Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

December 23, 2011

Sahabat Selamanya

Bagus tergesa-gesa menyusuri lorong gereja berdinding pastel itu. dengan setelan hitam dan dandanan rapi ia berjalan cepat melintasi jendela-jendela besar gereja yang berderet, menampilkan pemandangan taman yang di luar.

Bagus lalu berhenti di depan sebuah pintu kayu besar. Dengan hati-hati dia mengetuk pintu itu.

"Put? Putri?"

"Masuk," jawab suara di dalam. Bagus perlahan membuka pintunya. Dilihatnya sosok perempuan berdiri membelakanginya, menatap jauh di jendela. Gaun pengantin putihnya terbias cahaya cerah matahari.

"Put? Kau kenapa?" kata Bagus sambil berjalan mendekati Putri. Putri menoleh. Sebingkai wajah cantik membalas tatapan khawatir Bagus. Putri melepas tiara yang tersemat di kepalanya, lalu duduk di kursi di dekat jendela. Ia hanya diam, namun wajahnya menyiratkan sejuta rasa takut.

Bagus berlutut di sebelahnya, menatap Putri dengan kuatir. "Kamu kenapa Put?"

Putri menghela nafas. Dia tersenyum dalam rasa gundahnya.

"Aku takut."

Bagus tersenyum. "Ah ayolah! Bukannya kamu yang semangat dari awal soal pernikahan ini? Kok sekarang malah takut?"

Putri diam sejenak. Dia ingat betapa semangatnya ia menarik tangan Bagus untuk menemaninya memilih bunga buat buketnya nanti, saat-saat dimana Bagus sampai tertidur menunggunya memilih gaun yang pas, ketika Bagus terpaksa ditilang polisi gara-gara Putri tiba-tiba menyuruhnya memutar di jalan satu arah karena mereka telat mengambil kue.. Semua memang ide Putri. Putri ingin mengatur sendiri semuanya dalam pernikahannya, paling tidak yang berhubungan dengan mempelai wanitanya. Dan di sana..

"Selalu ada kamu Gus.." bisiknya tiba-tiba.

"Apa Put?"

"Aku takut karena selalu ada kamu," bisik Putri. "Selama ini, sejak SD, kita selalu bersama. Meski SMP kita pisah, kita selalu jalan bareng berdua. SMApun kita ketemu lagi kan ya?"

Bagus tersenyum. "Iya lah. Terus kamu mau lanjut di Singapore, sedang aku stay di Jakarta. Pisah lagi lah kita."

"Tapi tiap malam minggu selalu skype-an..", balas Putri.

"Bahkan kita selalu ngenalin pacar kita masing-masing ya sejak SMA.."

"Sampai mantanku, si Aan brengsek itu hampir mukulin kamu gara-gara dia cemburu.."

"dan si Anya sampai hampir bunuh diri saking jelesnya.."

Bagus dan Putri saling menatap. Kedua mata mereka bertemu dalam detak yang menyatu. Detak yang seirama seperti yang biasa mereka rasa. Emosi, tawa, takut, sedih, luka, semuanya seakan membaur menjadi satu, berkilas-kilas dalam kenangan yang tanpa henti dimainkan dalam memori otak keduanya.

Putri tiba-tiba berdiri membelakangi Bagus yang terkejut. "aku takut kalau ternyata aku mendustai perasaanku, Gus..".

Bagus terdiam. Entah kenapa melihat Putri membuat dadanya terasa agak sesak.

"Aku takut.. Takut kalau suka kamu, Gus.." kata Putri tiba-tiba. Bagus terkejut.

"Hah?! Seriusan?"

Putri menghela nafas. "Maksudku, aku pikir aku mungkin.. suka sama kamu. Kita benar-benar cocok, Gus. sampai almarhum Papa sempat bilang kalau aku ga dapet calon suami sampai umur dua tujuh aku disuruh nikah sama kamu."

Mereka terdiam sejenak.

"Tapi sayangnya kamu ga secakep kakakmu."

Bagus dan Putri terkekeh. Bagus menghela nafas, mencoba menenangkan diri. "Ya.. Apa ya.. Bagikupun kamu sudah kaya saudara. Bahkan kamu sebentar lagi bakal jadi kakak perempuanku beneran kan? Mas Raja dah daridulu naksir kamu sejak SD, suka ngintipin kita main sambil ngelamun jorok!"

Mereka lalu tertawa. Putri tersenyum. "Aduh sumpah Gus.. Ga bisa bayangin aku.. Mungkin memang kamu saudara terbaik buat aku."

Bagus mendekati Putri, lalu memasangkan tiara di rambutnya. "Dan kamu, bakal jadi kakak ipar tercantik yang pernah ada."

Putri tersipu mendengar perkataan Bagus. sebulir air mata haru mengalir membasahi pipinya. seketika Putri tersadar.

"Aduh make-upnya bisa rusak ini! Bentar ya Gus, aku mau benerin make up dulu.. " kata Putri sembari berjalan melewati Bagus yang menatapnya. Putri lalu duduk di meja rias dan mencoba menutupi jejak air mata yang sempat mengotori make-upnya.

"Iya deh Put, aku juga mau keluar bentar. Udah ditunggu sama yang lain. Dandan yang cantik ya?"

Putri mengangkat jempolnya ke atas tanda setuju. Bagus tersenyum lalu berjalan pergi.

Begitu pintu tertutup, Putri menangis pelan.

Aku sayangnya sama kamu..

***

Pintu kayu besar itupun tertutup. Sosok Bagus berjalan lemah menyusuri koridor dengan jendela-jendela berderet yang membiaskan cahaya mentari.

Seandainya kamu tahu.. Aku juga sayang kamu.

No comments:

Post a Comment