Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

September 23, 2011

Namaku Abu, Siapa Namamu?

Aku menatap sosok itu berdiri membelakangiku menatap arakan awan di tepi padang nan luas. Tubuh tegapnya kira-kira setinggi aku, dengan baju dan rambut abu-abu.

Aku menatap sekeliling. Hanya aku dan dia yang berdiri di padang luas itu. Aku secara naluri menghampirinya.

"Kamu siapa?" tanyaku pada punggung itu. Ia tak menoleh, hanya menggerakkan bahunya pelan.

"Aku? Namaku Abu. Selamat datang Saudaraku, di alam Abu-abu!"

Aku sedikit terkejut dengan suaranya. sekilas mirip suaraku. "A.. Abu-abu?"

"Kenapa kau terkejut?" selanya tiba-tiba. "Apa karena kau tak pernah melihat warna abu-abu? Kamu suka warna abu-abu kan?"

Aku diam sejenak "Aku.. Aku tidak begitu suka abu-abu. Warna nanggung."

Aku bisa mendengar gelak tawanya. Tanpa menoleh ia menghela nafas panjang.

"Warna abu-abu adalah satu-satunya warna yang ada di dunia ini," katanya.

"Maksudmu? Apa kamu tidak lihat padang rumput di sekitar kita ini? Semuanya hijau, segar, langit berwarna biru, bunga-bunga di samping kakimu itu.. mereka berwarna merah!"

"Abu-abu itu warna yang unik, Saudaraku. Dia ada di mana-mana, tersamarkan dengan warna yang lain. Dialah komponen dasar dunia ini. Lihatlah sekelilingmu, Saudaraku. Mereka mungkin terlihat hijau segar, bunga-bunga itu mungkin terlihat merah dan cantik, langit itu mungkin terlihat biru indah.. Namun sebenarnya mereka abu-abu, Saudaraku!"

Dalam tanda tanyaku dia melanjutkan ceramah anehnya.

"Tak semua yang putih itu suci, tak semua yang hitam itu kelam. Ada area abu-abu di sekitar kita, area abu-abu tak terdefinisi yang biasanya terlewatkan oleh mereka-mereka yang terlalu sering dicekoki oleh spektrum hedonisme dunia, mereka-mereka yang terlatih untuk berpikir lewat kepala orang lain, bukan dengan kepala mereka sendiri."

"Tapi abu-abu itu warna penuh ragu! dia tidak hitam, tidak putih! Tak ada ketegasan di situ, tak ada keberanian di situ. Abu-abu itu warna aman karena dia bisa memutih atau menghitam."

Dia tertawa lagi. Kali ini tawanya begitu keras sampai dia harus membungkuk menahannya meledak. Aku merasa harga diriku terlecehkan, namun rasa ingin tahuku semakin besar.

"Karena tak ada yang benar-benar putih, atau hitam, Saudaraku," lanjutnya. "Semuanya itu Abu-abu. Kenapa ada pencuri? Mereka butuh uang. Untuk hidup. bertahan hidup itu putih. Mencuri itu hitam. Putih dan hitam? Abu-abu. Seorang wanita membunuh lelaki yang ingin memperkosanya. Membunuh itu hitam, bertahan itu putih. Hitam dan putih? Abu-abu juga Saudaraku! Tak ada malaikat di dunia ini, tak ada yang putih. Iblis juga tak ada di sini, tak ada yang hitam. Yang ada hanya kita, Saudaraku... Ciptaan Tuhan yang abu-abu."

"Tapi jika semuanya abu-abu, bagaimana kita bisa menentukan salah atau benar?! Bagaimana kita bisa tahu mana yang kelam dan mana yang suci?" tantangku. Aku geram mendengarnya menyerang semua fondasi pola pikirku, namun aku juga takut akan kebenaran yang tersembunyi di situ.

"Karena Benar atau Salah itu ada dalam kepalamu, Saudaraku. Kepala Kita!" katanya sambil menunjuk pelipis kirinya. "Mana kau tahu mana yang benar mana yang salah? Siapa kau sampai berhak menentukan mana yang benar dan mana yang salah? begitu pula warna, Saudaraku. Terlalu benyak warna kau lihat sampai kau lupa kalau pada dasarnya mereka abu-abu."

