Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

March 24, 2011

Am I.. Alone?

siang itu hujan tanpa ampun menyiram gerahnya kota. Tetes demi tetes mengalir membentuk urat-urat air di jendela sebelah tempatku duduk dan menunggu hujan itu reda, sembari bercengkrama secara virtual dengan beberapa kawan. Tiba-tiba dia muncul, sosok baru yang sebelumnya bilang kalau dia menikmati isi blogku, meski menurutnya cerita cerita di blogku terlalu pendek alurnya.

Aku mulai ngobrol dengannya, berkenalan, bercanda, berbagi beberapa cerita. Dan lalu aku bertanya, " jadi menurut kamu gimana tulisan-tulisanku?"

"Bagus. pendek-pendek sih, belum2 udah climax dan anti climax. tapi ketahuan kok kamunya romantis tapi selalu merasa sendiri."

aku diam sejenak. "sendiri?" balasku.

"Iya, sendiri. kamu punya eksterior yang keras, tapi interior yang hangat tapi rapuh. Tulisan-tulisanmu banyak yang bikin aku sedih bacanya. benar-benar terasa sendiri dan sepi. tapi bagus karena kamu dah bikin pembaca ngerasa gitu."

Aku kembali diam. Lalu aku membahas topik lain dengannya. Namun... tanpa sengaja hatiku bertanya..

Apa benar demikian? Sebegitu terlihat sendiriankah aku?

***

Malam semakin memekat. awan menggantung mesra memeluk bintang-bintang dari dinginnya hawa setelah hujan. Aku duduk di beranda depan kamarku, meresapi dinginnya malam saat pikiran itu kembali terlintas.

"Kamu itu romantis, tapi selalu merasa sendiri."

Iyakah? Aku sendirian ya, ejekku dalam hati. Sebegitu menyedihkankah aku dimata orang-orang, sampai orang yang tak kukenalpun bisa berkata demikian? Sebegitu terlihat kesepiankah aku sampai kesepian itu ikut merambat meresap dalam tulisan-tulisanku?

Entahlah. Aku tak pernah benar-benar merasa sendirian, karena aku sudah terlatih untuk sendiri. Bagiku teman bisa jadi calon-calon musuh, friends can be enemies waiting to happen. Bagiku percaya sepenuhnya pada orang asing berarti siap untuk kecewa dan disakiti. Temanpun bisa jadi hanya sekumpulan manusia yang merasa mengerti tentangmu dan mulai memaksakan apa yang mereka pikir baik untukmu, semacam versi lain dari orang tua. teman juga yang membuatmu harus terikat dengan berbagai aturan moral seperti harus memusuhi musuh mereka, harus berkumpul setiap saat setiap waktu, harus berhobi sama, harus berpaham sama, harus sama, sama dan sama. Dan sayangnya aku beda. Pengalaman mengajariku banyak sekali contoh tentang hal itu, entah yang terjadi padaku, atau pada orang-orang disekitarku. Tapi aku sempat terkejut jika orang berkata aku terlihat sendirian.

Tapi ironisnya, disinilah aku, duduk sendiri menatap langit yang bahkan tidak memiliki apapun untuk ditatap. Mungkin kawan baruku itu benar, aku terlihat sangat menyedihkan.

Ah entahlah. Yang kutahu adalah aku hanya sedang menjadi diriku sendiri, bukan lelaki penggemar hingar bingar dan hura-hura, bukan manusia yang berpikir santai dan bisa menjalani hidup dengan tanpa beban, bukan manusia yang bisa menjalani semuanya seperti apa yang didepan mata. aku seorang lelaki penuh pemikiran, terlalu banyak mikir malah. Dan aku sangat menikmati kesendirian, karena tak ada yang akan datang dan menikammu dari belakang. :)

March 18, 2011

Menggantung dalam mimpi

"Aku sayang kamu."

Aku menyesal telah mengatakan kata itu. Kata yang seharusnya kutelan bersama semua impianku, kutelan dan kucerna dalam larutan asam logika dan hilang menjadi nutrisi penguat hati. Kata yang seharusnya kubiarkan tercekat dalam tenggorokanku. Kata yang akhirnya merusak semuanya.

