Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

December 25, 2011

Kamu

Buat kamu yang pernah ada di relung hatiku,

Ingatkah kamu saat dulu saat kau mengeluh betapa aku tak ada waktu?
Saat itu kau sempat mencibir giatnya aku, sambil sesekali berharap ada sela dalam waktuku.
Perhatianku tak cukup buatmu mengerti keadaanku.
Mungkin memang salahku terlalu menikmati waktu tanpamu.
Pikiranku tak cuma ke kamu, tapi juga ke masa depanku.
Tapi semua tak harus jadi belenggu jika kau adalah masa depanku.
Bukankah idealnya memang begitu?

Namun kenyataannya jauh dari bayanganku.

Masih terasa sakit saat kau menduakan aku dengan sosok dia yang katamu lebih perhatian dariku.
Kenapa harus disaat itu, tanyaku?
Kenapa begitu cerdasnya kau ambil pilihan itu?
Kenapa harus saat aku mulai bisa meluangkan waktu untukmu?
Kenapa harus saat aku sedang sangat membutuhkanmu?

Lagi-lagi mungkin ini salahku.

Aku paham rasa takutmu karena kehilangan aku.
Jadi kau memilih mencari penggantiku, cadangan yang akan menangkap jatuhnya hatimu agar tak hancur di tanganku.

Dan akhirnya yang hancur malah hatiku.

Padahal tak mudah buatku untuk menyayangimu.
Kau tahu akupun akan kehilanganmu. Aku yang akan pergi, namun bukan cuma kamu yang akan merindu.
Kita sama-sama tahu itu.
Kita sempat sama-sama tahu.

Namun akhirnya semua harus berlalu.

Dan kini aku duduk termangu menyongsong akhir hari-hariku.
Mungkin terdengar egois bila aku ingin kamu sampai akhir menemaniku.
Karena aku akan pergi dan tak akan lagi disampingmu.
Namun nyatanya aku ingin begitu.
Paling tidak dulu, saat rasamu masih banyak buatku.

Semoga saat ini dia yang baru sanggup membahagiakanmu,
Semoga dia tak seperti aku yang akan meninggalkanmu.
Semoga dia selalu ada banyak waktu,
Semoga dia selalu mengerti kebutuhanmu.

Dan biarlah aku sedikit saja meratapimu.
Sebelum aku beranjak menemukan masa depanku,
Karena nyatanya masa depanku bukan kamu.


Tertanda,

Mantan kekasihmu.

December 23, 2011

Sahabat Selamanya

Bagus tergesa-gesa menyusuri lorong gereja berdinding pastel itu. dengan setelan hitam dan dandanan rapi ia berjalan cepat melintasi jendela-jendela besar gereja yang berderet, menampilkan pemandangan taman yang di luar.

Bagus lalu berhenti di depan sebuah pintu kayu besar. Dengan hati-hati dia mengetuk pintu itu.

"Put? Putri?"

"Masuk," jawab suara di dalam. Bagus perlahan membuka pintunya. Dilihatnya sosok perempuan berdiri membelakanginya, menatap jauh di jendela. Gaun pengantin putihnya terbias cahaya cerah matahari.

"Put? Kau kenapa?" kata Bagus sambil berjalan mendekati Putri. Putri menoleh. Sebingkai wajah cantik membalas tatapan khawatir Bagus. Putri melepas tiara yang tersemat di kepalanya, lalu duduk di kursi di dekat jendela. Ia hanya diam, namun wajahnya menyiratkan sejuta rasa takut.

Bagus berlutut di sebelahnya, menatap Putri dengan kuatir. "Kamu kenapa Put?"

Putri menghela nafas. Dia tersenyum dalam rasa gundahnya.

"Aku takut."

Bagus tersenyum. "Ah ayolah! Bukannya kamu yang semangat dari awal soal pernikahan ini? Kok sekarang malah takut?"

Putri diam sejenak. Dia ingat betapa semangatnya ia menarik tangan Bagus untuk menemaninya memilih bunga buat buketnya nanti, saat-saat dimana Bagus sampai tertidur menunggunya memilih gaun yang pas, ketika Bagus terpaksa ditilang polisi gara-gara Putri tiba-tiba menyuruhnya memutar di jalan satu arah karena mereka telat mengambil kue.. Semua memang ide Putri. Putri ingin mengatur sendiri semuanya dalam pernikahannya, paling tidak yang berhubungan dengan mempelai wanitanya. Dan di sana..

"Selalu ada kamu Gus.." bisiknya tiba-tiba.

"Apa Put?"

"Aku takut karena selalu ada kamu," bisik Putri. "Selama ini, sejak SD, kita selalu bersama. Meski SMP kita pisah, kita selalu jalan bareng berdua. SMApun kita ketemu lagi kan ya?"

Bagus tersenyum. "Iya lah. Terus kamu mau lanjut di Singapore, sedang aku stay di Jakarta. Pisah lagi lah kita."

"Tapi tiap malam minggu selalu skype-an..", balas Putri.

"Bahkan kita selalu ngenalin pacar kita masing-masing ya sejak SMA.."

"Sampai mantanku, si Aan brengsek itu hampir mukulin kamu gara-gara dia cemburu.."

"dan si Anya sampai hampir bunuh diri saking jelesnya.."

Bagus dan Putri saling menatap. Kedua mata mereka bertemu dalam detak yang menyatu. Detak yang seirama seperti yang biasa mereka rasa. Emosi, tawa, takut, sedih, luka, semuanya seakan membaur menjadi satu, berkilas-kilas dalam kenangan yang tanpa henti dimainkan dalam memori otak keduanya.

Putri tiba-tiba berdiri membelakangi Bagus yang terkejut. "aku takut kalau ternyata aku mendustai perasaanku, Gus..".

Bagus terdiam. Entah kenapa melihat Putri membuat dadanya terasa agak sesak.

"Aku takut.. Takut kalau suka kamu, Gus.." kata Putri tiba-tiba. Bagus terkejut.

"Hah?! Seriusan?"

Putri menghela nafas. "Maksudku, aku pikir aku mungkin.. suka sama kamu. Kita benar-benar cocok, Gus. sampai almarhum Papa sempat bilang kalau aku ga dapet calon suami sampai umur dua tujuh aku disuruh nikah sama kamu."

Mereka terdiam sejenak.

"Tapi sayangnya kamu ga secakep kakakmu."

Bagus dan Putri terkekeh. Bagus menghela nafas, mencoba menenangkan diri. "Ya.. Apa ya.. Bagikupun kamu sudah kaya saudara. Bahkan kamu sebentar lagi bakal jadi kakak perempuanku beneran kan? Mas Raja dah daridulu naksir kamu sejak SD, suka ngintipin kita main sambil ngelamun jorok!"

Mereka lalu tertawa. Putri tersenyum. "Aduh sumpah Gus.. Ga bisa bayangin aku.. Mungkin memang kamu saudara terbaik buat aku."

Bagus mendekati Putri, lalu memasangkan tiara di rambutnya. "Dan kamu, bakal jadi kakak ipar tercantik yang pernah ada."

Putri tersipu mendengar perkataan Bagus. sebulir air mata haru mengalir membasahi pipinya. seketika Putri tersadar.

"Aduh make-upnya bisa rusak ini! Bentar ya Gus, aku mau benerin make up dulu.. " kata Putri sembari berjalan melewati Bagus yang menatapnya. Putri lalu duduk di meja rias dan mencoba menutupi jejak air mata yang sempat mengotori make-upnya.

"Iya deh Put, aku juga mau keluar bentar. Udah ditunggu sama yang lain. Dandan yang cantik ya?"

Putri mengangkat jempolnya ke atas tanda setuju. Bagus tersenyum lalu berjalan pergi.

Begitu pintu tertutup, Putri menangis pelan.

Aku sayangnya sama kamu..

***

Pintu kayu besar itupun tertutup. Sosok Bagus berjalan lemah menyusuri koridor dengan jendela-jendela berderet yang membiaskan cahaya mentari.

Seandainya kamu tahu.. Aku juga sayang kamu.

December 11, 2011

Filosofi Sebatang Lilin

Dulu waktu SMP aku pernah menulis sebuah kalimat di kertas dalam bukuku. Kurang lebih kalimat itu bunyinya seperti ini:

"Jika kau ingin menjadi penerang seseorang dalam gelapnya malam hidupnya, Jangan jadi bintang yang hanya akan menerangi serupa titik-titik kerling di langit, tapi jadilah lilin yang selalu konsisten menerangi dengan cahaya yang cukup, meski pada akhirnya lilin itu harus habis. Meski akhirnya lilin itu terbakar cahaya yang ia berikan."

Walau terdengar SANGAT bodoh dan sia-sia, namun  tak kusangka, saat ini aku sedang menjalani filosofi itu: menjadi lilin untuk cahaya orang lain, dan perlahan meleleh karena pengabdianku.

Pffft!



December 06, 2011

Pengadilan Hati

Dan pengadilanpun dimulai.

Jaksa penuntut menatap dalam sosoknya yang terdiam di sudut kursi pesakitan. Ia tak lagi menyiapkan banyak tuntutan atau tuduhan, cuma tiga buah pertanyaan saja. Pertanyaan yang akan memastikan apakah terdakwa akan bebas, atau tetap dipenjara selamanya dalam sel rasa bersalah dan dendam.

"Pertanyaan pertama. Kamu sayang dia?" tanya Jaksa tenang. Dia hanya tertunduk diam.

"Aku ga mau jawab," katanya sembari tertunduk. Terdakwa menolak menjawab tuduhan pertama.

Sang Jaksa menghela nafas. "Oke.. Kamu masih sayang sama aku?"

Dia kembali terdiam. "Aku ga mau jawab."

Jaksapun geram. "Kok gitu? Jawab dong!" desak Jaksa.

"Aku ga mau jawab! Apa gunanya? Ini ga relevan!"

"Berguna atau tidak biar Yang Mulia yang memutuskan. Pertanyaan ini relevan dengan tuduhan yang sudah diberikan pada Anda sebagai terdakwa!"

"Iya oke! Iya! Kalo aku masih sayang sama kamu terus kenapa?? Kan udah ga ada artinya?!" ujarnya sedikit hilang kendali.

Jaksa tersenyum. Terdakwa mengakui tuduhan kedua yang diberikan padanya. Kini sudah saatnya pada pertanyaan penentuan.

"Jadi, kamu lebih sayang siapa, aku? Atau dia?"

Seketika itu juga ruang sidang senyap. Dalam penuh keraguan dia tenggelam dalam sunyi. Sang Jaksa menatapnya dalam, meminta jawaban. Meminta kejelasan.

"Please jangan tanya itu," pintanya.

Jaksa menatapnya dingin. Ini bukan hanya masalah kesanggupan atau tidak. Ini masalah hati.

"Jawab," tanya Sang Jaksa dingin.

Dia menghela nafas. "Dia."

Kami terdiam. Senyap. Sang Jaksa menghela nafas, memecah kesunyian. Akhirnya terdakwa mengakui hal terpenting dalam persidangan ini. Sang Jaksa menatap wajah Hakim. Sang Hakim tersenyum dan mengangguk.

Sang terdakwapun bebas. Dan Jaksa hanya bisa melihat sosoknya menjauh menembus malam. Dia bebas dari segala tuduhan. Dia kini bebas mencintai hati lain yang sudah mengisi relungnya, bebas dari tuduhan mendua, bebas dari tuduhan menyakiti perasaan orang lain.

Dia bebas.

Namun kini giliran hati Sang Jaksa yang divonis mati.

Segelas Jus Arbei

Siang itu sepulang kerja aku sempatkan mampir di kafe di pojok jalan itu. Kafe itu begitu terkenal dengan jus buah-buahannya.

***

"Hari ini kita kemana ya enaknya?" kataku sambil memacu motorku menembus hiruk pikuk keramaian kota bersamanya.
Dia dibelakangku, mendekapku mesra.
"Kemana ya yank? Eh, nyobain kafe itu yuk? Jusnya enak!"

***

Aku segera memarkir motorku, lalu melangkahkan kakiku ke dalam. Kenangan seakan terputar kembali bagai slide usang yang diputar di proyektor saat aku menatap sebuah sudut di ruangan kafe itu.

***

Kami duduk di pojok ruangan, didekat jendela besar yang menghadap jalan. Aku sedang sibuk memilih menu saat tiba-tiba dia menarik daftar menu itu dari tanganku.

"Jus Arbei aja! Rasanya enak lho," sarannya.
"Aku ga suka Arbei. Pasti mereka akan menambah banyak gula agar rasa asamnya hilang. Dan aku ga suka manis."
"Kalau begitu pesan jus Arbei yang ga pakai gula aja. Aku juga mau pesen yang sama, cuma manis."
Aku terdiam sejenak sambil berpikir.

***

"Pesan apa Mas?" tanya pelayan di sebelahku. Lamunanku buyar.
"Hmm... Jus Arbei ya Mbak. Gulanya sedikit aja."
"Oke Mas. Jus Arbei gulanya sedikit ya Mas? Silahkan ditunggu Mas."

***

"Pinjam spidolmu dong?"
"Buat apa?" tanyaku sembari meraih tasku dan mencari spidol papan di dalamnya.
"Buat gambar-gambar," katanya sambil meraih spidol dari tanganku. Kemudian dia mulai mencorat-coret sebuah sudut kusen jendela yang memang diperuntukkan untuk coretan-coretan pengunjung.

***

Aku menatap coretan di pojok ruangan itu. Dua buah miniatur wajah. Wajahku dan dia. Dan tanggal saat gambar itu dibuat.
"Silahkan Mas, jusnya Arbei gulanya sedikit," kata pelayan yang mengantarkan pesananku.
"Makasih Mbak," kataku sambil tersenyum.

***

"Ugh, asem!" katanya setelah mencicipi jusku. Aku tertawa.
"Tau sendiri aku ga doyan manis. Masih nekat mau minta."
Dia tersenyum sambil menikmati jus Arbei miliknya yang manis. "Enakan ini, manis."
"Mana? Sini coba?" kataku sambil menarik gelas jus itu dan menyeruput sedikit isinya. Segera rasa eneg menyergap tenggorokanku. "Puih! Ini jus apa air gula?!"
Giliran dia yang tertawa.

***

"Semuanya enam ribu Mas," kata kasir. Aku mengeluarkan beberapa lembar ribuan dan menyerahkannya. "Uangnya pas ya Mas.. Terima kasih Mas..".
aku tersenyum dan mengangguk, lalu melangkah pergi.

Di tempat parkir aku mengenakan jaket dan helmku, lalu menuntun sepedaku keluar. Seketika itu juga aku melihat dia. Dari balik jendela besar tempat kita dulu duduk, aku melihat dia yang dulu mendekapku erat duduk di sana dengan pacar barunya, tersenyum sambil menikmati segelas jus Arbei di meja tempatku tadi menikmati jus Arbei asamku. Dia tanpa sadar menatapku. Kami terdiam sejenak, sampai aku menutup kaca helmku dan pergi.

Entah mengapa, namun hatiku jadi terasa sangat asam seperti rasa jus Arbei tadi di mulutku.

December 04, 2011

Bahagiamu (Bukan) Bahagiaku

Suasana resepsi dan musik terdengar samar dari dalam rumah. Aku dan dia berdiri berhadapan, berpayung malam dan bintang. Dia tak berani menunjukkan wajahnya. Dia tertunduk.

"Maafkan aku.. Maafkan aku..", katanya sambil terisak. Aku diam. Senyum tipis terlukis pelan di wajahku sembari tanganku mengusap pundaknya.

"Gak apa-apa kok, aku bahagia asal kamu bahagia," kataku tenang. Dia menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca. Lalu dia memelukku erat.

"Sumpah kamu adalah orang terbaik yang pernah kutemui... Kamu... Aku... Aku sayang kamu...", katanya sembari menahan air mata. Aku mengusap rambutnya sembari membalas dengan dekapan hangat.

"Hei-hei.. Jangan nangis dong.. Nanti mukamu jadi berantakan..", kataku sembari melepas dekapannya. Aku menatap wajahnya yang sendu, merapikan sedikit rambutnya, lalu menyeka titik air kecil yang menghias sudut matanya. Mata yang dulu membuatku terpana. Tatapan sendu yang mengikat hatiku dalam pandangan pertama.