Aku meggelengkan kepala dalam kebingungan. "Aku tidak paham maksudmu. Bagaimana bisa rumput hijau ini kau bilang a...".

Kata-kataku terputus saat aku melihat sekelilingku. semua yang tadinya hijau, merah, biru, perlahan meluluh, memudar... Dan berubah. Semuanya berubah menjadi abu-abu.

"Hey! Apa yang ter...".

Kata-kataku kembali tercekat dalam tenggorokanku. Lelaki itu kini berada di hadapanku. Rambutnya abu-abu gelap, matanya abu-abu. Tangan kanannya menggenggam bola bersayap dan berukir mirip matahari berwarna putih, serta bola sabit serupa bulan berwarna hitam pekat. Wajahnya... Dia adalah aku!

"Kaupun juga abu-abu, Saudaraku," katanya sambil tersenyum.

Aku sontak terbangun dari tidurku. Dengan nafas ngos-ngosan dan keringat bercucur deras aku menatap sekeliling. Semua masih penuh warna. Tiba-tiba aku sadar. Selimutku warnanya abu-abu.

-------------------------------------

Thanks for Ash for inspiring me. Ash = abu. Grey = abu-abu. :p

September 19, 2011

Catatan Korban Pengeboman

Aku terbangun dengan pusing yang teramat sangat. Aku menatap sekitarku: asap, dan teriakan-teriakan yang bercampur dengan bunyi gemeretak api yang membakar kayu. aku mencoba berdiri dengan kakiku sembari mencoba melihat dengan seksama.

aku melihat beberapa orang berteriak minta tolong, beberapa mobil pemadam kebakaran dengan sirinenya yang meraung keras hadir kemudian. Petugas pemadam kebakaran mulai turun dan menyiram api yang muncul dari beberapa sudut. aku menatap sampingku dan melihat sebuah bangkai mobil terbakar hebat dengan reruntuhan bagian depan lobi hotel serta asap hitam dan bau anyir. Aku lalu melihat lampu sirine sebuah ambulans yang datang dari kejauhan. Tiba-tiba kepalaku mendadak pusing. Kilasan-kilasan kejadian mendadak berkelebat di dalam pikiranku.

Waktu itu siang hari, aku ke sini setelah mampir ke toko perhiasan. aku begitu deg-degan.. aku melihat sosok itu, dengan tas ransel hitam besar. Ia menatapku dengan mata yang menyiratkan ketakutan.. dan aku baru sadar kalau...

Segera aku tersadar lalu berbalik ke tempat aku bangun tadi. Begitu sampai di situ aku tertegun melihat genangan darah, dan dua sosok diantara debu dan asap. Sosok perempuan menangisi tubuh seorang lelaki yang terbujur kaku.

Itu.. Tubuhku.

Kilasan-kilasan itu kembali muncul di kepalaku diiringi raungan sirine yang terdengar bagai jeritan sakit dalam baur aroma darah dan asap.

Hari itu Minggu. Aku berencana melamar dia di hotel tempat pertama kami bertemu waktu diklat pegawai baru beberapa tahun yang lalu itu. aku sudah menyiapkan cincin cantik yang akan kuberikan padanya. saat kami berjalan memasuki lobi, aku melihat sosok mencurigakan dengan tas ransel hitam besar. Ia menatapku dengan mata yang menyiratkan ketakutan. Aku dan dia sudah duduk di ruang makan saat aku melihat lagi sosok itu lewat. Entah kenapa perasaanku tidak enak. aku memutuskan mengikuti sosok itu.. Dan saat pria itu berdiri di ujung lobi, cukup jauh dariku, dia menatapku lagi dengan senyum. Lalu...


"Ledakan," bisikku pelan. Pria itu meledakkan dirinya sendiri. Aku menatap tubuhku yang penuh darah, dan dia yang menangisiku. Kilau sincin yang harusnya kuberikan padanya tertangkap mataku tergeletak tergenang darah di dekat tanganku.

HAtiku seakan hancur di situ. semua rencanaku dengan dia hancur. Aku begitu ingin menyentuh pipinya yang berurai air mata, mendekap tubuhnya yang dibasahi darahku saat aku merasakan seseorang di belakangku. Aku menoleh. Sosok berjubah hitam berdiri begitu megah di belakangku. Wajahnya tertutup tudung hitam gelap.

"Tinggal kamu," katanya dengan nada tegas, namun begitu tenang. Dia lalu berjalan pergi. Bagai terhipnotis aku berjalan pelan mengikuti sosok berjubah hitam di depanku melewati puing-puing. Ingin aku menoleh dan menatapnya untuk terakhir kalinya, namun semua sudah terlambat.

Sosok itu berhenti lalu membentangkan sayap hitamnya yang begitu lebar dari jubahnya. Bulu-bulu hitam pekat bertaburan. Dia lalu mengulurkan tangan halusnya dari balik jubah hitam itu, mengajakku mendekat.

"Ayo, kau sudah ditungguNya."

Aku meraih tangannya.

Masih sempat terlihat tangisnya di mataku saat malaikat maut membawaku pergi.

September 14, 2011

Secangkir Kopi di sela Gerimis Bulan September

Di sudut kafe ini aku menerawang jauh, menatap gerimis yang setia mendendangkan melodi kesendirian. Asap dan aroma kopi susu yang kupesan semerbak menjelajah.

Gerimis selalu menjadi pengingatku padamu. Seperti kopi susu di tengah kesibukanku kau datang dan memberikan suntikan kaffein yang membuatku bersemangat. Seperti jam weker alami yang terus berbunyi, mencoba membangunkan kenangan lama yang tertidur pulas. Kadang weker itu gagal, dan si kenangan akhirnya lelap. Namun seringnya tabuhan nada-nada alam itu berhasil membangunkannya, membuatnya kesal dengan kenyataan kalau saat ini semua tak seperti sedia kala, seperti saat aku terbangun empat jam lebih telat dari jam masuk kantor, tepat saat si Bos inspeksi.

Ah, gerimis.. Betapa setia kau membangunkan kenangan itu. Bahkan secangkir kopi susu yang membuatku mulai ngantuk di depanku ini tak bisa membuat kenangan itu ikut tidur dalam domain gelap di hati.

Aku mengalihkan pandanganku pada segelas kopi susu yang tinggal setengah. Bayanganku sedikit terpantul di genangan coklat tuanya. Bayangan yang kesepian. Bayangan yang memantulkan kesedihan dan duka. Bayanganku.

Aku lalu menarik nafas panjang sambil berdendang beberapa lagu yang akan kunyanyikan di acara nanti, sesekali sambil melirik gerimis. Tanpa sadar aku menyanyikan lagu-lagu cinta dan pernikahan itu untuk pernikahan kita, UNTUK KITA.

Ah indahnya. Pasti pesta itu akan benar-benar meriah, aku yang bernyanyi dan kau tersipu dalam baluran gaun cantikmu, menatapku dalam cinta, dalam ikatan selamanya...

Aku menghela nafas sembari menatap gerimis yang perlahan memudar mengiringi pudarnya anganku akan lagu-lagu cinta kita. Aku berdiri sambil meminum setengah gelas kopi susu yang tersisa, menelan pula bayangan duka yang terpantul di dalamnya. Aku merapikan dasi dan jasku, tersenyum manis, lalu berjalan santai menghadiri acara pesta pernikahanmu.

Yah, paling tidak aku masih bisa menyanyikan lagu cinta itu UNTUKMU.

September 13, 2011

Memaafkan Dia, Dan Dirimu Sendiri

"Masalahnya aku ga bisa! Tahu sendiri aku bakal pindah tahun depan, gimana mau menjalin hubungan coba?! Aku cuma pengen bahagia, bahagia yang benar-benar bahagia! Ga cuma hubungan singkat yang hanya akan menambah daftar sakit dan mantan!"

Hening lalu menyergapi kami. Aku duduk diam dalam kegalauan yang menjadi, kawanku dengan tenang menikmati segelas tehnya. Ia lalu fokus melihat kartu-kartu di depannya.

Pertemuanku dengan sosok itu menghancurkan semua benteng berbahan dasar logika dan pikiran yang kubangun. Sosok yang awalnya hanya menjadi "obat mata" di kala kejenuhan hiruk pikuk konsultasi tarot komunitasku yang mendadak mengalir sedikit lebih jauh, dan membawa sepucuk harap akan cinta. Ya, Cinta. The most common lies ever.

Temanku melanjutkan bacaannya. "Memang benar, sepertinya kamu sudah tidak tertarik pada hubungan cinta untuk saat ini...".

Hatiku mengamininya. Aku memang tidak tertarik dengan hubungan yang mengikatku di sini. Aku akan pergi, pergi jauh sekali, dan aku tidak mau ada yang sakit melihatku pergi.

"Tapi alasannya bukan karena kamu akan pergi, tapi karena kamu takut terluka lagi."

Aku diam. sejuta tanya semburat keluar. Benarkah aku takut sakit? Sakit apa? Karena mantan kekasihku yang memutuskanku dengan alasan konyol itu, setelah setahun dua hari bersama?

 "Mungkin..", kataku tiba-tiba. "Mungkin kamu benar. Aku takut. Aku takut rasa sakit itu kembali. Layaknya komputer, dia yang dulu benar-benar meluluh lantakkan semua programku, menghancurkannya sampai ke dasar. Aku yang kini masih mencoba menginstall ulang beberapa program itu, namun..".

"Namun kamu sengaja memasang anti virus berlapis agar kejadian itu tidak terjadi lagi?"

Diamku mengiyakan kata-katanya.

"Namun sampai kapan kamu menekannya? Sudah sembilan bulan kamu sendiri, dan semua anak komunitas tahu kalau kamu itu bukan tipe yang tidak bisa hidup tanpa cinta dari pasangan. Dan selama kamu berpikir kalau apa yang akan kamu bangun itu akan hancur seperti dulu, kamu tidak akan pernah membangunnya. Kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu cari, yaitu kebahagiaan."

"Lalu apa yang harus aku lakukan? aku benar-benar ga tau. Aku bingung.. Terlalu banyak hal yang harus aku selesaikan, terlalu banyak hal yang harus kupikir..".

"Ambil satu kartu lagi."

Aku mengambil selembar kartu, lalu membukanya. Ace of Cups - Gambar sebuah piala cantik dengan lima pancuran air mengalir ke bawah telaga yang indah. Seekor burung dara membawa roti komuni di atas cangkir itu. Kartu itu bermaknakan cinta, awal sesuatu yang baru yang berhubungan dengan doamin rasa, area yang sudah aku bentengi sedemikian rupa ini.

"Kamu harus belajar mencintai yang sudah terjadi. Percayalah bahwa kamu berhak bahagia. Maafkan dia yang dulu menyakitimu, dan maafkanlah dirimu sendiri juga karena telah gagal untuk kesekian kalinya."

Aku terdiam. Ya, mungkin aku salah. Aku selalu beranggapan bahwa cinta sejati adalah cinta yang memberi tanpa batas, tak mengharap kembalian, benar-benar memberi dengan tulus, bahkan bisa berbahagia meskipun dia yang kita cintai bisa bahagia tanpa kehadiran kita. Dan aku.. saat aku merasa aku gagal menjalankan konsep cinta sejati itu, aku mulai menghukum diriku sendiri dengan tidak mengijinkanku mencintai orang lain. Aku merasa aku tak layak, aku merasa aku tak pantas untuk merasakan cinta selama cintaku masih belum bisa memberi dengan mutlak.

Aku menarik nafas panjang. Aku merasakan rasa berat, sakit, luka, bayangan dia yang dulu, bayangan dia yang sekarang... semuanya mengalir keluar diiringi hembusan nafasku.

"Makasih ya," kataku dengan senyum lega pada temanku.

"Sama-sama. Aku juga makasih lho ya kamu sering bantu aku pake kartu juga."

Kami tersenyum, lalu kembali bercanda seakan semuanya tak pernah terjadi.

