Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

October 20, 2011

Surat tentang CINTA

Sayangku,


Aku ingin menuliskan sebuah kata..
Sebuah kata yang bisa menjelaskan perasaanku,
Sebuah kata yang tak biasa,
Yang sungguh mampu membahasakan rasaku..


Melebihi indahnya makna Rindu..
Melebihi dalamnya makna Sayang..
Melebihi kekalnya makna Cinta..


Aku tak akan segan menuliskannya setiap jemariku bergerak..
Aku tak akan sungkan menyebutnya setiap batinku teringat..


Karena rasa itulah yang sedang kurasakan kepadaMu.




Dari pemujaMu.

October 16, 2011

Terbangun

Minggu ini tak seperti biasanya memang. Pekerjaanku tuntas lebih cepat, dan kebetulan aku memutuskan untuk tidak beribadah hari ini. Aku pulang lebih cepat dan tidur. Tidur cukup lama melewati siang yang terik dalam pelukan kasur dan bantal di sudut kamarku.

Dan kala aku terbangun, aku mendapati hal yang aneh. Kamarku sangat sunyi. Warna kuning dan kebiruan mengisi sudut kamar, membuat kamarku seakan berada dalam ruang dan waktu yang lain.

Batas realita dan mimpi seakan berdistorsi. Aku melihat cahaya mentari menembus kaca jendela kecil diatas kepalaku dan membiaskan sinarnya pada gorden biru laut di seberangku, memberikan efek biru-kuning pada nuansa kamarku yang standar putih. Aku menatap biasan-biasan cahaya itu. Lalu mataku bergerak ke barang-barang di meja di bawahnya, lalu ke samping, ke tumpukan sepatu, lalu ke lemariku, ke tembok.. semua terjadi dalam keheningan tak biasa.

"Dimana aku?" celetukku tiba-tiba. Aku segera terduduk dan kembali menatap sekitar. Oh ya, aku di kamarku. Tunggu! Kenapa aku di kamarku siang-siang? Bukannya aku harusnya ngegym? Atau bekerja? Dan tiba-tiba akupun sadar kalau hari ini memang lebih singkat dari biasanya. Aku menghela nafas dan bersandar ke tembok sembari kembali menjelajah tiap sudut kamar dengan tatapan sayu.

Perlahan teringat kembali saat-saat dulu, kejadian seminggu lalu di kamar ini saat kawanku datang dan numpang nonton film sampai malam, lalu bulan lalu saat aku sakit dan tidur di kamar, atau tahun lalu, dua tahun lalu saat aku belum pindah ke kamar ini... Mendadak pikiranku melayang ke saat-saat aku masih ada di rumah kontrakan dulu, teringat jendela besar dan gorden biru tuanya, lalu ke kamar kosku yang dulu, dengan langit-langit yang sangat tinggi namun panas, dan kemudian rumah orang tuaku.

Dan tiba-tiba muncul sebuah tanya. "apa yang akan terjadi pada kamar ini minggu depan? Dan minggu depannya lagi? Dan buln depannya lagi? Apa yang terjadi sepuluh tahun lagi? Akankah tetap sama seperti ini? Atau...".

Aku menghela nafas, mencoba mengatur distorsi dan perlahan membiarkan gelombang realita mencekoki hati yang dipenuhi memori seiring dengan bias mentari yang mulai redup karena mendung dan suara orag-orang yang mulai membising kembali.

"Ah sudahlah. Mungkin karena aku tak biasa tidur siang," kataku menghibur diri.

October 08, 2011

Baik Baik Saja

Suara alarm memekik membangunkanku. Aku terbangun dan menyandarkan punggungku ke dinding, mencoba fokus, mencoba mengingat kembali, mencoba membedakan antara nyata dan mimpi. Bahkan suara berita di televisi yang lupa kumatikan tak sanggup menyadarkanku. Aku lalu mematikan televisi itu dan berjalan menuju kamar mandi.

Aku menyalakan shower begitu kencang. Kubiarkan air dingin mengguyur semua yang tak nyata, mengalirkan mimpi-mimpi menipu dan terbuang jauh dalam gorong-gorong realita. Begitu selesai aku meraihkan tanganku di tempat handuk. Kosong.

Aku harap kamu masih ada di sini.

***

Sinar matahari merayapi tubuh kami yang saling berdekapan. Pagi telah menandai awal dari sebuah akhir.

Tubuhmu perlahan melepaskan diri dari dekapanku, berjalan gontai menuju kamar mandi. Terdengar suara air bergemericik yang makin menyadarkanku. Ini bukan mimpi. Aku menyandarkan diri pada dinding, menatap langit kebiruan yang cerah. Aku menghela nafas.

Sesaat kemudian kau muncul lagi dengan tubuh basah terbalur handuk. aku tersenyum dan menghampirimu, memelukmu dari belakang, menciumi bau shampoo dirambutmu. Kau tersenyum  dan menyuruhku mandi. Aku mengecup tengkukmu sebelum melangkah menuju kamar mandi.

Di bawah guyuran shower pikiranku berkelana. Ketakutan dan kesedihan perlahan merayap mengaliri hati yang masih segar karena cinta. Begitu selesai aku melihat handuk terlipat rapi yang kau siapkan di meja.

Aku takut kehilangan kamu. 

***

Aku merapikan pakaianku di depan cermin: kemeja hitam dengan dasi abu-abu dan celana hitam. Aku mencoba tenang, karena hari ini aku akan bertemu denganmu. Aku menghela nafas panjang. setitik air mata muncul. Aku tak bisa lagi menyembunyikannya.