"Ga boleh gitu ah.. Hari ini hari bahagiamu. Sudah ada dia yang menyayangi kamu. Sayangmu bukan lagi buat aku, tapi buat dia."

Dia mengangguk pelan. "Iya.. Aku janji aku akan buat dia bahagia. Demi pengorbanan kamu.. Aku.. Aku janji!" katanya sambil menggenggam tanganku erat.

Waktu perlahan melambat. Sunyi menyergapi jiwa kami secepat dingin malam yang merayapi raga kami yang rapuh. Dia masih menggenggam tanganku erat. Cincin yang melingkar di jemarinya terasa hangat dalam genggamanku.

"Kamu.. ikhlas kan?" katanya tiba-tiba.

Aku tersenyum sembari mengangguk. "Demi masa depan kamu, aku rela kok. Tapi janji, ga boleh cengeng. Tanggung jawabmu sekarang lebih besar. Kamu bukan lagi anak kecil. Ga boleh manja lagi."

Dia menghela nafas. Terlihat betul air mata itu ingin keluar, namun sekuat tenaga ia menahannya. Ia mencoba tersenyum kembali.

Tiba-tiba terdengar suara memanggil kami. Seorang gadis cantik dengan gaun indah berwarna hitam keemasan berdiri di depan pintu geser besar dari kaca.

"Sayang? Ayo foto bareng Papa sama Mama!"

Kami menoleh. Dengan segera Raka melepas tangannya lalu mengusap matanya. "Iya sayang, sebentar.. Masih ngobrol sama Mas Juna", katanya. Aku mengangguk dan tersenyum sambil menatap gadis itu. Gadis itu membalasnya, lalu kembali masuk ke dalam.

Aku lalu menoleh menatap Raka yang merapikan jas hitam pekat dengan hiasan keemasan yang serupa dengan motif keemasan pada gaun gadis yang memanggilnya. "Tuh, istri kamu manggil," godaku. Dia tertawa.

"Ah apaan sih?! Kamu juga tuh Mas, bentar lagi pasti Mas Juna dicari mbak Dina, secara dia kan posesif abis!" balasnya sambil memukul dadaku.

"Halah, dia lagi sibuk di kamar mandi, benerin make-up!" Kami lalu tertawa lepas. Dan semua perlahan sunyi. Mata kami saling menatap penuh arti. Tanpa sadar tangan kami kembali saling menggenggam.

Raka tersenyum kembali. Kali ini lebih lepas. Dia melepaskan tanganku, lalu membungkuk sedikit tanda berpamitan. Dan diapun berlalu.

Aku lalu duduk di kursi di taman itu, meresapi malam yang semakin pekat.

Tanpa sadar air mataku mengalir.

What Life Is Suppose To be?

It just occurred to me today, during my teaching session when i gazed at the cloudy sky and felt cool breeze of wind..

Time flies so fast.

I remembered the first time I was young, innocent and optimistic..
And times when I started my days in dating people, realizing that love could have deeper meaning than just words..
And times when I was still studying, waiting for the rain while sitting on a concrete bench beside the building..
And at my old boarding rooms, meeting new friends, learning to live together with strangers..
The first time I visited malls and went out to places here..
The times when I sat alone in a campus garden under a tree..

Can't believe it's been years..

And the strange thing is.. I recall that I was always alone at those times. Not physically, but emotionally. I always lost in own thoughts and imagination, withdrewing myself emotionally from everyone. Just sit on a quiet spot and observing, or pretending I was part of the conversation though the fact was I was not. All this years. I thought moving away, loosen up my worldly attachments, focusing in one goal at the time, all those would change things. I did change somehow, but not the "loneliness" part. In the end, I will always sit alone, observing people come and go through the streets of my life, sometimes crying over one or two of them, and then moving on.

Is life suppose to be that way? watching time flies by, and without realizing, we are already in some random points in our journey of life, questioning about what we had done before, recalling good memories and regretting the bad ones.. All alone? And no matter how high you put your purpose in life, in the end when it was achieved you will stop and wonder: "what will I do next?"

Is that what life suppose to be? Or it is not suppose to be that way? Then what is it then?

Please tell me.