Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

December 06, 2011

Pengadilan Hati

Dan pengadilanpun dimulai.

Jaksa penuntut menatap dalam sosoknya yang terdiam di sudut kursi pesakitan. Ia tak lagi menyiapkan banyak tuntutan atau tuduhan, cuma tiga buah pertanyaan saja. Pertanyaan yang akan memastikan apakah terdakwa akan bebas, atau tetap dipenjara selamanya dalam sel rasa bersalah dan dendam.

"Pertanyaan pertama. Kamu sayang dia?" tanya Jaksa tenang. Dia hanya tertunduk diam.

"Aku ga mau jawab," katanya sembari tertunduk. Terdakwa menolak menjawab tuduhan pertama.

Sang Jaksa menghela nafas. "Oke.. Kamu masih sayang sama aku?"

Dia kembali terdiam. "Aku ga mau jawab."

Jaksapun geram. "Kok gitu? Jawab dong!" desak Jaksa.

"Aku ga mau jawab! Apa gunanya? Ini ga relevan!"

"Berguna atau tidak biar Yang Mulia yang memutuskan. Pertanyaan ini relevan dengan tuduhan yang sudah diberikan pada Anda sebagai terdakwa!"

"Iya oke! Iya! Kalo aku masih sayang sama kamu terus kenapa?? Kan udah ga ada artinya?!" ujarnya sedikit hilang kendali.

Jaksa tersenyum. Terdakwa mengakui tuduhan kedua yang diberikan padanya. Kini sudah saatnya pada pertanyaan penentuan.

"Jadi, kamu lebih sayang siapa, aku? Atau dia?"

Seketika itu juga ruang sidang senyap. Dalam penuh keraguan dia tenggelam dalam sunyi. Sang Jaksa menatapnya dalam, meminta jawaban. Meminta kejelasan.

"Please jangan tanya itu," pintanya.

Jaksa menatapnya dingin. Ini bukan hanya masalah kesanggupan atau tidak. Ini masalah hati.

"Jawab," tanya Sang Jaksa dingin.

Dia menghela nafas. "Dia."

Kami terdiam. Senyap. Sang Jaksa menghela nafas, memecah kesunyian. Akhirnya terdakwa mengakui hal terpenting dalam persidangan ini. Sang Jaksa menatap wajah Hakim. Sang Hakim tersenyum dan mengangguk.

Sang terdakwapun bebas. Dan Jaksa hanya bisa melihat sosoknya menjauh menembus malam. Dia bebas dari segala tuduhan. Dia kini bebas mencintai hati lain yang sudah mengisi relungnya, bebas dari tuduhan mendua, bebas dari tuduhan menyakiti perasaan orang lain.

Dia bebas.

Namun kini giliran hati Sang Jaksa yang divonis mati.

4 comments: