Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

March 11, 2012

Cinta Dalam Kacamata Saya Setelah 4 Tahun Lamanya

Dulu dalam salah satu postingan di blog ini saya pernah mencoba mendiskusikan, meski sangat sedikit, tentang makna cinta. Dan hasilnya saya membiarkan maknanya tetap absurd seperti sedia kala. Terus maksudnya apa?? Ya entahlah. Intinya sebulanan ini muncul beberapa hal baru yang ingin saya ceritakan kembali tentang cinta.

Pertama adalah dari definisinya. setelah sekian lama mengamati dan bahkan merasakan sendiri pengalaman berada dalam aliran emosi yang hampir tiap orang di dunia ini pernah merasakan, saya percaya bahwasanya cinta itu adalah faktor rasa yang mengikat. Cinta itu adalah rasa yang menghubungkan dua atau lebih manusia dalam jejaring hubungan. Rasa itu membuat satu atau lebih pihak memiliki rasa tanggung jawab, memiliki, atau bahkan mengabdi pada pihak yang lain. Rasa itu memberikan makna dari jejaring yang sudah terhubung.

Kedua, dari bentuknya. Cinta tidak pernah stabil. Cinta itu faktanya selalu berubah-ubah. Entah maknanya atau penampakannya. Cinta tak pernah selalu berbentuk hati berwarna merah jambu. Cinta itu tak pernah selalu berbentuk coklat, dan berasa manis seperti coklat. Kita tak selalu menemukan cinta dalam sosok sepasang manusia dengan gelagat penuh romantisme dan cinta dalam tiap pertemuan mereka. Cinta tak selalu berarti hubungan antara dua individu lain jenis untuk kelangsungan hidup spesies kita. Kita bisa menemukan cinta itu dalam sepasang Ayah dan anaknya, dalam hubungan majikan dan binatang peliharaan, dari bos ke karyawannya, dari supir bus sekolah ke anak-anak sekolah yang ia antar, dari guru ke murid-muridnya... Asal memenuhi syarat pertama, yaitu sebuah rasa yang mengikat, maka bentuknya dapat kita abaikan.

Ketiga, proses kejadiannya. Cinta bisa muncul tiba-tiba, bisa pula muncul perlahan. Cinta itupun nyata-nyatanya bisa berlangsung tanpa perlu keterlibatan pihak lain. Seseorang bisa merasakan cinta ke seseorang meski orang itu tak merasakan yang sama. Menariknya, cinta ternyata bisa terjadi tanpa perlu ada jejaring yang nyata antara kedua belah pihak. asal satu pihak merasakan keterikatan secara rasa pada bpihak lain, itu sudah cukup untuk disebut sebagai cinta.

Keempat, cinta bisa mati atau hidup sesuai dengan perlakuan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Bagai sosok tanaman, cinta bisa muncul dari bibit mungil yang perlahan merambat diantara jejaring hubungan, lalu berbunga dan berbuah. Cintapun bisa kering, lalu mati jika kurang diberi air dan nutrisi yang dibutuhkan.

Lalu apakah intinya cinta itu? Yang pasti dia tidak konkret, dia berupa rasa. Dia bisa mati, dia bisa hidup lagi. dia muncul sebagai hasil dari jejaring hubungan, entah sepihak atau berpartner, setipis apapun itu.

Itu sajakah?
Lalu kenapa ada yang masih terasa janggal?

Entah kenapa, saya selalu merasa bukan begini caranya untuk mengkaji makna Cinta.

2 comments: