Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

July 10, 2013

Sepotong Resah Kemarin Malam.

. . . . .

Udara dingin menusuk. Api lilin di pangkuanku menari liar kesetanan dihembus angin. Aku terdiam mendengar nada sambung berbunyi.. Kemudian nada sibuk menghampiri. Sudah tiga kali.

Aku capek. Kutatap lagi layar telepon selulerku.

"Halo?"

"Halo. Lagi dimana?"

"Di rumah. Kamu di?"

"Di taman deket kolam kemarenan. Sendirian."

"Oh, di situ. Ngapain? Kaya orang bego."

"Hari ini ulang tahunnya. Mau ditelpon sih. Udah nyiapin kue segala buat difotoin. Nyiapin lagu buat dinyanyiin."

"Dan?"

"Seperti biasa. Dia ga jawab."

"Sibuk kali."

"Selalu? Udah cukup kaya gini terus. Sejak Juni dia menjauh. Awalnya karena kerjaan. Lama-lama..".

Kami terdiam sejenak. Kemarin aku dan temanku ke tempat ini, menikmati puluhan teratai merah jambu yang mengambang damai di kolam hitam yang memantulkan cahaya lampu kota dengan begitu mesranya. Di sinilah aku merenung tentang banyak hal. Termasuk tentang kamu.

"Terus gimana?"

"I left a voicenote. Aku memutuskan untuk berhenti. Aku lelah harus seakan menjadi yang terlihat begitu sayang. Aku capek terus-terusan terlihat bodoh karena berteriak-teriak dan membanggakan orang yang tak memberikan hal yang sama."

"Jadi penjajakan kalian berakhir?"

"Aku bilang kalau semua terserah dia. Aku ikuti saranmu. Aku hanya akan diam dan menikmati hidupku, seperti dia menikmati kesibukannya. Maksudku, aku selalu bisa menyempatkan waktuku untuk menghubungi dia. Selalu. Setiap hari. Aku kirim rekaman suaraku yang selalu mengatakan "aku sayang kamu" setiap hari."

"Aku tidak minta dia di sini. Aku cuma minta dia peduli. Aku cuma minta dia menunjukkan kalau dia peduli."

Aku termenung. Cukup lama sejak terakhir kali hatiku dibolak-balikkan seperti ini.

"Jika kemudian dia berubah, kamu mau apa?"

"Ga tau. Aku tidak berharap banyak. Aku tidak berharap sama sekali."

"Mungkin ini pembelajaran lain buatmu. Sejak kamu pulang dari luar negeri kamu jadi begitu keras. Begitu dingin. Mungkin ini adalah cara semesta membantu melembutkan kerasmu. Mencairkan dinginmu."

"Dengan memberikan sosok yang seperti itu?"

"Apa kamu menyesal sudah mengenalnya?"

Aku menghela nafas. "Menyesal? Jelas tidak. Dia adalah satu dari segelintir orang yang paham pola pikirku. Dia begitu mengerti. Dia begitu indah. Dia begitu..".

"Begitu?"

"Jauh. Dan selalu membuat seakan hatinya terlindungi oleh sesuatu yang membuatnya tak dapat dirasakan atau disentuh."

"You'll be alright."

"I know. I just need to know that I'm doing the right thing. Am I?"

"Ga ada yang salah. Dia tidak peka dan kamu sedang butuh dukungan di saat-saat ini. Kalian cuma tidak cocok."

"Butuh waktu begitu lama untuk memikirkan ini. Begitu berat memilih untuk mengikhlaskan dia atau untuk tetap memegangnya."

"Sampai di saat dia berkata bahwa bagi dia kehilangan kamu itu tak apa."

"Ya. Sampai saat itu."

Kami kembali terdiam. Deru beberapa motor melintas memecah sunyi. Api lilin di pangkuanku telah sejak tadi mati.

"Aku takut," kataku tiba-tiba. "Aku takut jika ternyata selama ini semuanya semu."

"Jika kamu melakukan apa yang menurut hatimu benar, maka itulah kebenaran adanya."

Aku menghela nafas. "Thank's ya! Aku mau pulang. Dah dingin banget."

"Oke. Semangat ya?"

"Sip!"

Klik.

Aku melangkah pergi dari bangku taman di depan kolam teratai merah jambu tempatku berpikir, menembus dingin yang pekat. Kue kecil dan lilin itu kutinggal bersama dengan harapan tinggiku akan kita nantinya di sana.

No comments:

Post a Comment