Dan dia diam menatapku yang lepas kendali barusan. Sikapnya yang tadi begitu perhatian akan perubahan sikapku kini berubah. Dia hanya diam.

Dia tiba-tiba tersenyum. "Terima Kasih..".

Aku tertegun. Terima kasih? Sejenak kucoba mengingat kata kunci yang kuucapkan itu. Aku sayang kamu. Memang tak bersifat pertanyaan atau meminta jawaban, namun entah kenapa ada yang janggal dengan jawaban itu. Terima kasih?

"Aku ga bisa dengan kondisiku saat ini," katanya. "Aku ga bisa jawab sekarang..".

"Aku ga butuh jawaban," kataku berlogika. "Aku bilang aku sayang kamu, dan itu sudah cukup. Asal kamu tahu, itu sudah cukup."

Kami diam. Dia dengan pikirannya, aku dengan umpatan ke diriku sendiri. Kenapa dari sekian juta kata yang kuketahui, kalimat itu yang keluar? Sebuah pernyataan putus asa dari seseorang yang tahu dia akan kalah dimedan perang ini.

"Kamu.. yakin?" tanyanya. "Aku takut kamu sakit..".

"Aku ga akan sakit karena aku gak berharap apapun," bantahku. "Asal kamu sudah tahu perasaanku, aku sudah senang." Sebuah kebohongan besar.

"Oh... yauda. Makasih ya." Dia memelukku. Aku mematung. Pelukan ini maksudnya apa? Aku bahkan tak berani memikirkan kemungkinan-kemungkinannya.

"Makasih buat?" tanyaku tiba-tiba. Dia melepas peluknya seraya tersenyum.

 "Makasih buat ngertiin aku. Aku masih belum yakin. Banyak hal yang perlu kita ketahui dari masing-masing kan?"

Rasanya tubuhku larut sekejap menjadi air saat aku berkata," gapapa kok, aku ngerti."

"Besok ada acara? Jalan yuk sama aku?"

Aku mengangguk lemah. "Ayo. Mau kemana?"

Dan lagi-lagi aku harus membungkam semuanya. Membiarkan semuanya menggantung hampa dalam langit-langit mimpi, menggantung dan menggantung, sampai tali harapan itu putus dan menghujamkan semuanya ke tanah realita.

Sudah bisa terbayang hatiku berserakan nantinya.

Padi - Semua Tak Sama

Dalam benakku lama tertanam
sejuta bayangan dirimu
Redup terasa cahaya hati
Mengingat apa yang telah kau berikan

Waktu berjalan lambat mengiring
dalam titian takdir hidupku
Cukup sudah aku tertahan
dalam persimpangan masa silamku

Coba tuk melawan getir yang terus kukecap
Meresap ke dalam relung sukmaku
Coba tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu
Mengalir mengisi laju darahku

Semua tak sama .. tak pernah sama
Apa yang kusentuh apa yang kukecup
Sehangat pelukmu .. selembut belaimu
Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu

Apalah arti hidupku ini memapahku dalam ketiadaan
Segalanya luruh lemah tak bertumpu
Hanya bersandar pada dirimu
Ku tak bisa, sungguh tak bisa
mengganti dirimu dengan dirinya

Semua tak sama .. tak pernah sama
Apa yang kusentuh apa yang kukecup
Sehangat pelukmu .. selembut belaimu
Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu

Semua tak sama .. tak pernah sama
Apa yang kusentuh apa yang kukecup
Sehangat pelukmu .. selembut belaimu
Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu

Sampai kapan kau terus bertahan
Sampai kapan kau tetap tenggelam
Sampai kapan kau mesti terlepas
Buka mata dan hatimu relakan semua

(my days with you will always be one of my beautiful days.. but now it's time for us in our own separate ways. thank you for those nice days, those sweet calls, those puppy eyes, those gorgeous smile.. thank you.)

March 07, 2011

Belajar

Hidup itu belajar.

Belajar berjalan, lalu berlari..
Belajar tertawa, lalu menangis..
Belajar mendengar, lalu mendengarkan..
Belajar melihat, lalu memperhatikan..

Belajar menerima, lalu mencoba memberi.
Belajar bersama, namun tak boleh lupa sendiri.
Belajar tentang cinta, lalu memahami sakit hati.
Belajar menjaga, namun melatih untuk melepasnya lagi.

Aku belajar dari kamu, dia, mereka..
Aku belajar dari yang dulu disebut "kita".
Belajar dan terus belajar,
Karena manusia akan selalu belajar..

Hidup itu belajar,
Karena manusia harus terus belajar.
Karena manusia tak akan bisa berhenti..

Hidup itu belajar,
Dan aku sedang belajar melanjutkan hidup.

March 05, 2011

semua sama saja

Sore itu hujan. Aku dan kawanku duduk berdua di sebuah restoran cepat saji di lantai tiga sebuah gedung pusat perbelanjaan di pusat kota. Setelah memesan makanan dan bersenda gurau, temanku mulai sibuk dengan komputernya sementara aku menyibukkan diri dengan memandang jalanan di dekat gedung dari jendela.

Berbagai macam kendaraan berlalu lalang di hari sabtu itu. beberapa motor nampak memotong jalan, beberapa mobil nampak tidak sabaran. Sebuah tabrakan hampir terjadi antara sebuah motor yang dikendarai oleh gadis berhelm putih dan dua orang pria tak berhelm dengan motor hitam mereka. lalu sebuah ambulans lewat, begitu cepat melintas dan hilang dalam keramaian. Lalu tatapanku tertuju pada seorang lelaki berjaket jins biru pucat yang menumpang mobil pick up berwarna putih. Dia melompat turun, kemudian duduk di tepi jalan untuk sesaat, kemudian sebuah mobil pick up lain berhenti saat lampu lalu lintas berubah merah. Dia melompat ke belakang mobil pick up berwarna hitam itu, lalu perlahan pergi bersama mobil itu, entah kemana.

Sore berganti malam. mobil-mobil dan motor-motor itu semakin ramai meskipun hujan perlahan turun dan semakin deras. Mungkin karena malam ini malam minggu, banyak orang bertekad menembus hujan demi kesenangan tiap minggu yang mereka nanti selama lima hari sebelumnya.

Dalam hati aku berpikir, inikah manusia? Dari lantai tiga gedung pusat perbelanjaan ini, semua nampak sama: mamalia bipedal yang beraktivitas dari pagi sampai malam; Makhluk cerdas yang mendesain berbagai alat-alat pemuas kebutuhannya dan menjadi superior di planet tempat mereka tinggal; makhluk yang butuh makan, tidur, sex, hiburan.

Dari atas, kita tak ada bedanya. Namun anehnya hal-hal yang serupa itu mendadak menjadi begitu berbeda saat manusia-manusia tersebut berhenti sejenak, lalu bertanya pada sesama manusia yang sedang memakai jalan tersebut.

Agamamu apa?
Kamu lahir dimana?
Kamu ras apa?

Lucu. Perbedaan-perbedaan itu bisa membuat kita yang nampak begitu sama dari lantai tiga gedung perbelanjaan menjadi sangat berbeda. Menjadi sangat mengganggu. Menjadi sangat perlu untuk disamakan. Agar damai. agar tentram. Agar tak ada pertikaian. Pertikaian untuk menghindari pertikaian. Lucu.

Aku teringat dengan cerita temanku yang terlahir dalam keluarga yang berbeda agama, yang hidupnya sempat kacau gara-gara perbedaan pandang dalam menafsirkan Tuhan yang menciptakan dunia. Akupun teringat keluargaku yang diwarnai dengan tiga jenis agama, dan betapa awalnya semua begitu kacau dan tidak menyenangkan saat ketiga ideologi itu bertemu. Atau saat aku menjalin cinta dengan seorang malaikat bersuku tiong hoa dan semuanya menjadi tidak seindah bayangan kami saat suku menjadi halangan.

Dari lantai tiga gedung pusat perbelanjaan ini manusia semuanya sama. Mamalia bipedal yang berjalan, beraktivitas, makan, kawin, buang hajat, tidur, dan butuh hiburan. Namun perbedaan-perbedaan bisa membuat semua yang sama itu menjadi beda. dan perbedaan itu jadi perlu dibasmi.

Dari lantai tiga gedung pusat perbelanjaan ini manusia nampak sama bagiku, apalagi bagi Tuhan dari surga sana.