Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

October 06, 2011

Kopi Susu

Aku duduk termangu di depan segelas susu panas di atas mejaku. Hujan rintik di luar masih setia menemani kesendirian dan pikiranku yang bertualang. Sesekali aku menyeruput susu panas itu, membiarkan hangatnya mengalir mengusir dingin di tubuhku. Tapi yang kedinginan di sini bukan cuma tubuh dalam baluran saju hangat warna putih gading ini. Hatiku juga dingin. Hatiku butuh kejujuran.

Kau masih setia duduk didepanku, dengan kacamata bingkai hitam yang menghiasi wajah serius namun manismu yang sedang membaca tumpukan kertas diatas meja di depanmu. Kemeja biru gelap yang kau pakai masih nampak rapi meskipun sekarang sudah jam pulang kerja. Dasi hitam yang tadinya kau pakai di lehermu kini kau taruh ke dalam tasmu, meski lidahnya masih terlihat sedikit dari luar.

"Jadi...", ujarku membuka pembicaraan. Kau menatapku. Ah, mata itu. Mata polos namun tajam yang berhasil menembus pertahanan hatiku.

"Jadi kapan kamu balik ke Jakarta?"

Kau berdeham lalu meraih kopi susu di sebelahmu, meminumnya sedikit, lalu menaruhnya lagi. Lalu kau menatapku. "Mungkin lusa. Secepatnya lah. Semua sudah beres di sini. Aku harus segera mengurus kontrak baru secepatnya. Tahun ini kebanjiran order," katamu sambil tersenyum.

Aku ikut tersenyum menatap kegembiraan yang tersirat disitu. Aku kembali meminum susu panasku, lalu menatapmu lagi. "Kapan mau balik ke sini lagi?"

Wajahmu menyiratkan kekagetan sesaat, namun dengan lihai kau tutupi semua itu dengan senyummu yang menggoda. "Makanya doain biar dapat orderan lagi di sini."

Kau dan aku terdiam, saling menatap. Bahasa tanpa kata saling bertukar dengan perantara bola mata. Namun segera aku mengakhirinya dengan helaan nafas panjang. Susu panas itu kembali menjadi caraku mengalihkan semua kegusaranku. Kaupun nampaknya mulai terbiasa mengalihkan perhatianmu pada segelas kopi susu itu sebelum akhirnya kembali mengecek laporan-laporan di depanmu.

"Kamu tahu sendiri kan posisiku?" katamu tiba-tiba sambil terus menatap laporan-laporan itu. "Aku sudah bilang kalau aku tak bisa memberimu lebih dari ini."

"Aku tahu," jawabku sambil menatap hujan yang perlahan reda. "Di Jakarta kamu juga punya keluarga.. Tapi...".

"Begitu hujan reda kita balik ya? Aku belum packing," selamu. Kau nampak gusar tiap kali aku membahas keluargamu. Istrimu. Anakmu. Kau bergumam sendiri tentang tanda tangan dan klien setelahnya. Aku cuma diam. Sesekali kusibakkan rambutku ke belakang.

Hujan makin menipis. Tabuhannya mulai mereda, lalu berhenti. "Nah! Sudah selesai!" katamu sambil menghela nafas. "Laporan sudah dicek, sekarang kita pulang yuk! Dah ga sabar pengen meluk kamu." Kau lalu menyeruput kopi susu itu, mencoba menghabiskannya.

Aku menarik nafas panjang. "Aku hamil mas."

Kau tersedak dan terbatuk-batuk.

4 comments:

  1. Like it !! endingnya menarik ha..ha

    ReplyDelete
  2. dan kalau aku ada di sana aku akan dengan reflek berkata "kuapuoook!!!"

    ReplyDelete
  3. Ouucwh..
    ini ma kopi susu mix apotas!!! :p

    Jempoool!!! :D

    ReplyDelete