Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

December 06, 2011

Segelas Jus Arbei

Siang itu sepulang kerja aku sempatkan mampir di kafe di pojok jalan itu. Kafe itu begitu terkenal dengan jus buah-buahannya.

***

"Hari ini kita kemana ya enaknya?" kataku sambil memacu motorku menembus hiruk pikuk keramaian kota bersamanya.
Dia dibelakangku, mendekapku mesra.
"Kemana ya yank? Eh, nyobain kafe itu yuk? Jusnya enak!"

***

Aku segera memarkir motorku, lalu melangkahkan kakiku ke dalam. Kenangan seakan terputar kembali bagai slide usang yang diputar di proyektor saat aku menatap sebuah sudut di ruangan kafe itu.

***

Kami duduk di pojok ruangan, didekat jendela besar yang menghadap jalan. Aku sedang sibuk memilih menu saat tiba-tiba dia menarik daftar menu itu dari tanganku.

"Jus Arbei aja! Rasanya enak lho," sarannya.
"Aku ga suka Arbei. Pasti mereka akan menambah banyak gula agar rasa asamnya hilang. Dan aku ga suka manis."
"Kalau begitu pesan jus Arbei yang ga pakai gula aja. Aku juga mau pesen yang sama, cuma manis."
Aku terdiam sejenak sambil berpikir.

***

"Pesan apa Mas?" tanya pelayan di sebelahku. Lamunanku buyar.
"Hmm... Jus Arbei ya Mbak. Gulanya sedikit aja."
"Oke Mas. Jus Arbei gulanya sedikit ya Mas? Silahkan ditunggu Mas."

***

"Pinjam spidolmu dong?"
"Buat apa?" tanyaku sembari meraih tasku dan mencari spidol papan di dalamnya.
"Buat gambar-gambar," katanya sambil meraih spidol dari tanganku. Kemudian dia mulai mencorat-coret sebuah sudut kusen jendela yang memang diperuntukkan untuk coretan-coretan pengunjung.

***

Aku menatap coretan di pojok ruangan itu. Dua buah miniatur wajah. Wajahku dan dia. Dan tanggal saat gambar itu dibuat.
"Silahkan Mas, jusnya Arbei gulanya sedikit," kata pelayan yang mengantarkan pesananku.
"Makasih Mbak," kataku sambil tersenyum.

***

"Ugh, asem!" katanya setelah mencicipi jusku. Aku tertawa.
"Tau sendiri aku ga doyan manis. Masih nekat mau minta."
Dia tersenyum sambil menikmati jus Arbei miliknya yang manis. "Enakan ini, manis."
"Mana? Sini coba?" kataku sambil menarik gelas jus itu dan menyeruput sedikit isinya. Segera rasa eneg menyergap tenggorokanku. "Puih! Ini jus apa air gula?!"
Giliran dia yang tertawa.

***

"Semuanya enam ribu Mas," kata kasir. Aku mengeluarkan beberapa lembar ribuan dan menyerahkannya. "Uangnya pas ya Mas.. Terima kasih Mas..".
aku tersenyum dan mengangguk, lalu melangkah pergi.

Di tempat parkir aku mengenakan jaket dan helmku, lalu menuntun sepedaku keluar. Seketika itu juga aku melihat dia. Dari balik jendela besar tempat kita dulu duduk, aku melihat dia yang dulu mendekapku erat duduk di sana dengan pacar barunya, tersenyum sambil menikmati segelas jus Arbei di meja tempatku tadi menikmati jus Arbei asamku. Dia tanpa sadar menatapku. Kami terdiam sejenak, sampai aku menutup kaca helmku dan pergi.

Entah mengapa, namun hatiku jadi terasa sangat asam seperti rasa jus Arbei tadi di mulutku.

No comments:

Post a Comment