Aku kangen kamu.

***

Kau masih sempat merapikan kerah bajuku meski kau tahu kau hampir terlambat. Kau tersenyum menatapku, lalu mencium pipiku.

Aku bakal kangen banget sama kamu.


***

Di mobil tak ada suara, hanya mataku yang fokus menatap jalan. Aku diam. Membisu.

Semua tak akan baik-baik saja tanpamu.

***


Di mobil kau tetap diam sambil menatap jalanan dari jendela. Sesekali aku menatapmu sambil menyetir. Mulutku ingin mengatakan sesuatu, namun hati ini membuat kalimatnya luruh dalam ragu.

Tanpa sadar kau menatapku. Kau tersenyum, lalu tanganmu kau letakkan diatas tanganku. Mata indahmu menembus dalam ke dalam hati, seakan menyiram lagi rasa yang sudah hampir kering karena ragu.

Semua akan baik-baik saja kok.

***

Aku memarkir mobilku dan berjalan keluar dengan seikat bunga di tangan kiriku. Aku berjalan dan berjalan, melewati banyak pepohonan. Aku lalu melihat kerumunan orang di satu sudut. Aku mendatangi kerumunan itu. Dan aku bertemu denganmu. Akhirnya. Aku bertemu denganmu

Ya, aku percaya kata-katamu. Semua akan baik-baik saja. Bahkan ketika kaki dan tanganku ingin berontak dan mendekap sosokmu yang berlalu menuju pesawat itu setelah kita saling bercumbu, bahkan ketika perasaanku berkata kita tidak akan bertemu lagi... Aku masih percaya, semua akan baik-baik saja.



Dan di sinilah aku, berdiri menangisi pusaramu.

***

"... Pesawat penumpang tersebut jatuh setelah mengudara selama beberapa jam. Dilaporkan tidak ada korban selamat dari kecelakaan naas tersebut. Polisi masih melakukan investigasi lebih lanjut terhadap kecelakaan tersebut...".

October 06, 2011

Kopi Susu

Aku duduk termangu di depan segelas susu panas di atas mejaku. Hujan rintik di luar masih setia menemani kesendirian dan pikiranku yang bertualang. Sesekali aku menyeruput susu panas itu, membiarkan hangatnya mengalir mengusir dingin di tubuhku. Tapi yang kedinginan di sini bukan cuma tubuh dalam baluran saju hangat warna putih gading ini. Hatiku juga dingin. Hatiku butuh kejujuran.

Kau masih setia duduk didepanku, dengan kacamata bingkai hitam yang menghiasi wajah serius namun manismu yang sedang membaca tumpukan kertas diatas meja di depanmu. Kemeja biru gelap yang kau pakai masih nampak rapi meskipun sekarang sudah jam pulang kerja. Dasi hitam yang tadinya kau pakai di lehermu kini kau taruh ke dalam tasmu, meski lidahnya masih terlihat sedikit dari luar.

"Jadi...", ujarku membuka pembicaraan. Kau menatapku. Ah, mata itu. Mata polos namun tajam yang berhasil menembus pertahanan hatiku.

"Jadi kapan kamu balik ke Jakarta?"

Kau berdeham lalu meraih kopi susu di sebelahmu, meminumnya sedikit, lalu menaruhnya lagi. Lalu kau menatapku. "Mungkin lusa. Secepatnya lah. Semua sudah beres di sini. Aku harus segera mengurus kontrak baru secepatnya. Tahun ini kebanjiran order," katamu sambil tersenyum.

Aku ikut tersenyum menatap kegembiraan yang tersirat disitu. Aku kembali meminum susu panasku, lalu menatapmu lagi. "Kapan mau balik ke sini lagi?"

Wajahmu menyiratkan kekagetan sesaat, namun dengan lihai kau tutupi semua itu dengan senyummu yang menggoda. "Makanya doain biar dapat orderan lagi di sini."

Kau dan aku terdiam, saling menatap. Bahasa tanpa kata saling bertukar dengan perantara bola mata. Namun segera aku mengakhirinya dengan helaan nafas panjang. Susu panas itu kembali menjadi caraku mengalihkan semua kegusaranku. Kaupun nampaknya mulai terbiasa mengalihkan perhatianmu pada segelas kopi susu itu sebelum akhirnya kembali mengecek laporan-laporan di depanmu.

"Kamu tahu sendiri kan posisiku?" katamu tiba-tiba sambil terus menatap laporan-laporan itu. "Aku sudah bilang kalau aku tak bisa memberimu lebih dari ini."

"Aku tahu," jawabku sambil menatap hujan yang perlahan reda. "Di Jakarta kamu juga punya keluarga.. Tapi...".

"Begitu hujan reda kita balik ya? Aku belum packing," selamu. Kau nampak gusar tiap kali aku membahas keluargamu. Istrimu. Anakmu. Kau bergumam sendiri tentang tanda tangan dan klien setelahnya. Aku cuma diam. Sesekali kusibakkan rambutku ke belakang.

Hujan makin menipis. Tabuhannya mulai mereda, lalu berhenti. "Nah! Sudah selesai!" katamu sambil menghela nafas. "Laporan sudah dicek, sekarang kita pulang yuk! Dah ga sabar pengen meluk kamu." Kau lalu menyeruput kopi susu itu, mencoba menghabiskannya.

Aku menarik nafas panjang. "Aku hamil mas."

Kau tersedak dan terbatuk-batuk.