Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

January 30, 2011

It's too late for that

Dan disitulah dia berdiri, didepanku.
Nafasnya terengah, tatapnya sayu.
Dia mantanku.

Dia mendekat perlahan.
Kini dia didepanku.
I miss you..

It's too late for that, pikirku.

Dia minta maaf, aku hanya membisu.
Dia memegang pundakku, lalu menatapku.
Mata itu, mata sayu yang dulu pujaanku.

It's too late for that, batinku.

Kamu mau kan, kembali denganku?
Aku hanya tersenyum sambil lalu.
Kusingkirkan tangan yang pernah menghangatkanku.

It's too late for that, bisikku.

Dimana kamu saat aku butuh kamu?
Kemana kamu saat jiwaku mencarimu?
Dan kini kamu disini, meminta semua seperti dulu?

It's too late for that, kataku.

Dia diam. Matanya sendu. Ada air mata disitu.
Simpan air mata itu, karena aku tak butuh tangisanmu.
Simpan saja tiap tetesnya, karena aku tak lagi akan terharu.

It's too late for that, tegasku.

Hatiku hancur ditanganmu, jadi jangan menangisi kebodohanmu.
Anganku binasa dipelukanmu, jadi jangan meratapi ketololanmu.
Mimpiku musnah lewat kata-kata itu, jadi jangan tarik kembali ucapanmu.

It's too late for that, teriakku.

Aku memalingkan tubuhku darinya, melangkah menjauh.
Kudengar ratapan sedihnya, aku tak mau tahu.
Silahkan nikmati sengsaramu tanpa aku, silahkan telan semua itu.

It's too late for that, ucapku.

January 29, 2011

Mimpi

Mimpi

Manusia memiliki mimpi. Ada yang mengejar dan mewujudkannya. Ada yang mundur dan membuangnya. Dan ada pula yang diam, dan menyimpannya sepanjang hidupnya.. - (Alya, Cinta Pertama, 2006)

Mimpi. sebuah hal yang setiap manusia pasti pernah, sedang, atau akan memilikinya. Mimpi disini bukan sekedar penghias lelap saja, namun sebuah angan, sebuah cita-cita, sebuah harapan. Mimpi itu bisa jadi sebuah tujuan hidup, bisa juga menjadi gurauan sambil minum kopi. .

Umurku dua puluh dua tahun. Aku baru lulus kuliah. Sekarang aku sedang mencari pekerjaan tetap sambil tetap mengerjakan beberapa hal sampingan. Aku tak muluk-muluk dalam bekerja, asal gajinya pas, dan aku paham apa yang kukerjakan. Bagiku bertahan hidup itu prioritas, apalagi aku bukan orang kaya. Aku cuma ingin hidup mapan, punya rumah sendiri, pekerjaan tetap, lalu seorang pendamping hidup.

Sebuah mimpi generik, tentu saja. Semua rang menginginkannya. Namun, kadang aku berpikir. Apa yang sebenarnya kudambakan? Apa yang sebenarnya kuinginkan?

Dulu waktu aku masih SD, aku punya sebuah Atlas, kumpulan peta negara-negara di dunia untuk pelajaran IPSku. Aku sayang sekali dengan Atlas itu, selain karena mahal, gambarnya bagus-bagus. Dan buku itu selalu kubawa, kapanpun aku sekolah, entah ada pelajaran IPS atau tidak. Aku bangga memiliki buku itu, seakan dunia ada di genggamanku.

Dari atlas itu aku tahu benua Amerika, aku tahu Samudra Pasifik, aku tahu Jepang, aku aku tahu Eropa, aku tahu seluruh penjuru dunia. Dari Atlas itu kampung kecil yang membatasi fisikku seakan tak lagi berarti. Dari Atlas itu aku tahu banyak hal. Dan disitu aku menuliskan mimpi-mimpiku.

Dua belas tahun berlalu. Aku menemukan buku itu dalam lemari di kamarku, bercampur dengan seragam sekolah dan berbagai barang masa kecilku. Aku iseng membukanya. Banyak sekali coretan-coretan, gambar-gambar. Masa kecilku seakan terurai kembali menjadi kilasan-kilasan nyata.

Dan aku sempat terkejut saat halaman demi halaman itu kubuka. Peta Amerika Serikatku penuh coretan. Jepang juga. Eropapun sama. Di beberapa kota ada tanda lingkaran dan garis yang menghubungkan dengan keterangan di sudut bawah gambar:

New York - Patung Liberty
Tokyo - Tokyo Tower
Paris - Eiffel
Mekkah - Kabbah
Kanada - Niagara
Inggris - Stonehenge
RRC - Tembok Cina
...

Dan tiba-tiba aku teringat masa-masa itu: Suatu ketika, entah hari apa dan jam berapa, aku yangs edang duduk di bangku paling belakang kelasku pernah bermimpi ingin keliling dunia. Guru IPSku bilang di luar sana banyak sekali benda-benda bersejarah yang patut dikunjungi, dan satu demi satu tempat itu aku lingkari di Atlasku. Saat aku melihat film-filmpun tak lupa aku menandainya. Hal itu terus terjadi sampai aku SMA, saat kenyataan dan keuangan mulai membuatku putus asa. Dan mimpi itu ikut terbawa di Atlas yang akhirnya tak kupakai lagi karena keterangan didalamnya sudah kedaluarsa.

Ya, ternyata selain keinginan untuk mapan itu, dulu.. dulu sekali, waktu aku masih tak tahu apa-apa, waktu dunia masih begitu indah dan sempurna, aku pernah memiliki mimpi... mimpi untuk menjejakkan kakiku ke setiap tempat di dunia ini, lalu menulisnya, lalu pamer ke teman-temanku yang suka mengejekku dan sombong karena kekayaan mereka.

Tanganku gemetar. Perasaan saat membayangkan mimpi itu seperti kembali. Mataku berkaca-kaca.

......................................................................

Apa kalian pernah punya mimpi?

Lalu...

Apa kalian semua sudah berhasil menggapainya?

January 16, 2011

Seminggu Tanpamu...

Seminggu Tanpamu dan apa yang terjadi selama itu..

Sejak kata itu keluar dari bibirmu, semuanya tak lagi sama.
mungkin memang sedikit yang bisa kau rasa, karena kau bilang semua tak jauh beda..
namun masih ada yang hilang, masih ada yang seharusnya di sana namun tak ada.

paling tidak itu yang kurasa.


Senin kuawali dengan meratapimu dalam kesendirianku. Lagu-lagu melankolis menemani tubuhku yang terbaring di lantai, membiarkan sinar pagi merayapi jemariku. Bahkan saat ditengah bingar kuliahpun aku masih pilu. Hembusan angin di taman kampus, dan canda tawa sahabat-sahabatku yang mengiring kemudian sedikit menghiburku.

Meski masih mengalir air mata ini saat pulang dan jadi mengingatmu.


Selasa kuisi dengan membersihkan kamarku. Kuatur lagi barang-barangnya, kupel lantainya, kubuang sampah-sampah yang tak berguna, kupilah-pilah pakaian yang masih layak guna, kucuci dan kumasukkan semua pakaian ke lemari sesuai jenisnya, kusemprotkan wewangian... dan kutemukan foto kita.

Aku diam sejenak. Lalu kusimpan foto itu. Entah mengapa.


Rabu badanku mendadak lemas. Aku sakit panas. Padahal hari ini janji dengan kawan... batallah sudah. Ah sudahlah, mungkin mending istirahat sajalah. Minum obat, berselimut, dan tidur sendiri sajalah.

Aku sembuh esoknya. Dan tanpa kamu yang perlu membantu itu semua.


Kamis aku berkunjung ke rumah sahabatku. Kami bercengkrama, bergunjing penuh ceria, bercerita penuh makna. Tak lupa menutupnya dengan makan sate ayam langganan kami di depan rumahnya.

Sempat terpikir untuk mentraktirmu makan sate itu. Namun aku teringat kalau kau bukan lagi pacarku.


Jumat kulampiaskan semua. Aku dan kawan-kawan kampusku karaoke bersama. Kami menggila dalam Lady Gaga, larut dalam afgan dan melankolisnya, marah dalam lirik Eminem yang penuh kata "mutiara", tertawa dalam Keong Racun yang... ah intinya aku bahagia.

Dalam perjalanan pulang aku mulai bisa menikmatinya. Menikmati suasana tanpamu disana.


Sabtu kupilih di kamar saja. Kurapikan segala data-data yang kupunya. Kuhapus data yang tak berguna, ku back-up sisanya yang berharga. Dari hasil bersih-bersih kudapat delapan giga. Senangnya.

Sorenya aku duduk di beranda kamarku, melihat langit yang menggelap dengan segelas susu disebelahku.

Aku menangis.

Enam hari sudah tanpamu. Aneh, namun semua memang harus begitu. Aku selalu merasa kau selalu tak ada. Aku selalu merasa aku kurang bahagia. Karena kita jauh jaraknya. Itu alasan yang sama-sama kita gunakan untuk ini semua. Alasan yang akhirnya memisahkan kita. Alasan yang akhirnya membuang percuma setahun berdua.

Tidak, tidak percuma. Ada hal-hal yang sudah kudapat dari hubungan kita. Kesetiaan, pengertian, kepercayaan, semua yang dulu aku tak pernah bisa melakukannya. Namun bersamamu aku bisa. Setahun aku bisa.

Semuanya memang sulit untuk dibuat lupa, karena terlalu lama, terlalu indah, terlalu bermakna. Banyak hal yang kita lalui bersama, banyak canda tawa, suka duka, diskusi dan cerita, amarah dan mesra... Semuanya bermakna.

Aku tersenyum sendiri. Makasih, bisikku dalam hati.

Minggu. Sudah seminggu. Rasanya lucu, mengingat setahun lalu kita selalu satu, dan kini seminggu sudah berlalu. Tanpamu. Aku menyapu kamarku, lalu segera mandi dan ganti baju. Ada masa depan yang sudah menungguku. Ada, atau tanpa ada kamu.


"hold me, whatever lies beyond this morning is a little later on..
regardless of warning, the future doesnt scare me at all.. nothing's like before.."

- Utada Hikaru - Simple and Clean (Ost. Kingdom Hearts)

January 09, 2011

Ya Sudah

Ya Sudah

ya sudah!
hancur sajalah sudah!
akupun sudah lelah!
walau kutahu tanpamu aku lemah..

tapi ya sudah..
kalau memang harus bersimbah darah.
kalau harus tergores pecah..
hancur sajalah sudah...

hancurlah sudah.
hancur... yang sudah-sudah..

dan aku menangis.

January 04, 2011

Untitled - Aku.

Untitled - Aku.

Perpisahan itu melukai kita semua. Dan kadang kita lebih memilih terluka dalam harap.




Aku.

Aku meletakkan handphoneku diatas meja disebelah kepalaku yang menatapnya hampa. getaran tanda pesan masuk membangunkan lagi jiwa yang melapuk. membangunkan, tapi tetap mati.

20 pesan masuk

Aku tertegun sekaligus kosong. 20, jumlah yang cukup banyak buatku dalam kurun waktu sehari.
tanganku meraih handphone perak itu dan membuka kumpulan pesannya.

Dana. Anggi. Dana. Dian. Sinta. Fandy. Boy. Dian. Dian. Anton. Burhan. Pak Sandy. Mama. Dana. Velisa. Boy. Dika. Desti. Mika. Anggi.

Semua temanku. Orang yang pernah kutemui. Atau rekan kerja.

tapi tak ada dia. tak ada..

***

Setahun yang lalu. Aku terpuruk. Cintaku menikahi rekan kerjanya. Dia meninggalkanku. Aku seakan anak panah yang dilesatkan dengan benci tanpa arah, tanpa sasaran. Aku melesat, jiwaku melesak, hatiku melebur.

Aku patah hati. Dan dia muncul.

Sepasang insan yang terluka bertemu dalam suasana duka mengiringi matinya cinta. Kami bertatap, berbicara, berbagi, saling menghibur. Tak lupa bertukar nomor. Kami bertukar cerita, bertukar duka, bertukar suka. Dia ceritakan kisahnya, aku ceritakan kisahku. Kami saat cocok.
Esoknya dia tak membalas pesanku. Handphonenya tak aktif. Entah kenapa aku panik. Aku takut ada apa-apa, aku takut dia kenapa-kenapa.
Namun dia membalas kemudian. Dan aku sangat bahagia.

"Kamu ko care sih sama aku?" tanyanya dengan nada ragu. Kutangkap sedikit harap disitu.
"Kan kita teman," jawabku polos. Teman? Bahkan nurani meludahi wajahku saat kukatakan itu. BOHONG , teriaknya. Kau sudah jatuh dalam asmaranya.
Aku tidak bohong, nurani. Aku tidak jatuh cinta.

Aku cuma suka.

YA, aku suka dia. Sebuah pembelaan yang tepat. Bukan rasa cinta karena akan kurang ajar kelihatannya jika seorang seperti aku mudah jatuh cinta lagi, namun aku juga merasa ada yang beda dengannya. Sejak itu aku selalu mengulang kata-kata suka tiap kudengar suaranya lewat handphone.

Aku suka kesederhanaannya. Aku suka suaranya. Aku suka bahasa tubuhnya. Aku suka saat dia siaran. Aku suka saat dia iseng menelponku waktu dia kuliah.

Suka. Suka. Suka. Lama-lama kata itu jadi tak cukup mengukur perasaanku padanya. Dan nampaknya dia merasakan yang sama. Namun ada masalah.

Dia sudah punya pacar lagi. Tapi dia bilang dia cinta padaku.
Aku kecewa. Selama ini aku tak ubahnya pelacur yang mengemis hatinya. Tapi dia bilang cinta padaku.

Beberapa hari kemudian aku menelponnya. Menanyakan kabar, sudah makan atau belum, rencana hari itu, semua basa-basi sebelum aku menceritakan yang sebenarnya.

putuskan pacarmu.

"Hah? apa?"
"Aku ga bisa yank. Aku ga bisa seperti ini. Aku pengen milikin kamu seutuhnya."
"Tapi aku ga bisa mutusin dia begitu aja yank..".
"aku ga mau diduain beibh..".
Dia diam.
"I love you beibh."

"I love you too."

Keraguan telah kutanamkan. Pilihan telah kusodorkan. Hidup atau mati. Aku atau dia. Dapat aku kau bahagia, dapat dia.. Ya ga tau ya..? Sebuah taruhan besar. Aku siap kalah. Mumpung si suka belum jadi cinta.

Dan aku menang! Dia bilang dia sudah memutuskannya. "Aku milikmu seutuhnya beibh."

"Makasih beibh..".

Aku memeluknya. Memeluk hadiah utamaku. Memeluk cintaku. Ya, aku telah menamainya Cintaku. Sukanya sudah pergi, cintaku telah kembali.

Aku menang.

Kami menjalani hubungan ini. Dia memujaku, aku mencintainya. Kami merajut angan indah bersama. Menikah, beli rumah di Bali, memiliki anak (dan telah belajar membuatnya) angan-angan masa muda yang memabukkan. Jangan salahkan kami. Aku baru dua puluh dan dia sembilan belas. Dan kami sedang jatuh cinta.

Namun semua berubah perlahan. Sifatnya mulai menggangguku. Dia sangat posesif dan pengatur. Dia tak suka aku pergi lama-lama. Dia tak suka aku kumpul dengan teman-temanku yang membuatnya cemburu. Dia tak suka aku bicara dengan mantan-mantanku. Dia tak suka. Dia tak suka. Dia tak suka.

Lama-lama aku jadi tak suka.

Dan cinta kami hangus pada puncaknya. Aku yang membakarnya. Aku tak bisa dikekang seperti ini. Aku ingin bebas, aku masih dua puluh, dia sembilan belas. masa depan yang kami angankan tak bisa digapai dengan mudah.
Dia hancur.Semuanya runtuh digenggamanku. Hatinya, cintanya, angannya. Aku telah menghancurkannya.

"Tapi aku sayang kamu beibh..", rengeknya dalam tangis.
"Tapi ga bisa.. Aku ga bisa kaya gini terus..".
"Please.. I love you..".
"I'm sorry."

Aku meninggalkannya. Namun entah kenapa aku masih merindukannya.

Bulan-bulan berlalu. Kami masih sering kirim pesan. Tanpa tatap muka. Aku selalu menolaknya.
"Aku tak ingin kamu sakit lagi..", jawabku. Nuraniku meludahi lagi, namun aku tak mengelak.
Aku merasa bersalah.

Empat bulan kemudian dia bilang dia sudah memiliki yang lain. Aku turut lega mendengarnya. Namun dia masih mencintaiku.

"Kamulah satu-satunya dihatiku."

Kadang aku takut pada karma. Balasan setimpal yang akan kudapat ketika aku menyakitinya.

***

Aku masih menatap layar handphoneku. Tubuh lemahku dan jiwa rapuhku masih tergeletak diatas kasur. Aku harap handphone itu bergetar dan memunculkan namanya, namun saat itu tak kunjung tiba.

Sejak dia pacaran lagi dia tak pernah mengirim pesan. Kudengar dari teman-temannya kalau dia bahagia. Syukurlah.
Tapi aku cemburu. Entah kenapa.

Aku bertemu lagi dengannya setelah hampir setahun kita berpisah. Dia telah berubah. Dia tak lagi posesif, tak lagi kekanak-kanakan. Dan dia memberikanku hadiah kecil di ulang tahunku. Hadiah kecil dengan bau parfumnya yang masih kusimpan, kadang kubuka dan kurasakan harumnya saat aku rindu.

Karma itu ada.

Aku telah jatuh cinta lagi padanya. Namun dia sudah punya pacar, dan kali ini aku tak bisa meragukan hatinya. Aku adalah luka lama, pacarnya adalah antibiotik untuk menyembuhkannya dari aku. Aku tak lagi seperti dulu yang bangga akan kemampuanku merebutnya. Aku kini bukan siapa-siapa baginya.

Karma itu ada.

Suatu ketika dia mengirimiku pesan. Dia butuh bantuanku. Dia sedang bertengkar dengan pacarnya dan dia butuh teman curhat. Dengan senang hati kuterima tawarannya. Dia cerita dan cerita, seperti dulu. Suara semangatnya, tuturnya, semua masih seperti saat kita jumpa dulu. Namun kali ini dia cerita tentang dia dan dia. Bukan dia dan aku. Bukan aku.

Karma itu ada.

Aku benar-benar jatuh cinta, namun aku tak bisa mengatakannya. Aku takut karma. Aku takut dia akan mencampakkanku. Aku takut apa yang kugoreskan padanya akan menggoresku balik.

Tiba-tiba handphoneku bergetar. Aku membukanya. Detakku seakan berhenti.

dari dia!

Bagai anak kecil yang riang mendapat kado ulang tahun aku duduk dan membaca pesannya.

Namun secepat rasa itu muncul riang itu cepat pula sirna saat aku membaca isi pesannya.

Makasih ya atas saranmu kemaren. Aku jadi bisa lebih menghargai dia. Kemaren kita dah baikan ko. Saranmu manjur ya! hehehe

Aku meletakkan handphone disebelahku, merebahkan diri dan mencoba larut bersama waktu. Aku telah membantunya, namun aku telah membunuh diriku sendiri. Karma itu ada. Aku sedang mengalaminya.

Kata orang jodoh itu ada, katamu dulu kaulah jodohku. Kataku kini, Aku tidak yakin kita bisa berjodoh lagi..

Untitled - Bisma

Perpisahan itu melukai kita semua. Namun kadang kala perpisahan sebesar apapun tak akan mampu benar-benar memisahkan. Hanya menghalangi, namun tetap tak akan terpisahkan.



Bisma

Di bangku kayu berwarna putih itu Bisma duduk. Matanya yang teduh mengawasi sosok gadis didepannya, gadis cantik yang  sudah memiliki hatinya, gadis cantik yang menorehkan senyum tipis di wajah Bisma. Dialah Sinta.

Bisma berdiri dan menghampiri Sinta yang sedang berdiri di taman. Ingin rasanya ia mendekap erat tubuh gadis pujaannya.

Namun belum sempat dia berhasil memeluk pujaannya, Sinta mendadak menangis. Ia menutup wajahnya sambil menangis tersedu-sedu.

Bisma menyentuh bahu Sinta, mencoba menenangkannya.

Maafkan aku.. Aku sudah buat kamu nangis lagi..

Seakan tak peduli, Sinta memilih masuk kembali ke dalam rumah tanpa memperdulikan Bisma.

Bisma terdiam. Ia lalu menunduk.

Maafkan aku.. 


***

Sinta duduk sambil menikmati angin sore yang membelai tubuhnya. Di pangkuannya ada sebingkai foto. Sebuah foto pernikahan. Ada sesosok pria dan wanita bergandengan tangan.

Foto pernikahannya dan Bisma.

Angin sore membuai Sinta lembut. Matanya perlahan terpejam, larut dalam kantuk.

Perlahan sepasang tangan memeluk Sinta yang tengah lelap dari belakang. Tangan kirinya menyentuh jemari Sinta, mempertemukan sepasang cincin serupa yang dulu pernah mengikat mereka.

"Maafkan aku Sinta.. Aku.. Aku harus pergi," bisik Bisma pelan. "Aku sayang kamu."

Sinta sekejap terbangun dari lelapnya. Ia segera berdiri dan menoleh ke belakangnya. Tak ada siapapun, hanya pintu geser dari kaca menuju halaman yang terbuka di situ. Segera Sinta bergegas keluar.

Suara itu...

Tak ada siapapun. Hanya halaman rumput kosong dan langit yang makin merah. Suara itu.. Suara yang sangat ia rindukan. Suara yang kembali membongkar semua yang telah dikubur dalam.

Sinta mendekap foto itu erat di dadanya sembari pandangannya tertuju ke awan kelabu yang berarak pelan. Air matanya mengalir pelan.

"Bisma...".

Untitled - Randu

Untitled

Perpisahan itu melukai kita semua. Dan luka itu akan tetap selalu ada sehebat apapun kau menyembunyikannya dalam tawa.



Randu

Siang itu handphone Randu berdering lagi. Getarnya merambat pelan menggerayangi meja kerja dan kepala Randu yang tersandar lemah disitu. Sudah lima kali getar itu terasa, dan lima kali pula getar itu menghilang tak terjawab.

Randu terbangun. Matanya sembab. Dengan kekuatan yang tersisa ia meraih handphone itu, melihat dari layar kecil terangnya. Sebuah nama tertulis disitu. Nama yang sekejap membuat dia menangis lagi. Handphone itu dibantingnya keras dipojok kamar.

"Kamu bohongin aku..." racaunya dengan suara parau sambil melangkah gontai dari kursi.

Tubuhnya yang sempoyongan berjalan perlahan ke ruang tamu yang gelap. Kemeja putih garis-garisnya kusut. Kakinya melangkah lemah menapaki lantai yang terbias mentari yang menyusup dari celah-celah tirai coklat yang masih tertutup. Tangannya menyenggol jatuh semua foto-foto dan vas bunga yang ada di meja ruang tamu. Sesaat tubuhnya limbung, namun Randu segera menumpukan tangannya di sofa coklat ruang tamu itu.

Dengan bertumpu pada sofa itu Randu meraih selembar amplop diatas meja telpon disebelah sofa. Sebuah undangan berwarna putih gading dengan bau khas. Danang dan Alisa... 31 Desember... , begitu tulisan emas yang terpampang didepan undangan itu terbaca. Randu meremas undangan itu dan melemparnya kesudut ruangan. Lalu berteriak pilu dan menangis.

"Kamu bilang cinta kita abadi..." racau Randu lagi. "Kamu bilang kita bisa bersatu.. Aku... Aku sudah mempertaruhkan semuanya.. Aku putusin Sheila.. Aku pilih kamu... Aku berikan semuanya buat ka-mu..".

Randu mencoba berjalan, namun ia terjatuh. Kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang. Semuanya seakan menabuh kepalanya. Bunyi gedoran pintu bercampur mengilukan telinganya saat dia berusaha berdiri lagi, melangkah lemah menuju pintu depan.

Seketika itu juga pintu depan didobrak. Sesosok lelaki dengan setelan jas rapi segera masuk dan menangkap tubuh Randu yang roboh.

"Randu! Randu!!" teriak Danang. Ia memeluk Randu yang pucat dan lemah. "Kamu ngapain Raan..?! Kenapa sampai kaya gini...?!"

Mata Randu yang sayu menatap wajah Danang. Perlahan Randu mencoba menyentuh wajah Danang dengan pergelangan tangannya yang berlumuran darah. "Kamu... Kembali...".

"Maafin aku...," isak Danang. "Aku dah bikin kamu kaya gini...". Darah telah menodai setelan jas mempelai pria itu.

Randu tersenyum. "Jangan tinggalin aku Dan..".

Danang menggeleng. Airmatanya mengalir deras. "Ngga Ran. Ngga... Aku ga akan ninggalin kamu Ran.... Ran? Ran?! RAN!!"

Randu tak menjawab. Wajah pucatnya membisu.

***

Suasana malam di perumahan itu berubah mencekam saat sirene ambulans yang membawa jenazah Randu bergaung menembus malam. Para tetangga bermunculan ingin tahu dari rumah-rumah mereka.

Dengan tatapan sayu Danang duduk tertunduk didepan rumah Randu. Kemejanya berlumuran darah. bulir airmata masih mengalir pelan dari pipinya.

Dari jauh, Alisa yang baru saja turun dari taxi menatap suaminya. Ia khawatir karena begitu resepsi selesai Danang mendadak pamit pergi. Ia yakin suaminya akan kesini, ke rumah ini. Dan Alisa benar.

dengan ragu Alisa menghampiri Danang dan berdiri didepannya. Danang mendongak menatap istrinya, lalu memeluknya erat dan menangis.

Dengan alasan yang berbeda, di dalam hatinya Alisapun ikut menangis.