Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

April 25, 2011

Cakrawala

I might not update my blog for some times, sedang nulis novel lagi. wkwkwkwk...

kalo dah jadi ntar saya kasih tahu, without any trouble... maybe.. around 4 months from now i guess. :) if you want the soft copy i'll consider if it was even possible. :p

It is in Bahasa Indonesia though, but i'll try to create the translation as well

clue: judul sementara Cakrawala.

April 18, 2011

Sebuah Nama Dalam Hujan di Hari Kasih Sayang

Ragaku terpuruk dalam kesendirian. ditangan kananku telepon selular yang kumatikan, aku tak mau ada dunia luar yang menggangguku. Di tangan kiriku kalung cincin yang biasa kukenakan dileherku. Badan yang masih dingin karena hujan dan cuaca sejuk sejak sore tadi membuatku mengantuk dan ingin larut dalam tidur.
Aku memutar tubuhku menyamping. Kutaruh kalung itu lurus dengan pandangan mataku. Kutatap bandul cincinnya yang keperakan dalam-dalam. Hujan yang riuh menjadi pengiring hatiku yang mengingatnya kembali. Hormon-hormon ini membuatku mengenangnya kembali. Kupejamkan mataku perlahan.

Ya, aku masih ingat pertemuan kami. Lima tahun yang lalu, tanggal 14 Februari, di hari yang biasa orang sebut sebagai Hari Kasih Sayang, kami bertemu dalam sebuah kompetisi; aku sebagai peserta dan dia sebagai anggota komite penyelenggaranya. Aku berpapasan dengannya didepan lobi. Dia menatapku sesaat,lalu kembali sibuk dengan kertas yang dia bawa. Aku? Aku menatapnya dalam, sangat dalam. Bahkan perlu tepukan dipunggung oleh temanku untuk menyadarkanku.

Setelah itu aku sering memperhatikannya selama even itu berlangsung, sampai pada akhirnya, di saat aku pergi meninggalkan tempat itu. Aku masih sempat melihatnya bercanda dengan teman-temannya.

Aku bahkan tak tahu namanya.

Lima tahun berlalu. Aku masih mengingatnya walau samar. Kadang sahabat atau orang lain mengalihkanku, namun dalam sendiri kadang masih ada rasa penasran tentang dia. Aku ingin bertemu dia, bertanya siapa namanya. Bertanya dimana dia tinggal. Bertanya dan bertanya. Bertanya kapan aku bisa bertemu dia lagi. Dan rindukupun terjawab dengan indah.

Setahun setelah hujan di Hari Kasih Sayang itu, aku mendaftar menjadi salah satu anggota event organizer yang sedang mengadakan acara dikotaku. Disaat aku sibuk dengan agenda acaraku yang padat, aku bertemu dia. Dia datang ke acara ini sebagai pesertanya.

Dan sejenak kemudian langit mulai mendung. Hujan mulai turun. Hujan di Hari Kasih Sayang.
Ya, nasib itu aneh, dan dia mempertemukan kami dengan cara yang aneh. Keanehan yang namun kusuka…
Kali ini aku tak sempat menatapnya. Aku terlalu sibuk dengan tugasku. Maka sejenak kulupakan dia. Sesuatu yang awalnya kusesali, karena setelah acara berakhir aku mencari dia, dan aku tak menemukannya.

Aku bahkan tak tahu namanya.

***

Sore itu diwarnai hujan. Aku menikmati hujan. Sejuk dan dingin. Namun aku jadi harus berbasah-basah dalam keterburu-buruanku. Aku berdiri di depan pintu halte busway, menunggu bis sembari merasakan rintik yang menabuh atap halte.

Bis itupun datang. Pintunya terbuka. Orang-orang segera masuk dan keluar. Dan aku melihatnya.
Detakku seakan berhenti, namun aku masih hidup. Begitu kosongnya pikiranku sampai tanpa sadar aku telah berjalan masuk kedalam bis dan duduk tepat didepannya. Bis mulai berjalan, dan aku mulai bisa bernafas kembali.

