Peut-ĂȘtre nous n'avons pas besoin d'amour. Peut-ĂȘtre c'est une aide que nous avons vraiment besoin (Maybe we don't need love after all. Maybe help it what we really need)

The Owner's Bio

My photo
Seminyak, Bali, Indonesia
Life is merely a journey to the grave, but to make the journey become a beautiful parade or a dark mourning ceremony is all in your hand.

About The Blog

nothing special. just a compilation of my feelings. feel free to read or use if it is not my own work (like song lyrics). stealing my own work will not give you any lawsuit, but please respect the owner by not taking any part of the content that is made by me without my acknowledgment and without putting my name on it. :]

September 15, 2013

Masih

It's been a long time since I last wrote my Indonesian post. Anyway, here it is!

...

Masih.

Paris, 2013.

Pandu duduk di depan laptopnya. Segelas coklat panas ikut menemaninya mengerjakan tugas kuliah yang cukup menyita perhatiannya beberapa minggu belakangan. Di luar, salju turun perlahan. Warna putihnya membingkai mesra jendela apartemennya di ujung kamar. Di kejauhan, menara Eiffel terlihat berselimut putih dalam dinginnya siang kelabu di musim dingin Eropa.

Pandu menghela nafas. Pandangannya melayang ke sudut ruangan, mencoba mengusir lelah karena bekerja di depan layar selama berjam-jam.

Kemudian Pandu berdiri. Sembari meregangkan tubuhnya, ia berjalan menghampiri jendela putih di sudut ruangan. Ia duduk di tempat tidur di sebelahnya sembari menatap hujan salju tipis yang berjatuhan perlahan. Di atas tempat tidurnya ia melihat sebuah foto tertempel di papan styrofoam. Fotonya dan seorang wanita. Kalung kupu-kupu dari perak yang menghias leher wanita itu menarik perhatiannya sejenak. Perlahan rasa sesak mengalir memenuhi dada.

Dalam heningnya, Pandu lalu kembali ke mejanya, duduk, lalu meminum coklat panasnya sedikit.

***

Denpasar, 2013

Seorang gadis kecil tergolek lemah dengan darah dan luka-luka diatas tandu yang didorong dengan cepat menuju ruang gawat darurat. Seorang pria dengan raut muka khawatir ikut berlari mengikuti tandu tersebut. Pintu tertutup begitu tandu itu masuk. Pria itu berdiri tertegun di depan lorong.

Setelah agak lama, seorang dokter keluar dari ruangan dan menghampiri pria itu. Ia tersenyum manis, agak kontras dengan noda darah di tangannya. "Selamat Siang Pak. Bapak ada hubungan kerabat dengan pasien?"

Pria itu berdiri dengan agak takut. "Siang, Dok. saya papanya. Gimana Sasha, Dok? Sudah siuman?"

"Belum. Masih belum siuman. Tapi masa kritisnya sudah selesai kok. Tidak ada yang parah, cuma patah tulang dan trauma psikologis saja. Sasha masih belum bisa dibesuk dulu, bapak nanti silahkan mengurus administrasi dan lain-lainnya di depan ya Pak?"

"I-iya Bu. Umm, Bu Dokter? Terima kasih ya Bu...".

Dokter itu tersenyum. "Sama-sama Pak."

***

Jakarta, 2005.

Pandu tak dapat berhenti menatap sosok itu. Gadis berambut hitam panjang sebahu yang duduk di bawah pohon taman kampus dengan buku-buku di pangkuannya begitu menyihir hati dan rasa penasarannya. Perlahan Pandu berjalan mendekati gadis misterius itu. Namun belum sempat Pandu menyapa, beberapa gadis lain menghampiri gadis itu, lalu mereka beranjak pergi.

Pandu begitu kecewa. Ia hanya bisa duduk di tempat di mana gadis itu tadinya duduk. Bau wangi parfumnya masih terasa segar. Ia merasa begitu sial hari itu.

Tanpa sadar ia menyenggol sesuatu yang ada di sebelahnya. sebuah buku putih. Pandu mengambil buku tersebut dan membuka halaman pertamanya.

Milik Karina!! Jika menemukan tolong hubungi 08122356998

;*

Pandu tersenyum. Mungkin hari ini tidak akan begitu sial baginya.

***

Jakarta, 2010.

"Mungkin memang sudah saatnya," ujar Pandu lemah. Tubuhnya yang terselimut sweater abu-abu terlihat tak berdaya di depan Karina. Karina hanya memandangnya tanpa suara.

"Aku yakin.. Aku yakin Sano bisa bahagiain kamu lebih dari aku."

Karina menghela nafas. Ia lalu berdiri meninggalkan Pandu yang termenung diam.

Pandu hanya bisa menatapnya lemah.

***

Pandu menikmati bulan purnama yang menggelayut mesra di sebelah menara Eiffel dari jendelanya. Hatinya kembali sesak dengan kenangan dari gadis berkalung kupu-kupu perak itu. Segelas coklat panas kembali habis ia minum. Tubuhnya kembali hangat, namun hatinya masih terasa begitu menggigil.

"Karina..".

Di ujung dunia, Karina baru saja selesai dengan shift jaga rumah sakitnya. Sembari mencuci tangan ia menatap bulan purnama yang terlihat manja menyinari langit dari jendela. Tiba-tiba bayang seorang pria yang telah lama ia kubur dalam muncul. Rasa sakit dan rindu menyatu kental bagai darah yang tadi mengotori sarung tangannya. Ia menghela nafas.

Ketika ia sibuk mengenakan lagi kalung kupu-kupu perak yang ia lepas selama shift, sebuah bunyi diiringi getar sayup-sayup terdengar. Segera Karina menghampiri dompetnya di atas kursi dan mengambil telepon genggamnya.

Papa Sano
Calling..


"Iya? Halo Pa?"


No comments:

Post a Comment