mengalihkan pandanganku pada segelas kopi susu yang tinggal setengah. Bayanganku sedikit terpantul di genangan coklat tuanya. Bayangan yang kesepian. Bayangan yang memantulkan kesedihan dan duka. Bayanganku.

Aku lalu menarik nafas panjang sambil berdendang beberapa lagu yang akan kunyanyikan di acara nanti, sesekali sambil melirik gerimis. Tanpa sadar aku menyanyikan lagu-lagu cinta dan pernikahan itu untuk pernikahan kita, UNTUK KITA.

Ah indahnya. Pasti pesta itu akan benar-benar meriah, aku yang bernyanyi dan kau tersipu dalam baluran gaun cantikmu, menatapku dalam cinta, dalam ikatan selamanya...

Aku menghela nafas sembari menatap gerimis yang perlahan memudar mengiringi pudarnya anganku akan lagu-lagu cinta kita. Aku berdiri sambil meminum setengah gelas kopi susu yang tersisa, menelan pula bayangan duka yang terpantul di dalamnya. Aku merapikan dasi dan jasku, tersenyum manis, lalu berjalan santai menghadiri acara pesta pernikahanmu.

Yah, paling tidak aku masih bisa menyanyikan lagu cinta itu UNTUKMU.

No comments:

Post a Comment