Aku hanya menatapnya. Hanya menatapnya. Aku tak berani menyapanya. Bahkan aku tak berani memikirkannya. Aku takut hujan diluar tak dapat menyamarkan suara hatiku yang ingin mengenalnya. Aku diam saja.

Bis berhenti dan dia bersiap keluar. Aku hanya bisa menatapnya. Dan mendadak dia menatapku, seakan mengenali wajahku. Lalu ia tersenyum. Anak yang duduk disebelahnya ikut tersenyum, senyum yang sama-sama hangatnya. Senyum yang lalu dilanjutkan dengan kata-kata Mama, ayo cepat pulang, aku kangen Papa sambil tangan mungilnya menggandeng.

Bis mulai bergerak kembali menembus hujan yang mendadak reda, meski mendungnya masih memayung. Setelah lima tahun akhirnya aku berjumpa lagi dengannya. Lagi-lagi rinduku terjawab. Namun kali ini jawabannya tak lagi indah.

Aku bahkan tak tahu namanya.

***

Aku terlentang. Kini mataku menatap langit-langit kamarku. Dalam hati aku mengumpati hujan, mengutuk dingin, menyesali cincin perak yang tak pernah berhasil kuberikan itu, dan akhirnya jadi menyalahkan nasib. Ya, nasib memang aneh.  Karena tepat lima tahun setelah pertemuan pertama kami, di Hari Kasih Sayang kala hujan itu, aku bertemu lagi dengannya. Dan kebetulan hari ini tanggal 14 Februari.

Aku bahkan tak tahu namanya.

April 16, 2011

Untitled - Surya dan Chandra

Tahu ga Yank, kalo Bulan itu butuh Matahari?
Ga tahu Yank. Emang kenapa kok bulan butuh matahari?
Karena..

Surya membuka matanya dan mendapati dirinya berada di sebuah padang rumput yang begitu luas. Ia menatap sekeliling. Tak ada apapun, hanya hamparan rumput hijau yang teramat luas yang dipayungi awan putih dalam lautan langit biru.

Dimana aku?

Tiba-tiba sesuatu mengejutkannya. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul sebuah pintu kayu besar didepan Surya. Ia menatap pintu itu. Tak ada bangunan dibelakangnya. Tak ada tembok. Hanya pintu kayu besar berdiri ditengah padang rumput.

Dalam kebingungan perlahan dia menyentuh gagang pintu itu. Pintu itu terbuka perlahan, namun bukan padang rumput yang terlihat didalamnya. Surya melihat sebuah ruangan besar yang diterangi cahaya dari mozaik-mozaik yang menghias dinding disekitarnya. Surya sedang berada di gereja.

Deretan kursi kayu berpelitur mengkilat itu berjajar rapi. Diantara dua deretan kursi panjang itu membentang karpet merah tua yang menjembatani pintu kayu besar tempatnya tadi berdiri ke arah altar kayu dengan warna pelitur mengkilat yang sama.

Ada sesosok orang yang duduk di dekat altar, di deretan kursi paling depan itu. Sesosok lelaki berjas hitam.

Rasa takut dan bimbang reda sejenak melihat sosok itu. Surya berjalan menyusuri karpet merah menghampiri sosok lelaki itu, berharap bisa mendapatkan jawaban atas segala hal aneh yang barusan ia lihat, atau paling tidak bertanya dimana ia berada sekarang. Namun isak tangis lelaki itu menghentikan langkah Surya. Ia terpaku tepat di belakang lelaki itu.

"Kenapa kamu harus pergi seperti ini..", isaknya. Surya seperti mengenal suara itu. Dengan ragu ia melangkah menghampiri sosok itu. Ia hampir menyentuh pundaknya saat lelaki itu kembali terisak.

"Maafkan aku Surya.. Maafkan aku...".

Surya tertegun. Surya? Itu kan.. Aku?

Jantung Surya berdegup kencang saat tubuhnya sejenak hilang keseimbangan. Tiba-tiba berjuta gambar dalam otaknya muncul dan berkelebat bagai kilasan-kilasan film. Surya segera berpegangan pada pegangan kursi disampingnya saat semua kilasan-kilasan itu seakan mengguyur masuk kedalam otaknya.

Hai, aku Chandra. Kamu Surya kan? Maaf ya tadi macet.


Aku sayang kamu Ya.. Will you be my boyfriend?


Beibh.. Aku.. Aku harus ngomong sesuatu..


Maafin aku Beibh.. Aku.. Aku ga bisa gini terus.. Mama pengen aku cepet nikah dan..


SURYA! Beibh, dengerin aku sayang.. plis.. BEIBH!

Dan sebuah decitan keras diriingi suara tabrakan keras menghamburkan imajinasi Surya seketika. Ia ingat segalanya.

"Saat itu.. Saat itu aku mencoba meraih telepon.. Telepon selulerku," katanya terbata-bata. "Aku-aku mencoba mematikannya agar kau tak bisa meng-hubungiku. Dan tiba-tiba.. ada cahaya.. cahaya lampu terang sekali... Sebuah truk... Menghantam mobilku."

Surya terduduk di karpet merah gelap itu. "Aku... mati," bisiknya pelan. Ia menatap ke arah altar di depannya. Sebuah meja seukuran peti mati telah kosong. Mendadak sebuah peti mati hitam muncul diatas meja itu. Orang-orang perlahan bermunculan dalam posisi duduk ataupun berdiri. Mereka semua memakai baju hitam. semuanya terlihat sedih. Suryapun tersadar.

"Ini.. pemakamanku," katanya sambil tersenyum hambar. Surya mencoba berdiri kembali meski lututnya masih terasa lemah. Gereja itu kembali kosong dan hanya menyisakan sosok Chandra yang terisak sendiri.

Ia menghampiri Chandra dan duduk disebelahnya. "Maafin aku, Surya.. Maaf..." ratapnya sambil tertunduk. Surya menatap Chandra dalam. setangkai bunga lely ada dalam genggaman Chandra. Bunga kesukaan Surya.

"Aku sayang kamu Surya.. Sumpah aku cuma sayang kamu.. Kenapa kamu ga mau dengerin aku... Kenapa kamu harus pergi.. Kenapa Surya..".

Aku juga sayang kamu..

Surya perlahan memeluk Chandra dari samping tanpa kata. Mereka berbagi diam dan kesedihan di dalam gereja itu sampai tubuh Surya perlahan lenyap seiring dengan mentari yang mulai tenggelam.

***

Sore itu gereja begitu sepi. bayang-bayang mozaik membias mewarnai karpet merah tua dan deretan kursi coklat yang tertata rapi.

Di dekat altar Surya dan Chandra baru saja menyelesaikan doa mereka. Chandra menatap Surya yang masih memejamkan matanya.

"Tahu ga artinya Chandra?"

Surya membuka matanya. "Hmm... Bulan?"

Chandra tersenyum. "Kalau Surya?"

Surya mendengus sambil tersenyum. "Matahari. Kenapa sih?"

"Tahu ga Yank, kalo Bulan itu butuh Matahari?"

Surya menatap heran kekasihnya. "Ga tahu Yank. Emang kenapa kok bulan butuh matahari?"

Chandra tersenyum lalu menggenggam tangan Surya. "Karena bulan tak bisa bersinar tanpa matahari. Karena bulan akan selalu butuh matahari. Karena Chandra butuh Surya."

Surya tersenyum.

Dan seminggu setelah itu, Surya meninggal karena kecelakaan di tikungan di dekat gereja itu.

 ..

April 14, 2011

Defensif

Pembicaraan kami akhirnya tak berujung kemanapun. Permintaannya untuk sebuah ciuman selamat malam tak kuberikan. Kami baru kenal beberapa hari, tentunya bagiku wajar jika aku menolak memberikannya ciuman selamat malam, meski hanya lewat telpon.

"Kenapa kamu harus defensif sih? Ayolah, longgarkan saja batas-batas itu, biarkan aku menyelami isi hatimu," katanya.

Aku diam sejenak. "Aku.. Aku tidak tahu," jawabku kemudian. "Aku hanya melakukan apa yang sekiranya perlu. Bagaimana aku bisa mengijinkanmu menyelami hatiku? Siapa kamu?"

"Kenapa kau begitu takut? Kau kan lelaki?"

"Apakah lelaki harus terus-terusan mengorbankan hati? Sejak kapan kami harus jadi sekumpulan masochist perasaan?"

"Karena lelakilah yang harus mengejar, lelakilah yang harus mendapatkan."

"Dan wanita harus dirumah, masak, macak, manak. Begitu?"

"Enak saja! Ini emansipasi! Wanita berhak jadi apa saja..."

"Termasuk berhak menindas lelaki, begitu?"

Dia diam. Akupun diam. Hanya rintik hujan diluar kamarku yang merayapi keheningan.

"Tak semua wanita itu buruk, Di.." katanya pelan.

"Dan tak semua lelaki itu sanggup memberikan semua yang wanita itu inginkan."

"Aku tahu. Namun sampai kapan kamu defensif terus?"

"Sampai aku sanggup menyembuhkan perasaanku."

"Lalu kenapa tak kau ijinkan orang lain masuk dan menyembuhkannya?"

"Atau malah membuat lukanya semakin besar."

"Maaf," katanya. "Aku lupa kalau kamu begitu perasa."

"Aku yang minta maaf," balasku. "Tak seharusnya kita bicara terlampau dalam seperti ini. Kita baru kenal, dan aku rasa diskusi seperti ini hanya akan membawa pertemanan kita ke arah yang tak baik."

"Aku tahu," jawabnya. "Maaf ya?"

Aku tersenyum. "Ah sudahlah. Let's talk about something else, shall we?"

"Tapi cobalah membuka hati itu. Who knows..".

Aku diam. "It's not easy, you know..".

"I know. Sorry."

"That's okay."

Bulan Hujan dan Bintang Jatuh

Saat aku membeku dalam dekap sang bulan malam,
Akankah kau datang, berkunjung barang sejenak saja?
Akankah kau meminjamkan selimutmu yang kelam,
Dan mendendangkan lagu yang membuatku kembali terlena?

Akankah rintik hujan itu akan ikut bernyanyi bersama suaramu,
Menghibur hatiku yang telah terikat di beranda mimpi,
Tertambat erat dalam batas anganku?
Akankah hariku akan terus seindah ini?

Dan lihatlah, gemintang berkelip manja,
menyindir kesendirianku dalam fana, membayangkanmu..
Sudikah kau permalukan mereka yang tertawa?
Dengan kehadiranmu..?

Aku telah ada di tepi bintang jatuh, menantimu.
Maka lekaslah datang, Sayangku..
Karena sepertinya bulanpun mulai letih menggantikan tempatmu.

April 11, 2011

Two Years Before April 13, 2011

Two Years Before 12 April 2011

You used to be so upset when I took my bike alone without my brother's help. I've grown up, I said. And you understood. But I could se that u were worried.

And you always made me and bro and all of the family got panicky! You used to be so pushy about your own health, traveling so far just for earning more money though we would forbade you. You were so picky about food too.

Do you remember the times when you got so angry about me playing with your favorite chickens? You loved chickens so much you made a your own chicken farm on backyard and Mum was always upset about how smelly that animal was. Though it was not there anymore, we still keep chickens. I dunno, maybe 'coz it can somehow make us feel that you are still here.
And I dunno, I think I inherit your hobby. I like chickens too, and cats, and dogs. Like you. :)

And did you remember the last time we talk? It was at the hospital. We talked about things and you said you would come to my graduation day. That was so sweet, Dad... Though you couldn't make it, but it was sweet.

I used to hate you. You never there, you never really support me when i'm down, you often forgot in what grade I was. You made Mum cried. You come and gone, and I never had a chance to tell you that I missed you, that I wanted you to stay longer.

It's been two years, and still couldn't achieve my dreams yet. I feel.. bad. I'm sorry. I wish you were here to hear me complaining about stuffs, and then you would be wise and said that everything has it own time, like what you always said, and I'll get pissed off like always. LOL

I miss you, Dad.. I never had the chance to tell that.. I miss you.


