Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

December 04, 2011

Bahagiamu (Bukan) Bahagiaku

Suasana resepsi dan musik terdengar samar dari dalam rumah. Aku dan dia berdiri berhadapan, berpayung malam dan bintang. Dia tak berani menunjukkan wajahnya. Dia tertunduk.

"Maafkan aku.. Maafkan aku..", katanya sambil terisak. Aku diam. Senyum tipis terlukis pelan di wajahku sembari tanganku mengusap pundaknya.

"Gak apa-apa kok, aku bahagia asal kamu bahagia," kataku tenang. Dia menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca. Lalu dia memelukku erat.

"Sumpah kamu adalah orang terbaik yang pernah kutemui... Kamu... Aku... Aku sayang kamu...", katanya sembari menahan air mata. Aku mengusap rambutnya sembari membalas dengan dekapan hangat.

"Hei-hei.. Jangan nangis dong.. Nanti mukamu jadi berantakan..", kataku sembari melepas dekapannya. Aku menatap wajahnya yang sendu, merapikan sedikit rambutnya, lalu menyeka titik air kecil yang menghias sudut matanya. Mata yang dulu membuatku terpana. Tatapan sendu yang mengikat hatiku dalam pandangan pertama.

"Ga boleh gitu ah.. Hari ini hari bahagiamu. Sudah ada dia yang menyayangi kamu. Sayangmu bukan lagi buat aku, tapi buat dia."

Dia mengangguk pelan. "Iya.. Aku janji aku akan buat dia bahagia. Demi pengorbanan kamu.. Aku.. Aku janji!" katanya sambil menggenggam tanganku erat.

Waktu perlahan melambat. Sunyi menyergapi jiwa kami secepat dingin malam yang merayapi raga kami yang rapuh. Dia masih menggenggam tanganku erat. Cincin yang melingkar di jemarinya terasa hangat dalam genggamanku.

"Kamu.. ikhlas kan?" katanya tiba-tiba.

Aku tersenyum sembari mengangguk. "Demi masa depan kamu, aku rela kok. Tapi janji, ga boleh cengeng. Tanggung jawabmu sekarang lebih besar. Kamu bukan lagi anak kecil. Ga boleh manja lagi."

Dia menghela nafas. Terlihat betul air mata itu ingin keluar, namun sekuat tenaga ia menahannya. Ia mencoba tersenyum kembali.

Tiba-tiba terdengar suara memanggil kami. Seorang gadis cantik dengan gaun indah berwarna hitam keemasan berdiri di depan pintu geser besar dari kaca.

"Sayang? Ayo foto bareng Papa sama Mama!"

Kami menoleh. Dengan segera Raka melepas tangannya lalu mengusap matanya. "Iya sayang, sebentar.. Masih ngobrol sama Mas Juna", katanya. Aku mengangguk dan tersenyum sambil menatap gadis itu. Gadis itu membalasnya, lalu kembali masuk ke dalam.

Aku lalu menoleh menatap Raka yang merapikan jas hitam pekat dengan hiasan keemasan yang serupa dengan motif keemasan pada gaun gadis yang memanggilnya. "Tuh, istri kamu manggil," godaku. Dia tertawa.

"Ah apaan sih?! Kamu juga tuh Mas, bentar lagi pasti Mas Juna dicari mbak Dina, secara dia kan posesif abis!" balasnya sambil memukul dadaku.

"Halah, dia lagi sibuk di kamar mandi, benerin make-up!" Kami lalu tertawa lepas. Dan semua perlahan sunyi. Mata kami saling menatap penuh arti. Tanpa sadar tangan kami kembali saling menggenggam.

Raka tersenyum kembali. Kali ini lebih lepas. Dia melepaskan tanganku, lalu membungkuk sedikit tanda berpamitan. Dan diapun berlalu.

Aku lalu duduk di kursi di taman itu, meresapi malam yang semakin pekat.

Tanpa sadar air mataku mengalir.

No comments:

Post a Comment