Peut-être nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-être c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

March 14, 2012

Janji

Ini adalah salah satu naskah cerita pendek saya untuk kelas Bahasa Indonesia Keilmuan waktu awal-awal saya kuliah dulu, sekitar tahun 2007.


Janji

Aku terpaku di tempat ini lagi untuk kesekian kalinya…
Di tepi pantai berpasir putih dengan buih ombaknya yang dingin membelai telapak kakiku.
Di hadapanku kosong, hanya hamparan biru dengan langit gelap yang memayung jauh tanpa batas. Angin laut membelai wajah dan tubuhku, melambaikan kerah kemejaku dan menyusup ke dalam ragaku serta mendinginkannya.
Desahnya menentramkan jiwa dan raga, membuainya dalam ketenangan batin yang biasa kita duga.
Namun.. Hari ini begitu tak seperti biasa. Bintang seakan lain. Belum pernah kulihat mereka sejelas ini, membentuk jembatan cahaya dari satu sisi langit ke sisi lainnya jauh di tepi lautan, dengan jutaan bintang yang lain berkilau di sekitarnya, bagai cahaya lampu kota metropolitan tempatku hidup.
Ah, bahkan cahaya-cahaya alam ini jauh lebih indah dari lampu-lampu itu. Api dalam lentera yang sedang kubawa menari-nari karena tiupan angin, menciptakan ilusi cahaya yang indah dari tubuhku ke tanah berpasir, seakan ikut takjub melihat anugerah Tuhan yang sedang memayungi kepalaku.
Anugerah… tidak sekali ini aku pernah melihatnya. Aku dulu pernah memilikinya dalam wujud seorang insan yang begitu aku sayangi, aku rindui, aku kasihi. Dialah sahabatku, kekasihku, saudaraku.
Orang yang sedang kutunggu di sini, bersama lentera yang hanya bisa menari dalam bisu dan angin yang hanya bisa bersuara tanpa emosi…
Kami bertemu dekade lalu di sini, di pantai desa ini. Saat itu senja menyeruak. Mendung memayung saat aku meletakkan sepedaku sembarangan di tanah pasir, melemparkan ranselku di sebelahnya, dan berlari menyongsong ombak yang membelai pelan pasir putih. Aku tak peduli apakah air laut membasahi seragam SMA-ku. Aku hanya ingin melarutkan penat selama pelajaran tambahan sekolah dalam sejuknya air laut sore hari.
Dan saat itulah.. Aku bertemu dengannya.
Dia berdiri begitu anggun di tepi pantai, menatap jauh ke arah batas pantai dengan rambut panjang yang melambai lembut oleh angin laut yang mulai berhembus agak kencang. Ia seakan tidak peduli rok putih panjangnya basah oleh ombak.
Akal sehatku seakan berhenti kala menatapnya. Tubuh ini lumpuh kala memandangnya. sejuta tanya menyeruak liar, bertanya-tanya tentang dia.
Gadis itu sepertinya menyadari kehadiranku. Ia menoleh lalu menatapku dan memberikan senyum termanis yang pernah kulihat. Bibir tipisnya seakan begitu sempurna menghias wajah putihnya yang halus.
Aku melangkah mendekatinya dan berkenalan dengannya. Kami lalu menghabiskan waktu berdua di pantai itu sampai larut, bercakap-cakap, tersenyum, tertawa, berbagi cerita. Setelah itu kuantar ia pulang dengan sepedaku ke rumahnya yang tak begitu jauh dari pantai itu.
Esok sore kami kembali bertemu di tempat itu, kembali bercanda, tertawa, berbagi cerita, dan begitu seterusnya, menguntai cerita selama dua tahun.. Dua tahun penuh cerita-cerita indah, dari kesukaannya pada kembang api, pekerjaan ayahnya yang selalu berpindah-pindah, sampai candaan-candaanku yang terkadang keterlaluan. Dua tahun yang begitu indah. 
Di suatu senja diantara untaian cerita itu, kami sempat berjanji akan terus bertemu di pantai ini, dan janji itu terus kami tepati…

Sampai suatu ketika, ia tak datang.

Aku menunggu begitu lama di pantai itu, menunggu tawa manis yang biasanya menyambutku dan menceritakan berbagai ceritanya yang lucu.
Aku begitu takut. Kuraih sepedaku dan kukayuh menuju rumahnya. Perasaan takut ini seakan lumer dalam sekejap saat melihatnya. Dia sedang menyapu halaman rumahnya.
Bahkan ia masih tetap terlihat anggun dan mempesona.
“Hai…”, sapaku. Ia menoleh. Senyumnya kembali merekah, walau sekarang terlihat agak janggal.
“Hai...”.
“Kenapa tidak datang?”
“Maaf… aku harus membantu ayah membereskan barang-barang…”.
“Bisa kubantu?”
Ia langsung menggeleng. “Tidak usah. Mmm.. Tunggu sebentar di sini ya?”
Ia bergegas masuk ke dalam rumah, meninggalkanku penuh tanya.

Ada apa ini? Kenapa aku merasakan hal yang begitu aneh dari senyumnya, dari tingkahnya…

Ia kembali muncul. Tanpa basa-basi ia menggandengku.
“Ayo kita ke pantai!”

Berdua kami kendarai sepeda kumbangku menuju pantai itu. Begitu tiba dia langsung menarik tanganku menuju ke ombak. Kami kembali bermain bersama dalam canda tawa…

Meski semuanya masih saja janggal.

Akhirnya kucurahkan perasaan janggal ini padanya saat kami duduk kelelahan.
“Ada apa? Kenapa kau begitu… aneh?”
Senyumnya perlahan pudar. Ia memalingkan matanya menatap kearah laut, persis seperti saat kami pertama bertemu.
“Aku akan pindah ke kota lain besok…”, ucapnya pelan.
“Lho, ayahmu mau pindah tugas lagi?”
Ia mengangguk. Aku merebahkan diri di pasir, menatap langit sore yang mulai kemerahan.
“Kita tidak bisa main lagi ya?”
Ia terdiam tak menjawab. Tiba-tiba terdengar tarikan nafas yang berat. Ia berdiri, lalu tersenyum. “Aku masih harus beres-beres.”
Aku bangkit dan mengantarnya pulang. Di perjalanan, sebuah rasa yang tak biasa bergejolak di dada. Perasaan aneh yang tak terdeskripsikan dengan kata. Sebuah kegelisahan, kesedihan, ketegangan, ketakutan, semua membaur jadi satu.
Aku mengayuh lemah sepedaku pulang setelah mengantarnya. Seakan lentera yang yang menerangi malamku di pantai tiba-tiba padam. Entah kenapa aku tidak merasa sedih, namun juga tak terasa biasa-biasa saja.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di otakku. Dengan semangat kukayuh sepedaku pulang.

Malamnya aku berdiri di depan pintu gerbang rumahnya. Kupanggil-panggil namanya dari luar. Dia muncul sambil menatapku heran.
“Ada apa malam-malam?”
Aku tersenyum. "Jalan-jalan ke pantai yuk?"
Dia mengernyitkan alis tipisnya. "Tapi ini kan sudah malam?"
Aku kembali tersenyum. "sebentar saja," pintaku.
Dia menghela nafas panjang. "Sebentar ya," katanya sebelum masuk kembali ke dalam rumah. Sebentar kemudian dia muncul kembali dengan jaket tipis.
"Jangan malam-malam pulangnya," kata dia sambil menutup pintu pagar di belakangnya.
Aku mengangguk mantap.

Di pantai kami terdiam sejenak menikmati purnama yang bersolek diatas lautan.
“Ada apa?” tanyanya tiba-tiba.
“Ada kejutan yang mau aku beri.” Aku lalu mengeluarkan selembar kain agak panjang sambil menatapnya penuh semangat. Dia nampak bingung sebelum aku menjelaskan jika aku ingin menutup matanya sebentar dengan kain itu.
Kukenakan penutup mata padanya dan kubimbing dia duduk di bangku bambu di tengah pantai. Aku segera berlari menyiapkan kejutan.
“Sudah belum?” teriaknya
“Belum!!!”
Beberapa saat kemudian, semuanya siap.
“Sudah!! Buka penutup matanya!”
Ia melepas penutup matanya. Sekejap belasan kembang api meluncur ke angkasa dan menghiasinya dengan kilauan nan indah. Aku bergegas menghampirinya yang terpana.
“Aku tidak bisa beri kamu apa-apa, jadi aku tunjukkan kembang api sa… Lho kok?”
sesuatu yang tak terduga terjadi. Ia menangis! Ia tersenyum, namun airmatanya mengalir.
“Kamu kenapa? Kamu marah?”
Ia menggeleng. “Nggak apa-apa. Terima kasih…”.
Tiba-tiba ia memelukku erat.

“Aku tidak bisa menepati janji untuk selalu bertemu di pantai itu…”, katanya tiba-tiba.
Entah kenapa aku begitu sedih mendengar permintaan maafnya.
“Ayo kita buat janji baru,”kataku tiba-tiba.
“Janji baru?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Aku janji aku akan selalu menunggumu di sini, di tempat ini. Tapi kamu juga harus janji akan datang ke tempat ini suatu saat. Setuju?”
Ia mengangguk. Kami lalu saling menautkan kelingking tanda janji telah tersahkan.
“Janji.”

Janji...

Esoknya ia pergi, dan sejak saat itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya.
Namun janji itu terus kupegang hingga sekarang.

Sepuluh tahun telah melewatiku. Semua telah berubah. Bocah yang selalu membiarkan seragamnya basah oleh air laut kini telah bekerja di kota. Dagunya kini dipenuhi bulu-bulu kasar. Celoteh renyahnya telah berubah menjadi kalimat-kalimat dalam nada rendah nan dalam. Sepeda kumbangnya telah berganti menjadi mobil, namun ia masih tetap memegang janji lama itu. Ya, aku terus menunggunya di sini, setiap hari.
Untaian cahaya pagi perlahan menembus payung-payung kegelapan dan memancarkan cahaya putihnya.
Harapan yang kesekian kalinya perlahan pudar kembali. Aku melangkahkan kaki menuju rumahku yang sengaja kubangun dekat pantai itu ketika terdengar deru mobil perlahan mendekat.
Aku menoleh.
Sebuah taxi putih berhenti tepat di sebelah rumahku. Seorang gadis keluar dari taxi itu.
Aku membeku.

Dia…

Masih banyak hal yang tak berubah darinya. Rambutnya masih tetap indah meski sekarang hanya sepanjang bahu. Senyumnya masih tetap sama, hanya sekarang bibirnya semakin merah karena gincu. Wajah manisnya tetap sama, tetap anggun.

Itu dia.

Kucoba teriakkan namanya. Dia menoleh.

Tuhan, itu benar dia.

Kami saling bertatapan dari jauh. Kami lalu tersenyum.
Perlahan kami melangkah saling menghampiri, sampai kami bertemu di tepi pantai. Ya, itu adalah dirinya yang selama ini selalu aku rindukan.
“Hai…”, sapanya.
“Hai…”.
“Aku kangen…”.
“Aku juga…”
“Terimakasih karena kau datang…”.
“Terimakasih karena telah menantiku…”.

No comments:

Post a Comment