Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

July 18, 2012

Curhat

Kamu cute lho, aku suka badan kamu, senyum kamu, kulit kamu. Kamu ganteng, sayang..

Kata-kata itu terngiang terus di kepalaku siang itu. Aku duduk menanti bus yang belum datang. Entah kenapa wajah dan kata-katamu berputar berulang-ulang di kepala.

Saya? Cute? Cute darimana?


Saya dibesarkan untuk mengidentifikasi diri saya dengan satu kata sifat: Jelek. Besar dalam keluarga campuran di lingkungan kampung pecinan kaya di kota kecil membuat saya tidak percaya diri dengan warna kulit saya yang coklat, apalagi mengingat Ibu saya berperawakan chinese, lengkap dengan mata sipit dan kulit putihnya. Semakin dewasa saya semakin menyadari kalau pria berkulit coklat itu tidak semenarik koko-koko (sebutan untuk pemuda chinese), mas-mas arab, atau indo-indo (sebutan untuk pemuda campuran kaukasia-indonesia) yang jumlahnya seakan meningkat di kota kecil kami.


Tubuh saya pendek. Waktu SMP cuma sampai 160 cm, SMA 165, sekarang terjebak di 169,7 cm, yang biasa saya bulatkan jadi 170. Biar tidak malu. Berdiri disamping teman-teman yang tinggi menjulang dan gagah membuat hati saya semakin kecut, semakin sakit. Seleksi pasukan pengibar bendera tidak masuk. Mau ikut Akademi Polisi juga tidak sampai. Saya merasa dunia bukan tempat untuk orang-orang pendek dan jelek.

Saya dulu juga bukan anak "baik-baik". Waktu SD saya bandel, suka mukul anak orang, bikin rusuh, sangat vandal, dan brutal. Semua orang tidak suka saya. Mereka bilang saya tidak bermasa depan. Katanya saya nakal. Katanya saya aneh. Tidak ada yang berteman dengan saya. Yang laki-laki menertawakan kebodohan saya karena tidak bisa main sepak bola, atau kecengengan saya yang suka menangis kalau dipukul. Yang perempuan bilang saya najis, karena mereka jijik melihat saya. Entah kenapa, mungkin saya kotor di mata mereka. Mungkin saya kaya tai.

Saya juga bodoh waktu SD. Kelas satu nilai saya tidak ada yang bagus. Untung saya masih bisa naik kelas sampai lulus kelas enam. Lengkaplah sudah. Bodoh-jelek-nakal. Kombinasi yang cukup untuk membuat orang-orang tidak menyukai saya.

Sejak SMP saya mulai belajar kalau diam itu emas. Saya tidak lagi membangkang atau melawan. Saya ikuti arusnya, saya lihat dan saya amati. Sekejap posisi saya mulai merangkak naik, ditambah otak saya yang akhirnya mulai bekerja juga setelah dua tahun pertama di SD mogok. Meski demikian, saya masih sulit mencari teman. Klasifikasi "gaul" semakin kuat saat SMP. Yang tidak bisa basket, yang tidak suka bola, yang tidak suka nongkrong, mereka bukan orang asik. Dan kebetulan saya tidak punya itu semua. Teman-teman mulai bikin geng, yang laki-laki dan perempuan. Di kelas isinya membicarakan orang lain, kalau ada tugas kelompok semuanya bergerombol dengan geng mereka. Yang apes ya orang kaya saya, tidak punya geng. Terpaksa ikut dan mengiyakan kalau bergabung dengan yang lain. Yang penting saya selamat, itu saja pikiran saya.

Waktu SMA akhirnya semua lumayan reda, meski persaingan tetap sengit. Kini yang tidak punya motor, yang tidak suka bola, mereka berdiri di luar lingkaran. Yang cantik-cantik ngegeng sama yang cantik-cantik. Penggila It ngegeng sama penggila IT. Anak militer ngegeng dengan anak militer. Saya? Anak ras campur cuma bisa duduk diam waktu istirahat. Untungnya waktu SMA saya aktif di ekskul dan OSIS, jadi saya tidak begitu ditendang keluar dari lingkaran sosial di sekolah. Namu kadang saya bertanya-tanya tentang nasib mereka yang tidak ikut ekstrakulikuler sama sekali, yang tidak ikut OSIS, yang hanya datang sekolah, belajar, ujian, dan pulang. Entah kenapa saya melihat mereka sebagai makhluk yang lebih bahagia dari saya.

Selama SMP dan SMA saya sejenak bisa melupakan kelemahan fisik saya karena saya sudah cukup disayangi karena otak saya. Untuk sejenak, saya merasa bahagia. Bahagia karena ternyata ada yang bisa melihat jauh dibalik bungkusan saya yang kata mereka jelek.

Akhirnya saat kuliah saya bebas jadi diri sendiri. Saya eksplorasi semua celah yang belum bisa saya masuki waktu saya sekolah. Saya jelajahi semua kemungkinan yang ada. Saya jadi diri sendiri. Namun dunia tetaplah keras. Berkali-kali saya dihina karena fisik saya, berkali-kali saya dicemooh karena saya tidak tinggi, tidak ganteng. Dunia masih sama ternyata, cuma letaknya sekarang berbeda. Dan setelah lelah melawan, saya akhirnya mengikuti arusnya. Saya terjebak dalam kepanikan untuk menjadi ganteng sesuai dengan idealnya orang-orang sekitar saya. Kulit coklat itu haram untuk saya, jadi saya pakai berbagai obat agar putih. Jerawat itu jelek, jadi saya mati-matian membersihkan jerawat. Badan kurus itu ga asik, jadi saya ngegym sambil makan banyak.

Akhirnya semua membuahkan hasil. Banyak yang bilang saya tampan waktu itu, muka saya putih, badan saya bagus. Saya sempat memacari banyak orang. Begitu mudahnya saya mencaripasangan waktu itu. Semua yang belum pernah saya rasakan waktu sekolah segera saya habiskan waktu kuliah.

Tapi ahkhirnya saya malah tidak bahagia. Akhirnya saya malah terjebak dalam bungkusan saya sendiri. Dulu saya bisa jadi diri sendiri namun dibenci, kini banyak yang suka, tapi saya tidak bahagia. Saya bingung, saya terjebak, dan pusing juga karena semua yang lakukan untuk memperbaiki penampilan saya harganya mahal. Saya takut, jika saya berhenti, saya akan sendiri lagi. Namun jika saya teruskan, saya akan kehilangan diri saya sendiri.

Dan akhirnya, setelah begitu letih menjadi orang lain, tepat disaat salah satu mantan saya meminta putus, tepat disaat saya mulai kerja, saya memutuskan meninggalkan semua itu. Biarlah mereka mencintai saya apa adanya, atau membenci saya apa adanya. Saya berhenti mewarnai rambut, dan secara berkala potong gundul. Saya masih fitnes, tapi semata-mata untuk memperbaiki postur bungkuk saya. Saya tak lagi panik jika mentari menyinari kulit. Biarlah dia coklat, biarlah. Biarlah jika ada orang yang tidak mau berkencan dengan saya karena saya tidak se oriental Ibu saya, atau tak terlihat indo. Biarlah. Biarlah mereka pergi. Saya lelah mengikuti permintaan pelanggan. Biarlah.


Ketika saya berada di negara asing untuk pertama kalinya, rasa takut itu kembali mncul. Saya berada di tengah orang-orang yang menjadi patokan tubuh, wajah, kulit, mata, dan semuanya yang ideal. Saya merasa begitu kecil, begitu lemah.. Begitu takutnya saya, sampai akhirnya saya putuskan untuk membiarkan saja diri saya apa adanya. Meski mata saya tidak berwarna warni, meski rambut saya cuma ada hitam dan uban, meski kulit saya tidak putih dan mulus, meski badan saya pendek, saya sudah tidak peduli. Yang penting saya hidup. Yang penting saya bekerja.

Dan disinilah saya, duduk di pemberhentian bus di tengah Perth, Australia Barat, mengingat-ingat perkataanmu dulu, waktu kta masih saling sayang. Katamu saya lucu. Katamu saya seksi. Sebelum itu, memang ada banyak lagi orang-orang yang bilang saya ganteng, atau tampan, atau kiyut, atau unyu, atau apalah. Tapi kebanyakan saya acuhkan, karena saya belajar kalau seseorang memujimu, bisa jadi karena dia ada perlu. Karena saya tidak percaya itu tulus.

Namun pujian dari kamu.. Beda. Pujian kamu membantu saya lebih mencintai diri saya. Pujian kamu, entah kenapa, mengawali pujian-pujian lain dari orang-orang lain setelah kamu. Dan tiap pujian itu membuat saya semakin mencintai diri saya, tanpa rasa takut.

Saya tersenyum, lalu melihat tubuh saya di pantulan kaca pemberhentian bus. Pemuda 23 tahun, tingginya sedang, beratnya sedang, wajahnya sedang. Semuanya, entah kenapa, terajut begitu manis didepan saya.

Dan hari itu saya merasa lebih percaya diri dari biasanya.

Terima kasih, kamu yang di Jerman.

No comments:

Post a Comment