September 04, 2011

Sajak Tepi Samudera

Di tepi samudera ini aku berdiri,
Menatap larutan kenangan bercampur getir
Membelai pelan jiwa yang berkawan sendiri..

Aku menatap jauh, melihat garis-garis kenangan yang dulu,
Membingkai ujung laut, memaknai angin semilir..
Luka, tawa, semua tercampur dalam langit kelabu..

Mungkin semua berat buatku,
Membiarkan masa lalu memudar dalam luka yang berdesir,
Menahan perihnya dalam sendu..

Namun ketika tiba saatnya,
Mungkin semua akan baik-baik saja,
Mungkin kita bisa kembali tertawa,
Mungkin luka hati ini tak lagi akan terasa..

Atau mungkin kau akan tetap berlalu..
Mungkin laut tak akan bisa menghapuskan jejakmu..
Mungkin kita akan tetap mengutuk nasib yang tak pernah setuju,
Mungkin kita akan tetap berharap suatu saat akan satu..

Atau mungkin kita akan saling lupa, sibuk dengan dunia kita..
Kau dengan duniamu, Aku dengan kenanganku..
Berdua, seperti tak pernah terjadi sebelumnya..
Pelan-pelan meluruh dalam waktu..

Di tepi samudera angan ini, aku berdiri
Menatap lautan kenangan dalam sendiri..
Tiba-tiba tetes-tetes hujan membasahi..

Hatiku menangis.

September 02, 2011

sedang (tidak) butuh cinta

Pernahkah kau memesan sebuah kudapan manis yang nampak cantik di buku menu namun kau tak bisa menghabiskannya? Kudapan itu begitu cantik, rasanya begitu nikmat, namun entah kenapa lidahmu merasa beberapa suap sudah cukup. Kau lalu meninggalkan sisa kudapan cantik itu di atas piring dalam kondisi berantakan, menunggu isinya dibuang ke tempat sampah. Mungkin seperti inilah aku saat ini dalam menyikapi cinta: sebuah kudapan manis menggoda yang tak akan mungkin bisa kuhabiskan.

Aku benci mengakui kalau saat ini aku benar-benar butuh cinta. Bagiku orang yang dimabuk cinta sampai rela melakukan segalanya itu bodoh; mereka lupa kalau dahaga mereka bisa dipuaskan dengan hal lain, tak perlu melulu cinta. Tapi aku salah. Cinta itu punya rasa berbeda. Es teh manis itu beda rasanya dengan es teh tawar. Beda juga rasanya dengan teh manis hangat. Dan dahaga minuman dingin tak bisa dipuaskan dengan minuman panas.

Namun lagi-lagi aku sadar: cinta itu tak ubahnya sebuah kudapan cantik. Begitu indah dengan warna-warni dan topping yang sangat artistik. Sesuap saja bikin melayang ke langit. Namun beberapa suap berikutnya terasa sama.. Dan akhirnya jadi eneg. Dan akhirnya kudapan itu tidak habis.

Sudah dua puluh tujuh piring kudapan yang tak habis kumakan. Semuanya hadir dengan warna-warni dan bentuk yang berbeda. Merekapun menawarkan rasa-rasa berbeda, meski intinya sama: manis-manis eneg. Dan rasa eneg itulah yang membuatku menyerah menghabiskannya. Rasa eneg itu jugalah yang membuatku takut untuk menikmati sepiring kudapan manis lainnya.

Dan kini, aku berada di sekitar orang-orang yang sedang menikmati kudapan mereka. Ada yang menikmatinya dengan lahap, ada yang pelan-pelan, ada yang baru terpesona melihat kudapannya hadir di depan mereka, ada yang tidak begitu melihat bentuk namun lebih menikmati rasa, ada yang ketika merasakannya ia akan terus mengingat tiap rasa manis legitnya... Melihat mereka membuatku gelisah. Dan perutku jadi lapar. Lapar Cinta.

Tapi haruskah aku membuka buku menu dan memesan sesuatu yang aku yakin tak akan bisa kuhabiskan? Ataukah aku cukup duduk diam sambil mencoba mengerjakan yang lain?

Atau mungkin aku harus pergi saja dari kafe ini biar aku tidak merasa lapar melihat mereka.