Simple Plan - Perfect

Hey Dad look at me
Think back and talk to me
Did I grow up according
To plan?
Do you think I’m wasting
My time doing things I
Wanna do?
But it hurts when you
Disapprove all along

And now I try hard to make it
I just want to make you proud
I’m never gonna be good
Enough for you
I can’t pretend that
I’m alright
And you can’t change me

‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be Perfect
Now it’s just too late
And we can’t go back
I’m sorry
I can’t be Perfect

I try not to think
About the pain I feel inside
Did you know you used to be
My hero?
All the days
You spent with me
Now seem so far away
And it feels like you don’t
Care anymore

And now I try hard to make it
I just want to make you proud
I’m never gonna be good
Enough for you
I can’t stand another fight
And nothing’ alright

‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be Perfect
Now it’s just too late
And we can’t go back
I’m sorry
I can’t be Perfect

Nothing’s gonna change
The things that you said
Nothing’s gonna make this
Right again
Please don’t turn your back
I can’t believe it’s hard
Just to talk to you
But you don’t understand

‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be Perfect
Now it’s just too late
And we can’t go back
I’m sorry
I can’t be Perfect

‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be Perfect
Now it’s just too late
And we can’t go back
I’m sorry
I can’t be Perfect

April 03, 2011

Untitled Prayer

Ya Tuhanku yang Maha Tahu,
Sesungguhnya hatiku telah sering terluka karena anugerahMu yang bernama cinta,
Sesungguhnya aku hanya manusia yang mengharapkan hidupku diwarnai oleh cinta kasih sesamaku,
Dan agar aku bisa saling mengasihi, memberi, dan menyayangi seperti yang Kau harapkan adanya.

Maka bila suatu saat nanti Kau mengijinkanku untuk mencintai salah satu mahluk ciptaanMu lagi, Tuhanku,
Jadikanlah makhluk itu seindah-indahnya dan sebaik-baiknya makhluk yang Kau ciptakan untuk menjadi pendampingku,
Bukakanlah hatiku agar dapat tulus menyayangi, memberi, dan menjaganya selalu,
Lancarkanlah jalan kami agar cinta kami bukan menjadi dosa di mataMu.

Ijinkanlah aku untuk tulus menyayangi dia,
Dan buatlah agar kasih sayangku bukan menjadi hal yang percuma.
Dan restuilah perasaan kami dalam jalan yang sebenar-benarnya,
Dan jadikanlah hati kami kekal dan tak tergantikan oleh ciptaanMu yang lainnya.

Karena hanya Engkaulah Tuhanku, yang Maha Memberi dan Maha Mengabulkan.

Amin.

...

April 02, 2011

#kepadaA (puisi hasil RT-RTan)

   Sudahkah kau baca pesan yang kutitipkan pada dedaun di dekat jendelamu?

   Pesan sederhana yang dibawakan pipit-pipit kecil yang selalu hinggap disitu, bernyanyi membangunkan pagimu. Bacalah pesan itu sebelum embun membasahkannya lalu pesanku tak dapat terbaca. Lalu balaslah, cepatlah balas pesan itu. Karena aku.. Aku telah menunggu begitu lama.

   Tahukah kau jika menunggu balasmu teramat menjemukan? Hingga aku harus membunuh waktu terlebih dahulu.

   Namun waktu itu selalu menghantuiku, mengingatkanku pada batas-batas kita, garis yang memisahkan aku dan kamu. Batas yang pada akhirnya memberi jarak pandang mata kita. Lantas rindu kian meraja. 

   Karena itu lekaslah balas pesanku. pesan sederhana yang kutitipkan dalam dedaunan didekat jendelamu. 



terima kasih kepada Nova Ridha Aini yang mengijinkan saya menginfiltrasi kegalauannya dalam hashtag #kepadaA 

Adi Wicaksono - adyromeo.blogspot.com - http://twitter.com/#!/Adysaurus
Nova Ridha Aini - http://superdhruva.wordpress.com - http://twitter.com/#!/superdruva
 
...